Tuan, Aku Siap Membantumu

Tuan, Aku Siap Membantumu
orang yang selalu menjaganya


__ADS_3

Yuanna duduk diatas sofa ruang kapal pesiar setelah beberapa menit yang lalu kapal tersebut Tiba. Disampingnya Shin duduk sembari mengelus punggung yuanna yang saat itu tertunduk karena yuanna sedang mabuk laut.. sesekali Shin membersihkan bekas muntahan yang ada dibibir yuanna dengan sapu tangan yang memang sudah ia siapkan sebelumnya.. Shin tahu dengan pasti bahwa Yuanna akan memuntahkan isi perutnya ketika sudah berada didalam kapal..


Melihat keadaan Yuanna yang sangat Menyedihkan.. Lian yang baru saja masuk keruangan tersebut mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri yuanna dan Shin tapi langkahnya terhenti ketika Idris memegang bahunya dari belakang.


"Jangan..biarkan saja mereka berdua.. Shin sudah terbiasa mengurus kehidupan yuanna dulu.. mereka punya dunia sendiri yang bahkan aku sebagai kakaknya terkadang tidak dapat memasuki dunia mereka" jelas Idris kepada Lian..


"Apa maksudmu!" Tanya Lian tidak menyenangi perilaku Idris.


"Aku bilang jangan ganggu mereka" ucap Idris mulai serius..


"Kau terlihat sangat mendukung hubungan mereka" tebak Lian sembari melepaskan tangan Idris dari bahunya kemudian membalikan tubuh menghadap Idris..


"Mendukung ya.. lebih tepatnya membiarkan,, kau tahu.. yuanna sangat bergantung kepada Shin dari dulu.. bahkan dia lebih memilih untuk meminta bantuan dari Shin dibandingkan denganku.. " ucap Idris kemudian melanjutkan kata katanya" yuanna, dia pernah kehilangan ingatan, dia tidak mengenali Shin sebelumnya yang membuatnya berpisah dengan Shin selama tiga tahun.. sebelum berpisah dengan Shin dia pernah menderita karena dipaksa minum obat penghalang ingatan oleh ayahku.. dia jatuh sakit dan muntah muntah bahkan sampai tidak bisa berdiri.. saat itu aku sedang sekolah dijepang,, sedangkan ayahku pergi entah kemana.. Shin.. dialah yang selalu mengurus yuanna.. bahkan seluruh bajunya pernah kotor akibat muntahan yuanna.. tapi dia tidak pernah mengeluh.. dia merawat yuanna dengan sabar saat itu,, bahkan mengangkatnya ketika yuanna hendak pergi kekamar mandi..Sungguh.. dibandingkan denganmu.. rasa cinta Shin ke yuanna tidak ada bandingannya.. jadi aku mohon... Jangan ganggu mereka" jelas Idris kemudian pergi melewati Lian menuju dapur untuk mengambilkan yuanna segelas air.


******


Idris berjalan menghampiri Shin dan yuanna untuk memberikan segelas air yang ia telah ambil dari dapur..


"Sebaiknya kau bawa dia ke kamarnya.. dia terlihat sangat kesakitan" saran Idris kepada Shin setelah meletakan gelas diatas meja..


"Hmm" ucap Shin sembari menganggukan kepala kemudian mengangkat Yuanna menuju kamarnya..


"Kau mau kemana?" Tanya Yuanna saat telah berbaring diatas kasurnya ketika melihat Shin hendak pergi..


"Mengambil obat untukmu" jawab Shin lembut. "kalau tahu akan seperti ini.. lebih baik kau tidak usah ikut" ucap Shin kemudian...


"Aku benar benar tidak mau kau tinggalkan lagi" jawab Yuanna lemah.. "jangan pergi.. hubungi saja kakak untuk mangambilkan obatnya" pinta yuanna sembari mencoba meraih tangan Shin..

__ADS_1


"HM..baiklah baiklah" jawab Shin kemudian duduk kembali keatas kasur dan menempatkan kepala yuanna diatas kedua pahanya seperti biasa.."aku juga tidak ingin meninggalkanmu jadi dengan terpaksa membawamu walaupun sebenarnya aku tahu kau akan berakhir seperti ini" gumam Shin kemudian didalam hati.


"Oekkk... Uhuk uhuk" muntah yuanna dicelana Shin.. Shin mencoba mengelus lagi punggung yuanna,, sekali kali memijat leher belakang yuanna dengan Sebelah tangannya ,, dan tangan lainnya membelai lembut rambut yuanna..


"Astaga Shin.. pakaianmu penuh dengan muntahan" ucap Arra yang tiba tiba masuk ke kamar untuk mengambil barangnya..


"Pergilah jika kau tidak sanggup melihatnya" usir Shin dengan kesalnya sembari menatap marah ke arah Arra..


Sementara Arra terpaksa menutup hidungnya dan pergi meninggalkan kamar tersebut sebelum mengambil barangnya.


"Dia benar benar sangat kesakitan" ucap Idris yang kemudian masuk membawa obat untuk yuanna setelah Shin menghubunginya..


"Kalau sudah tahu begitu kenapa lama sekali kau mengambil obatnya" ucap Shin penuh amarah.. dia terlihat tidak sabar memberikan obat kepada yuanna..


"Maaf maaf.. aku tidak tahu dimana tempatnya tadi.. makanya aku cari crew kapal untuk menanyakannya" jelas Idris sembari mulai menyentuh rambut yuanna.. tapi tiba tiba tangan Shin menolak tangan Idris sebelum mendarat kekepala yuanna..


"Ntahlah.. aku hanya merasa kesal kepada diriku sendiri yang tidak bisa melakukan apa apa ketika melihat yuanna kesakitan" jelas Shin sembari menatap tajam kedepan..


"Aku tahu perasaanmu" ucap Idris sembari memijat pergelangan kaki Yuanna yang saat itu telah tertidur setelah meminum obat yang diberikan Shin.


Arra yang telah keluar dari kamar pergi ketoilet yang ada dibelakang kapal.. dia merasa mual ketika melihat muntahan yuanna yang mengotori pakaian Shin..


"Kau kenapa?'" tanya Nana yang baru saja keluar dari toilet tersebut..


"Tidak.. hanya sedikit mual melihat Yuanna muntah dipakaian Shin" jelasnya kepada Nana.


"Yuanna mabuk laut! " Tanya Nana mulai khawatir sembari berjalan mencari keberadaan yuanna..

__ADS_1


"Kau mau kemana,,!" Tanya Arra sembari meraih lengan Nana yang kemudian menghentikan langkah kakinya..


"Tentu saja mencari yuanna.. saat ini aku sangat khawatir kepadanya" jawab Nana sembari melepaskan tangannya dari Arra..


"Kenapa kau khawatir? Apa kau berpura pura" tanya Arra serius kemudian meraih tangan Nana kembali.


"Berpura pura.! Apa maksudmu?" Tanya Nana tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya tersebut..


"Sudahlah jangan berbohong.. aku tahu saat ini kau sedang mencoba mendekati idriskan.. aku beritahu kepadamu..selain yuanna.. tidak ada satu orang pun yang bisa mendekatinya.. kau tahu dia dan Shin sama sama mencintai yuanna... Jadi berhentilah berharap" saran Arra kepada Nana yang membuat Nana sangat marah karena Nana mencari yuanna bukan karena Idris.


"Omong kosong... Siapa yang peduli dengan Idris.. saat ini yuanna pasti sedang kesakitan.. aku hanya tidak menyukai dia menderita saat ini.. jadi aku peringatkan kepadamu.. jangan berpikir jelek tentang aku" jelas Nana sembari melepaskan tangannya lagi dari Arra dan bergegas pergi mencari yuanna.


******


Nana berjalan terburu buru memasuki kamar yuanna sembari membawa segelas air dan obat anti mabuk.. dia terlihat sangat khawatir saat itu..


"Yuanna" panggil Nana sembari membuka pintu kamar yang akan ditempatinya,Arra dan Nana


"Kau... Untuk apa kau kesini!" Tanya Idris yang saat itu sedang didalam bersama Shin dan yuanna yang sedang tidur..


"Aku ingin menemui yuanna.." jawab Nana tidak senang melihat Idris.. "astaga Shin.. pakaianmu.. pergilah mandi biar aku yang menggantikanmu menjaga yuanna" perintah Nana kemudian..


"Kau tidak jijik?'' tanya Shin sembari menatap serius kearah Nana..


"Bodoh sekali kalau aku merasa jijik.. aku juga sudah terbiasa menerima muntahan dari natto ketika dia sakit" jelas Nana kemudian menghampiri Yuanna..


"Baiklah.. aku serahkan yuanna sementara aku mandi.. hanya sebentar.. setelah itu aku akan datang lagi" ucap Shin kemudian meletakan secara perlahan kepala yuanna keatas bantal.. Idris yang melihat kedatangan Nana lalu berdiri untuk segera meninggalkan tempat tersebut mengikuti Shin yang sudah beranjak keluar menuju ke kamarnya untuk segera membersihkan diri..

__ADS_1


__ADS_2