
“Kau lihat itu” ucap Shin kepada laki laki berambut coklat, laki-laki yang mungkin baru saja bangun dari tidur panjangnya.
“Dia tumbuh lebih pintar dari pada yang kubayangkan” jawabnya dengan senyuman bahagia melihat Yuanna
“Bodoh.. kenapa tidak kau temui saja dia?” saran joila sambil memukul punggung laki laki itu.
“Belum waktunya,, saat ini sangat berbahaya untuk bertemu dengannya” ucap laki laki itu merasa sedih..
“Benar ...aku yakin cepat atau lambat mereka akan menangkap Yuanna,, tidak ada yang bisa membuka ruangan itu saat ini kecuali dia” shin membenarkan ucapan Laki laki itu.
“Saat ini aku yakin semua keluarga pasti akan berkumpul,, Shin aku harap kau beritahu yuanna untuk hati hati mulai sekarang,, “ saran laki laki itu.
“Tenang saja..aku akan bicara padanya..saat ini aku yakin sien sedang menunggu ku dilapangan bola.. kalian tunggulah aku” perintah Shin lalu melangkah kan kaki pergi meninggalkan mereka.
“kenapa mereka harus selalu bertemu dilapangan bola sih?” tanya joila penasaran kepada laki laki itu..
“Kau bodoh sekali.. lapangan bola tempat aman untuk membicarakan hal rahasia bagu mereka. alasan pertama, kau akan mengetahui jika ada orang yang sedang mengikutimu.. alasan kedua, jika ada orang yang ingin menguping pembicaraan mu..itu tidak akan bisa dilakukan ditempat yang luas.. kau akan segera mengetahuinya.. dan alasan terakhir adalah kebanyakan orang tidak akan menyadari bahwa kau sedang melakukan pembicaraan rahasia.” Jelas laki laki itu.. joila mengangguk kepalanya tanda ia telah paham.
*****
Sien berdiri ditengah lapangan bola,, dia memandang kearah Lapangan bola Voli,, ingatannya seketika muncul kembali kemasa dimana ia tidak lagi bisa menemui Yuanna didanau tempat mereka biasa bertemu.. dia pergi mencari cari keberadaan Yuanna.. ketika menemukannya, yuanna sedang tertawa ceria bersama teman temannya sembari memeluk bola voli ditangannya. Dia tersenyum kecut.. ada banyak penyesalan yang dia rasakan saat itu.
“Kau sedang memikirkannya?” suara Shin membuyarkan ingatan Sien.
“bagaimana Kau bisa tahu?” Tanya sien
“Tentu aku tahu.. aku sudah memperhatikan mu memandang lapangan bola voli, jika aku sangat merindukannya, aku juga melakukan hal yang sama denganmu” ungkap Shin.. dia tersenyum memandang lapangan itu
“Dimana dia?” tanya sien serius.
__ADS_1
“Ditanganku.. “ jawab Shin Singkat..
“Aku tidak menemukannya dirumahmu,” ucapan Sien sedikit mengejutkan Shin.
“Kau sudah menemukan rumah ku... ahhh.. tampaknya aku harus segera pindah rumah” Shin memasukkan kedua tangan kekantung celana.
“kau menentangku?” sien mulai mengancam.
“Dulu kau membanggakan dirimu bahwa kau telah menggenggam dia dan idris ditangan mu.. sekarang kau tampak seperti orang bodoh yang ingin melawanku.” shin mulai mengejek..
“Shin.. aku tahu idris sudah sadar dan sekarang ada ditanganmu.. jadi berikan yuanna kepadaku” pinta sien
“Dulu kau mengkhianati ku..sekarang kau mau meminta mereka yang telah kuambil dengan bersusah payah... jangan bercanda” ucap shin menolak..
“Kau mau apa! Aku akan bantu.. tapi untuk kali ini..berikan yuanna” pinta sien lagi
“Tiga tahun yang lalu aku mengalah ,, tapi apa yang kau perbuat... kau bahkan membiarkan mereka berkali kali mengambil darah yuanna.. kau tinggalkan dia lagi lagi dan lagi berkali kali demi Lu arra.. kau tahu sudah dua kali dia tak sadar diri karena ulah mu. “ bentak shin dia mulai emosi
“Menyesal... baru sekarang kau menyesal.. hmm lupakanlah, aku tidak sedang ingin cari masalah, ahh iya Sien.. kau tahu tubuh paman Xu telah menghilang?.. “ ungkap shin
“Menghilang...dimana kau bawa paman Xu?” Bentak sien,, kini dia mulai marah.
“kalau paman xu bersama ku kenapa aku harus memberitahumu kalau tubuh paman xu hilang,, ?” ucap Shin meyakinkan
“Brengsek... kau kira aku tidak tahu siapa kau sebenarnya” sien menarik kerah kemeja Shin..
“Hahahaha... kalau kau sudah tahu.. berarti kau juga tahu bahwa Yuanna dalam bahaya dan kalau kau telah menyesal.. Maka Lindungi dia dari musuhku” Shin melepaskan tangan Sien lalu membalikan tubuh untuk melangkah pergi.
“Aku menemukannya.. Aku membaca buku terakhir.. tentu saja saat ini aku masih melakukan percobaan..akan kupastikan suatu hari nanti Yuanna kembali padaku” teriak sien menghentikan langkah kaki Shin.
__ADS_1
“Dari dulu kau memang tidak berubah.. pengkhianat” Bentak Shin..dia mulai mengepal kan tangannya..
“Berikan obatnya kepada yuanna brengsek” balas sien membentak.
“Hahahha aku akan biarkan dia mengingat semuanya” tawa Shin senang.
“Kau mau menyi-nyiakan usaha kakek Xu brengsek” teriak Sien mulai mengepalkan tangannya.
“Aku yang akan melindunginya,, melindunginya untuk ku” ucap shin lalu melangkah meninggalkan Sien..
“Kau tidak boleh melakukannya”teriak Sien dari jauh.. Shin tidak menghentikan langkah kakinya.. matanya memerah dan tubuhnya mulai gemetaran.. dia tahu keputusan yang diambil mungkin salah.. tapi dia juga tidak punya pilihan.
*******
Disebuah ruangan rahasia.. berkumpulah semua orang orang yang terlibat..
Seorang laki laki tua memimpin pertemuan kali itu..
“ Seharusnya kau tidak membiarkan anak emas lepas bodoh” bentak seorang laki laki tua yang tak lain adalah ketua Shen.. ketua Co hanya terdiam membisu.
“Anak emas telah lepas..anak emas lainnya telah sadar dan kini tubuh sami telah menghilang.. satu satunya yang bisa membuka pintu adalah Ketua Xu yang saat ini berada dijerman” jelas seorang laki laki tua yang tak lain adalah ketua Ou.
“aku tidak yakin bisa mendapatkan tubuhnya dari wanita tua itu.. “ ucap ketua Zin.
“Siapa sebenarnya orang dibalik kejadian ini,, aku dengar anak emas sudah menikah dengan cucu kedua ketua Co.. “ungkap ketua lu.
“Tidak tidak..aku sudah dengar dari putra ku.. anak emas hanya dimanfaatkan olehnya untuk mengacaukan pikiran Sien .. cucu ketua Co”jelas ketua Ou..
“Dan lagi aku tidak pernah melihatnya bersama dengan cucu kedua ketua Co.. “ ucap ketua lu lagi.
__ADS_1
“Dan bisa bisanya Sien jatuh cinta dengan anak emas.. kau benar benar tidak bisa mendidik cucu mu dengan baik Co.” Sindir ketua Shen..
“Tenanglah kalian.. pintu saat ini tidak bisa dibuka..obat juga tidak bisa diambil..masih bisa bisanya kalian bertengkar” bentak laki laki yang saat itu memimpin pertemuan.