
Yuanna duduk diatas sofa sembari menahan rasa sakit dilengannya.. saat itu dia berada diruangan Lian..
dihadapannya,, seorang laki laki yang tak lain adalah seorang dokter, salah satu teman dari Lian terlihat sedang berusaha mengeluarkan Peluru yang tertancap didalam lengan yuanna.. sementara itu, Lian sedang berdiri disebelah mereka dan memperhatikan keadaan yuanna...
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Lian khawatir yang saat itu sedang memperhatikan yuanna dengan melipat tangan didadanya.
“Dia akan segera pulih kembali dalam beberapa hari,, jangan khawatir,,! “ ucap teman lian,, namanya adalah dokter yun..
“Syukurlah” ucap Lian merasa lega.. yuanna hanya diam tanpa berucap sepatah katapun mendengar percakapan Lian dan temannya,, hati nya masih merasa sangat sakit karena orang yang dia cintai selama ini dan juga orang yang ia rasa sangat dekat dengannya bisa melakukan hal kejam dengan begitu teganya menembak dan bahkan mencoba membunuhnya hanya karena rahasia penting yang bahkan ia tidak dapat mengingatnya.
“Bagaimana keadaan keluarga mu? Kenapa kau terlihat santai begitu,, bukannya perusahaan orang tuamu saat ini sedang diambil alih oleh keluarga Sun” tanya dr.yun yang merasa aneh melihat Lian yang malah mengkhawatirkan orang lain.
“Dari awal aku juga sudah tahu,, perusahaan itu bukan milik keluarga .. jadi untuk apa aku khawatir” ucap Lian santai.. dari awal kakeknya telah memberitahukan kepadanya bahwa perusahaan perbankan yang diolah keluarganya adalah milik orang lain.. tapi sebelumnya,, dia belum tahu siapa pemilik aslinya.
“Lian,, jadi maksudmu perusahaan Zin sebenarnya bukan milik keluarga zin?” tanya Yuanna yang tiba tiba merasa penasaran mendengar percakapan mereka..
“ Nyalakan saja televisi,, hari ini adalah hari peresmian pengalihan jabatan kepemilikan perusahaan yang disiarkan secara langsung diseluruh media pertelevisian” saran dr. Yun.. Lian sebenarnya tidak ingin memberitahu Yuanna.. beberapa menit sebelum nya dia sudah diberitahukan keluarganya bahwa Shinlah orang yang akan mengambil alih seluruh perusahaan keluarga besar ,,dan dia juga adalah satu satunya pewaris perusahaan perusahaan tersebut,tapi karena melihat ekpresi wajah penasaran yuanna,, Lian terpaksa harus menghidupkan televisinya,, meskipun dia tidak senang melihat kesedihan yuanna yang akan semakin bertambah.
Didalam televisi,, yuanna melihat Shin berdiri disebuah podium dengan memegang sebuah gunting dan memutuskan sebuah pita,, di belakangnya terlihat beberapa laki laki tua yang tak lain adalah ketua ketua dari perusahaan besar,, sementara disebelah Kanan Shin,, berdiri seseorang yang sangat terkenal di negara itu,, orang itu tak lain adalah presiden negara,, dan disebelah kiri Shin berdiri seorang laki laki tua yang tidak dikenal oleh yuanna.
__ADS_1
“Itu dia.. ketua Sun yang selama ini dikabarkan telah meninggal,, ternyata dia masih hidup,, tidak menyangka,, orang itu adalah pemilik saham tertinggi disemua perusahaan keluarga besar..” ucap dr, yun membuat yuanna terkejut seketika.. dia juga tidak menyangka bahwa kakek Shin masih hidup dan merupakan orang terkaya di negaranya. Tanpa disadari ,, air mata jatuh kepipi yuanna ketika melihat Shin dikelilingi orang orang hebat disana.. Melihat keadaan Yuanna,, Lian yang hatinya mulai tidak tega mematikan televisi seketika itu juga .
“Kenapa kau matikan? “ tanya yuanna yang saat itu masih memandang kearah Shin yang ada didalam televisi.
“lihatlah dirimu dulu,, air matamu bahkan terjatuh hanya karena menonton televisi” ucap Lian yang saat itu sedang mengambil Sapu tangan diatas meja dan memberikannya ke yuanna..dokter yun yang melihat hal tersebut,, bergegas mempersiap kan barang barangnya untuk segera pergi meninggalkan mereka setelah menyelesaikan tugasnya memperban lengan yuanna.
“Kau sudah mau pergi?” tanya Lian ketika melihat Dr.yun berdiri..
“Iya.. masih ada beberapa pasien yang harus aku tangani,, jaga luka nya agar tidak kena air,, dan jangan lupa tebus beberapa resep obat ini” saran dr yun lalu memberikan resep kepada lian untuk kemudian pergi meninggal kan mereka.
“Masih mau menangis?” tanya Lian yang saat itu masih melihat yuanna mengeluarkan air mata nya.. yuanna tidak bisa mengendalikan hatinya untuk tenang,, yang hanya bisa ia lakukan adalah membiarkan air matanya jatuh untuk sedikit meredakan rasa sakitnya.
“Kau lihat,, Shin begitu tinggi sekarang,, saking tingginya dia bahkan menceraikan orang rendah sepertiku yang tidak pantas,, sedikitpun tidak pantas berada disisinya,, “ ucap yuanna masih memandang kearah televisi yang telah mati. “Padahal baru kemarin aku bersamanya,, aku juga baru menemukannya selama beberapa tahun dia pergi belakangan ini, aku juga baru bisa mengingatnya dan kenangan kami bersama dimasa SMA.. tapk sekarang aku sudah kehilangannya lagi,, kenapa aku tidak bisa bersama orang yang kucintai,, dosa besar apa yang telah kuperbuat sebenarnya” ucap yuanna dalam hati masih dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya. Sementara Lian hanya berdiri diam memandang kearah yuanna ..dia bergumam dalam hati dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga yuanna mulai dari hari itu.
Malam telah datang setelah kejadian penembakan Shin kepada yuanna pagi itu,, Yuanna duduk terdiam di sofa apartemennya sembari mengingat masa masa Sma nya ketika masih bersama dengan Shin.
Beberapa saat kemudian tiba tiba bel pintu apartemennya berbunyi membangunkannya dari lamunan panjangnya.. yuanna dengan malas pergi menuju pintu dan melihat siapa orang yang mengunjunginya dari balik pintu..
“Untuk apa kau datang?” ucap yuanna saat itu ketika telah melihat orang yang mengunjunginya.
__ADS_1
“Ada yang perlu aku bicarakan?” ucap si pengunjung yang tak lain adalah kakaknya sendiri..
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi” ucap yuanna masih sangat marah dengan kakaknya.
“Aku akan jelaskan semuanya.. “ ucap idris meyakinkan yuanna untuk menerimanya masuk. Melihat kesungguhan kakaknya,, yuanna lalu membuka kan pintu,, dia mengizinkan kakaknya masuk.
“aku tahu kau masih marah padaku,, aku juga telah berbuat kesalahan besar tapi aku melakukan semuanya saat itu karena perintah ayah” jelas Idris setelah ia masuk dan duduk diatas sofa berhadapan dengan yuanna.
“Aku sudah mengingat hampir semuanya,, aku ingat ayah membunuh vivia dan vian.. setelah itu aku kehilangan semua ingatanku ,, lalu kau mengatakan banyak kebohongan dan membuat aku jatuh ketangan sien,, dan juga kemana ayah? kenapa dia membunuh sahabat ku? lalu Kenapa nenek shin bilang dia sudah mati? Katakan padaku semuanya idris” bentak yuanna emosi,, dia telah menahan amarahnya selama beberapa hari.
“kau mengingatnya" ucap idris tidak percaya "Ayah, dia bunuh diri dan aku tidak tahu alasannya membunuh sahabatmu” jawab idris melanjutkan perkataanya sembari menundukan kepalanya,, mata yuanna membesar tidak percaya dengan apa yang diucapkan kakaknya.
“apa kau mau menyembunyikan sesuatu padaku lagi” bentak yuanna masih dengan ketidak percayaannya,, dia yang tadinya sedang memeluk bantal sofa kemudian berdiri dan melemparkannya kearah idris,, dia tidak bisa menerima jawaban yang dilontarkan kakaknya. Air matanya terjatuh lagi untuk kesekian kalinya,, dia masih merasa tersiksa karena perceraian nya dengan Shin dan kini harus menerima kenyataan lagi bahwa ayahnya telah bunuh diri.
“Tenang dulu,, aku benar benar tidak berbohong” ucap idris menenangkannya.
“aku tidak percaya lagi padamu,, sekarang keluarlah,,biar aku cari tahu sendiri” perintah yuanna sembari menunjuk kearah pintu.
“Dengar aku,, ayah memang bunuh diri tapi dia masih hidup, saat ini dia berada di jerman.. bersama nenek Shin,, yuanna dengar aku dulu” jelas idris lagi.
__ADS_1
mendengar penjelasan idris,, yuanna yang tadinya emosi saat itu mulai mengendalikan diri.. dia kembali duduk diposisinya memberi kesempatan idris untuk menjelaskan semuanya.
“Jelaskan dengan sejelas jelasnya.. aku mohon sekali ini.. jangan sisipkan kebohongan lagi kepadakuku” ucap yuanna yang saat itu telah berhasil mengendalikan emosinya..