Tuan, Aku Siap Membantumu

Tuan, Aku Siap Membantumu
kedatangan ibu shin


__ADS_3

Idris berjalan menuju keruang tamu untuk beristirahat.. tiba tiba Nana muncul dihadapan Idris menghalangi jalannya dan memberikan kotak P3k.


"Ini" Nana menyodorkan Kotak tersebut tanpa melihat kewajah Idris.. Idris tampak tidak senang melihat kotak itu.. dia menghempaskannya dari tangan Nana,, kotak itu jatuh kelantai " hei...'" bentak Nana yang tidak terima dengan perlakuan Idris..


"Minggir" Idris menyingkirkan tubuh Nana yang menghalanginya.. saat itu dia sedang menahan emosi.. dia tidak tahu dengan siapa emosi ia tujukan... Dia merasa kesal dengan sikap Shin,, tapi dia juga kesal dengan dirinya sendiri..


Nana lalu mengambil kotak obat yang tercecer diatas lantai,, dia berjalan menghampiri Idris yang telah duduk diatas sofa ,, dia melihat Idris menatap ke meja didepannya dengan tatapan kosong..


Dengan Sigap,, Nana meletakan obat cairan steril keatas kapas,, dia lalu berjongkok didepan Idris dan membersihkan luka dibibirnya.. Idris terlihat tidak nyaman awalnya dengan sesekali menepis tangan Nana.. tapi Nana tidak menyerah begitu saja.. dia terus melakukan hal tersebut sampai Idris menerima bantuannya..


" aku ini kakak yang tidak berguna ,, bahkan saking tidak bergunanya,, untuk mendekati yuanna pun sangat susah" Idris membuka suara,, Nana tersenyum tipis mendengar perkataan Idris saat itu .


"Bersabarlah... Aku rasa bukan hanya kau saja yang salah.. Shin juga terlalu ketat menjaga yuanna,, jadi bersabarlah.. " ucapan Nana membuat hati Idris semakin piluh.. dia memang hanya bisa bersabar saat itu..


Shin berada didalam perjalanan kembali ke apartemen setelah membeli sebuah rumah yang dianggapnya aman untuk tempat bersembunyi,, dia duduk dibelakang mobil ,, kepalanya dipenuhi rasa khawatir terhadap orang yang ia cintai.. natto duduk didepan mobil,, disampingnya Seorang supir pribadi yang ia kerjakan mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan yang lumayan laju atas perintah Shin yang ingin segera sampai ketempat tinggalnya..


"Shin.. aku rasa mengunci yuanna bukan cara yang baik untuk dilakukan" natto membuka suara membuat mata Shin melirik ke kaca depan mobil memandang natto dari balik kaca..


"Jadi kau ingin dia mati,, berhenti berpendapat kalau masih ingin tinggal bersama kami" Shin membuang wajahnya kekaca jendela.. dia melihat keramaian kota yang saat itu ia tinggali,, dia tidak menyangka.. ditempat yang ia rasa damai itu,, ternyata tersembunyi sisi gelap hanya karena perebutan kekuasaan .. terlebih lagi,, dia juga salah satu orang yang masuk dalam masalah saat itu..


Natto tampak kesal mendengar jawaban Shin.. dia merasa Shin selalu melakukan hal sesuka hatinya terhadap yuanna.. natto,, dia tidak punya pilihan lain karena masih tetap ingin tinggal bersama yuanna.. banyak hal dari yuanna yang masih membuat ia sangat penasaran saat itu. Dia juga sedang ditugaskan untuk menjaga Idris..


Yuanna bangun dari tidur lelapnya.. ia melihat ke jarum jam yang telah menunjukan angka sepuluh malam. saat itu perutnya terasa sangat lapar.. dia bangun kemudian berjalan menuju pintu.


"Dikunci! ..dimana kuncinya" gumamnya kemudian dalam hati.. dia mencoba mencari cari kunci yang mungkin saat itu jatuh tapi tidak menemukannya.. "apa Shin mengunciku dari luar" tebaknya lagi didalam hati.. "cih"..senyum kecut mengembang dibibir yuanna.. "hah.. bodoh sekali mengunciku, karena ingatanku telah kembali,, tentu saja aku tahu cara menendang pintu dengan benar" yuanna mulai tersenyum nakal.. dia mulai mengambil posisi menendang kemudian..


"Kraaaak" kaki Yuanna berada tepat didepan Shin yang saat itu sedang berjalan menuju pintu yuanna.. "HM.. pintu lemah" ucap yuanna yang telah mengembalikan kakinya dari udara . Ia kemudian keluar dari kamarnya dan terkejut melihat wajah marah Shin disampingnya..


"Kau merusak pintu!'" suara Shin menakutkan yuanna.. dia tertegun memandang Shin yang sedang menatapnya..


"Pintunya rusak" yuanna memaksa untuk tersenyum melihat Shin..


"Kau berani membohongiku'" ucapan Shin menambah rasa takut dihati yuanna.


"Maaf Shin.. jangan marah kepadaku.. aku benar benar kelaparan.. tanpa sengaja kekuatan dari dalam tubuhku keluar membuat aku sanggup menendang pintu" yuanna berusaha membela diri..

__ADS_1


Shin mendekatkan diri keyuanna.. lalu memeluknya,, saat itu dia sangat merindukan wanita itu.


"Kau mau makan apa!' "tanya Shin lembut ,,, yuanna tersenyum lega karena Shin tidak memarahinya..


"Bakso" ucap yuanna sembari memeluk Shin..


"Kenapa bakso terus.. kau selalu saja ingin makan bakso setiap hari" Shin terlihat tidak menyukai makanan yang selalu diminta yuanna itu,, bahkan saat mereka bersama ,, yuanna selalu mengajak Shin untuk makan bakso didesa sampai Shin sendiri hampir bosan memakannya..


"Jadi untuk apa kau tanya lagi kalau kau bahkan tidak bisa menuruti apa mauku'" yuanna kesal karena dia tahu Shin akan menolak permintaannya itu..


"Aku akan memesan sup daging dengan nasi... Makan itu saja.. " ucapnya membuat yuanna kecewa tapi dia tidak bisa mengeluh ,, saat itu dia benar benar lapar..


******


Shin berjalan menelusuri koridor kantor menuju keruangannya.. yuanna mengikuti Shin dari belakang.. saat itu Shin tidak punya pilihan selain membiarkan yuanna terus berada disisinya.. dia yang melihat yuanna menendang pintu kamar beberapa hari yang lalu membuatnya semakin khawatir jika tetap menguncinya dan melepaskan pandangan kepadanya,, dia berpikir yuanna pasti berbuat sesuka hatinya tanpa sepengatahuan Shin.


Saat itu mereka telah pindah kerumah baru yang dibeli Shin dikota A beberapa hari yang lalu.. rumah sederhana yang berada di perumahan rakyat biasa untuk menghindari kelompok elite yang mencoba mencari yuanna..


"Ibu" shin menghentikan langkah kakinya melihat seorang wanita dewasa duduk disofa ruangannya .


"Shin,, minta maaflah kepada Royan.. kau telah menyakitinya" pinta Ralla yang saat itu telah berdiri..


"Omong kosong,, pergilah. . kau hanya buang buang waktuku" ucap Shin tegas,, dia berjalan menuju kursinya menghiraukan Ralla..


"Shin,,, dia itu kakakmu,, kenapa kau keterlaluan sekali kepadanya" Ralla menghampiri Shin yang telah duduk di kursinya,, Shin telah kembali keperusahaan setelah beberapa hari pergi dan meminta ayahnya menggantikan posisinya untuk sementara waktu..


"Dia bukan kakakku" ucap Shin sembari mulai mengenakan kacamatanya dan membuka notebook yang telah ia bawa sebelumnya.. Shin mulai membuka beberapa dokumen yang dikirim ke alamat email nya.. kemudian dia mengambil flashdisk didalam lacinya lalu mencolokkannya ke notebook tersebut untuk memindahkan file penting..


"Apa yang kau kataka..."


"Hmm.. kakak macam apa yang mencoba membunuh adiknya sendiri" Ralla belum menyelesaikan perkataannya.. yuanna yang sudah berada diposisi duduknya kemudian membuka suara..


"Kau.."


"Yuanna" ucap yuanna saat Ralla memandangnya.. tanpa memandang Ralla.. yuanna mengambil lembaran kertas dan menandai jadwal kerja Shin hari itu.. Ralla menghampiri yuanna dengan sangat kesal,,

__ADS_1


"Kenapa kau bisa ada disini!" Tanya Ralla tidak menyenangi keberadaan Yuanna..


"Kerja" jawab Yuanna membalikan lembaran kertas..


"Pergilah keluar.. tidak bisakah kau lihat aku sedang ada urusan dengan anakku" Ralla menggebrak meja yuanna membuat yuanna kesal seketika..


"Kau tidak lihat aku ini istri anakmu,, jadi aku juga berhak ikut campur urusannya" ucap yuanna mengalihkan pandangannya kewajah Ralla.. dia menatap tajam mata Ralla yang saat itu tampak kesal dengan yuanna..


"Pergilah" suara Shin mengalihkan pandangan Ralla dari yuanna..


"Pergilah" tambah yuanna lagi..


"Shin,, kau bahkan tidak menghargai ibu mu ini"


"Hmm.. ibu yang pilih kasih untuk apa dihargai" ucap yuanna menambah kekesalan Ralla.


"Kau.." Ralla yang sudah sangat geram menggerakkan salah satu tangannya untuk memukul yuanna...


"Heh" yuanna tersenyum nakal lalu dengan sigapnya mengambil Tangan Ralla yang mencoba memukulnya..


Shin mengalihkan pandangannya sekilas menghadap kedua wanita yang dicintainya itu.. lalu melanjutkan pekerjaannya.. dia tampak tidak perlu mengkhawatirkan pertengkaran istri dan ibunya itu..


"Sakit ... " Teriak Ralla,, dia merasa sangat sakit dipergelangan tangannya.. dengan tatapan tajam yuanna lalu menarik tangan Ralla menuju pintu kantor.. lalu menghempaskan tubuhnya keluar...


"Pergi" ucap yuanna dengan senyuman mengejeknya kemudian menutup pintu kantor tersebut..


"Tasku" teriak Ralla..beberapa saat kemudian pintu kantor terbuka dan tas terlempar keluar.. Shin menghentikan Pekerjaannya lalu menatap tajam kearah yuanna yang berdiri dipintu. yuanna tertegun seketika melihat tatapan tajam Shin..


"Begitu caramu memperlakukan mertua mu" ucap Shin mengejutkan yuanna..


"Maaf" ucap yuanna merasa bersalah..


"Kemarilah" perintah Shin membuat yuanna ragu ragu mendekat.. Shin menarik tangan yuanna jatuh kepangkuannya saat ia telah mendekat.. dia hanya ingin melepas kerinduannya kepada Yuanna.. Shin terlihat sangat marah karena sikap ibunya sebelumnya.. tapi ketika memandang Yuanna.. kemarahannya hilang seketika..


"Jangan lakukan hal itu lagi" pinta Shin kemudian membalikan tubuh yuanna yang ada dipangkuannya lalu mengambil bibir yuanna

__ADS_1


__ADS_2