Unknown Love

Unknown Love
Season 1 - #1


__ADS_3

"I, Arthur Scott , take you, Anyelir Pradana,


To be my lawfully wedded wife,


To have and to hold,


From this day forward,


For better,


For worse,


For richer,


For poorer,


In sickness and in health, until death do us part."



*****



5 tahun kemudian...



"Anya lihat dasiku?" teriak Arthur dari dalam kamarnya.


"Aku taruh di tempat biasa Arthur!" balasku dari luar kamar.


"Dimana?" tanyanya kembali yang masih sibuk mencari-cari dasinya.


"Aku taruh ditempat biasa Arthur!" balasku yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ya dimana?" tanyanya yang masih kebingungan.


Aku yang kesal melihatnya pun berjalan menuju tempat lemari pakaiannya dan mengambil box dibawah tumpukan pakaiannya.


"Ini apa?" kataku sambil menunjukkan tumpukan dasinya.


"Kok kamu taruh di situ?" tanya Arthur sambil memilih dasi yang akan dia kenakan.


"Aku kan udah suruh kamu buat beli meja khusus dasi? Tapi kamu gak meresponnya?!" jelasku dengan muka sebal.


"Ya udah nanti sore barangnya datang!" jawab Arthur sambil memakaikan dasinya.


"Terserah." kataku sambil berjalan meninggalkan kamarnya.



Aku kembali ke dapur dan melanjutkan kembali masakanku. Arthur keluar dari kamarnya dan duduk dimeja makan.


"Apa sarapan hari ini?" tanyanya sambil menatapku.


"Scrambled eggs." jawabku dengan menghidangkannya.


"Yes, my favorite." balasnya senang sambil melihatku.


"And tomato juice.." tambahku kembali sambil menuangkan jusnya.


"Thanks." balasnya dengan senyum puas.


Aku kembali duduk di kursiku dan melanjutkan mengoleskan roti yang ada dihadapanku.


"Kamu sarapan apa?" tanya Arthur sambil memakan sarapannya.


"Roti panggang."


"Selai?"


"Peanut?"


"Boleh ku coba?"


"Serius Arthur! Aku baru segigit." protesku yang tak rela berbagi.


"Yang dipiringmu kan masih ada." perintah Arthur sambil menunjukkan jarinya.


"Hhhh..." aku menyodorkan sisa roti panggangku padanya. Dia pun mengambilnya dan mulai mencicipinya.


"Not bad, tapi masih enak selai stroberi." komennya sambil mengunyah roti tersebut.

__ADS_1


"Ya udah tau kamu gak suka tapi masih aja dimakan punya orang." timpalku dengan nada ketus.


"Khekhekhe, ini masih pagi gak usah kesel-kesel gitu." balas Arthur dengan mengejek.


"Kebiasaan lagian kamu tuh." balasku sambil memonyongkan bibir.


"Aku besok aku ke Nantucket seminggu." ucap Arthur sambil melihatku dengan nada serius.


"Sama siapa?"


"Dengan Rossy saja, Rico stay disini." jelas Arthur


"Kenapa?"


"Takut kamu keluyuran, gak ingat waktu." jelas Arthur dengan tegas.


"Arthur aku kan bukan anak kecil lagi." bantahku yang tak suka dengan sikap posesifnya.


"Rico gak akan ganggu aktifitas kamu kok! Aku cuma khawatir selama aku gak ada kamu lupa dengan waktumu! Sudah gak usah komentar lagi, turuti saja apa kataku!" tegas Arthur sambil beranjak dari kursinya.



Aku masih terdiam memerhatikannya.



"Oh ya, aku sudah transfer ya untuk uang jajan harian kamu selama aku dinas keluar negeri." celetuk Arthur sambil menoleh sedikit padaku.


"Oke." balasku sekenanya.


"Aku lebihkan sedikit untuk kamu." tambahnya lagi dan kali ini dia berbicara sambil terus berjalan menuju pintu luar.



Aku tidak menggubris ucapannya itu, dari kejauhan aku mendengar suara pintu tertutup. Aku langsung mengecek melalui mobil bankingku, dan ada masuk dua transfer berasal dari rekening Arthur. Untuk nominal yang kedua aku agak terkejut melihatnya.



"Seratus juta dia lebihkan sedikit namanya?" gumamku sendiri.



Entah dari mana tiba-tiba mood ku berubah menjadi baik dan aku tidak kesal lagi karena hal tadi. Mungkin ini yang di namakan 'kekuatan uang' bisa mengalahkan semuanya. Ya rekeningku menggendut karena habis di transfer oleh Arthur.



Aku dan Arthur sudah lama menikah, tahun ini sudah masuk ke lima tahun pernikahan kami berdua. Aku menikah dengannya karena suatu alasan yang kuat. Saat aku menikah dengan Arthur usiaku masih 19 tahun, dan dia 40 tahun. Jika aku sedang bertemu dengannya di tempat umum pasti pandangan semua orang tertuju padaku dengan menghakimi bahwa aku berkencan dengan om-om, aku pun suka tak peduli. Terkadang aku suka disangka anaknya! Yah memang aku seumuran dengan anak sulungnya.



Aku melangkahkan kakiku menuju pintu apartement dan diluar sudah ada Rico yang menungguku.


"Morning Mrs. Scott." sapanya ramah


"Morning Rico." balasku sambil menutup pintu


"Hari ini mau saya setirkan?" tawar Rico dengan sopan.


"Gak usah, aku nyetir sendiri aja." balasku yang menolaknya sambil berjalan menuju lift.


"Baik."


"Rico, nanti sore kamu cek ya pesanan Arthur." perintahku sambil masuk ke lift.


"Baik." jawabnya kembali dengan sopan.


Aku segera menekan tombol lift dan pintu lift mulai tertutup.



*****



"Morning Anya." tegur Tere didepan ruanganku.


"Morning Ter." balasku sambil senyum.


"Udah denger berita belum?" tanya Tere sambil setengah berbisik dan berjalan menghampiriku.


"Apa?" tanyaku pelan


"Stasya, memenangkan tender untuk design kantor baru di Perkasa Raya!" ucapnya dengan mimik muka tak suka.

__ADS_1


"Serius?"



(Perkasa Raya? Rasanya pernah dengar!)



"Hm, terus?" lanjutku kembali.


"Ya dia kan jadi agak sombong mentang-mentang dia sudah berjasa untuk perusahaan. Kamu tau sendiri dia itu model orang kayak apa." jawab Tere ketus.


"Mungkin dia presentasinya bagus." jawabku yang tak mau ambil pusing.


"Anya! Kamu dan dia masih bagusan kamu! Dari segi hasil design, tutur kata, presentasi dan juga attituednya!" bela Tere yang tak suka dengan Stasya.


"Ter, udah gak usah dicemasin! Masih ada kok kesempatan yang lain." kataku dengan menghibur.


"Tapi Pak Steve makin membesar-besarkan nama Stasya! Kau tau sendiri Stasya senang dipuji-puji, diagung-agungkan! Makin besar kepala aja tuh!" ucap Tere dengan cemberut. Aku terdiam mendengar ucapannya tersebut, namun apa yang Tere ucapkan betul sih. Tapi mau bagaimana lagi? Aku pun baru dapat kabarnya dan aku merasa kayaknya aku kenal dengan perusahaan yang di menangkan oleh Stasya.



(Aku coba tanya Arthur deh nanti malam)



"Oh ya, pulang kerja kamu mau ikut gabung ke acaranya Stasya? Katanya Stasya mentraktir minum di Loiuse Club." tanya Tere


"Gak Ter! Aku masih ada keperluan lain." balasku yang tak minat.


"Oke, kamu gak ikut aku juga gak ikut!" celetuk Tere beranjak keluar dari ruanganku. Aku hanya membalas dengan senyum.


Aku segera menyalakan komputerku dan membuka email barangkali ada hal penting. Aku pun beranjak dari ruanganku menuju pantry kantor. Sudah menjadi kebiasaanku sebelum memulai aktifitas aku memutuskan untuk membuat teh susu dahulu.


Aku pun menyalakan pemanas air, dan menunggunya.


"Anya?"


"Hai, Stasya!" balasku dengan senyum sok manis.


"Buat apa?" tanyanya basa basi.


"Biasa, teh susu." jawabku sekedarnya.


"Oh, gak berubah!" balasnya dengan nada meremehkan.


Aku hanya tersenyum.



(Pergi sana! Cepat pergi!)



"Btw, kamu udah dengar kabar?" tanya Stasya yang sok pura-pura memastikanku dulu.


"Kabar apa? Oh kabar kamu menangin tender?" tembakku yang tak mau lama-lama dengannya.


"Iya! Aku pikir kamu belum tau." tanyanya yang sok akting.


"Sudah. Tere yang bilang tadi ke ruanganku." jawabku sekedarnya


"Selamat ya Stasya!" tambahku lagi sambil tersenyum sok manis.


"Sama-sama." balasnya dengan senyum puas.


"Nanti malam kamu ikut?" tanyanya kembali memastikanku.


"Malam aku ada keperluan Stasya! Maaf." dengan wajah sok mengibaku.


"It's okey! Next time kan bisa lo gabung!" balasnya yang sedikit kecewa karena aku tak ikut.



(Aku tau pasti kalau aku ikut, dia akan semakin besar kepala. )



"Yaudah, bye Anya." putusnya sambil berjalan pergi meninggalkanku di pantry.


"Yaaa." balasku dengan senyum palsu menggembang.


__ADS_1


*****


__ADS_2