
"Han, gimana menurut lo?", Erik bergaya di depan Farhan yang sedari tadi memilih duduk dan memainkan ponselnya.
"Wwiihhh keren Rik. Gue gak nyangka sepupu gue seganteng ini", puji Farhan jujur.
Erik tertawa senang, "Siapa dulu dong, Erik", jawabnya bangga.
Hari ini Farhan menemani Erik fitting baju pengantinnya. Ajeng tidak bisa menemani karena baru semalam dia terbang dari Paris.
"Geli ya lo yang nemenin gue fitting baju. Dikira kita yang nikah ha...ha...ha...", tawa Erik menggelegar saat dia duduk di samping Farhan.
"Diihh...sorry, gue masih doyan perempuan", Farhan bergidik melihat tingkah jahil Erik. Respon Farhan sukses membuat tawa Erik meledak semakin keras, membuat semua mata yang ada di butik itu melirik ke arah mereka berdua.
"Lo yakin Han mau single terus? mau sampai kapan? kemarin-kemarin lo yang tunangan duluan, eh malah gue yang duluan nikah. Kesalip, Han", Erik melirik Farhan yang mengacuhkannya.
"Udah deh gak usah bahas yang lalu. Gue support kok lo nikah duluan. Secara, umur juga tuaan lo, kan Rik", Farhan mendapat celah membalas serangan Erik.
"Ck, skakmat deh gue kalau udah urusan umur", jawab Erik sambil beranjak. Dia masuk kembali ke dalam ruang fitting untuk mencoba baju yang lain.
Ada tiga baju yang akan Erik kenakan dihari pernikahannya nanti. Baju untuk akad nikah yang bernuansa tradisional Jawa, baju resepsi siang bertema internasional, dan baju resepsi malam bernuansa glamour.
Farhan setia menemani Erik mencoba semua baju itu. Dia pun mencoba baju yang akan dikenakan keluarga besarnya nanti di acara pernikahan Erik dan Ajeng.
"Wah gila, lo lebih cakep Han daripada gue. Jangan sampai nanti tamu-tamu salah ngira kalau lo mantennya, bukan gue", seloroh Erik saat dia melihat Farhan tengah mencoba setelan jas berwarna burgundi.
"Enggak lah Rik. Jelas-jelas lo yang berdiri di pelaminan. Gue kan beredar", jawab Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.
Erik tersenyum, kali ini dia yang memilih untuk duduk melihat Farhan mencoba seragam keluarga yang juga dibuat di butik itu.
Erik memeriksa ponselnya dan melihat pesan dari Ajeng.
"Gue udah cocok Rik sama semua bajunya. Sekarang kita kemana?", tanya Farhan membuyarkan fokus Erik yang sedang menjawab pesan dari Ajeng.
"Sip. Kita ke cafe dulu Han, gue lapar akut nih", ajak Erik. Farhan meng-iya-kan dan tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di cafe yang tak jauh dari butik.
Erik dan Farhan segera memesan beberapa menu makanan, dan mereka memilih berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Kinara apa kabar, Han?", Erik mulai membuka suara.
__ADS_1
"Ck, gak ada angin, gak ada hujan. Ngapain lo nanyain dia?", jawab Farhan ketus.
"Ya gue mau tahu aja, Han. Udah lama banget semenjak lo studi di Jerman, lo gak pernah bahas soal dia lagi. Sekarang dia pasti udah sendiri setelah suaminya meninggal", lanjut Erik.
Farhan menghela nafas berat, "Ya. Gue sempat ketemu Kinara beberapa waktu yang lalu saat gue ke Paris".
Erik membentulnya posisi duduknya. Dia mulai tertarik dengan keterbukaan Farhan.
"Paris? ngapain dia di sana?", selidik Erik. Dia ingat beberapa waktu lalu Farhan memang pergi ke Paris untuk memenuhi undangan dari keluarga Giovani, sahabatnya saat kuliah di Jerman.
"Dia kuliah di sana. Ternyata dia teman baik dari adik sahabat gue, Giovani".
Erik mengangguk-anggukan kepalanya, "Terus?".
"Terus apa?", Farhan balik bertanya.
"Ya terus gimana? setelah sekian lama gak ketemu Kinara terus lo tiba-tiba ketemu dia lagi. Apa iya gak ada apa-apa?", tanya Erik tajam.
Lagi, Farhan menghela nafas dalam.
"Gue sempat ngobrol sebentar sama dia, antarkan dia pulang ke apartemennya dan ...", suara Farhan menggantung.
"Dan? dan apa Han?", tanya Erik penasaran.
"Silahkan mas", seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Farhan dan Erik.
"Ya, makasih mbak", jawab Farhan. Pelayan itu pun berlalu.
Erik belum menyantap makanannya, dia masih menunggu kelanjutan ucapan Farhan.
"Kok bengong Rik, ayo dimakan. Tadi lo bilang lapar akut", ujar Farhan yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Gue mau lo lanjutin cerita lo tadi, Han", jawab Erik yang masih menunda suapannya.
"Ck, makan aja dulu", jawab Farhan enteng.
"Ok, tapi nanti habis kita makan, lo mesti ceritain semuanya ke gue, deal?", todong Erik.
__ADS_1
Farhan hanya menganggukkan kepalanya. Dia sebetulnya enggan membahas lebih banyak pertemuannya dengan Kinara beberapa waktu lalu. Tapi beban di hatinya butuh tempat untuk dia luahkan, dan Erik, sepupu sekaligus sahabatnya ini selalu menjadi tempat yang tepat untuk Farhan membagi beban pikiran dan perasaannya.
Lima belas menit berlalu tanpa suara. Akhirnya santap siang Erik dan Farhan pun selesai. Kini mereka tengah duduk menikmati minuman dan dessert yang tadi mereka pesan.
"Jadi, gimana Han?", Erik menunggu.
Farhan menyeruput minumannya, "Gue jujur sama Kinara. Gue minta dia kasih gue kesempatan untuk jadi masa depannya", jawab Farhan datar.
Erik mengernyitkan dahinya, "Maksud gimana, Han?".
Farhan melirik Erik, sebal. Dia tidak ingin terlalu rinci membahasakannya.
"Ya, gue bilang tentang perasaan gue selama ini ke dia kek gimana dan gue berharap dia mau membuka hatinya buat gue. Udah itu aja", jawab Farhan kikuk. Farhan memang pemalu untuk urusan perasaan.
Erik tersenyum jahil melihat ekspresi Farhan.
"Ah akhirnya lo berani maju juga, Han. Gue dukung penuh. Jangan biarkan kesempatan kedua ini lepas lagi, Han", ucap Erik berapi-api.
Farhan terdiam mendengar jawaban Erik. Dia paham betul karakter Erik yang seperti itu.
"Han, gue pastikan Kinara datang ke acara nikahan gue nanti. Ajeng seminggu lalu ke Paris, dia sengaja ke sana buat ngundang Kinara. Gue mau dihari pernikahan gue, lo lamar Kinara, ya", ujar Erik to the point.
Farhan terkejut mendengar ucapan Erik, "Gila lo, Rik. Maksud lo apa nih?", Farhan sewot.
"Calm bro, jangan sewot gitu dong. Niat gue sama Ajeng baik kok. Kita awalnya mau kasih surprise buat lo sama Kinara biar bisa dekat lagi. Tapi karena lo udah jujur dan udah maju duluan, gue buka deh semuanya. Please Han, gue sama Ajeng cuma pingin lihat lo dan Kinara bahagia. Gue dan Ajeng yakin kalau lo laki-laki yang tepat buat Kinara setelah Erlangga gak ada", terang Erik.
Farhan terdiam, dia masih mencoba mencerna kejujuran Erik.
"Lo pernah kehilangan Kinara. Tapi sekarang Tuhan kasih lo kesempatan untuk memiliki Kinara. Gue tahu mungkin lo pikir kalau seolah lo ambil keuntungan dari keadaan Kinara saat ini. Tapi lo harus ingat, Han, Tuhan punya banyak cara untuk membahagiakan hidup setiap orang termasuk hidup lo dan Kinara. Bisa jadi perjuangan cinta lo memang harus berliku dulu seperti ini", tambah Erik lagi.
"Tapi Rik, gue takut kalau Kinara gak bisa nerima gue. Gue bisa lihat di matanya segimana besar cinta yang dia punya buat Erlangga", jawab Farhan getir.
Erik menarik nafas, "Lo gak usah pikirkan itu. Lo maju lagi, ambil kesempatan ini karena urusan hati Tuhan yang berhak. Lo cuma bisa mengira-ngira. Please Han, gue harap lo gak mundur hanya karena hal itu", Erik meyakinkan.
"Masih ada waktu seminggu lagi dari sekarang. Gue prepare buat kawinan, lo prepare buat lamaran, ya. Sisanya biar gue sama Ajeng yang urus", lagi, Erik memotivasi Farhan.
Farhan mencoba tersenyum meski hati dan pikirannya kalut. Akalnya bisa menerima maksud baik Erik, tapi hatinya masih ragu apakah Kinara akan memberinya kesempatan atau tidak? tapi ucapan Erik ada benarnya juga, Farhan harus mengambil kesempatan kedua ini apapun resikonya.
__ADS_1