
"Rik, lusa gue mau balik ke Indonesia", dengan santainya Farhan memberi tahu Erik tentang rencana kepulangannya.
"Ok, mendadak banget, Han. Ada apa?", tanya Erik yang sedang sibuk menyortir beberapa berkas di mejanya.
"Gue kangen pulang, Rik. Lo tahu kan Elena sekarang udah gak ada dan gue butuh merelaksasi diri dan pikiran gue. Gue penat di sini", keluh Farhan.
"Ok, nanti gue urus kepulangan lo ke sini", jawab Erik cepat. Dia tahu tentang kecelakaan dan kepergian Elena, Farhan sudah menceritakan semuanya.
"Ck, dia pasti frustasi berat, mau nikah malah ditinggal pergi", gumam Erik membayangkan nasib naas sepupunya itu.
Tok...tok...tok
"Ya, masuk", jawab Erik saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Maaf pak, ada telepon dari Pak Erlangga, direktur Wijaya Group, mohon diterima", Siska, sekretarisnya memberitahu karena sedari tadi Erik sibuk menerima telepon dari Farhan.
"Ok, sambungkan ke saya", perintah Erik. Siska mengangguk dan segera berlalu.
"Selamat siang Pak Erlangga, mohon maaf tadi saya sedang menerima telepon", Erik membuka percakapannya.
"Oh ya, tak apa Pak Erik. Saya hanya ingin memastikan kembali kerja sama perusahaan kita. Pak Erwin bilang Anda yang akan mengurusnya", jawab Erlangga.
"Ya tentu, pak. Saya baru selesai mempelajari kembali berkas kerja sama perusahaan kita dan saya pastikan kerja sama ini akan berlanjut".
"Wah, senang sekali saya mendengarnya, pak. Baik, mulai besok kita sudah mulai bisa merealisasikan kerja sama kita ya. Nanti saya minta asisten saya, Soni untuk mengurus semua kelengkapan yang bapak minta".
"Ya, baik pak. Saya tunggu ya", Erik menutup teleponnya.
Kini matanya sibuk, kembali memeriksa tumpukan berkas dan email yang masuk. Pak Erwin, direktur utama sementara sekaligus ayahnya, saat ini sedang melakukan dinas ke cabang perusahaan Ganindra Group yang ada di Kalimantan, semua pekerjaan otomatis berpindah kepadanya.
Sudah dua jam Erik membaca satu per satu berkas dan email yang masuk, dia meregangkan otot-ototnya, pegal dan lelah.
"Sis, saya mau pergi dulu keluar. Kalau ada yang mencari saya, minta kontak saya langsung, ya", Erlangga meninggalkan pesan kepada sekretarisnya sebelum dia keluar meninggalkan kantor.
"Baik, pak", jawab Siska.
Erik segera melajukan mobilnya, mengurus dan mempersiapkan kepulangan Farhan ke Indonesia. Selepas itu, dia memilih memarkirkan mobilnya disebuah resto yang letaknya agak jauh dari kantor.
Resto itu nyaman sekali, berada di area perbukitan dengan view suasana kota. Saat malam tiba, view itu akan terlihat lebih indah dengan kerlip cahaya lampu.
Erik memilih tempat duduk yang menghadap ke arah view kota itu. Seorang pelayan datang dan memberikan daftar menu.
Erik memesan segelas kopi hitam, beef steak black pepper dan salad buah. Pelayan itu segera berlalu setelah Erik selesai memesan makanannya.
'Nasib jomblo ya begini. Pusing sendiri, nongkrong juga sendiri', batin Erik pilu.
Sambil menunggu pesanannya datang, Erik memilih untuk berjalan-jalan di sekitar tempatnya duduk.
Resto itu memiliki sebuah taman kecil yang di dalamnya terdapat mini play ground, ada ayunan dan perosotan yang juga bisa dipakai oleh orang dewasa.
__ADS_1
Erik memilih mencoba duduk diayunan itu dan mengayunkannya. Dia memandanga view di depannya, sesekali dia menarik nafas dalam, merasakan kesejukan udara di resto itu.
Brukk
"Aadduuhh...", tanpa sengaja ayunan yang Erik naiki menabrak seseorang.
Erik segera menengok ke belakang, dilihatnya seorang perempuan sedang berusaha bangun dan membersihkan pakaiannya. Erik buru-buru menghampiri.
"Maaf mbak, saya gak sengaja. Ada yang sakit atau luka?", Erik membantu perempuan itu berdiri dan memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.
"Aku enggak apa-apa kok, mas. Lain kali hati-hati dong kalau naik ayunan, lihat depan belakang, ada orang atau enggak", perempuan itu protes.
"Sekali lagi saya minta maaf ya mbak", kata Erik penuh penyesalan.
"Mbak yakin gak ada yang sakit atau luka? kalau ada, ayo kita ke dokter", kata Erik lagi memastikan keadaan perempuan itu.
Perempuan yang dimaksud hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Mbak, sebagai permintaan maaf saya, bagaimana kalau saya traktir mbak makan di sini? mbak boleh memesan apa saja", tawar Erik.
Perempuan itu terdiam sejenak, memikirkan tawaran Erik. Kedatangannya ke resto ini memang untuk makan siang juga dan kebetulan dia pun belum memesan makanan karena setiba di resto dia tertarik melihat koleksi bunga yang ada di dalam rumah kaca di dekat ayunan yang tadi Erik naiki.
"Ok", jawabnya pendek.
Erik tersenyum. Dia mengajak perempuan itu untuk duduk satu meja dengannya. Erik segera memanggil pelayan dan membiarkan perempuan di depannya memesan apapun yang dia mau.
"Iya. Please ya mas, jangan panggil saya mbak. Saya belum setua itu", perempuan itu protes lagi.
"Oh ya, maaf. Kita belum berkenalan. Kenalkan nama saya Erik, lengkapnya Erik Mahendra", Erik mengulurkan tangan kananya.
Perempuan itu menerima uluran tangan Erik.
"Namaku Ajeng Putri Wijaya, biasa dipanggil Ajeng".
Erik mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Pelayan pun datang membawa hidangan yang mereka pesan.
"Ajeng masih kuliah atau udah kerja?", tanya Erik disela-sela makan siangnya.
"Aku baru lulus, lagi cari kerjaan sih", jawabnya pendek.
"Oh, freshgraduate ya. Lulusan apa?", tanya Erik lagi.
"Bahasa Prancis", jawab Ajeng santai.
"Wow, hebat. Berarti jago dong bahasa Prancisnya?".
Ajeng mengangguk penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
"Kamu sendiri, kerja ya? di mana?", giliran Ajeng yang bertanya. Dia memperhatikan penampilan Erik yang rapi berkemeja dan berjas.
"Ya. Saya bekerja di perusahaan Ganindra Group".
"Oh...bagian apa?", selidik Ajeng lagi.
Erik tersenyum, "Penasaran ya?", godanya.
Ajeng mengerucutkan mulutnya, sebal dengan tingkah Erik.
Erik tertawa kecil.
"Saya wakil direktur utama di sana", jawabnya enteng.
"Waaah, wakil direktur utama? keren kamu", jawab Ajeng tak menyangka jika ternyata Erik bukan orang sembarangan.
Erik tersenyum manis, "Biasa aja kok".
"Ih, itu gak biasa lah. Kamu masih kelihatan muda tapi udah jadi wakil direktur utama. Keren dong. Coba aku, baru lulus, belum dapat kerja malah magang di butik mamaku", tanpa sadar Ajeng curhat.
Erik menatap Ajeng, 'Gadis ini menarik sekali', bisik hati kecilnya.
"Oh ya, please kamu kalau bicara sama aku, jangan pakai kata 'saya' ya. Itu terlalu formal. Pakai sebutan 'aku' atau nama aja keknya lebih akrab", ucap Ajeng setelah menyeruput orange juice miliknya.
Lagi-lagi Erik tersenyum. Baru kali ini dalam hidupnya dia bertemu dengan seorang wanita yang mudah mengakrabkan diri, dan entah kenapa Erik merasa nyaman dengan sikap Ajeng. Tak ada rasa canggung diantara mereka.
"Kalau boleh tahu, kamu cari pekerjaan seperti apa, Jeng?", tanya Erik.
"Mmm...bingung juga sih. Basic aku kan bahasa Prancis, ya mungkin mentok-mentok jadi penerjemah, guru bahasa Prancis, penulis atau kerja di kedutaan besar gitu".
Erik mengangguk-anggukan kepalanya.
"Selain berbahasa Prancis, kemampuan kamu yang lain, apa?", tanya Erik kembali.
"Aku bisa bahasa Inggris, aku juga lumayan jago buat desain dan mengelola web. Di butik mamaku tugasku ya begituan".
"Wah, hebat juga ya kamu. Ini, besok jam sembilan pagi kamu datang ke kantorku", Erik memberikan kartu namanya.
Ajeng menerima kartu nama itu, "For what I come to your office?", tanya Ajeng heran.
"Ku rasa di kantorku ada posisi yang cocok untukmu, bagaimana?".
Mata Ajeng membulat bahagia. Dia segera menganggukan kepalanya, hampir tak percaya jika insiden tadi mempertemukannya pada sebuah pekerjaan.
"Jangan lupa, besok jam 9 pagi. Jangan terlambat. Kalau kamu nyasar, kamu bisa mengontakku, ya. Nomorku ada di kartu itu", kata Erik lagi.
"Ok bos, siap", jawab Ajeng senang.
Erik segera membayar makan siang mereka dan keduanya pun berpisah. Erik kembali ke kantornya dengan mobil sedangkan Ajeng pulang dengan motor kesayangannya.
__ADS_1