
Farhan melirik jam di tangannya. Dia baru sadar sedari tadi Kinara tak lagi keluar kamar.
"Hmm...kemana dia? lama sekali", gumam Farhan. Farhan bergegas beranjak dari sofa dan menuju kamar tidurnya.
Mata Farhan dengan jeli mencari Kinara, tapi istrinya itu tak nampak di sana.
Tok...tok....tok
"Sayang, apa kamu di dalam?".
Ketukan pintu itu membuat Kinara terperanjat. Dia baru sadar jika dia sudah berdiri lama di dalam kamar mandi.
"I...iya, mas. Sebentar lagi aku keluar", jawab Kinara gugup.
"Apa kamu baik-baik saja di dalam?", Farhan memastikan.
"I...iya, mas".
"Baiklah. Jangan terlalu lama, aku khawatir", Farhan beranjak dari depan pintu kamar mandi. Dia memilih keluar, menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Setelah merasa cukup membersihkan diri di sana, Farhan kembali ke kamar.
"Sayang, masih di kamar mandi?", Farhan tak melihat Kinara di dalam kamar.
"I...iya, mas".
"Apa terjadi sesuatu di sana? sudah satu jam lebih kamu tidak juga keluar", seru Farhan.
"Ini aku mau keluar, mas".
"Baiklah, tolong jangan membuatku khawatir", ucap Farhan lagi. Lalu dia menghampiri lemari dan mengambil pakaiannya tidurnya.
Kinara menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Dia benar-benar kesulitan menenangkan dirinya.
"Apa kata Mas Farhan ya kalau dia melihatku seperti ini?", batin Kinara.
"Ah, sudahlah. Jangan terus berpikir macam-macam. Keluar saja dan hadapi semuanya", Kinara sibuk berbicara dengan dirinya sendiri.
Clek
Terdengar pintu kamar mandi di buka. Farhan yang sedari tadi duduk bersandar di kasur sambil mengecek email mengalihkan pandangannya.
Matanya terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depannya Kinara sudah berdiri dengan gaun tidur terbuka dan transparan membuat Farhan bisa melihat dengan jelas hampir seluruh bagian tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Kinara menunduk malu. Dia tak berani mengangkat kepalanya sedikitpun bahkan dia hanya berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa kamu diam di sana, sayang? kemarilah", ucap Farhan lembut.
Kinara masih mematung. Rasa malu dan gugupnya membuat dia tak mendengar jelas apa yang diucapkan Farhan barusan.
Melihat istrinya diam. Farhan segera beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan mendekati Kinara dan tanpa permisi menggendong tubuh ramping itu.
"Mas...", Kinara memekik kecil karena terkejut. Kedua tangannya spontan melingkar di leher Farhan.
Kini kedua mata mereka saling beradu. Farhan bisa melihat semburat rona merah dikedua pipi istrinya.
"Apa kamu ingin menggodaku malam ini?", tanya Farhan dengan senyum dan tatapan nakal.
"Bu...bukan begitu, mas. Aku...aku hanya...", suara Kinara tercekat.
Farhan tersenyum menatap istrinya, "Tak apa, aku sangat senang melihatmu malam ini", bisik Farhan, membuat Kinara meremang.
Farhan merebahkan tubuh istrinya dengan lembut di atas kasur. Kedua tangannya ada di samping bahu Kinara. Farhan menatap istrinya dengan seksama, memperhatikan setiap bagian tubuh Kinara dari atas hingga bawah.
"Mas...jangan begitu. Aku malu", Kinara mencoba menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Farhan tertawa kecil.
"Kenapa malam ini kamu begitu menggemaskan, sayang?".
"Bisakah malam ini kita melakukannya?", tanya Farhan setelah Kinara ada dalam dekapannya.
Kinara tersenyum dan mengangguk malu-malu. Tanpa menunggu lama, Farhan mulai menautkan bibirnya pada bibir Kinara. Mereka menikmati ciuman itu.
Farhan mengelus lembut punggung Kinara. Memeluk mesra pinggang ramping istrinya. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut, perlahan Farhan kembali merebahkan tubuh Kinara.
Bibir mereka masih saling bertaut. Sesekali Kinara meremas rambut suaminya. Tangan Farhan mulai bergerilya menjelajahi tubuh Kinara. Ciuman itu mulai berpindah ke leher jenjang Kinara. Meninggalkan beberapa jejak di sana yang membuat istrinya mulai dirajai rasa panas. Terlebih saat tangan Farhan dengan berani menyentuh dada dan area sensitif Kinara.
"Aaahh...mas...", Kinara sudah mulai tak bisa menahan dirinya. Ada desakan yang tak bisa dia artikan saat suaminya semakin liar mengabsen satu demi satu bagian tubuhnya.
Farhan tersenyum mendengar desahan Kinara. Terlebih saat tubuh istrinya menggelinjang beberapa kali karena sentuhannya.
"Aku suka desahanmu, sayang", bisik Farhan lembut di telinga Kinara.
Kinara malu mendengarnya tapi dia sendiri tak bisa mengendalikan dirinya. Perlahan tapi pasti, Farhan terus bermain-main dengan tubuh Kinara. Dia ingin memastikan malam ini akan menjadi malam terindah untuk mereka berdua.
Farhan mulai melepaskan pakaiannya satu per satu dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Tangannya perlahan menarik ikatan tali kecil di gaun tidur Kinara, membuat pakaian itu terlepas dari tubuh pemakainya.
Pemandangan di depan mata Farhan semakin indah. Tubuh putih mulus Kinara benar-benar menggodanya. Nafas Farhan semakin memburu. Dia sudah tak canggung untuk menjelajahi semuanya.
__ADS_1
"Sayang, bisakah kita memulainya sekarang?", bisik Farhan meminta persetujuan.
Kinara mengangguk pelan, "Mas, apa ini akan terasa sakit?", tanya Kinara malu-malu.
Farhan tersenyum, "Aku akan melakukannya pelan-pelan. Bukankah kamu sudah pernah melakukan ini sebelumnya?", tanya Farhan yang sudah mulai mengunci tubuh Kinara.
Farhan menganggap keintiman mereka malam ini bukan hal baru bagi Kinara yang pernah menikah sebelumnya.
Kinara menggelengkan lagi kepalanya, "Tidak, mas. Ini yang pertama bagiku".
Farhan mengernyitkan dahinya, "Maksudmu?".
"Mas Erlangga dan aku belum pernah melakukan hal seperti ini, mas", Kinara membuka sedikit cerita masa lalunya.
"Benarkah? jadi kamu...", Farhan tak melanjutkan ucapannya. Dia mengecup kening Kinara.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan, sayang", janji Farhan. Kinara mencoba tersenyum mendengar janji itu.
Pakaian dalam keduanya pun kini sudah terlepas. Farhan menyentuh area sensitif Kinara, sudah basah. Kegiatan inti mereka pun dimulai.
"Ahh, mas...", Kinara meremas bahu Farhan dan menggigit bibir bawahnya saat dia merasakan sesuatu yang masuk di bawah sana.
Farhan yang menyadari istrinya merasakan kesakitan segera ******* bibir Kinara. Dia mencoba mengalihkan rasa sakit itu dengan ciuman dan sentuhan.
Pergumulan mereka terus berlanjut. Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan luar biasa yang tak pernah keduanya rasakan sebelumnya. Permainan Farhan semakin panas, jejaknya sudah banyak terlihat di tubuh Kinara.
Kinara pun semakin tak bisa menahan dirinya. Berkali-kali suara desahan lepas dari mulutnya membuat Farhan semakin bergairah dan bersemangat menikmati malam pertama mereka.
"Sayang, ini nikmat", ucap Kinara tanpa ragu dan malu lagi.
Senyum nakal terulas di bibir Farhan, "Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah kamu lupakan, sayang".
Farhan terus mengendalikan permainan. Meski ini pengalaman pertama baginya, tapi sebagai seorang lelaki, Farhan tahu harus berbuat apa sedangkan Kinara hanya bisa mengikuti ritme keganasan suaminya itu.
Malam semakin larut, tapi kedua insan yang tengah menikmati surga dunia itu seolah tak menghiraukannya. Suasana kamar semakin panas, peluh pun mulai nampak dari tubuh Kinara dan Farhan. Nafas mereka bersahut-sahutan, nafas yang sama-sama penuh gairah.
Entah sudah berapa kali pelepasan, Farhan masih kuat menggenjot Kinara.
"Mas, aaahh...aku...aaahhh...", Kinara mendesah saat sesuatu yang basah keluar dari miliknya bersamaan dengan semburan cairan hangat milik Farhan.
Tubuh Kinara pun terkulai lemas, begitupun dengan Farhan. Mereka mencoba mengatur deru nafas.
"Kemarilah, sayang", Farhan merentangkan kedua tangannya, meminta Kinara merebahkan kepalanya di sana. Kinara segera memenuhi permintaan suaminya itu.
__ADS_1
"Terimakasih", Farhan mengecup puncak kepala Kinara. Selimut menutupi tubuh polos keduanya yang tertidur karena lelah.