Unknown Love

Unknown Love
Ancaman Erlangga


__ADS_3

Farhan dan Erik sudah duduk bersama di ruang kerja Farhan. Seperti yang sudah dijadwalkan, dua puluh menit lagi mereka akan memulai meeting virtual dengan perusahaan Wijaya Group.


"Ok Han, semuanya udah ready", Erik memastikan semua yang dibutuhkan dimeeting virtual kali ini lengkap.


"Ok", jawab Farhan pendek.


Erik dan Farhan kini menunggu dua puluh menit itu berlalu. Mereka terbiasa memulai dan mengerjakan sesuatu tepat waktu.


Tok...tok...tok


"Ya masuk", jawab Farhan kepada orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


Terlihat Ajeng menyembulkan kepalanya, "Maaf pak, bisakah saya meminta waktu bapak untuk melihat web perusahaan yang sudah saya perbaiki?".


"Aku ada meeting virtual sebentar lagi. Biar Erik yang cek", Farhan melirik Erik di sampingnya yang langsung berjalan ke arah Ajeng.


"Oh, baik pak, saya tunggu di ruang IT", kata Ajeng berlalu pergi.


"Ok, Han, gue ke bagian IT dulu. Semua berkas yang lo butuhkan ada di meja dan direktur Wijaya Group itu tahunya ayah gue direktur di sini. Tapi tadi gue udah kasih kabar ke asisten direkturnya kalau lo udah balik ke sini", pesan Erik. Farhan hanya menganggukan kepalanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 13.20WIB, meeting virtual itu pun dimulai.


Farhan memulai meeting itu dengan menjawab salam dan perkenalan dengan seseorang bernama Soni.


"Jadi, Pak Farhan ini direktur Ganindra Group yang sebenarnya?", tanya Soni sesaat setelah mereka saling memperkenalkan diri.


"Yaa...bisa dibilang begitu. Tapi hanya untuk satu bulan ini saja, selama Pak Erwin sedang bertugas ke Kalimantan", jawab Farhan santai.


Terlihat Soni tersenyum, dan kini mereka mulai membahas poin-poin kerja sama antara Ganindra Group dengan Wijaya Group.


Setengah jam berlalu.


"Baik Pak Farhan, sebentar lagi atasan saya akan berbicara langsung dengan Anda untuk membahas detail teknis kerja sama perusahaan kami dengan perusahaan Anda. Sekali lagi saya mohon maaf karena saya harus mewakili beliau dulu. Saat ini beliau baru selesai menerima tamu", terang Soni.


"Ya tak apa, saya akan menunggu".


Layar nampak kosong, belum terlihat direktur utama Wijaya Group di sana. Farhan menghabiskan waktunya dengan mencermati kembali berkas kerja sama yang tadi disiapkan oleh Erik.


"Selamat siang pak, mohon maaf saya sudah membuat Anda menunggu", sebuah suara dari layar laptop terdengar.


Farhan mengalihkan pandangan matanya ke arah suara itu berasal. Matanya membelalak saat dia melihat sosok yang ada di seberang layar itu. Begitupun dengan orang yang tadi menyapa Farhan.


"Anda? Pak Erlangga?", ucap Farhan terkejut.

__ADS_1


Orang yang dimaksud Farhan terlihat menunjukkan ekspresi datar.


"Ya, saya Erlangga Pratama Wijaya. Apakah Anda Farhan, mahasiswa saya dulu?", tanya Erlangga memastikan.


Farhan menelan salivanya, dia masih tak percaya jika saat ini dia berbincang dan beradu tatap dengan lelaki yang membuatnya harus melupakan Kinara.


"Iya, saya Farhan. Farhan Ganindra, mahasiswa bapak, dulu. Apa kabar Pak Erlangga? sebuah kejutan besar saya bisa bertemu dengan Anda kembali", Farhan menjawab dengan tenang. Dia sudah bisa mengendalikan dirinya lagi.


"Kabar saya baik, bagaimana dengan Anda? Ya, ini benar-benar sebuah kejutan. Saya tidak menyangka jika Ganindra Group adalah perusahaan Anda", ucap Erlangga jelas.


Farhan tersenyum, dia berusaha profesional.


"Saya pun demikian, pak. Oh ya, saya sudah membaca berkas kerja sama perusahaan kita dan tadi, asisten Anda pun sudah membahas garis besarnya dengan saya".


"Oh begitu. Bagaimana? apakah Pak Farhan setuju dengan kesepakatan yang sebelumnya sudah saya buat dengan Pak Erwin dan Pak Erik?".


"Sejauh ini saya setuju, pak. Saya lihat keuntungan kita sama besarnya. Jika Wijaya Group siap, saya bisa langsung menjalankan kerja sama ini secepatnya".


"Oh tentu saja, pak. Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda. Jika ada hal-hal yang tidak disepakati atau berubah, saya harap Ganindra Group bisa membahasnya kembali", ujar Erlangga.


Farhan menganggukkan kepalanya. Kini keduanya saling menandatangani berkas kerja sama di mejanya masing-masing.


"Setelah ini, saya akan segera meminta Soni untuk mengirimkan email dan fax berkas yang sudah saya tandatangani".


"Baik, saya tunggu, Pak Erlangga. Erik pun akan mengurus hal yang sama", jawab Farhan.


"Tunggu...", Erlangga menahan Farhan yang nampak sudah siap mematikan meeting virtual mereka.


"Ya?".


"Bisakah kita bicara sebagai laki-laki?", tanya Erlangga.


Farhan mengernyitkan alisnya, "Maksud Anda?".


"Ini tentang Kinara".


Farham terdiam. Dia tak berminat membahas apapun yang berhubungan dengan Kinara.


"Maaf, pak, saya rasa tak ada yang harus kita bahas tentang istri bapak itu".


"Baguslah kalau Anda sudah sadar bahwa Kinara adalah istri saya", ujar Erlangga sinis.


"Dengar, saya tidak tahu seberapa dekat hubungan Anda dengan istri saya dulu. Tapi saya minta, Anda jangan pernah mengingat atau menemuinya lagi. Kepergian Anda selama ini berdampak baik pada hubungan saya dengan Kinara", Erlangga memberikan penekanan pada ucapannya.

__ADS_1


Farhan menyunggingkan senyum sinisnya, "Maaf, pak, saya tidak ada waktu untuk memikirkan apalagi menemui istri Anda. Saya sangat paham posisi saya".


Erlangga menarik nafas dalam, ia tak suka dengan nada bicara Farhan.


"Saya tak menyangka, mahasiswa saya dulu sekarang bisa menjadi rekan bisnis saya. Yaaa...syukurlah kalau Anda paham posisi Anda. Setidaknya Kinara tidak tahu siapa Anda saat ini", tatapan tajam mata Erlangga menusuk.


"Tenang saja Pak Erlangga, saya akan profesional dalam bekerja. Saya tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, apalagi menarik kembali masa lalu ke masa depan saya. Itu tidak akan saya lakukan", tegas Farhan.


Erlangga tersenyum senang mendengar jawaban Farhan. Kali ini dia merasa kemenangannya mendapatkan Kinara semakin sempurna.


"Jika tidak ada lagi yang mau Anda bahas, mari kita akhiri meeting virtual ini, dan soal tindak lanjut kerja sama perusahaan kita, Erik akan menanganinya segera. Selamat siang", Farhan menutup meeting virtual itu tanpa menunggu respon dari Erlangga.


Sekarang Farhan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ingatannya kembali terbawa ke peristiwa lama ketika dirinya tanpa sengaja melihat kebersamaan Kinara dengan Erlangga di kampus.


'Aaaarrgghh...perempuan itu benar-benar harus dilupakan', teriak batin Farhan. Tetiba saja kebencian muncul di benaknya.


Erik masuk tanpa permisi ke dalam ruang kerja Farhan. Dilihatnya bossnya itu tengah menundukkan kepalanya yang disangga oleh kedua tangannya.


"Hei, lo kenapa, Han?", tanya Erik heran tapi Farhan tak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya sebentar, melirik ke arah Erik lalu membuang pandangannya ke sisi yang lain.


"Apa ada masalah dengan kerja sama kita?", selidik Erik lagi. Dia memilih duduk di kursi yang berseberangan dengan Farhan.


Berkali-kali Farhan menarik nafas dan membuangnya, seolah dia tengah sibuk menenangkan hati dan pikirannya yang tak karuan. Erik masih duduk, menunggu jawaban.


"Han, lo kenapa sih? gue tinggal sebentar, tampang lo udah kusut begitu. Kenapa? apa Pak Erlangga membatalkan kerja sama perusahaannya dengan kita?", Erik mengulang lagi semua pertanyaannya.


"Urusan kerja sama kita aman, Rik. Tapi ini soal Kinara", ucap Farhan lirih.


Giliran Erik yang menarik nafas dalam, "Ck, soal perempuan itu lagi. Ada apa lagi sih Han sama dia?", Erik masih tak habis pikir bossnya terus merutuki Kinara.


"Gue...gue gak nyangka kalau Pak Erlangga yang lo bilang itu ternyata suami Kinara", suara Farhan terdengar lemah.


"What?", Erik terkejut.


Farhan menatap Erik serius, "Lo tahu, Pak Erlangga itu dulu dosen gue di kampus dan dia sekarang suaminya Kinara sekaligus direktur utama Wijaya Group. Pembahasan bisnis kita baik, tapi setelahnya dia bahas soal istrinya. Dia minta gue melupakan dan menjauhi Kinara", terang Farhan.


"Gila, gue gak percaya, Han", Erik menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gue apalagi. Terakhir kali gue tahu Kinara mau nikah, gue udah berusaha pergi sejauh-jauhnya dari hidup dia, bahkan gue gak berusaha menemuinya. Tapi...aaarrgghh...gue gak suka suaminya nuduh gue macam-macam, seolah kehadiran gue mengusik kehidupan mereka", Farhan mendengus kesal.


Erik mengerti posisi Farhan. Dia juga adalah saksi bagaimana Farhan lari dari kebahagiaannya. Bersusah payah menata kembali hidupnya setelah salah satu harapannya kandas untuk bisa menikahi Kinara.


"Udahlah bro, sekarang lo fokus aja sama kerjaan dan kerja sama kita dengan Wijaya Group. Terserah direktur itu mau bilang lo apa. Selama lo memang gak melakukan itu, lo bersih dari tuduhan apapun", Erik mencoba menenangkan Farhan.

__ADS_1


Farhan berusaha tersenyum, "Iya Rik. Lo benar. Fokus gue sekarang adalah masa depan gue, thank's ya".


Erik membalas senyuman itu, dia menunjukkan kepalan tangannya, mereka saling adu kepal sebagai bentuk keakraban.


__ADS_2