Unknown Love

Unknown Love
Bermain


__ADS_3

Kirana memasak untuk Altezza, ia datang pagi-pagi sekali agar Altezza tak melihatnya memasak.


Awalnya ia tak ingin pulang, tapi Altezza tetap tanggung jawabnya terlebih lagi ia mabuk. Keenan juga sudah memberikan penjelasan, jadi Kirana harus mengerti keadaan Altezza.


"Kirana apa yang kau lalukan?."


Kirana menelan salivanya, ia menoleh dengan perlahan dan mengerutkan kening melihat keadaan Altezza.


"Kirana." Panggil Altezza lagi.


"Iya?."


"Kenapa kau memasak? Izumi tak-"


"Izumi?." Kirana menghela nafas pelan, ia mengulum bibirnya dan lanjut memasak.


Altezza berjalan mendekati Kirana, sesaat ia menatap Kirana yang tak acuh padanya.


"KIRANA!." Altezza mengambil masakan Kirana dan menjatuhkan nya ke lantai.


Kirana sedikit terkejut dan mundur beberapa langkah, ia juga memegang tangannya yang terkena makanan panas itu.


"ALTEZZA APA YANG KAU LAKUKAN?." Teriak Kirana.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Memasak? Izumi sama sekali tak bisa memasak."


"LALU APA? Kau memanggilku Kirana itu berarti aku bukan Izumi. Aku KIRANA, Al aku Kirana." Usai mengatakan hal itu Kirana mencuci tangannya dan mengambil tasnya.


Sejenak ia menatap Altezza dengan tatapan marah, "Sekali saja, kau coba untuk melepaskan obsesimu itu. Kau sudah keterlaluan Altezza."


Kirana menendang panci yang berada dilantai itu, "Aku mencoba mengerti dirimu tapi kau terlalu buta untuk melihat orang yang di hadapanmu ini."


_&_&_


Altezza meregangkan lehernya dan bersandar di kursi ia menatap kosong ke langit-langit hingga Keenan masuk meletakkan sekotak makanan.


"Kirana yang mengantarnya?."


Keenan mengangguk dan duduk di sofa, ia juga meletakkan sekotak cupcake, "Kirana bilang itu sisa makanannya."


Altezza mengernyitkan alisnya dan membuka kotak makan siangnya, "Makanan sisa?."


Biasanya bekalnya akan sangat rapi namun kali ini semua lauk dicampur menjadi satu... ya seperti makanan sisa.


Namun itu lebih baik daripada makanan luar.


"Apa jadwalku setelah ini?."


"Tidak ada." Jawab Keenan dengan mulut yang penuh makanan.


"Tidak ada?." Altezza mengernyitkan keningnya, "Kenapa tidak ada?."


"Aku men-g-ongkan jadwal mu, hayi ini wi ku akan beanding , aku ti-ak bisa tuk tak meyihatnya." Ucap Keenan tak jelas.


"Keenan." Tegur Altezza.


Keenan menelan makanan di mulutnya dan tersenyum puas, "Maaf bos, Cupcake nya terlalu enak hingga aku tidak bisa berhenti memakannya."

__ADS_1


"Benarkah?." Altezza mencoba cupcake itu juga dan mengangguk setuju, "Ini memang enak. Dimana kau membelinya?."


Keenan berpikir sejenak, "Seorang wanita memberikannya padaku, sayangnya dia tidak bisa terus membuat makanan enak karena suaminya."


"Kenapa?."


"Kenapa? Tentu saja karena suaminya tak suka melihat nya memasak, tidak tau bagaimana pikirannya menolak makanan enak seperti ini." Ucap Keenan kemudian melanjutkan, "Jika itu aku, aku akan menyuruhnya masak setiap hari."


Altezza menatap Keenan dengan tatapan menyelidik, "Yang kau maksud itu siapa? Aku."


Keenan tersenyum mengangguk, "Hm, memang bisa siapa la-"


Keenan menghentikan ucapannya, ia mengambil cupcake nya dan berjalan keluar dengan perlahan.


"Maaf bos, aku pergi dulu."


Namun tak lama kemudian Keenan muncul kembali dari balik pintu, "Bos karena kau senggang, bagaimana jika ikut aku juga?."


Altezza terdiam sejenak dan mengangguk, "Baiklah."


Keenan dan Altezza menuju tempat pertandingan Game. Saat mereka ditempat parkir Altezza tak sengaja melihat Kirana masuk dengan tangan kiri yang sedikit diperban.


"Keenan kau tau Kirana tinggal dimana kemarin?."


Keenan mendadak gugup, "Bu-bukannya dirumahnya?."


"Sebelum ke kantor aku mampir kerumahnya namun mobilnya tak ada."


Keenan tertawa canggung, "Mobilnya saja tertinggal di kantor."


Keenan mengangguk pelan, "Dia menginap di rumah Ravindra."


"Ravindra? Kenapa? Bu-"


Keenan menutup mulut Altezza dengan tangannya, "Aku akan mengatakan ini sebagai temanmu, jangan sia-siakan Kirana. Di lihat dari bagaimana dia khawatir kemarin, aku curiga bahwa dia sudah menyukai Kirana."


"Tapi tetap kau biarkan?."


"Tentu saja, jika Ravi lebih baik darimu aku tidak akan segan-segan membantu Kirana bercerai denganmu. Dan juga..." Keenan menatap tajam Altezza, "Kau menamparnya didepan umum lalu membuat tangan nya terbakar tadi pagi, dua hal ini cukup membuatku membantunya lepas darimu."


"Keenan kau berani berbicara seperti itu denganku?."


"Tentu saja berani. Sebelum menjadi sekretaris mu aku adalah temanmu. Aku punya hak menasihatimu." balas Keenan


"Ouh benarkah? Bukankah itu karena Ayahmu bercerai dengan wanita itu makanya kau tak takut aku pecat?."


Keenan mengangguk dan tersenyum lebar, "Kau benar."


..._&_&_...


Kirana berjalan menuju bangku penonton, ia melihat enam orang berada dipanggung dengan jessica yang berada ditengahnya.


"Dan yang terakhir adalah nomor 33."


Tiba-tiba lampu menyorotinya, Kirana menaikkan alisnya tak mengerti.


"Ayo Nona turun."

__ADS_1


Kirana menurutinya dan turun dengan ekspresi bingung. Ia berdiri di barisan yang sama dengan yang lainnya.


"Jadi kita sudah mendapatkan enam peserta, mari kita bertanya."


Satu persatu mereka ditanyai, tentang nama, pekerjaan dan juga level permainan mereka.


"Dan yang terakhir ini- ouh tangan mu terluka?." Tanya Pembawa acara itu ketika melihat tangan Kirana yang diperban.


"Tidak apa-apa hanya sedikit luka saja." jawab Kirana.


"Apa bisa bermain game?."


Kirana mengangguk.


"Kemudian tolong sebutkan nama dan pekerjaanmu."


Kirana memegang Mix yang diberikan, "Hallo semua, Nama saya Kirana adsila, pekerjaan saya seorang Guru."


"Guru?."


Kirana mengangguk.


"Wow, Guru.  Lalu kenapa kau bermain game ini? Dan Level berapa Bu Kirana saat ini?."


"Aa?." Kirana memiringkan kepalanya, ia berpikir sejenak kemudian melihat Cakra yang berada di bawah, "Jujur aku tidak memiliki Game ini. Namun bermain, aku hanya sekedar membantu muridku saja."


"Membantu mereka bermain game? Wuah Guru kita satu ini sedikit berbeda." Ucap Pembawa acara dengan sedikit tak percaya.


"Benar, daripada mereka bermain didepan kelas. Lebih baik setelah mereka menyelesaikan Pr dan tugas mereka aku membantu mereka bermain." Balas Kirana.


"Lalu Pemain mana yang merupakan Idolamu?."


"Sejujurnya aku tidak banyak tau pemain, tapi yang paling aku kenal adalah Cakra." ucap Kirana menunjuk Cakra.


"Jadi apa kau mau bermain dengannya nanti?."


Kirana mengangguk, "Tentu saja, aku ingin menjadi lawannya dan melihat seberapa bagus kemampuannya."


"Seperti sebuah tantangan, Cakra bagaimana tanggapan mu?."


Cakra yang berada dibawah berdiri sambil memegang Mix, "Aku sedikit gugup dan berharap kita bukan lawan."


"Cakra apa kau takut?."


Cakra mengangguk pelan, "Tentu saja, sedikit takut. Dia bermain game dengan luar biasa."


.....


Keenan dan Altezza yang berada di atas saling memandang, "Al kau tau bahwa Kirana bisa bermain game?."


Altezza menggeleng, "Kau tidak tau?."


"Tentu saja tidak, tapi jika dia benar-benar hebat maka aku akan memintanya mengajariku nanti." ucap Keenan.


"Keenan." Tegur Altezza.


"Al, Keenan kalian disini?."

__ADS_1


__ADS_2