Unknown Love

Unknown Love
Harapan


__ADS_3

Sebelum waktu subuh tiba, Farhan dan Kinara sudah bangun untuk membersihkan diri. Mereka melaksanakan sholat subuh bersama-sama. Ada rasa tenteram yang begitu dalam di hati keduanya, mereka benar-benar sudah menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya.


Farhan begitu khusyu menjadi imam sholat. Bacaannya fasih dan meneduhkan. Kinara pun nampak khusyu mengikuti setiap bacaan dan gerakan sholat suaminya.


Selepas sholat subuh ditunaikan, keduanya berdo'a.


"Tuhan, terimakasih tak terhingga karena Kau telah meridhoi kami untuk bersama. Mampukan aku untuk menjadi suami yang baik bagi istriku dan jadikanlah istriku sebagai pendamping yang baik juga bagiku. Berkahilah rumah tangga kami dengan limpahan rahmat-Mu dan bimbinglah kami untuk senantiasa di jalan-Mu", do'a Farhan.


"Aamiin...", jawab Kinara dengan penuh kesungguhan.


Farhan membalikkan badannya. Kinara tersenyum dan segera mencium tangan suaminya sebagai bentuk cinta dan bakti.


Cup


Sebuah ciuman kasih sayang Farhan berikan di kening Kinara.


"Entah harus bagaimana lagi aku berterimakasih kepada Tuhan karena sudah memilihkanmu untukku", ucap Farhan selepas mencium istrinya.


"Aku pun demikian, mas. Aku masih tak percaya jika sekarang kita benar-benar sudah bersama, bukan lagi sebagai teman tapi sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Bimbing aku ya mas", jawab Kinara.


Farhan tersenyum dan mengangguk lembut. Setelah keduanya selesai merapikan alat sholat, Kinara berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi sementara Farhan memilih untuk berolahraga.


Dddrrtt...drrttt


Farhan yang sedang push up beranjak mengambil ponselnya dari meja.


"Ya, hallo".


"Hallo, Han. Waduh, mentang-mentang di Paris sama istri tercinta, lo sampai lupa sama gue dan kantor", protes Erik.


"Ck, di sini masih pagi, jangan buat telinga gue sakit, Rik".


"Gak mungkin lah suara merdu gue bikin telinga lo sakit. Han, kapan lo balik ke Indonesia? banyak proyek yang butuh ditengok".


Farhan terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Erik. Diliriknya Kinara yang masih sibuk dan fokus pada masakannya.


"Nanti deh, Rik. Proyek kantor kan bisa lo handle dulu kan. Gue percaya seribu persen sama lo".


"Wah parah lo, Han. Jangan bilang lo betah di Paris dan gak akan balik lagi ke sini".


"Mmm...lo mau cepat-cepat gue kasih keponakan gak, Rik?", Farhan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Erik tersenyum jahil di balik telepon, "Jelas dong, Han. Gue udah kebelet nih dipanggil Om Erik ganteng", jawab Erik tengil.


"Nah, makanya lo jangan bawel kalau gue belum balik, ya. Gue lagi berjuang buat secepatnya jadi ayah sekaligus ngasih lo keponakan yang lucu", terang Farhan setengah berbisik, dia tidak ingin Kinara mendengar pembicaraannya dengan Erik di telepon.

__ADS_1


"Ok, kalau kek gitu, gue setuju lo berlama-lama di Paris. Kasih tahu gue, apa gawang Kinara udah sukses lo bobol?", tanya Erik tak tahu malu.


"Rahasia. Gue gak mau cerita soal itu", tolak Farhan.


"Ck, sama gue aja pakai main rahasia-rahasiaan segala sih lo. Gue aja udah berhasil jebolin gawangnya Ajeng, malah tiap malam istri gue diajak begadang, Han", Erik masih berkicau tanpa ragu.


"Dasar, lo gak malu apa cerita urusan ranjang lo ke gue?. Gila lo, Rik", protes Farhan. Farhan merasa urusan ranjang memang hal tabu yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain.


"Ha...ha...ha...gue gak gila, Han. Justru ini gue cerita biar lo termotivasi. Lo udah cinta sama Kinara dari dulu kan, Han. Nah sekarang dia udah resmi jadi istri lo, jangan dianggurin dong. Garap terus, Han, jangan kasih kendor", tembak Erik.


"Sial, si Erik benar-benar udah gak waras bicara vulgar begitu", batin Farhan.


"Han, hallo...", Erik memastikan Farhan masih menerima teleponnya.


"Iya, gue masih di sini, Rik. Ada lagi hal penting yang mau lo bahas sama gue selain urusan ranjang sama kantor?", tanya Farhan ketus.


"Gue rasa gak ada, Han. Gue rela deh lo lama di sana biar gue cepat punya keponakan. Kasih gue keponakan yang lucu dan banyak ya, Han. Genjot terus istri lo tiap malam, gue juga nanti mau kasih keponakan buat lo sama Kinara", seru Erik girang.


"Parah lo, masih gak move on bahasannya. Ya, do'ain gue aja, Rik. Oh ya, lo jangan lupa tengokin ibu gue di rumah, pastikan ibu sehat, ok?!".


"Oh pasti boss. Tiap hari gue selalu sempatkan diri nengokin Bukde Asri kok".


"Bagus kalau gitu. Ya udah Rik, gue mau lanjut olahraga nih", Farhan berniat mengakhiri telepon itu.


"Wuih mantap, baru gue motivasi udah mau lanjut aja olahraga ranjangnya", goda Erik cekikikan.


"Bye", jawab Erik dan perbincangan mereka pun berakhir.


Kinara sudah mulai menata makanan di meja saat Farhan selesai berbincang dengan Erik.


"Telepon dari siapa, mas?", tanya Kinara penasaran karena sedari tadi suaminya menerima telepon itu dengan muka masam.


"Erik", jawab Farhan pendek.


"Oh, Erik. Apa ada masalah di sana?".


Farhan menggelengkan kepalanya, "Dia cuma tanya kapan aku kembali ke Indonesia. Katanya ada proyek yang harus ditinjau tapi dia bisa menangani proyek itu sendiri", terang Farhan sebelum dia menyambar gelas minumnya.


Kinara terdiam, dia menatap suaminya yang tengah meneguk segelas air mineral.


"Kabar ibu, bagaimana, mas? rasanya sudah lama aku tidak menelepon ibu".


"Kabar ibu baik, setiap hari Erik datang ke rumah menengok ibu", jawab Farhan lagi.


"Syukurlah. Mas, kalau memang ada banyak hal penting yang harus segera mas urus di Indonesia, aku tidak masalah jika mas kembali lebih cepat ke sana", ucap Kinara hati-hati.

__ADS_1


Farhan menyimpan gelas di tangannya. Ditatapnya wajah Kinara yang agak tertunduk, Farhan tahu istrinya pasti merasa serba salah dengan keadaan ini. Farhan berdiri dan berjalan ke arah Kinara yang terdiam di dekat meja makan. Farhan memeluk Kinara dengan lembut.


"Sayang, Erik bisa mengurus semua pekerjaan kantor. Lagi pula di kantor ada Paman Erwin yang sudah aku pilih untuk memimpin perusahaan selama aku tidak ada. Paman Erwin dan Erik bukanlah orang baru dalam mengurus segala urusan kantor. Mereka bisa diandalkan dan aku sangat percaya itu. Lalu soal ibu, tadi sebelum olahraga, aku sempat mengirim pesan untuk menanyakan kondisi ibu. Ibu juga baik-baik saja. Ibu tidak mempermasalahkan seberapa lama aku di sini. Justru ibu senang jika kita berlama-lama bersama seperti ini. Ibu mendo'akan kita agar secepatnya kita diberikan momongan", terang Farhan yang sedari tadi memeluk istrinya.


"Tapi, mas...aku...".


Belum selesai Kinara bicara, Farhan sudah menutup mulutnya dengan ciuman yang dalam.


"Jangan terlalu serius memikirkan sesuatu. Percayalah, aku sudah mengatur semuanya dengan baik, ya", lanjut Farhan setelah pautan bibir mereka terlepas.


Kinara tersenyum dan mengangguk. Farhan memang selalu tahu bagaimana menenangkan hatinya.


"Sayang, apa kamu sudah selesai memasak?", tanya Farhan.


"Sudah, mas. Mas sudah lapar ya, ayo kita makan", ajak Kinara. Dia sudah melepaskan dirinya dari pelukan Farhan dan bersiap menyiapkan piring untuk Farhan.


"Mmm...ya, aku lapar tapi aku tidak ingin memakan makanan ini".


Kinara mengenyitkan dahinya, "Kenapa? apa Mas Farhan tidak suka dengan masakan yang aku buat ini?", tanya Kinara sendu.


Farhan tersenyum tipis, "Mana mungkin aku tidak menyukai masakan istriku. Tapi sebelum kita menikmati hidangan di meja, terlebih dulu aku ingin memakanmu, sayang".


"Mas...", pekik Kinara kecil karena kedua tangan Farhan sudah menggendongnya. Wajah Kinara merona, dia paham maksud suaminya itu.


Farhan membawa Kinara ke dalam kamar dan merebahkannya dengan lembut.


"Bolehkah aku...".


"Boleh, mas. Lakukanlah, aku suka", jawab Kinara malu-malu.


Mendengar jawaban istrinya yang begitu berani, Farhan tidak menunggu lama. Dia mulai memberikan sentuhan lembut di tubuh Kinara. Menyentuh setiap bagian sensitif Kinara.


"Mas...ah...", desah Kinara saat bibir Farhan menjelajahi leher jenjangnya dan meninggalkan jejak lagi di sana.


"Sayang, apa kamu tidak merasa sakit karena semalam?", tanya Farhan hati-hati. Ya, sebagai seorang laki-laki dewasa, Farhan tahu malam pertama tentu menyisakan rasa sakit bagi seorang wanita termasuk bagi Kinara.


Kinara menatap Farhan dengan tatapan mendamba, "Sakit, mas tapi aku menikmatinya dan aku pun menginginkannya lagi", jawab Kinara sambil mengigit bibir bawahnya menahan rasa malu sekaligus gairah yang sudah mulai tersulut.


Senyum Farhan mengembang, "Melihat ekspresi dan jawabannya itu, sungguh kamu sangat menggoda, sayang. Aku akan bermain dengan lembut dan kita akan menikmati ini bersama-sama", janji Farhan sebelum dia memulai kembali aksinya.


Waktu terus berjalan. Kota Paris sudah mulai menunjukkan kesibukannya tapi dua insan yang tengah dilanda cinta pun masih sibuk dengan aktivitas ranjangnya. Kinara dan Farhan benar-benar menikmati momen bercinta mereka.


Entah sudah berapa kali pelepasan. Desahan dan lenguhan saling bersahutan dari balik pintu kamar. Bersama kenikmatan itu, mereka berharap benih cinta segera tumbuh di dalamnya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, sayang", bisik Farhan di telinga Kinara. Membuat Kinara semakin terbang ke angkasa.

__ADS_1


"Aku pun sangat mencintaimu, terimakasih, sayang", jawab Kinara lembut.


Nyatanya cinta memang membuat Farhan dan Kinara semakin terikat, tak hanya raga namun juga hati untuk saat ini dan selamanya.


__ADS_2