Unknown Love

Unknown Love
Episode 1


__ADS_3

"Kamu yakin mau melakukan?" tanya seorang pria hampir paruh baya padaku.


"Ya aku yakin!" balasku mantap.


"Serius?" tanyanya kembali.


"Ya udah mau kamu masukkin apa engga?" ucapku dengan sedikit nada mengancam.


"Ya mau lah! Aku kan ngeyakinin dulu ke kamu sayang!" katanya sambil memasang mimik muka bingung.


"Ya udah lakuin cepat!" balasku yang sudah tak sabaran.


Dia pun mulai membuka celana pendek yang dia kenakan, kini bisa kulihat hanya celana dalam yang dia kenakan dihadapanku. Dia pun terhenti sejenak masih memandang diriku yang terbaring dibawahnya.


"Kenapa kamu?" tanyaku bingung.


"Gak apa-apa aku cuma...." belum saja dia melanjutkan aku sudah memotong ucapannya itu.


"Kamu ragu? Kalau ragu mending gak usah!" jawabku tegas. Aku paling sebal melihat pria yang setengah ragu seperti itu. Seakan membuatku ragu saja.


Aku pun masih memandangnya dengan seksama. Memperhatikan gerak gerik apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia pun segera melepaskan kaos yang dikenakannya. Saat ini aku jelas melihat dia telanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam saja. Dia memandangi wajahku dan kemudian dia mendekatkan wajahnya kepadaku.


Aku yang masih terpaku dengan sikapnya itu pun hanya memandang kedua bola matanya dengan seksama. Bisa kulihat pria yang ada dihadapanku ini pria yang tak bisa kuduga sebelumnya. Pria yang selama ini aku sangka hanya sekedar teman, saat ini sudah berada dihadapanku dengan posisi yang siap untuk 'memakanku'.


"Kenapa kamu?" tanyanya dengan senyum jahilnya.


"Gak, aku cuma masih gak nyangka aja kalau aku sama kamu bisa begini dalam posisi seperti ini." kataku dengan membalas senyumnya itu dengan senyuman jahilku juga.


"Iya ya! Terus gimana? Mau lanjutkan?" tanyanya kembali sambil jemarinya menyusur lembut leherku lalu turun ke kancing pertama baju tidurku.


"Ya teruskan! Aku suka..." kataku dengan senyum, lalu meraih lehernya dengan satu tangan kananku. Kemudian mulai mendekatkan bibirku dengan bibirnya yang kemudian dia pun menerima dengan hangat ciumanku itu.


Kami berdua pun saling beradu ciuman dari yang biasa saja tadinya, sekarang begitu panas dan galak. Dia tak memberiku jeda sama sekali, setiap kali aku ingin menarik bibirku darinya dia selalu memutar posisikan agar aku tak lepas. Aku pun berusaha bernafas darinya walau sedikit, namun yang terdengar malah nafasnya yang begitu menggebu-gebu dan nafsu. Seolah aku pun terangsang dengan hanya ciumannya saja. Dia pun akhirnya memberentikan ciumannya, bisa kulihat kini wajahnya begitu bernafsu untuk melanjutkan hal lain padaku.


Dia pun mulai menciumi leherku kanan dan kiri. Dilanjutkan dengan mengigit halus leherku ini, aku bisa merasakan rasa geli yang amat terasa ketika dia melakukan itu. Nafsuku terpancing dengan sikapnya itu, aku menikmatinya. Dia pun melihat ke atas ke arah wajahku, sekedar memastikan apakah aku menikmatinya atau tidak. Dia pun menyadarinya bahwa aku menikmatinya, dia pun kembali melanjutkan dengan menyusuri turun perlahan ke bagian dadaku.


Tangannya mulai melepaskan kancing baju tidurku satu persatu, saat ini kancing bajuku sudah terlepas empat. Kemudian dia menyibaknya, bisa dilihat bahwa dia sangat bersemangat dan bernafsu sekali melihat kedua payudaraku yang masih terbungkus oleh bra. Dia pun mulai menjamahkan bibirnya kepada p*****raku sebelah kiri. Dia mulai membuka sedikit cup bra ku.


Dia mulai mengecup perlahan p*****raku, dan dilanjutkan dengan memainkan lidahnya diseputaran p*****raku. Aku bisa merasakannya dengan seksama. Dia pun kemudian mulai memaikan lidahnya di p****gku, aku merasakan kegelian dengan perlakuannya itu. Tanpa sadar aku pun mengeluarkan suara yang saat ini dia tunggu.


"Aaaghhh!" desahku yang merasakan geli.


Dia pun mendongak melihatku bersuara tadi, "Kenapa? Geli ya? Suka gak?" tanyanya dengan senyum jahil kepadaku.


"Ya, aku suka. Teruskan..." kataku dengan mimik muka yang sudah tak bisa menahan nafsu.


"Ya udah, aku terusin ya! Sekarang ganti yang disebelahnya yaaa biar kamu enak..." katanya sambil menyibakkan bajuku untuk membuka cup bra sebelah kanan.


Aku hanya memandanginya tanpa sepatah katapun, karena aku benar-benar menyukainya.


Dia pun mulai memaikan lidahnya kembali kepada ****** payudaraku sebelah kanan. Kali ini aku menikmatinya tanpa mengeluarkan suara, karena aku ingin menahannya agar aku tak kelihatan sangat bernafsu. Aku hanya mengigit pelan bibir bawahku. Dia pun mengecup lembut dan mengigit sedikit payudaraku, sehingga menimbulkan bekas merah.


Dia melanjutkan kembali dengan membuka kancing bajuku, namun aku menahannya.


"Aku yang buka ya?" kataku dengan masih memegang kedua tangannya yang masih memegang kancing bajuku.


"Ya udah..." katanya mengiyakan.


Aku membuka baju tidurku yang berbentuk daster tersebut dengan menaikkan semua ke atas kepalaku. Aku pun melemoarkannya ke sisi ranjang tempat tidur. Kini aku hanya berbalut bra yang sudah dibuka sebagian cupnya dan celana dalam. Dia melihat dengan seksama apa yang ada dihadapannya itu, aku pun memperhatikannya.


"Kenapa? Buka nih.." kataku sambil menawarkan diriku kepadanya. Tanpa menunggu lama, dia pun melepaskan braku, kini braku telah lepas dari badanku. Aku bertelanjang dada dihadapannya, dan kini hanya tinggal celana dalamku.


"Yang ini gak kamu lepas juga?" kataku menawarkan kembali padanya.


"Tentu.. dengan senang hati aku melepaskannya untukmu sayang.." balasnya dengan senyuman khas jahilnya. Entah kenapa aku suka jika dia menunjukkan senyumnya itu. Seakan-akan dia begitu menginginkan diriku seutuhnya ini.


Dia pun mulai menciumi perutku dahulu, hingga terus turun terus dan sampailah dikaret celana dalamku. Dia pun menggunakan bibirnya untuk melepaskan celana dalamku perlahan hingga kini sudah turun sampai pahaku. Kemudian dia pun melepaskan gigitannya itu, dan mulai menggunakan tangannya untuk melepaskan celana dalamku hingga tuntas. Kini dia pun melemparkan celana dalamku ke sisi ranjang. Aku pun sudah telanjang bulat dihadapannya, aku merasakan sedikit malu dihadapannya. Namun berbeda dengannya dia pun memandangiku dari ujung kepala hingga kaki.


"Cuma mau kamu pandangin aja nih? Gak mau kamu tengokin gitu aku nya?" kataku dengan senyum nakal.

__ADS_1


"Ya mau dong..." balasnya dengan senyum tak kalah nakal. Dia pun melepaskan celana dalamnya, dan kini bisa aku lihat dirinya telanjang bulat dihadapanku. Dia pun melemparkan celana dalamnya ke sisi ranjang kembali, dan kemudian dia mendekati diriku yang terbaring di hadapannya. Kini wajahku dan wajahnya saking bertatap satu sama lain.


Dia pun kemudian melumat bibirku kembali, kami berdua saling berciuman panas satu sama lain. Aku dan dia sudah tak bisa menahan nafsu satu sama lain. Kami berdua pun terus melanjutkan ciuman ini sampai akhirnya aku sudah tak tahan lagi.


"Cepat masukkan! Aku udah gak tahan!" ucapku padanya sambil berbisik pelan ditelinganya.


"Udah gak tahan ya?" tanyanya dengan memastikan. Aku membalas dengan anggukan saja padanya karena sudah tak kuat ingin segera merasakan kenikmatan yang dia suguhkan untukku.


Dia memegang p***snya untuk diarahkan ke lubangku. Aku pun bisa merasakan sentuhan p***snya menyentuh lubangku. Aku menunggu, menahan untuk tidak mendesah karena sudah tak tahan. Perlahan namun pasti, p***snya pelan-pelan masuk, aku menahan memegang erat kedua bahunya karena mulai merasakan kenikmatan. Terus dan terus sampai akhirnya p***snya pun masuk ke dalam lubangku, aku yang menerimanya pun secara tak sadar menggerang kenikmatan.


"Aaaahhhhh...." ucapku dengan perlahan. Dia pun mendiamkan dahulu p***snya yang sudah masuk full ke dalam lubangku. Dia pun kemudian memaju mundurkan pantatnya, tanda ia akan memulai memberikan kenikmatan lebih padaku. Aku masih menikmati menantikan apa yang akan dia berikan padaku.


Perlahan dia maju mundurkan, aku mulai menikmatinya terus sesekali aku menghembuskan nafas berat. Tanda bahwa aku menikmati permainannya itu. Terus dan terus dia kencangkan goyangannya tersebut. Aku yang tadinya terdiam dan hanya mengeluarkan nafas berat, kini sudah tak sanggup jika tak mendesah.


Aku pun meracu banyak padanya. Dia yang mendengar terus menggoyangkan seakan-akan menikmati juga desahanku itu.


Nafasnya berat namu entah mengapa aku suka mendengar nafasnya tersebut. Aku merasakan begitu nikmat.


Terus dia menggoyang seolah-olah sudah tak karuan kemana arah yang dia lakukan, yang ia tau jika mendengar desahanku yang begitu nikmat berarti aku menikmati goyangnya tersebut. Aku terus memegang erat kedua bahunya. Tanpa sadar karena kenikmatan aku pun melingkarkan kedua kaki ku pada badannya.


Dia pun tak keberatan malahan dia terus memaju mundurkan pantatnya seolah tanda bahwa dia pun suka jika aku melakukan itu.


"Enak gak?" tanyanya dengan nafas tersenggal-senggal sambil terus menggoyangkan dan memaju mundurkan pantatnya.


"Enak banget! Aku suka..." ucapku dengan nafas tersenggal-senggal juga.


"Mau rubah posisi gak?" tanyanya menawarkan.


"Boleh..." ucapku yang tak berpikir panjang.


Dia pun segera membalikkan badanku, kini posisiku tengkurap membelakanginya. Dia pun menyuruh untuk aku menggangkat kedua kaki dan tanganku, sekarang posisiku seperti menungging membelakanginya. Dia pun perlahan namun pasti terus menggoyangkan memaju mundurkan penisnya. Aku pun tak kuat menahan kenikmatan posisi ini, aku pun mendesah begitu nikmat.


Aku pun meracu terus sudah tak bisa menahan kenikmatan yang dia berikan untukku.


"Kamu suka?" tanyanya dengan nafas tersenggal-senggal, karena dia pun merasa kenikmatan itu.


"Mmmmhhhh...." racuku yang sudah tak terkontrol.


"Nanti abis dikeluarin, aku nambah lagi ya?" tanyanya kembali memastikan.


"Silahkan....mmmhhh...." balasku yang sudah kacau.


Dia pun terus menggerakan dengan cepat, aku pun sudah tak tahan sehingga sudah banyak desahan racuanku kepadanya. Begitupun sama dengannya yang sudah nafas berat dan sedikit desahan yang dia keluarkan padaku.


"Aku keluarin ya?" ucapnya memberikan aba-aba padaku.


"Mmmmhhhh...." kataku yang sudah pasrah.


"Aku keluarin di dalam boleh?" tanyanya kembali.


"Diluar aja yaaa..." balasku menegaskan.


Aku tak mau dia mengeluarkan di dalam rahimku. Aku tak mau mengambil resiko jika aku hamil anaknya, bagaimana?


Dia pun menuruti omonganku, tak lama dia memaju mundurkan dengan cepat dan segeralah dia mencabut penisnya dari lubangku. Segera dia keluarkan cairan s****anya ke punggung belakangku.


"Ahhhh...kamu!" ucapku memprotesnya.


"Maaf, abis biar cepat..." balasnya yang masih memegang p***s untuk mengeluarkan seluruh spermanya.


"Udah?" tanyaku memastikan jika dia sudah selesai apa belum.


"Udah. Tunggu aku ambil tisu kering dan tisu basah dulu ya. Jangan gerak dulu, diam kamu!" perintahnya padaku.


Dia segera beranjak dari kasur, kemudian berjalan ke sisi ranjang menuju meja nakas yang terletak disamping ranjang. Dia mengambil tisu kering dan tisu basah secara bersamaan. Dia membantu membersihkan cairan s****a miliknya di punggungku, kemudian melap dengan tisu basah.


"Aku ke kamar mandi duluan ya." ucapnya sembari pergi meninggalkanku dan berjalan menuju kamar mandi.


"Iya." sahutku yang kemudian mengecek kembali punggungku bahwa sudah tidak ada sisa s****a yang tertinggal.

__ADS_1


Aku beranjak mengamb handuk yang terletak di kursi, yang sebelumnya aku taruh sembarang dahulu. Kemudian aku berjalan menuju kamar mandi untuk menyusulnya.


"Mau aku bantuin?" tanyaku padanya menawarkan diri.


"Boleh..." balasnya tanpa ragu.


Aku melepaskan handukku dan kemudian berjalan menuju dirinya yang sedang berada di bawah pancuran sedang membersihkan badannya.


Aku pun membasuhkan sabun pada tubuhnya perlahan dari pundak lalu menuju lengan dan kemudian aku melewati dadanya, melewati perutnya. Dia yang menerima perlakuanku itu hanya terdiam memperhatikanku.


Aku yang menyadarinya terdiam dahulu, "Kenapa?" tanyaku sambil mendonggak melihat ke arahnya.


"Gak apa-apa terusin aja, aku suka kok yang kamu lakuin." ucapnya sambil tersenyum.


"Ah aku malu deh..." balasku yang kemudian menghentikannya, namun ditahan olehnya.


"Kenapa malu? Tadi aja gak malu tuh.." balasnya dengan terus menahan lenganku.


"Ahhh kamu! Yang tadi kan tadi, yang ini beda.." kataku yang masih malu dan berusaha melepaskan tangannya dariku.


"Ya udah sih, lanjutin aja. Aku suka pokoknya, ya?" pintanya sambil tersenyum, yang kemudian mengecup keningku.


Aku yang menerima sikap manisnya itu terkejut dan kemudian tertunduk sejenak karena menahan muka maluku.


"Kok kamu nunduk sih?" tanyanya yang keheranan.


"Gak apa-apa." kataku sedikit berbohong.


"Ya udah lanjutin." katanya memintaku.


Aku pun kembali melanjutkannya. Dia tetap memandangiku, melihat setiap gerakanku. Aku sekarang sedang memandikannya, entah kenapa aku merasa manis sekali hal yang kita lakukan ini. Aku terus membantu, mengusap-usap badannya dengan sabun mandi.


"Kamu suka sama yang kita lakuin tadi?" tanyanya yang masih dimandikan olehku.


"Ya suka." jawabku tanpa basa basi.


"Oh, aku kira gak suka. Tapi kamu mau lagi gak ngelakuinnya sama aku?" tanyanya kembali.


"Lagi? Maksudnya sekarang? Dikamar mandi?" tanyaku dengan polos.


"Ya bukanlah! Maksud aku setelah hari ini, kamu masih mau melakukannya sama aku?" tanyanya kembali dengan menjelaskan padaku.


"Hm, tergantunglah." balasku dengan sedikit berpikir.


"Kok?" tanyanya yang heran.


"Iya tergantung, kesempatan dan waktu. Kalau ada ya, lakuin. Kalau gak ada ya gak usah." kataku sambil masih dengan posisi yang sama.


"Oh, tapi intinya mau ya?" balasnya dengan menegaskan maksud ucapanku.


"Ya tebak aja sendiri." balasku dengan acuh.


"Hahahaha, ah kamu gemesin aja." jawabnya sambil mencubit pipi kananku.


"Aw! Sakit tau!" balasku dengan memonyongkan bibirku.


"Uhh, tiyaaan tiyaaann.." ledeknya padaku.


"Hm, awas ya!" balasku dengan senyum jahil.


Tanganku pun dengan sengaja menyentuh penisnya.


"Ups, apa ya ini?" candaku padanya dengan muka mengejek.


"Hm, aku 'tusuk' yaaa...." balasnya padaku dengan muka nakal.


Aku yang menyadari segera berlari keluar kamar mandi, dan disusul olehnya.


Malam ini begitu panjang, hingga tak terasa aku menikmatinya dengan senang gembira. Entah, hanya saja aku tak ingin melupakan malam ini. Sebab karena malam ini pula lah, semua ceritaku akan dimulai. Cerita dimana skandal cintaku yang tak seharusnya terjadi, namun harus terjadi karena alurnya sendiri.

__ADS_1


*****


__ADS_2