
Malam sudah larut saat Erlangga tiba di apartemennya. Ia tak ingin membangunkan Kinara.
"Aku yakin jam segini dia pasti tengah tertidur lelap", gumam Erlangga pada dirinya sendiri.
Perlahan dibukanya pintu apartemen, ruang tamu nampak temaram oleh cahaya lampu hias yang ada di atas nakas.
Pelan-pelan Erlangga menutup dan mengunci kembali pintu apartemennya. Di lihatnya Kinara yang terlelap di sofa ruang tamu, ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya sedang kakinya nampak menekuk.
Erlangga tersenyum menghampiri istrinya yang terlihat tengah terlelap itu.
Dipandanginya wajah polos Kinara. Wajah itu terlihat cantik saat tidur. Nafasnya terdengar lembut, kulit pipinya yang terkena cahaya lampu hias nampak mulus menggoda, membuat Erlangga tak tahan untuk tak mengelusnya.
'Beruntung sekali aku memilikimu, sayang. Sudah ku bilang jangan menungguku, kamu masih saja melakukannya', bisik hati kecilnya dengan senyum tipis tergurat di bibirnya.
Kinara tak bergeming, dia benar-benar tertidur dengan nyenyak. Erlangga tak ingin mengganggunya. Ia segera masuk ke kamar, membuka jas dan kemejanya. Setelah beristirahat sejenak, Erlangga segera membersihkan diri.
Selepas membersihkan diri, Erlangga kembali ke ruang tamu. Kinara masih tertidur dengan posisi yang sama. Ia segera mengangkat tubuh istrinya itu, membawanya ke dalam kamar.
Kinara mengerjapkan kedua matanya, ia merasa tubuhnya bergerak.
"Lho, mas, kamu udah pulang?", tanyanya dengan suara agak serak setelah Erlangga menurunkan tubuhnya di kasur.
Erlangga tersenyum dan mengangguk kecil, "Tidurlah, sayang", ia mengecup lembut kening Kinara dan menarikkan selimut untuk menutup tubuh istrinya itu.
Kinara tersenyum tipis, "Maaf ya mas, aku gak tahu mas datang, aku ketiduran", katanya lagi.
Erlangga memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama, dipandangnya Kinara yang kini sedang menatapnya.
"Tak apa. Aku sudah bilang, kamu tak perlu menungguku, sayang. Lain kali jika aku terlambat pulang, tidurlah lebih dulu, di kamar ya, jangan di sofa lagi", Erlangga mencubit pelan pipi Kinara.
Lagi-lagi Kinara tersenyum dengan tingkah suaminya itu.
"Kemarilah", Erlangga membentangkan kedua tangannya, ia menepuk dada bidangnya, meminta Kinara merebahkan kepalanya di sana.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Kinara memindahkan kepalanya ke dada Erlangga. Erlangga memeluknya dengan erat, ia beberapa kali mencium puncak kepala Kinara dan mengelus lembut rambutnya.
Ada kehangatan yang dalam yang kini Kinara rasakan. Meskipun ia masih merasa canggung dengan segala sikap manis Erlangga, tapi Kinara berusaha membiasakan dirinya.
"Aku mencintaimu", bisik Erlangga lembut, ia mengeratkan dekapannya.
Kinara mengangkat kepalanya, ia menatap suaminya dan tersenyum.
__ADS_1
Mata mereka saling beradu. Tangan kanan Erlangga mengkat dagu Kinara perlahan agar lebih dekat dengan wajahnya. Kini wajah mereka berada sangat dekat.
Erlangga tak menunggu lama, ia elus lembut pipi istrinya dan cup, dia mulai mencium bibir Kinara. Kinara agak terkejut dengan tindakanya suaminya itu, tapi ia tak menolak.
Erlangga memperdalam ciumannya. Kedua tangannya semakin erat mendekap Kinara. Tangan kanannya mengelus lembut rambut dan punggung Kinara, membuat tubuh Kinara bergetar. Ada perasaan yang lain di hatinya.
Perlahan, Erlangga mulai merebahkan tubuh Kinara. Bibir mereka belum terlepas satu sama lain. Posisi Erlangga kini ada di atas tubuh Kinara. Kedua tangannya meremas lembut jari-jemari Kinara.
Perlahan Erlangga melepaskan ciumannya dari bibir Kinara. Kini ia berpindah, menghujani ciuman di leher Kinara. Kinara mulai merasakan panas di tubuhnya.
"Mas, aaaahhh...", desahnya saat bibir Erlangga menghisap lembut leher Kinara.
Erlangga menyunggingkan senyumnya, ia senang mendengar desahan Kinara yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
Tangan kanan Erlangga mulai bergerilya. Ia tak melewatkan untuk menyentuh dan meremas lembut dada Kinara. Membuat pemiliknya semakin merasakan hawa panas di tubuhnya.
"Sayang, aku ingin kita melakukannya malam ini, bolehkah?", bisik Erlangga pelan di telinga Kinara, membuat Kinara terkejut sekaligus geli.
"Tapi mas, aku...aaahhh", Kinara kembali mendesah. Entah sejak kapan, piyama atas Kinara sudah terbuka, memperlihatkan isi di dalamnya yang kini sedang dinikmati oleh Erlangga.
Permainan Erlangga semakin ganas. Ia begitu berhasrat dengan istrinya. Terlebih mendengar desahan Kinara yang begitu menggoda baginya.
Wajah Kinara semakin memerah dengan semua perlakuan Erlangga yang tak pernah disangkanya itu.
Erlangga melepaskan ciumannya, ia berdiri sejenak untuk membuka kaos yang dikenakannya. Kini Erlangga sudah bertelanjang dada, membuat Kinara malu melihatnya.
Erlangga tersenyum melihat tingkah istrinya yang memejamkan kedua matanya dan sibuk menutup bagian atas tubuhnya yang sudah terbuka.
"Kenapa sayang? jangan malu, aku ini suamimu. Kau boleh melihat tubuhku sepuasnya, begitu pun dengan aku", ujar Erlangga santai. Kata-katanya membuat Kinara semakin serba salah.
Kinara masih menutup kedua matanya, ia mencoba bangun dan menggeser posisi tubuhnya untuk menghindari Erlangga, tapi rupanya Erlangga tak membiarkan hal itu.
Ia kembali mendekap tubuh Kinara. Menjepit kedua kaki istrinya dengan kaki kekarnya.
"Ayo, buka matamu", pinta Erlangga lembut sambil mengusap pipi Kinara.
Kinara menjawabnya dengan gelengan kepala. Erlangga gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Bukalah sayang, aku memintamu", bisik Erlangga di telinga Kinara.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Kinara seolah tak lagi bisa menolak permintaan suaminya itu. Perlahan-lahan ia buka kedua matanya, wajahnya yang merona semakin membuat gemas Erlangga yang melihatnya.
__ADS_1
"Mm...mas, a aku, aku malu, mas", suara Kinara terdengar bergetar, matanya sudah terbuka tapi ia berusaha memalingkan wajahnya dari Erlangga.
Erlangga tersenyum, ia dekatkan wajahnya ke wajah Kinara yang ia arahkan kepadanya, "Biasakanlah dirimu, sayang".
Kinara tak tahu harus berekspresi seperti apa. Posisinya saat ini benar-benar serba salah. Ia ingin bangun, tapi Erlangga sudah mengunci tubuhnya. Ia ingin menolak, tapi ia tak punya alasan untuk itu. Bagaimana pun juga Erlangga adalah suaminya dan sudah sewajarnya dia meminta haknya kepada Kinara.
Beberapa bulan mereka menikah, belum pernah sekalipun Erlangga dan Kinara menunaikan kewajiban layaknya suami istri. Tapi Kinara merasa dirinya belum siap. Hal inilah yang selama ini ia takutkan. Ia tak tahu harus melakukan apa selain jujur pada suaminya.
"Mm...mas, aku, aku takut", suara Kinara terdengar lirih. Ia ragu berkata seperti itu, tapi dia pun tak bisa membohongi dirinya yang memang benar ketakutan.
Erlangga melepaskan jepitan kakinya. Kini ia memilih duduk di samping Kinara, membiarkan istrinya terbangun dari posisi sebelumnya.
"Maaf, mas", Kinara merasa bersalah.
Erlangga menatap dalam wajah Kinara yang masih merona.
"Tak apa, kamu tak perlu minta maaf. Seharusnya memang tidak sekarang aku memintanya. Tidurlah", kata Erlangga sambil kembali mengenakan kaos yang tadi sempat ia lepas.
Kinara menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah dengan ucapan dan sikapnya saat ini. Ia bisa melihat raut kekecewaan di wajah suaminya.
"Mas, aku...", belum sempat Kinara bicara, lagi-lagi Erlangga sudah menutup mulutnya dengan ciuman.
Kinara menerima ciuman itu, bahkan kini ia melingkarkan kedua tangannya di leher Erlangga, membiarkan piyama atasnya yang sedari tadi dia tutup kini terbuka lagi.
Keduanya berciuman dengan dalam. Erlangga bermain dengan lembut di bibir Kinara meskipun Kinara masih meresponnya dengan kaku, dan tanpa Kinara sadari, tangan Erlangga mengancingkan kembali piyamanya yang terbuka.
Cukup lama mereka berciuman, sampai akhirnya ciuman itu di akhiri dengan nafas keduanya yang terengah-engah.
"Tidurlah di sini", Erlangga menepuk lagi dada bidangnya setelah ia memposisikan dirinya dan mengatur kembali nafasnya.
Kinara segera merebahkan kembali kepalanya di sana.
"Maaf ya mas", ia masih merasa bersalah.
Erlangga mengecup puncak kepala Kinara.
"Tak apa sayang, jangan meminta maaf lagi. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap melakukannya. Aku mencintaimu", ucapan Erlangga meneduhkan hati Kinara.
Kinara menjawabnya dengan anggukan kepala. Menurutnya, Erlangga adalah lelaki dewasa yang benar-benar baik. Dia bisa mengerti dan memperlakukan Kinara seperti apa yang Kinara inginkan.
Waktu terus berjalan, kini keduanya pun sudah tertidur dengan lelap berpelukan.
__ADS_1