
"Hi, jemput Alya ya", sapa Kinara ketika dia melihat Viona datang dengan raut wajah bahagia.
"Iya. Apakah kali ini aku masih datang terlambat?", tanyanya pada Kinara.
Kinara tersenyun dan menggelengkan kepalanya.
"Mama...mama jemput aku lagi", suara Alya yang datang dengan pelukan membuat Viona segera menyambutnya.
"Iya sayang. Mama kan udah janji jemput kamu lagi tapi kali ini gak pakai telat", kata Viona sambil memeluk erat tubuh mungil Alya dan mengelus rambut panjangnya.
Alya terlihat bahagia dengan kehadiran mamanya itu.
"Ayo pamit dulu sama bu guru", tuntun Viona sambil menghampiri Kinara yang sedari tadi berdiri melihat mereka berdua sambil sesekali mengawasi penjemputan anak-anak yang lain.
"Bu guru, aku pulang dulu ya", celoteh Alya lucu. Dia ulurkan tangannya untuk mengambil tangan Kinara dan menciumnya.
"Iya, Alya sama mama hati-hati ya di jalan. Sampai bertemu besok", pesan Kinara dengan ramah.
Viona tersenyum meng-iya-kan pesan Kinara, pun dengan Alya yang ikut menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Oh iya, Vi, aku masukan undangan pernikahanku ke dalam tas Alya", Kinara mengingatkan janji undangan darinya.
"Ok, terimakasih. Nanti aku cek. Kami pamit ya", jawab Viona diiringi lambaian tangan Alya kepada Kinara.
Mobil sedan merah yang dikendarai Viona pun melaju cepat ke sebuah resto.
"Kita mau kemana ma? ini kan bukan jalan pulang", celoteh Alya yang sedari tadi celingukan dari dalam mobil melihat ke luar jendela.
Viona tersenyum, "Mama punya kejutan buat Alya. Jadi sebelum pulang, kita pergi dulu ok?".
Alya hanya mengangguk senang. Matanya nampak berbinar membayangkan kejutan yang akan diberikan oleh mamanya.
Viona tiba di resto yang dituju dan segera memarkirkan mobilnya. Ia mengajak Alya turun, dituntunnya dengan lembut putri kesayangannya itu.
Sepanjang perjalanan, Viona berusaha merelaksasi dirinya.
'Bagaimanapun respon Mas Erlangga saat melihatku dan Alya, aku harus tetap tenang. Tuhan, semoga hatinya bisa luluh kembali dan menerima kehadiran kami', harap Viona dalam hati.
Sementara itu, Erlangga terlihat sudah duduk disebuah pendopo lesehan yang posisinya paling ujung di dalam komplek taman resto itu.
__ADS_1
Dia memang sengaja memilih posisi di sana agar jika terjadi adu mulut antara dirinya dengan Viona, tak akan terdengar oleh pengunjung lainnya.
Tak perlu waktu lama untuk Viona mencari sosok Erlangga. Dia masih sangat hafal seperti apa mantan suaminya itu.
"Maaf mas, kami agak terlambat", suara Viona yang tiba-tiba, memecahkan lamunan Erlangga.
Erlangga menoleh
Deg...
Jantungnya berdebar melihat Viona yang sudah empat tahun ini tak dilihatnya kini ada di depannya.
Viona masih nampak anggun seperti dulu. Tapi saat ini, dia terlihat agak berbeda. Keanggunan Viona semakin lengkap dengan kecantikan tampilan dirinya, dia benar-benar merawat dirinya dengan baik.
Erlangga tak menjawab perkataan Viona. Dia masih sibuk menenangkan debaran di dadanya yang tiba-tiba menyeruak.
Viona dan Alya sudah duduk di seberang Erlangga yang terlihat dingin.
"Mama, ini siapa?", Alya menggoyangkan lengan kanan ibunya sesaat setelah mereka duduk bersama.
Viona tersenyum dan menoleh ke arah Alya, "Nanti ya mama kasih tahu om ini siapa".
"Sudah pesan makanan, mas? ini sudah jam makan siang, ada baiknya kita santap siang bersama dulu", tanya Viona sambil mengambil buku menu dan membukanya.
Erlangga memicingkan matanya, ia seolah tak peduli dengan kehadiran Alya yang terlihat semakin ketakutan melihat tatapan Erlangga kepada ibunya.
"Ck, jangan banyak basa-basi. Aku tak berselera menikmati makanan bersamamu. Ayo cepat katakan, apa yang mau kamu bicarakan? waktuku tak lama", jawab Erlangga ketus.
Viona menarik nafas dalam, dia mencoba menguatkan dirinya demi Alya.
"Sebentar ya mas, aku mau pesankan dulu makanan buat Alya", dengan tenang Viona memencet bel untuk memanggil pelayan.
Seorang pelayan datang. Viona memesan satu porsi ice cream, kentang goreng, dan dua gelas milk shake strawberry. Pelayan itu pun berlalu setelah mencatat semua pesanan Kinara.
Suasana di pendopo itu masih terasa kaku bagi mereka bertiga.
"Aku ucapkan terimakasih karena mas mau meluangkan waktu untuk menemuiku. Aku tidak akan menahanmu terlalu lama di sini, aku....", kalimat Viona menggantung.
Erlangga menunggu kalimat selanjutnya dari Viona.
__ADS_1
"Mmm...begini mas, sebelumnya maaf jika aku harus mengungkit masa lalu kita. Kali ini aku mohon, mas tahan dulu kemarahan mas kepadaku dan izinkan aku bicara sampai selesai, ya", pinta Viona.
Erlangga meliriknya sebentar, dia hempaskan kasar nafasnya, "Terserah kau saja mau bicara apa".
Viona tersenyum mendengar jawaban Erlangga. Sementara itu, Alya yang sedari tadi ketakutan melihat Erlangga kini nampak lebih tenang. Dia lebih memilih mengeluarkan buku mewarnainya dan kini dia nampak asyik mewarnai gambar di samping ibunya.
"Mas, apa yang terjadi dulu itu adalah sebuah kesalah pahaman. Aku akui aku salah sudah mengakrabkan diri dengan Daniel. Tapi selama aku bersamanya, tak pernah terbersit sedikit pun keinginanku untuk mengkhianatimu, apalagi sampai melakukan apa yang kau tuduhkan padaku waktu itu", suara Viona tercekat. Rasa sesak di dadanya kembali menyeruak.
Erlangga masih terdiam.
"Aku dengan Daniel, kami sudah bersahabat sedari kecil, maaf aku tak terbuka soal ini kepadamu. Orang tuanya sudah seperti paman dan bibi bagiku. Keluargaku dekat sekali dengan keluarganya, dan aku pun akrab dengannya waktu itu tak lebih dari sekedar urusan pekerjaan. Apa yang mas lihat di hotel itu, bukan seperti yang mas pikirkan. Hari itu, bosku memintaku untuk menyiapkan kamar hotel untuk kliennya yang datang dari Prancis. Aku pergi sendiri ke hotel itu untuk memesan kamar dan menyiapkan segala kebutuhan klien bosku. Lalu Daniel meneleponku, menyampaikan kepadaku jika ternyata klien bosku adalah atasannya dan dia menawarkan diri untuk membantuku menyiapkan segala kebutuhan atasannya itu. Aku pikir tak ada salahnya dia membantuku agar urusanku cepat selesai. Aku pun akhirnya memberitahu dimana keberadaanku saat itu", Viona menghentikan sejenak ucapannya, ia berharap hati Erlangga benar-benar jernih untuk menerima semua penjelasannya.
Erlangga masih terdiam, dia tak merespon apapun.
"Daniel lalu datang ke kamar hotel yang sudah aku pesan atas nama perusahaan tempatku bekerja. Daniel membawa cukup banyak kebutuhan atasannya sebagaimana yang sudah atasannya itu minta kepada Daniel. Saat aku sedang membantu Daniel menata barang yang dipesan oleh bosnya, aku terjatuh dan Daniel membantuku berdiri, sayangnya tubuh kami berdua oleng karena aku menarik tangan Daniel terlalu kuat sampai akhirnya kamu tiba-tiba datang dan masuk melihat kami dalam posisi saat itu", Viona menundukkan kepalanya, kesedihan menyeruak dalam hatinya.
Erlangga menoleh ke arah Viona. Perasaannya mulai kacau dengan apa yang ia dengar.
'Aku, haruskah aku mempercayai semua ucapannya itu?', bisiknya dalam hati.
"Mas terlalu emosi saat itu. Mas tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Padahal aku siap mendatangkan Daniel untuk ikut menjelaskan kejadian sebenarnya kepadamu, mas. Tapi sayang, kesalah pahaman itu membuatku tak lebih dari seorang istri yang tak punya harga diri di matamu", air mata Viona mulai mengalir, ia sudah tak kuat menahan perih di hatinya.
Erlangga membalikkan tubuhnya. Pertama kalinya selama empat tahun, Erlangga kembali menatap Viona dengan dalam. Ada perasaan tak tega melihat wanita yang pernah menjadi istrinya itu menangis sesegukan.
"Mama kenapa nangis? om ini jahat ya sama mama?", seru Alya polos sambil mendekati ibunya dan memeluknya. Mata kecilnya membulat, menatap tajam kepada Erlangga.
Viona segera menghapus air matanya, "Mama gak nangis sayang. Mama cuma kelilipan aja kok. Alya mewarnai lagi, ya", bujuk Viona. Alya menatap sebentar wajah mamanya, ia seka sisa tetesan air mata di pipi mamanya dan ia kembali ke tempatnya mewarnai.
"Siapa anak ini?", akhirnya Erlangga membuka suara.
Viona masih berusaha menahan air matanya. Diliriknya Alya sebentar, dia berusaha menguatkan dirinya kembali.
"Ini Alya, mas. Alya Wijaya, anak kita", suara Viona bergetar menahan luapan keharuan di hatinya.
Mata Erlangga terbelalak. Dia tak percaya jika gadis kecil cantik, berambut panjang yang ada di depannya itu adalah putrinya.
"Bohong!!! aku tak percaya dia anakku. Dia pasti anak hasil hubunganmu dengan Daniel", jawab Erlangga kejam.
Viona menggelengkan kepalanya, air matanya bercucuran lagi. Perih di hatinya semakin dalam. Tuduhan Erlangga kepadanya masih saja ada.
__ADS_1