
Farhan memarkirkan mobilnya di depan lobi kantor. Ia bergegas turun dan menyerahkan kunci mobil kepada satpam yang berjaga, ia meminta satpam kantor memarkirkan mobilnya di basement.
Sesampainya di ruang kerja, Farhan menghempaskan tubuhnya kasar ke atas sofa. Tak lama, seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar.
"Masuk", seru Farhan tanpa berkeinginan melihat siapa yang datang.
"Baru datang, bro?", Erik nampak basa-basi.
"Ya seperti yang lo lihat lah, Rik", jawab Farhan ketus.
Erik mengernyitkan dahinya, ia heran dengan jawaban pendek Farhan dan ekspresinya yang nampak tak biasa, ia yakin ada hal buruk yang terjadi dengan bos sekaligus sepupunya itu.
Erik menghampiri Farhan, ia memilih duduk di sampingnya.
"Kusut amat tuh muka, kek gak disetrika puluhan tahun aja. Ada masalah, bro?", tanya Erik hati-hati.
Farhan melirik ke arah Erik sebentar. Ia sebetulnya tak ingin banyak bicara soal Kinara. Tapi apa yang terjadi hari ini terasa begitu berat untuk diterima oleh hatinya.
Farhan menarik nafas dalam, ia memegang kepala dengan kedua tangannya, berusaha menata hatinya untuk bisa diajak berbagi dengan Erik.
Erik masih menunggu jawaban dari Farhan, ia menatap bosnya dengan lekat. Ia yakin tebakannya benar, ada masalah yang sangat mengganggu Farhan.
"Kinara bentar lagi mau nikah sama dosennya", akhirnya Farhan membuka suara.
Mata Erik terbelalak, "Hah, nikah sama dosen? maksudnya gimana Han?".
Farhan menegakkan posisi tubuhnya, dilihatnya Erik, "Tadi sebelum gue pergi ke sini, gue ngikutin Kinara ke ruangan dosennya dan gue gak sengaja lihat dia dipeluk sama dosennya itu. Setelah dia pergi, gue beranikan diri bicara sama dosen tersebut dan dia bilang kalau Kinara calon istrinya dan sebentar lagi mereka akan menikah. Sesak hati gue, Rik", suara Farhan terdengar bergetar menahan amarah.
Erik mengangguk-anggukan kepalanya, ia bisa merasakan betul apa yang dialami oleh Farhan. Kedekatan mereka selama ini sudah seperti kakak dan adik, Farhan dan Erik terbiasa saling terbuka satu sama lain.
"Gue gak nyangka Kinara sejahat ini sama gue. Padahal gue udah ngelamar dia jauh-jauh hari, malah ibu juga udah siap banget ngajak kita ketemu langsung sama kedua orang tuanya. Gue yakin, ibu pun pasti kecewa kalau tahu soal ini", Farhan meluahkan kembali unek-unek di hatinya.
__ADS_1
Erik menepuk pundak Farhan, "Gue bisa rasain gimana sesaknya hati lo sekarang, Han. Dulu juga gue pernah mengalami hal itu saat Viona memilih untuk menikah dengan laki-laki lain daripada sama gue. Tapi lo harus ingat, life's must go on. Gue tahu lo cinta berat sama Kinara, tapi di dunia ini, perempuan itu gak cuma dia. Lo boleh sedih, tapi please, jangan lama-lama. Jalan hidup kita masih panjang, lepas satu, kita usaha cari lagi", Erik berusaha menyemangati.
Farhan terdiam mendengarkan kata-kata Erik. Apa yang Erik bilang memang benar, tak ada gunanya dia merutuki hatinya yang terluka.
"Gue cuma gak sanggup aja Rik cerita soal ini sama ibu. Ibu tuh suka banget sama Kinara, berkali-kali dia berharap Kinara bisa jadi menantunya. Gue gak bisa bayangin gimana kalau ibu sampai tahu soal ini? gue pasti udah bikin ibu kecewa", suara Farhan terdengar lirih, membayangkan satu-satunya sosok terkasih yang ia miliki setelah kepergian ayahnya.
Erik tersenyum tipis, "Han, gue tahu betul kek apa Bukde Asri itu. Bukde orang yang legowo, gue yakin bukde gak akan sekecewa itu, percayalah. Bukde pasti ngerti posisi dan keadaan lo, malah gue lebih yakin lagi kalau bukde pasti mikir kek gue, cari yang lain".
Farhan menatap Erik, ia menyunggingkan senyum tipisnya juga.
"Thank's ya bro, gue senang bisa berbagi beban hati gue sama lo. Semua yang lo bilang ada benarnya juga. Gue harus secepatnya move on. Urus segera keberangkatan gue ke Jerman, ya", Farhan berbicara penuh dengan rasa optimis.
Erik tersenyum lepas, mengiyakan permintaan Farhan.
Benar kata Erik, Farhan memang harus segera melupakan Kinara, cinta pertamanya kepada wanita lain selain ibunya. Ia masih harus mengejar masa depannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, Kinara baru saja keluar dari ruang meeting jurusan. Ia sudah menerima hasil yudisiumnya. Ia nampak sumringah, puas dengan hasilnya. IPK 3.88 dengan predikat cum laude kini ia genggam.
'Andai Farhan di sini, dia pasti ikut senang juga', bisik hati kecilnya, mengingat sosok Farhan yang sampai petang itu masih tak bisa dia hubungi.
Dia bergegas berjalan menuju parkiran, menuju motor kesayangannya.
Ddrrtt...ddrrtt....drrrttt
HP Kinara bergetar. Ia segera mengambil HP itu dari dalam tasnya, berharap itu adalah panggilan dari Farhan.
Tebakannya salah, nama Erlangga yang tertera di layar. Kinara enggan mengangkatnya, tapi ia juga tahu, Erlangga pasti akan terus meneleponnya jika tak direspon.
"Hallo, mas", sapa Kinara pendek.
"Hallo juga, sayang. Selamat ya akhirnya kamu sudah resmi lulus. Aku bangga dengan perjuanganmu. Nilaimu juga bagus sekali, kamu pintar", puji Erlangga di balik telepon.
__ADS_1
"Iya mas, alhamdulillah. Terimakasih", jawab Kinara.
"Nanti malam mas mau ajak kamu keluar. Mas sudah bilang ke ibu dan bapak, mereka setuju. Kita dinner, ya", kata Erlangga lagi.
"Iya mas", Kinara memberikan jawaban.
"Ok, hati-hati bawa motornya. Selamat beristirahat", Erlangga mengakhiri teleponnya.
Sesampainya di rumah, bapak, ibu dan Alisa menyambut kedatangan Kinara. Mereka tak sabar ingin mengetahui hasil yudisium Kinara.
"Gimana hasilnya, nak?", tanya bapak setelah mereka berempat duduk di ruang keluarga.
"Alhamdulillah, pak. Kinara lulus dengan IPK 3.88 dan predikat cum laude, tanpa ada revisi apapun di skripsi Nara", Kinara menjawab dengan memamerkan senyum bahagianya.
"Wah, kakak hebat, selamat ya", seru Alisa sambil memeluk kakaknya itu.
"Bapak sama ibu bangga sama kamu, nak", tambah ibu yang datang dari dapur membawa nampan berisi empat gelas jus mangga.
"Anak bapak, hebat", puji bapak.
Keluarga kecil itu pun menikmati petang mereka dengan kebersamaan yang hangat. Sesekali mereka tertawa, nostalgia dengan masa kecil Kinara dan Alisa.
"Oh iya nak, tadi Erlangga telepon bapak, katanya malam ini dia mau mengajakmu keluar untuk makan malam", bapak membuka suara lagi.
"Iya pak, tadi mas Erlangga juga udah bilang kok ke Nara", jawab Kinara.
"Ya udah kalau gitu kamu mandi gih, siap-siap dijemput. Sebentar lagi mau maghrib juga kan", ibu mengingatkan Kinara.
Kinara mengangguk, ia berpamitan pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, Kinara merebahkan tubuhnya sebentar. Ia mengambil HP dari dalam tasnya, berharap Farhan membalas pesan-pesan darinya.
__ADS_1
'Kamu kemana sih Han? tiba-tiba pergi, telepon dan pesanku juga gak kamu jawab', Kinara berbicara pada dirinya sendiri. Ada kerisauan yang dalam di hatinya karena tak seperti biasanya Farhan bersikap seperti itu pada Kinara.
Diliriknya jam dinding di kamar, ia harus bergegas membersihkan diri.