Unknown Love

Unknown Love
Hadiah dari Farhan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kinara sudah bangun dan mempersiapkan sarapan pagi untuknya dan Erlangga. Selepas sholat subuh, Erlangga memilih untuk berolahraga di sekitar villa.


"Mmm....wangi apa ini?", Erlangga mencium bau yang enak saat dia masuk ke dalam rumah.


Kinara tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Pagi ini aku buatkan soto ayam untuk kita sarapan bersama, mas", jawabnya sambil mengaduk isi panci yang nampak mendidih.


Erlangga mendekati istrinya, dia memeluk pinggang Kinara dan mendaratkan ciuman selamat pagi di pipinya.


Kinara tersipu dengan tindakan Erlangga.


"Mandi dulu gih mas, biar gak bau", goda Kinara.


Erlangga melepaskan pelukannya, dia mencium bau tubuhnya sendiri.


"Ha...ha...ha...asam ya bau badanku, sayang? aku mandi dulu ya", Erlangga merasa enek dengan bau tubuhnya sendiri, dia segera menuju ke lantai atas untuk mandi.


Tak lama, Erlangga sudah nampak segar dan wangi. Dia mengenakan kaos berwarna biru dan celana jeans. Kinara sendiri sudah menunggunya di meja makan.


"Wah, aku sudah sangat lapar", mata Erlangga nampak berbinar melihat sajian di meja makan. Ada soto ayam yang masih mengepulkan asap, sambal, jeruk limau, dan emping sebagai pelengkap. Tak lupa potongan buah melon menyempurnakan hidangan pagi mereka.


Kinara segera mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk suaminya, dan menyiapkan piringnya sendiri.


"Wow sayang, rasa soto ayam ini enak sekali", puji Erlangga.


Kinara tersenyum, "Terimakasih mas, makan yang banyak, ya".


Erlangga hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Mulutnya sibuk menikmati sarapan lezat yang ada di hadapannya.


Setelah makan, Erlangga dan Kinara membuka-buka kado pemberian para tamu yang sedari kemarin masih menumpuk di ruang tengah.


Erlangga tersenyum sendiri saat membuka sebuah kado dari salah satu rekan kerjanya.


"Kamu kenapa sih mas, senyum-senyum sendiri?", tanya Kinara heran melihat tingkah suaminya.


"Bukalah kado ini", Erlangga menyerahkan sebuah kotak yang bungkusnya sudah dia buka.


Kinara mengambil kotak itu dan membukanya. Matanya terbelalak melihat isi kado tersebut.


"Ih, ini apa? masa kasih kado isinya baju yang kekurangan bahan begini sih", ekspresi Kinara nampak tak suka melihat isi kado di tangannya.

__ADS_1


Erlangga tertawa.


"Sayang, nanti malam cobalah kamu pakai baju itu. Kamu pasti nampak cantik", goda Erlangga.


Kinara melirik ke arah suaminya, ia tak percaya Erlangga memintanya mengenakan baju yang bagi Kinara lebih mirip kain tak layak pakai.


"Ih, aku gak mau mas pakai baju minim begini. Ini sih sama aja kek aku gak pakai baju. Pendek, tipis, nerawang begitu", Kinara menyimpan lagi baju tersebut ke dalam kotak.


Erlangga menggeser tubuhnya, merapatkannya dengan tubuh Kinara.


"Sayang, ini namanya lingerie. Masa sih kamu gak tahu? biasanya pengantin baru suka pakai beginian", bisik Erlangga.


Kinara mengerutkan keningnya, "Seumur-umur aku gak pernah beli barang seperti itu dan aku gak mau memakainya. Malu, mas", ujar Kinara.


Erlangga tersenyum, "Kenapa harus malu? kan cuma aku yang lihat. Aku ini suamimu, turutilah apa yang menjadi permintaanku, ya", bujuk Erlangga.


"Tapi mas....", belum selesai Kinara bicara, Erlangga sudah menahannya dengan jari telunjuknya.


Kinara menarik nafas dalam, "Baiklah, nanti aku coba memakai baju ini".


Erlangga tersenyum senang dengan jawaban istrinya. Dia sudah membayangkan betapa menggodanya Kinara jika lingerie itu ia kenakan.


Buku catatan itu berbentuk daun berwarna coklat tua. Saat Kinara membuka isinya, ternyata kertasnya pun berbentuk daun dengan warna coklat yang lebih muda. Di lembar pertama kertas dalam catatan itu terdapat sebuah tulisan, Kinara membacanya dengan seksama.


🍃Our life is like the leaves. That decorate the trees, but there are times when it has fall away because it is time for it to let go🍃


Happy wedding, Kinara - Erlangga


-Farhan Ganindra-


Kinara tertegun menerima dan membaca isi kado dari Farhan. Ingatannya kembali mengenang sosok Farhan yang sudah sangat lama sekali tak ditemuinya. Ia tak tahu kemana Farhan pergi dan kenapa Farhan tak pernah lagi menghubunginya dan tak bisa juga dihubungi.


Erlangga menghentikan tangannya ketika ia menoleh ke arah Kinara yang tetiba saja terdiam.


"Sayang, kamu kenapa?", tanya Erlangga perlahan.


"Oh, enggak kok mas, aku gak kenapa-kenapa", Kinara agak terperanjat, ia mencoba tersenyum kepada suaminya itu.


Erlangga melihat benda yang sedang dipegang oleh Kinara. Diambilnya benda itu dan ia baca.


Erlangga menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Ada rasa tak suka dengan benda yang kini ada di tangannya.

__ADS_1


"Karena ini kamu diam? apa kamu merindukan dia? apa kamu mencintai dia?", tanya Erlangga bertubi-tubi dengan nada bicara yang ketus. Tangannya menunjukkan buku catatan hadiah dari Farhan.


Kinara menatap Erlangga, dia gelengkan kepalanya, "Bukan, bukan begitu mas. Aku...aku hanya...", kalimat Kinara menggantung.


"Hanya apa? kamu merindukan dan mencintai dia, bukan?", nada suara Erlangga meninggi. Membuat Kinara terkejut dan tetiba saja air matanya menggenang, baru kali ini suaminya membentaknya seperti itu.


"Mas, bukan itu maksudku. Sudah ku katakan sedari dulu, aku tak pernah ada hubungan apapun dengan Farhan dan tak ada perasaan yang lebih selain sebagai teman. Aku hanya berpikir kemana dia pergi karena tak biasanya dia menghilang seperti itu", Kinara berusaha menjelaskan dengan menahan air matanya. Ia tak ingin suaminya salah paham lagi.


Erlangga berdiri, dia menarik tangan Kinara.


"Mas, lepas, tanganku sakit", tarikan tangan Erlangga begitu kuat mencengkeram pergelangan tangan Kinara.


Erlangga membawa Kinara ke kamar mereka di lantai atas. Sesampainya di kamar, Erlangga mendorong kasar tubuh Kinara hingga terjatuh di atas kasur.


"Mas, kamu mau apa?", Kinara memundurkan tubuhnya menghindari tubuh Erlangga yang semakin mendekat ke arahnya.


Kinara terpojok, tubuhnya kini menempel di kepala tempat tidur. Erlangga menahan tubuh Kinara dengan merentangkan kedua tangannya di sisi bahu Kinara.


"Mas...", ujar Kinara ketakutan, ia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Apa kamu mencintaiku?", bisik Erlangga di telinga Kinara, membuatnya merasa geli.


"Apa kamu mencintaiku? jawab!!!", nada suara Erlangga meninggi.


Kinara terkejut mendengarnya, "A...aku...aku....", suara Kinara tercekat.


Erlangga tersenyum sinis, "Sudah ku duga, kamu memang tak mencintaiku. Selama ini aku berusaha sebaik mungkin menjadi seorang lelaki yang pantas buatmu. Kita baru menikah kemarin dan kamu, untuk apa kamu menikah jika kamu tak cinta hah?!", Erlangga memberikan tekanan pada kalimat terakhirnya.


"Kamu pasti mencintai laki-laki itu", Erlangga beranjak meninggalkan Kinara yang masih terlihat ketakutan dan menangis.


Erlangga memilih duduk di ujung tempat tidur, ia membuang tatapannya ke lantai.


"Mm...mas, aku sudah katakan berkali-kali, aku dan Farhan hanya teman, tak lebih, mas. Aku belum tahu seperti apa perasaanku padamu karena kita menikah karena dijodohkan. Tapi percayalah, tak ada sedikit pun niatan di hatiku untuk mengkhianati pernikahan kita dan dirimu mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik bagimu, menunaikan semua kewajibanku, dan aku pun akan belajar mencintaimu dengan utuh", suara Kinara bergetar menahan tangisannya. Ia berharap penjelasannya itu bisa meluluhkan kemarahan dan kecemburuan suaminya.


Erlangga menoleh ke arah Kinara, segera ia peluk tubuh istrinya itu. Ia elus dan ia kecup pucuk kepala Kinara berkali-kali.


"Maafkan aku sayang. Aku masih sulit mengendalikan diriku jika itu berhubungan dengan dia. Aku hanya takut kehilanganmu, itu saja", bisik Erlangga lirih.


Kinara membalas erat pelukan suaminya, "Percayalah mas, aku akan selalu ada di sisimu", janji Kinara.


Erlangga semakin mendekap tubuh istrinya dan memberikan ciuman hangat sebagai tanda maaf darinya.

__ADS_1


__ADS_2