
"Gimana sayang, udah ngobrol sama Farhan tentang rencana pernikahannya?", tanya Ajeng di telepon.
"Iya udah. Tapi ya, dia masih gak yakin Kinara mau menerimanya. Papa sama mama, gimana? udah gerak?", tanya Erik balik.
"Tadi sih aku dengar papa sama mama udah ketemu sama keluarga Kinara dan Farhan. Tapi ya mereka nunggu keputusan dari Farhan dan Kinara. Hmm...kalau sampai Kinara gak mau nerima Farhan, terpaksa aku harus keluarkan jurus terakhir", jawab Ajeng.
"Jurus terakhir? jurus apa itu? jangan pakai jurus yang aneh-aneh ah", protes Erik.
"Enggak lah, percaya sama aku. Besok atau lusa Kinara pasti udah kasih keputusan. Kamu do'akan aku ya biar berhasil bujuk Kinara".
"Ok, kabari aku terus ya sayang. Selamat tidur".
"Siap bos, selamat tidur juga, sayang", Ajeng mengakhiri teleponnya dengan Erik.
Ajeng segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia menghampiri lemari yang berisi berkas-berkas penting.
"Nah ini dia. Aku harus memberikan ini pada Kinara", gumam Ajeng saat menemukan benda yang dia cari.
.
Farhan dan Kinara masih membeku. Makan malam romantis yang sudah Farhan siapkan menjadi berbeda karena pembahasan mereka tentang pertunangan.
"Ra, sudah malam. Ayo kita pulang", suara Farhan memecahkan kebekuan mereka.
Kinara hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Farhan. Setelah Kinara mendengar ucapan terakhir Farhan, Kinara memilih tak merespon apapun hingga Farhan mengajaknya pulang.
Di dalam mobil, sesekali Farhan melirik ke arah Kinara yang masih diam dan mendiamkannya.
"Aku minta maaf ya Ra karena sudah membebanimu dengan ulahku", ujar Farhan sendu. Hati kecilnya perih melihat sikap Kinara yang berubah sedingin itu.
"Jangan meminta maaf, tak ada yang harus dimaafkan", jawab Kinara pendek.
Suasana sepanjang perjalanan benar-benar kaku. Hanya keramaian dari luar jendela yang sesekali mencoba memecah kebekuan Farhan dan Kinara.
Tak butuh waktu lama, mobil Farhan sudah sampai di depan rumah Kinara. Farhan bersiap untuk turun dan membukakan pintu untuk Kinara, tapi langkahnya tertahan.
"Tidak perlu membukakanku pintu. Terimakasih untuk makan malamnya dan sudah mau mengantarku pulang", Kinara bergegas keluar dari dalam mobil tanpa menatap Farhan yang diam tertegun.
Farhan hanya bisa melihat punggung Kinara masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya begitu saja.
"Udah pulang, Ra. Farhan mana?", tanya Bu Hasna celingukan.
"Dia sudah pulang, bu", jawab Kinara pendek.
"Oh, ibu kira kamu mengajaknya masuk ke rumah dulu".
__ADS_1
Kinara hanya menggelengkan kepalanya dan bersiap masuk ke kamar tapi Bu Hasna menahannya.
"Nara, kemari sebentar. Ibu ingin bicara denganmu", pinta Bu Hasna.
Kinara yang sudah memegang gagang pintu kamarnya memilih berbalik arah, memenuhi permintaan ibunya.
"Apa kamu bertengkar dengan Farhan?", tanya Bu Hasna hati-hati.
Kinara menggelengkan kepalanya perlahan.
"Lalu kenapa wajahmu terlihat asam begitu?".
Kinara terdiam, dia menarik nafas dalam.
"Nara, ibu hanya ingin mengingatkanmu saja, hidup itu sering kali membawa kita pada banyak hal yang tak menyenangkan, terkadang kita merasa berat menjalaninya. Tapi kamu harus ingat, semua hal yang kita alami dalam hidup kita adalah takdir Tuhan dan tidak semua hal yang tak menyenangkan dan berat itu adalah hal buruk untuk diri kita. Perpisahan, pertemuan, itu semua bagian dari skenario Tuhan. Kita boleh merasa tidak suka, tidak menerima, sedih, bingung, kecewa, marah, tapi ingat, ketetapan Tuhan akan selalu lebih indah daripada pikiran, perasaan dan rencana kita", Bu Hasna mengusap lembut kepala putri sulungnya itu.
Kinara masih terdiam, dia mencoba meresapi perkataan ibunya.
"Tuhan menakdirkanmu bertemu dengan Erlangga dan menikah dengannya. Tapi Tuhan pula yang menghendaki kamu harus berpisah dengan Erlangga. Lalu Tuhan menghadirkan Farhan kembali dalam hidupmu, tapi hatimu masih berat menerima kehadirannya karena kamu merasa terikat dengan Erlangga. Sayang, kepergian Erlangga adalah takdir Tuhan, kehadiran Farhan pun adalah takdir Tuhan. Jika kamu merasa terikat dengan Erlangga, tak mengapa, tapi jangan buat dirimu menjadi hamba yang menolak begitu saja setiap takdir yang Tuhan tetapkan. Tentu ada alasan kenapa Tuhan membuat jalan hidupmu seperti ini. Tentu ada alasan kenapa Erlangga pergi dan Farhan Tuhan hadirkan. Semua ada di sini, tanya hatimu dengan baik. Jika kamu menerima takdirmu saat ini, tak berarti kamu menyalahi takdirmu yang sudah lalu", lanjut Bu Hasna seolah paham betul apa yang terjadi dengan Kinara dan Farhan.
Ucapan Bu Hasna begitu menyejukkan hati Kinara yang resah. Air matanya mengalir begitu saja. Akal dan hatinya menerima semua yang disampaikan ibunya.
Bu Hasna memeluk tubuh Kinara yang berguncang.
"Jika menangis bisa membuatmu lebih tenang, menangis lah, nak. Ibu, bapak, Alisa, keluarga Pak Wijaya dan semua orang yang ada di sekitarmu hanya ingin memberikan yang terbaik dan melihatmu bahagia lagi. Farhan hadir karena Tuhan yang memilihnya, kamu mau menerima dia atau tidak, bicarakanlah dengan Tuhan. Agar jikapun kamu menolak, kamu tidak akan pernah menyesalinya, begitupun jika kamu menerimanya", ucap Bu Hasna lembut.
Beberapa menit berlalu. Kinara sudah lebih tenang. Dia berterimakasih kepada ibunya dan dia memilih kembali ke kamarnya.
Selepas membersihkan diri, Kinara masih tak bisa memejamkan kedua matanya. Pertemuannya malam ini dengan Farhan kembali berkelebat, perbincangan mereka berdua terngiang-ngiang di telinganya, begitu pun dengan nasihat dari ibu, masih jelas terdengar di telinga Kinara.
Kinara memilih beranjak untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sunah. Dia menumpahkan semua kegelisahannya di atas sajadah dalam do'a yang panjang dengan deraian air mata.
Kenyataan yang dia hadapi saat ini terasa begitu berat membebaninya. Setelah merasa cukup mengadu pada Tuhan, Kinara memilih mencoba kembali untuk tidur dan kali ini dia tertidur dengan lelap.
.
"Mas Angga...", Kinara berseru seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Erlangga tersenyum, dia menghampiri Kinara dan memeluknya.
Air mata Kinara tumpah di pelukan Erlangga. Bahunya berguncang. Erlangga mengelus lembut kepala Kinara lalu menciumi pucuk kepala istrinya itu.
"Jangan menangis lagi, ya", ucap Erlangga yang dengan lembut menyeka air mata Kinara.
Kinara mengangguk dan mencoba tersenyum memandang wajah lelaki yang begitu dirindukannya.
__ADS_1
"Aku ingin melihatmu tersenyum. Jika kamu bersedih seperti ini, aku pun merasakan hal yang sama. Aku tahu kemurnian cinta yang kamu jaga untukku, tapi hidupmu masih panjang, sayang. Jadikanlah cinta yang kamu punya itu sebagai sumber kebahagiaanmu, ya", Erlangga memegang wajah Kinara dengan kedua tangannya. Mata mereka saling beradu.
"Tidak ada yang salah jika kamu membuka hatimu, sayang. Tidak ada yang dikhianati jika kamu bisa menerima kehadirannya. Kemurnian cintamu akan selalu membersamaiku di sini. Aku percaya, dia bisa mencintaimu dengan sempurna. Menjagamu dengan segenap hatinya. Ku mohon, jangan ragu lagi. Buat aku selalu tersenyum dengan melihatmu bahagia", Erlangga memeluk erat tubuh Kinara lalu mengecup dalam keningnya.
Ada rasa damai di hati Kinara saat dia merasakan dekapan dan kecupan cinta dari Erlangga. Meski air matanya masih menetes, tapi kali ini berbeda, itulah air mata bahagia.
"Terimakasih untuk selalu mencintaiku dan menjaga cinta yang kamu miliki untukku, sayang. Sudah saatnya kamu bersamanya. Percayalah, aku menginginkan hal itu terjadi", kali ini Erlangga menggenggam kedua tangan Kinara lalu mengecup kedua punggung tangan Kinara.
Kinara tak bisa berkata-kata, hanya air mata yang menjadi bahasanya di depan Erlangga. Perlahan, sosok Erlangga memudar dari hadapannya, genggaman tangan Erlangga mulai terlepas dari tangan Kinara.
"Mas...mas...Mas Angga...", Kinara berteriak sejadi-jadinya. Dia hanya melihat bayangan Erlangga pergi dan memberikan senyuman sebagai salam perpisahan.
"Nara...bangun, nak", Bu Hasna mengguncang-guncangkan tubuh Kinara.
Kinara tersentak kaget, kedua matanya membelalak, dia melihat sekililing kamar, tak ada siapapun selain Bu Hasna yang duduk di tepi ranjangnya.
"Bu...ma...Mas Angga mana, bu?", mata Kinara sembab.
Bu Hasna segera memeluk erat putrinya. Sejujurnya hatinya sedih melihat keadaan Kinara seperti itu.
"Kamu pasti bermimpi ya, nak. Erlangga tidak di sini", jawab Bu Hasna.
Air mata Kinara spontan berderai. Mimpinya beberapa saat yang lalu terasa begitu nyata. Hatinya begitu pilu mengingat mimpi itu.
"Ayo kita sholat subuh, sudah adzan. Kita do'akan Erlangga bersama-sama, ya", ajak Bu Hasna sambil menyeka air mata di wajah Kinara.
Kinara mengangguk perlahan. Dia turun dari tempat tidurnya, mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat subuh berjama'ah dengan bapak, ibu dan Alisa.
Selepas sholat, mereka berdo'a bersama-sama.
"Apa tadi kamu mimpi buruk, Ra? bapak mendengar jelas kamu teriak-teriak memanggil Erlangga", tanya Pak Prastowo setelah mereka selesai sholat dan do'a bersama.
Kinara mencoba tersenyum dan menceritakan mimpi yang dialaminya. Lagi, matanya meneteskan air mata. Alisa merangkul kakaknya dan Bu Hasna mengelus lembut punggung Kinara.
"Bapak tahu seberapa besar cintamu itu pada Almarhum Erlangga. Semoga mimpi tadi adalah petunjuk dari Tuhan atas apa yang kamu hadapi saat ini. Bapak yakin kehadiran Erlangga di mimpimu adalah bentuk restu dan harapannya. Bapak bangga memiliki menantu seperti Erlangga. Dia begitu memikirkan kebahagiaanmu, nak bahkan saat dia sudah tak ada".
Ucapan Pak Prastowo menambah haru suasana.
"Do'akan Nara ya, pak, bu, Al. Agar Nara bisa mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk semuanya", ucap Kinara setelah dia lebih tenang.
"Kita semua pasti selalu mendo'akan dan mendukungmu. Sekarang yuk, kita semua berbenah dan sama-sama menyiapkan sarapan pagi", ajak Bu Hasna.
Suasana rumah pun menjadi ramai. Bapak berolahraga di teras depan, Alisa membantu ibu memasak di dapur dan Kinara membersihkan semua ruangan rumah.
Sejenak, Kinara tertegun memandangi foto dirinya dan Erlangga yang terbingkai di atas nakas di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Terimakasih mas, kamu sudah menjengukku dan menenangkan hatiku, aku mencintaimu", bisik Kinara. Dia mengecup foto itu dan memeluknya. Meski hatinya masih diliputi keharuan, tapi Kinara kini merasa lebih damai. Mimpinya membuatnya yakin, Erlangga mendukung pilihan hidupnya.