
"Kinara, tunggu...", Erlangga melepaskan pelukannya pada Alya dan berlari mengejar Kinara yang sudah lebih dulu berlari keluar toko.
"Ma...papa mau kemana?", tanya Alya dengan wajah polosnya melihat papanya pergi begitu saja.
Ada rasa sedih di hati Viona melihat Erlangga yang begitu saja meninggalkan Alya dan dirinya.
"Papa mau keluar dulu, sayang. Ayo kita pilih lagi bonekanya", bujuk Viona sambil mengelus lembut kepala putri kecilnya.
Alya mengangguk, dia kembali asyik memilih boneka dan beberapa mainan di dalam toko.
Sementara itu, Kinara terus berlari. Dia tak ingin Erlangga mengejar dan menemukannya. Ia pergi dengan perasaan kacau dan penuh tanda tanya.
Kinara segera menghentikan taksi yang biasa berhenti dan mengantarkan penumpang di depan pintu masuk mall.
"Ayo pak, jalan", perintah Kinara buru-buru.
"Baik, bu. Kita akan pergi kemana?", tanya supir taksi yang bingung karena tiba-tiba saja Kinara masuk ke dalam mobilnya.
"Jalan dulu saja, pak", pinta Kinara lagi.
Tanpa banyak bertanya, pak supir pun segera menjalankan mobilnya.
Erlangga sempat melihat Kinara masuk ke dalam taksi, tapi dia tidak tahu kemana istrinya itu akan pergi.
"Aaarrgghh...sial!", Erlangga mendengus kesal.
Ia buru-buru berlari ke parkiran. Masuk dan menjalankan mobilnya.
"Sial...sial...siaaall", berkali-kali Erlangga memukul stir mobilnya, menumpahkan semua kekesalannya di sana.
"Kenapa dia harus bertemu dengan Alya dan Viona? kenapa? aaaarrggghhh...", Erlangga semakin frustasi karena kejadian beberapa menit yang lalu.
Erlangga segera mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi Kinara, tapi tak ada jawaban.
Sementara itu di dalam taksi, Kinara menatap layar ponselnya. Ada nama suaminya yang memanggil, namun ia tak mau mengangkatnya. Kinara membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa berminat untuk menjawabnya.
"Maaf bu, tujuan kita kemana ya?", pak supir melirik ke arah Kinara lewat spion di dalam mobilnya. Sedari tadi dia melajukan mobilnya tanpa tahu tujuan akhir yang dituju penumpangnya itu.
"Tolong bawa saya ke pantai terdekat dari sini, pak", akhirnya Kinara memberikan jawaban.
Pak supir pun segera melajukan taksinya menuju tempat yang diinginkan Kinara.
Erlangga masih berusaha menghubungi Kinara, tapi tetap tidak ada jawaban, bahkan sekarang hanya ada suara operator yang menjawab panggilan Erlangga.
"Aaarrrgghh...kamu pergi kemana, sayang?", gumamnya. Rasa kesal dan bingung berkecamuk dalam diri Erlangga.
Ia mencoba menajamkan matanya, mencari-cari sosok Kinara yang mungkin saja berhenti disalah satu tempat yang ia lalui, tapi nihil.
Akhirnya Erlangga menepikan mobilnya. Ia mencoba berpikir dengan jernih kemana istrinya pergi.
'Dia tidak hafal tempat apapun di kota ini. Aku yakin Kinara tak mungkin pergi jauh', batin Erlangga.
Tangannya kini dengan cepat menghubungi seseorang.
"Hallo, Son. Tolong bantu saya untuk mencari istri saya. Saya kirim nomor ponselnya dan setelah itu kamu cari tahu dia di mana dengan mendeteksi keberadaannya lewat nomor ponsel itu. Saya tidak mau tahu, bagaimana pun caranya, temukan dia segera dan secepatnya kabari saya", perintah Erlangga tanpa memberikan kesempatan kepada Soni, asisten pribadinya untuk memberikan jawaban.
Soni paham betul karakter dan cara kerja Erlangga. Tanpa menunggu, dia melakukan perintah bosnya itu.
__ADS_1
Erlangga melajukan kembali mobilnya, kali ini lebih pelan. Matanya masih mengamati jalanan sekitar.
Sepuluh menit berlalu, ponsel Erlangga bergetar.
"Ya Son, gimana? ok, thank's", jawabnya pendek.
Erlangga sudah tahu keberadaan istrinya. Soni baru saja mengabarinya.
"Kerja bagus, Son. Aku akan segera menyusulnya ke sana", Erlangga bergumam sendiri dan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Hanya butuh waktu tak lebih dari dua puluh menit untuk Erlangga memakirkan mobilnya disebuah pantai.
Waktu sudah petang, semburat matahari pun mulai memerah. Suasana di pantai itu tak terlalu ramai orang.
Erlangga mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok wanita yang dicarinya.
Lima belas menit berlalu, Erlangga belum menemukan sosok Kinara di sana.
'Apa dia sudah pergi dari sini?', tanyanya pada diri sendiri.
Erlangga kembali meneruskan langkahnya. Ia terhenti saat melihat siluet seorang wanita yang nampak duduk sendiri di atas sebuah perahu yang sedang menepi.
Semilir angin pantai sore itu terlihat meniup lembur rambut Kinara yang dibiarkannya terurai.
Erlangga tersenyum senang, akhirnya dia menemukan istrinya.
Perlahan Erlangga melangkah mendekati Kinara yang tak menyadari kehadirannya. Ia sibuk merenung, menenggelamkan dirinya dalam perasaan yang campur aduk.
Kedua kakinya ia tekuk, tangan melingkar di atas lututnya.
'Ternyata banyak hal yang tak ku tahu tentangmu, mas', pikir Kinara.
Deg
Tiba-tiba sepasang tangan dari belakang ikut melingkar dikedua kakinya yang ia tekuk.
"Mas...", suara Kinara terdengar lirih.
Erlangga menggantungkan dagunya di bahu kanan Kinara.
"Kenapa kamu pergi tanpaku, sayang?", tanya Erlangga.
"Kamu tahu, aku hampir putus asa mencarimu kesana kemari. Tolong jangan kamu ulangi lagi, ya", bisiknya lembut.
Kinara masih terdiam. Matanya terasa panas, entah sejak kapan, buliran bening yang sedari tadi ditahannya akhirnya mengalir juga.
Bahu Kinara berguncang, terdengar suara isak tangis. Erlangga melepaskan kedua tangannya yang melingkar dan membalikkan tubuh Kinara untuk ia peluk.
Kinara akhirnya tak bisa lagi membendung perasaannya yang berkecamuk. Tangisnya pecah dalam dekapan Erlangga.
"Maafkan aku, sayang. Aku melukaimu lagi", ucap Erlangga lembut namun penuh penyesalan.
Dielus dan diciuminya puncak kepala Kinara yang masih terus menangis.
"Maaf, aku tak terbuka tentang semuanya kepadamu. Maafkan aku, sayang, maaf", berkali-kali Erlangga mengucapkan maaf.
Kinara mencoba mengendalikan lagi diri dan emosinya. Ia sedikit menarik tubuhnya agar bisa melihat wajah suaminya.
__ADS_1
"Mas, aku...aku...", suara Kinara masih tercekat karena menahan tangis.
Jari telunjuk Erlangga menutup bibir Kinara.
"Ayo kita pulang sayang dan akan aku jelaskan semuanya kepadamu", ajak Erlangga sambil menghapus air mata yang di wajah istrinya.
Kinara sebetulnya merasa enggan untuk pulang, tapi hati kecilnya seolah mendorongnya untuk mengikuti perintah suaminya. Akhirnya mereka berdua pulang, meninggalkan sunset yang terlihat indah di pantai itu.
Sepanjang perjalanan, Erlangga dan Kinara memilih untuk saling berdiam diri. Sesekali Erlangga melirik ke arah Kinara yang membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
Sesampainya di apartemen, Kinara segera masuk ke kamar. Ia memilih untuk membersihkan diri, mengguyur raga dan hatinya agar lebih tenang.
Erlangga menunggu istrinya. Ia siapkan segelas susu favorit Kinara dan dia buatkan roti sandwich dengan olesan selai strawberry yang dibuatnya tersenyum.
Cukup lama Kinara menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi.
Akhirnya Erlangga pun memilih membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur dan mengganti bajunya di sana.
Empat puluh lima menit berlalu, Kinara akhirnya selesai membersihkan diri. Kini ia merasa lebih segar dan tenang. Dilihatnya di kamar, Erlangga tak ada di sana.
"Suamiku kemana?", gumamnya sendiri.
Kinara selesai menyisir rambutnya saat seseorang menutup kedua matanya tiba-tiba.
"Ah, mas...aduh, gelap ini, mas...", Kinara tahu pasti suaminya yang sengaja melakukan hal itu.
"Jangan melawan, ayo ikut", Erlangga membimbing langkah istrinya.
"Nah sekarang duduk perlahan, ya", katanya lagi. Kinara pun mengikuti perintah suaminya.
"1...2.... 3....tttaarraaa", Erlangga melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menutup mata Kinara.
"Ini buatku, mas?", Kinara menatap suaminya setelah ia lihat ada sepiring roti sandwich dan segelas susu di atas meja yang ada di depannya.
Erlangga mengangguk cepat.
"Iya, ini spesial untuk istriku tercinta. Apa kamu suka?".
"Iya mas, aku suka. Terimakasih".
"Maaf ya sayang, aku hanya bisa membuatkan ini untukmu. Aku tak pandai memasak".
"Tak apa mas, ini luar biasa. Aku akan memakannya segera, aku lapar", Kinara memajukan wajahnya dengan ekspresi imut.
Erlangga tersenyum senang melihat Kinara yang makan dengan lahap dan sudah terlihat lebih tenang.
Hanya butuh waktu sebentar untuk Kinara menghabiskan hidangan kejutan itu.
"Mau lagi?", tanya Erlangga.
Kinara menggelengkan kepalanya.
"Tapi mas pasti lapar ya? belum makan lagi kan? aku buatkan sesuatu ya mas", Kinara siap beranjak dari tempat duduknya, tapi tangan Erlangga menahannya.
"Aku tidak lapar, sayang. Melihatmu makan dan tersenyum lagi, itu sudah membuatku kenyang", Erlangga memeluk erat tubuh istrinya.
"Kesekian kalinya aku minta maaf. Aku selalu membuatmu menangis", katanya lagi, rupanya dia masih merasa bersalah.
__ADS_1
Kinara tersenyum dan merasakan hangat di hatinya dengan semua perlakuan Erlangga.
"Sepiring roti sandwich dan segelas susu itu sudah membayar lunas kejadian hari ini, mas", bisik Kinara, menerbitkan senyum di bibir Erlangga.