
Drrt....drrtt....drrtt
HP Kinara bergetar, ada nama Erlangga di layar. Kinara menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia agak ragu untuk mengangkat telepon itu, tapi tak mungkin ia acuhkan.
"Hallo....", Kinara membuka suara.
"Hallo, selamat pagi, sayang", sapa Erlangga.
Deg....
Jantung Kinara berdebar lagi karena Erlangga memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.
"A....ada apa, mas?", tanya Kinara setelah ia bisa mengendalikan perasaannya.
"Hari ini kamu punya waktu luang? aku ingin mengajakmu pergi menemui designer untuk memesan pakaian pernikahan kita nanti", to the point Erlangga menyampaikan maksudnya menelepon Kinara.
Kinara terdiam sejenak, ia tak langsung memberikan jawaban. Semenjak kejadian makan malam keluarga itu, hatinya masih terasa kacau.
"Hallo, Ra, apa kamu masih di sana?", Erlangga memastikan Kinara masih mendengar teleponnya.
"I....iya mas, aku masih di sini", jawab Kinara pendek.
Erlangga tersenyum di balik telepon. Ia sebetulnya paham bagaimana perasaan Kinara yang harus menerima semuanya secara tiba-tiba. Tapi Erlangga pun tak bisa memungkiri perasaannya, ia mulai menyukai Kinara dan ia senang dengan perjodohan mereka.
"Apa hari ini kamu ada waktu luang?", lagi, Erlangga mengulang pertanyaannya.
Kinara menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan itu, "Mmm....maaf mas, bisakah kita menunda sebentar persiapan pernikahan kita? hari Rabu ini aku ujian sidang, dan aku ingin fokus dulu menyelesaikan ujianku".
"Baiklah. Kita akan mengurusnya setelah kamu selesai ujian sidang. Percayalah, kamu pasti akan mendapatkan nilai yang terbaik", Erlangga memberikan semangat.
Kini giliran Kinara yang tersenyum dibalik telepon, "Iya, terimakasih mas".
Perbincangan mereka pun berakhir.
Hari ini, pagi-pagi sekali Kinara sudah tampil dengan begitu rapi. Ia mengenakan stelan blazer berwarna coklat tua. Rambut panjangnya ia ikat lalu ia gelung dengan rapi. Penampilannya sudah seperti pegawai kantoran.
"Sukses ya nak untuk ujianmu hari ini", ibu memberikan semangat saat Kinara tiba di meja makan. Kinara mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan ibu.
"Bapak yakin, anak bapak yang satu ini pasti bisa jadi lulusan terbaik", sahut bapak.
__ADS_1
"Semangat kak", seru Alisa tak mau kalah dengan kedua orang tuanya.
Kinara bahagia sekaligus terharu dengan semua dukungan yang ia dapatkan dari keluarganya.
"Terimakasih ya pak, bu, dek. Do'akan ujiannya lancar, ya", pinta Kinara penuh harap. Bapak, ibu dan Alisa kompak mengangguk bersamaan.
"Oh iya Ra, jangan lupa kabari Erlangga kalau hari ini kamu ujian. Bagaimana pun juga, dia kan sekarang calon suamimu, tak ada salahnya kamu meminta dukungan darinya juga", ucap bapak disela-sela sarapan paginya.
"Sudah pak. Mas Erlangga pasti tahu kok kalau Nara hari ini ujian. Mas Erlangga kan dosen Nara di kampus sekaligus dosen pembimbing skripsi Nara", jawab Kinara.
Bapak dan ibu tersenyum, "Bagus lah kalau begitu. Ibu yakin hari ini nak Erlangga pasti akan mendampingimu dengan baik di kampus".
Sarapan pagi pun telah usai. Jam 06.35 WIB Kinara berpamitan untuk berangkat ke kampus. Kepergiannya diiringi do'a dan lambaian tangan dari keluarga kecil yang ia cintai.
'Ok Kinara Cyzarine, take a breath and keep calm', bisik hatinya mencoba menenangkan diri. Beberapa kali Kinara menarik nafas dalam dan terus berdo'a agar ujiannya pagi ini diberikan kelancaran.
"Tenanglah, jangan segugup itu", sebuah suara membuyarkan kegugupan di hati Kinara. Ia mengangkat kepalanya, di depannya kini sudah ada Farhan.
"Lho, kamu Han. Kok ada di sini?", tanya Kinara heran. Sepagi ini Farhan ada di kampus, padahal dia sudah ujian sidang, dan penampilannya nampak berbeda dari biasanya. Farhan terlihat rapi dan tampan dengan stelan jas berwarna abu tua, dipadukan dengan kemeja putih dibagian dalam dan dasi berwarna abu muda yang melilit rapi di lehernya.
Farhan memamerkan senyum manis dan kedua lesung pipinya, "Kenapa? gak ada larangan kan aku datang ke kampus ini", jawab Farhan enteng.
Farhan duduk di bangku sebelah Kinara, "Karena hari ini aku tahu kamu ujian sidang jadi aku sengaja datang ke sini".
Kinara tersenyum senang. Ia tak menyangka jika Farhan masih begitu peduli dengan dirinya, padahal semenjak Farhan melamar Kinara, komunikasi mereka sudah tak seintens sebelumnya.
"Makasih banyak ya Han, kamu selalu ada buat aku", ucap Kinara malu-malu.
Farhan tersenyum, "Do your best ya", ia mengepalkan tangan kanannya. Kinara mengangguk pasti. Entah kenapa, setiap kali ada Farhan di sisinya, perasaan Kinara selalu terasa lebih damai dan nyaman.
Tak lama, ujian sidang pun dimulai. Nama Kinara dipanggil ke ruang ujian, ia mulai menghadap dosen penguji satu.
Sementara itu, Farhan sesekali melihat HP miliknya dan terlihat sibuk mengetik. Lalu mencari-cari kontak nama.
"Rik, hari ini gue siangan ya datang ke kantor. Selama gue belum datang, please lo handle dulu semua urusan di sana", terdengar Farhan sedang berbicara di telepon dengan Erik.
"Ok bos. Tumben siang ke kantor, melipir kemana dulu nih?", Erik penasaran dengan sepupu sekaligus bosnya itu.
"Gue lagi ke kampus. Kinara ujian sidang hari ini", jawab Farhan.
__ADS_1
"Hooo....pantesan, kalau buat calon istri, apa aja dilakuin ya bro", goda Erik.
"Apaan sih lo. Udah ah, jangan becandain gue pagi-pagi, urusin kantor gih", nada suara Farhan terdengar kesal karena ulah Erik.
Dibalik telepon terdengar suara Erik tertawa, sangat jarang sekali ia mempunyai kesempatan menggoda Farhan sampai seperti itu.
"Ok deh bos, gue segera meluncur ke kantor. Sukses ya buat ujian sidangnya nyonya Farhan Ganindra", lagi, Erik masih menggoda Farhan.
Farhan tak ingin meresponnya, ia segera menutup teleponnya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.35 WIB, terlihat Kinara menghampiri Farhan yang masih setia menunggunya di bangku ruang tunggu kantor jurusan.
"Huufftt....tinggal satu lagi nih", suara Kinara membuyarkan Farhan yang sedari tadi fokus membuka email perusahaan.
"Eh, udah datang, Ra. Duduk dulu sini", Farhan menggeser tubuhnya, memberikan ruang yang lebih luas untuk Kinara duduk di sebelahnya.
Kinara segera duduk, ia merebahkan punggungnya ke sandaran bangku itu.
"Ini", Farhan memberikan sebotol air mineral kepada Kinara.
Kinara menoleh dan tersenyum, ia mengambil botol air mineral itu, "Thank's ya Han". Kinara meminum beberapa tenggak air di tangannya, dia merasa lebih baik.
"Gimana ujiannya barusan? udah beres semua?", tanya Farhan penasaran.
Kinara menggelengkan kepalanya, "Belum Han. Aku masih harus ketemu sama dosen penguji dua. Tadi aku baru ketemu sama dosen penguji satu dan tiga", jawab Kinara.
Farhan menganggukkan kepalanya, "Siapa aja dosen penguji kamu?".
"Penguji satu Prof. Dadang, penguji dua Prof. Hani, penguji tiga Pak Iriyadi", terang Kinara.
"Tetap semangat ya. Lancar jawab semua pertanyaan dari penguji?", tanya Farhan lagi.
Kinara menganggukkan kepalanya. Farhan tersenyum, di tatapnya wajah Kinara. Ia bisa melihat guratan lelah dan sedikit ketegangan yang masih menghiasi wajah cantik perempuan di sampingnya itu.
'Aku akan selalu mendukungmu, Ra', bisik hati kecil Farhan.
Tanpa Farhan dan Kinarasa sadari, sepasang mata menatap tajam ke arah mereka yang sedari tadi terlihat mengobrol dengan begitu akrab. Pemilik mata itu bahkan menyaksikan bagaimana Farhan menyemangati dan menghibur Kinara di tengah jeda ujian sidangnya. Kinara nampak senang dan merespon Farhan dengan baik, sesekali mereka terlihat tertawa bersama.
'Kamu bisa tertawa selepas itu dengannya, tapi tak pernah begitu denganku. Setelah ini, akan aku pastikan, aku bisa membuatmu lebih bahagi', pemilik sepasang mata tajam itu berbicara pada dirinya sendiri. Ada perasaan tak suka di hatinya saat melihat kedekatan Farhan dan Kinara.
__ADS_1