
Hari Sabtu pagi, bapak nampak asyik berolahraga di halaman depan, sedangkan ibu dan Alisa sedang berduet memasak di dapur.
Kinara lebih memilih berkutat dengan laptopnya di kamar. Minggu depan dia akan maju ujian sidang skripsi.
'Huufftt....penat sekali dengan tugas akhir ini. Ujiannya kapan, nervous-nya dari sekarang', bisik hati kecilnya.
Tak lama, pintu kamarnya diketuk dari luar, "Kak, kita makan yuk. Sarapan udah siap semua nih", terdengar nyaring suara Alisa.
Kinara beranjak dari kursi meja belajarnya. Ia men-sleep mode laptop kesayangannya. Perutnya memang sudah terasa lapar. Memikirkan ujian sidang skripsi itu sungguh menguras energi.
"Iya dek, sebentar lagi kakak keluar", jawab Kinara tak kalah lantang.
Tak berapa lama, formasi di meja makan pun sudah lengkap. Rupanya pagi ini ibu membuatkan soto ayam spesial yang sudah sangat lama Kinara rindukan lengkap dengan bakwan jagung dan sambal khas ibu.
"Wah, ini sih makan besar namanya. Nara kangen berat nih sama masakannya ibu", seru Kinara dengan mata berbinar sambil menarik punggung kursi.
Ibu tersenyum, "Kalau gitu, kamu makan yang banyak, ya".
Kinara mengangguk cepat, tangannya segera mengambil nasi, kuah soto, bakwan jagung, dan tak lupa emping dan sambal sebagai pelengkap.
Alisa yang melihat begitu banyak lauk yang diambil kakaknya hanya bisa menyeringai, "Ih kakak, gembul deh makannya".
"Kakak butuh energi ekstra dek, mau sidang minggu depan", jawab Kinara santai.
"Biarin aja Al kakakmu itu makan banyak. Jarang-jarang ya Ra kamu makan seperti ini", bapak membuka suara.
Kinara mengangguk cepat, merasa mendapat pembelaan dari bapak.
"Ah, kalau gembul sih ya gembul aja, pak", Alisa tak mau kalah.
Ibu hanya tersenyum melihat perbincangan di meja makan pagi ini.
"Kamu sidang hari apa, Ra?", tanya bapak.
"Hari Rabu, pak. Do'ain Nara ya", jawab Kinara.
__ADS_1
"Ibu sama bapak juga adikmu, udah pasti selalu do'ain kamu. Semangat ya anak cantik ibu", timpal ibu.
Kinara tersenyum senang mendengar jawaban itu.
"Oh iya bu, semalam Mas Wijaya nelepon bapak, keluarganya mengundang keluarga kita untuk makan malam bersama di luar nanti malam. Bisa?", lagi, bapak bertanya.
"Mas Wijaya itu siapa sih pak?", Alisa bertanya karena seingatnya bapak tak punya saudara kandung, apalagi kakak.
"Mas Wijaya itu sahabat seperjuangan bapak dari sewaktu kami masih bujang. Bapak dan Mas Wijaya dulu satu kampus, hanya beda angkatan. Kami dekat dan akrab, dan sempat berjuang bersama juga di perantauan", terang bapak.
Alisa hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jam berapa mereka ngundang kita, pak?", tanya ibu.
"Jam 19.30 di Resto Bahagia", jawab bapak singkat.
Ibu menganggukan kepalanya, "Nara bisa ikutkan?", tanya ibu.
Kinara yang sedari tadi asyik menikmati sarapannya hanya menjawab dengan anggukan.
"Kita semuanya akan pergi", bapak yang menjawab.
Alisa tersenyum senang. Ia memang ingin sekali jalan-jalan di Bandung. Ia rindu sekali dengan kota ini, maklum saja, sedari lahir Alisa memang dibawa oleh bapak dan ibu berpindah-pindah tempat dinas bapak.
Sarapan bersama pun usai, Kinara dan Alisa membantu ibu membereskan meja makan dan mencuci piring-piring kotor.
"Al, bawa ini ke depan", ibu menyodorkan sepiring mangga yang sudah dipotong. Alisa segera melaksanakan perintah ibunya.
"Ra, setelah sidang selesai dan kamu wisuda, rencanamu apa?", ibu membuka suara mengajak putri sulungnya itu berbincang.
Kinara masih membilas piring-piring kotor di washtafel, "Ya Nara mau nyari kerja lah bu. Nara pingin jadi guru".
"Apa kamu gak ada rencana menikah dalam waktu dekat?", ibu duduk di kursi meja makan sambil menatap putrinya.
Kinara tak segera menjawab, ia memilih menata piring-piring yang sudah bersih terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mmm....sejauh ini Nara belum kepikiran buat nikah cepat, bu", jawab Kinara.
Ibu tersenyum, "Nak, kalau ibu sama bapak gak akan larang kok kalau semisal dalam waktu dekat ini atau ya setelah lulus kuliah nanti kamu mau menikah. Kalau ada lelaki yang baik dan sayang sama kamu datang memintamu, kami gak akan nolak", penjelasan ibu membuat Kinara terdiam.
Kinara teringat lagi dengan pinangan Erlangga dan Farhan. Meski kedua lelaki itu belum meminangnya secara resmi, tapi kehadiran mereka terasa begitu membebani Kinara.
"Kok diam, Ra? jangan terlalu dipikirkan apa yang ibu barusan bilang. Ibu tanya dan bilang seperti itu biar kamu gak bingung nantinya, gak ragu kalau memang ada niatan menikah. Usiamu sudah bukan ABG lagi, hal wajar kalau sudah memikirkan jauh ke masa depan", ibu mengusap lembut bahu Kinara.
Kinara mencoba tersenyum, ia menganggukan kepalanya perlahan.
"Ayo kita ke depan, makan mangga sama-sama", ajak ibu.
Kinara mengikuti langkah ibunya ke ruang keluarga. Di sana bapak dan Alisa terlihat asyik mengunyah mangga sambil menonton TV.
Kinara bahagia bisa melihat keluarganya lengkap ada di sisinya, meskipun ia tahu, momen seperti ini tak lama untuk bisa ia nikmati.
Sementara itu, Farhan terlihat sibuk di balik meja kerjanya. Ia terlihat bolak-balik membuka-buka file yang menumpuk di depan matanya.
"Ya ampun, bro, masih aja sibuk begitu", suara Erik, teman sekantornya membuyarkan kesibukan Farhan. Ia tak menyadari kehadiran Erik di ruangan itu.
"Iya nih Rik, kapan kelarnya ya berkas-berkas ini?", tanya Farhan tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop.
Erik tersenyum, "Bro, rileks dikit lah. Udah jam makan siang nih. Yuk keluar".
Farhan melihat jam di tangan kirinya, jam 11.30 WIB, ya, memang sudah saatnya ia istirahat.
"Ok, bentar ya Rik, gue beresin dulu nih berkas-berkasnya", jawab Farhan.
Erik mengangguk, ia memilih untuk menunggu Farhan dengan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Farhan adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Perusahaan ini adalah warisan dari mendiang ayahnya. Ayahnya membuka beberapa cabang perusahaan di Jawa dan Kalimantan. Farhan mengambil alih perusahaan ini setelah ia selesai sidang skripsi. Selama ini pamannya lah yang mengelola perusahaan tersebut.
Farhan sebetulnya tak terlalu tertarik menjadi pimpinan di perusahaan milik mendiang ayahnya itu, ia lebih tertarik menjadi guru atau dosen. Tapi Farhan anak satu-satunya yang mau tak mau harus menjalankan wasiat ayahnya untuk mengelola perusahaan yang ditinggalkan.
"Yuk Rik, ready nih", Farhan mengajak Erik yang sedari tadi menunggunya. Erik mengangguk.
__ADS_1
Erik adalah manajer di perusahaan Ganindra Group cabang Jawa, perusahaan tambang milik keluarga Farhan. Ia dan Farhan saudara sepupu, Erik adalah anak Pak Erwin, paman Farhan dari pihak ayahnya yang selama ini mengelola perusahaan sampai tiba masanya Farhan mengambil alih kepemimpinan di perusahaan itu.