
"Arthur kamu tau perusahan Perkasa Raya?" tanyaku menghampirinya yang sedang di ruang kerjanya.
"Itu anak perusahaanku yang baru." jawabnya sambil fokus memeriksa dokumen di hadapannya.
"Oh?"
"Why?"
"Gak apa-apa cuma memastikan." celetukku dengan nada sedikit kecewa.
"Ada hal yang mau kamu omongkan denganku?" tanya Arthur yang kini sudah menatapku dengan serius.
"Bukan hal serius kok." kataku sambil berjalan keluar ruangannya
"Anya?"
"Hm?"
"Anya?"
"Hmm?
"Anya!"
"Oke."
Aku mulai mengahampiri Arthur dan duduk di hadapannya. Arthur memerhatikan wajahku dengan seksama.
"Cerita."
"Ya, tadi pagi dikantorku Stasya memenangkan tender di perusahaan Perkasa Raya. Yang membuatku sedikit gusar adalah kalau memang kamu membutuhkan seorang design untuk kantor baru kok kamu ga cerita ke aku?" terangku
"Ya aku juga baru tau dari hasil laporan hari ini kok. Kalau aku tau ada perusahaan kamu disitu, aku bakalan minta tolong kamu saja yang uruskan." jawabnya simpel.
"Memang kamu gak cek?" tanyaku yang masih tak puas.
"Ya memang aku harus mengurus hal sepele seperti itu juga?" tanyanya balik.
"Ya seengganya kamu kan bisa lihat-lihat dulu?!" kataku kembali.
Arthur terhenti sejenak mendengarkan apa yang kuucapkan tadi.
"Besok aku suruh Rossy! Puas?" jawabnya dengan serius.
Aku hanya terdiam melihatnya, aku sudah kesal duluan dengan Arthur. Sebenarnya aku kesal dengan Stasya sih hanya saja Arthur jadi terbawa-bawa oleh mood jelekku ini.
"Anya?"
"Mau makan malam sama apa?" tanyaku mengalihkan.
"Apa saja." jawab Arthur dengan santai
"Oke."
Aku segera berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam.
"Apa saja kan?" gumamku sendiri
Aku memasak makan malam untukku dan Arthur.
"Udah siap Arthur!" panggilku ke ruangannya
"Yes, love." jawabnya dengan senyum manis, aku membalas hanya dengan wajah mimik datar.
Arthur berjalan keluar ruangan kerjanya dan dia duduk di bangku meja makan.
"Selamat makan." kataku dengan menghidangkan makan malamnya.
"Anya! Kamu serius?" tanya Arthur yang masih tak yakin dengan makan malamnya.
"Makan! Kata kamu apa aja." jawabku sambil duduk berhadapan dengannya.
"Ya tapi bukan mie instan juga. Ini micinnya kan banyak banget Anya!" protes Arthur dengan sebal.
"Ya dimakan aja! Aku makan itu gak sampai mati kok." balasku dengan santai sambil menyendokkan makan malamku.
"Aku kan dari dulu gak suka Anya." ucap Arthur memelas.
"Kamu pernah makan sekali ya! Tapi kamu masih hidup." jelasku dengan mengejeknya.
"Kamu makan apa itu?" tanya Arthur yang penasaran
"Salad with peanut sauce!" dengan nada mengejek Arthur.
"Gado-gado?" tanyanya kembali.
"Yep!"
"Kamu curang! Tukar sini cepat sama makan malamku!" perintah Arthur dengan wajah sebal.
"No!" balasku dengan menjulurkan lidah, mengejek padanya.
"Anya, please! Oke I'm sorry!" ucap Arthur yang menyerah.
"Sorry about what?" tanya Anya sok menguji.
"Sorry about everything you hate! And sorry for everything you don't like.." melas Arthur.
__ADS_1
Anya membalas dengan tersenyum puas.
"Nih." ucap Anya sambil menyodorkan makan malamnya pada Arthur.
Arthur menerima makan malam punyaku, menggeserkan mie instan yang berada disampingnya tersebut. Arthur makan dengan lahap, mungkin dia sudah lapar, aku yang melihatnya hanya tersenyum kecil karena lucu melihatnya seperti itu.
"Pelan-pelan." celetukku
Arthur hanya melihatku sekilas, "Dasar kamu bandit usil.." dan dia kembali melanjutkan makan malamnya.
(Imutnya!)
*****
Pagi-pagi sekali Arthur sudah berangkat menuju bandara, ketika bangun tidur Arthur sudah membuatkan aku sarapan, roti panggang selai kacang kesukaanku. Dan tak lupa menyisipkan note di sela-sela piring yang berisi untuk tidak pulang terlalu larut. Yah dia memang kalau sudah posesif begitu, tapi tetap saja aku juga kadang mau kebebasan tanpa diatur oleh dirinya.
Aku sibuk membuka chatting di ponselku sepanjang perjalanan ke kantor. Di grup sekolah ku ramai sekali chat berisi akan dilangsungkan reuni sekolah. Sudah agak lama juga sekolahan ku tidak mengadakan acara reuni. Aku melihat chatting mereka satu persatu, sekilas aku rindu juga dengan suasana saat sekolah SMA dulu.
Ada chat masuk ke dalam ponselku dan itu dari Regina.
Regina sendiri adalah teman dekatku saat SMA, selama dua tahun aku duduk sebangku dengannya.
Tring!
Regina: Anya kamu ikut kan ke acara reuni minggu depan?
Me: Aku belum tau Regina, kamu?
Regina: Aku akan datang!
(Dia datang ternyata, aku belum bilang sama Arthur)
Tring!
Regina: Alvin hadir!
(Alvin? Terus kenapa? Tiap tahun kan dia pasti ikut hadir)
Regina: Kesempatan kamu buat CLBK lagi sama dia :p
(Hahaha, ngawur aja!)
Me: Aku akan kabari kamu kalau aku datang!
Regina: Aku tunggu!
Aku segera menaruh ponselku dan berpikir sejenak tentang reuni tersebut. Aku memukul-mukulkan pulpen ke wajahku tanda sedang berpikir dahulu.
Tok. Tok. Tok!
"Anya?" suara ketukan pintu ruanganku membuyarkan lamunanku.
"Ya Ter, ada apa?"
"Anya, kamu beruntung kemarin gak ikut ke acara traktiran Stasya!" ucap Tere dengan sedikit berbisik.
"Memang kenapa?"
"Dia besar kepala sekali disana! Seolah-olah dia itu beneran sukses dan berhasil dalam memenangkan tender Perkasa Raya!" ucap Tere dengan nada sebal.
"Biarkan! Dia memang begitu kan?" sahutku yanh tak mau peduli.
"Iya sih, cuma aku benar-benar kesal Anya! Dan dia pun membanding-bandingkannya denganmu!" tambah Tere dengan mimik serius.
"Tere! Aku tau dia itu memang begitu makanya aku gak mau gubris dia! Jadi biarkan saja Ter, kita harus tunjukkan saja kalau kita bisa lebih baik." hiburku sambil tersenyum.
"Kamu positif sekali Anya! Aku suka dengan gaya pikirmu! Maaf ya aku malah heboh sendiri ke kamu." sesal Tere dengan muka lugunya.
"Gak apa-apa santai aja." balasku santai
"Oh ya, kamu udah baca berita gosip belum di media sosial?" tanya Tere kembali
"Hm, aku gak suka. Memang ada berita menarik apa? Bukannya selalu gak jauh dari artis, politik, dan hal-hal yang menghebohkan sementara aja?" jawabku sekenanya.
"Ini berita tentang pemilik Scott Group, Arthur Scott! Dia sedang bersama dengan seorang wanita di Nantucket Anya!" ucap Tere yang heboh.
Aku tersentak sebentar dengan apa yang dikatakan oleh Tere.
__ADS_1
"Mungkin ini istri mudanya kali ya? Dulu kan dia selalu kena gosip begitu, bertemu dan menikah dengan wanita muda. Entah apa yang dipikirkan seorang Arthur Scott begitu banyak wanita yang berada disekitarnya, wajar kalau dia bisa mendapatkan istri yang lebih muda. Tapi apa kabar dengan mantan istrinya ya? Sayang sekali ya mereka harus berpisah!" terang Tere yang sama sekali tidak tahu bahwa aku lah istri dari Arthur Scott itu sendiri.
"Boleh aku lihat beritanya? Share ke chatting aku Tere." pintaku yang tak menggubris apa yang dia katakan.
Aku dan Arthur menikah tanpa ada yang tahu kecuali, tanteku Mira, mantan istrinya Dona, dan oma Eva ibu Arthur. Orang selain yang kusebutkan diatas hanya mengetahui aku masih lajang tak bersuami. Kami memang sengaja tidak menggemborkan pernikahan kami berdua, alasannya karena memang privasi saja.
"Sudah ya Anya." ucap Tere yang sudah mengirimkan share link informasi mengenai gosip Arthur.
"Makasih, Ter." balasku sambil melihat ponsel
"Aku balik ke mejaku ya." aku membalas dengan mengacungkan jempol padanya.
Tere pun keluar dari ruanganku dan menutup pintu ruangan. Aku segera menshare link gosip Arthur padanya.
Me: Look Arthur!
Aku mengetik dan menshare beritanya.
Tring!
Arthur: Yes, I know
Me: I was surprised by this news
Arthur: That's just false news Anya
Aku terdiam membaca chat dari Arthur.
Tring!
Arthur: We will discuss later when I return
Aku hanya membaca chat Arthur tanpa membalasnya.
"Terserah." gumamku sendiri
Rrrrrr! Rrrrrr!
Ponselku bergetar, ada telepon yang masuk dan itu dari Arthur. Aku segera menggangkat telepon darinya.
"Love?"
"Hm?"
"Kamu marah?"
"No, buat apa aku marah."
"Kamu kesal?"
"Biasa aja."
"Itu berita hoax kok. Nanti aku jelaskan ya."
"Arthur. Mau itu berita benar atau bukan..itu bukan urusanku."
"Ya. Tapi aku cuma gak mau kamu berpikir jauh."
"Yes, I know."
"Love?"
"Hm?"
"Jaga kesehatan ya!"
"Ya Arthur."
"Aku akan kembali weekend ini."
"Oh, aku baru ingat weekend ini aku ada reuni sekolahan aku."
"Sekolah? SMA?"
"Ya."
"Ada Alvin juga?"
"Iya ada Alvin."
"Hm, ya sudah selamat bersenang-senang ya."
"Oke."
"Aku meeting lagi ya."
"Ya."
Arthur menutup teleponnya, aku masih terdiam sejenak setelah mendengar bahwa dia tidak keberatan jika aku datang ke reuni sekolahku. Aku sempat berpikir bahwa dia pasti akan melarangku, terutama jika bertemu dengan anak sulungnya, Alvin Scott. Justru kali ini dia mengijinkan dan bilang selamat bersenang-senang? Tidak biasanya Arthur begitu.
__ADS_1
*****