
"Keenan aku bahkan belum membuat perhitungan denganmu." Ucap Kirana.
Keenan tertawa kecil di seberang telfon, "Aku minta maaf sungguh. Tapi Al tidak menyakitimu bukan? Aku tau walau temperamen nya buruk tapi dia tidak akan menyakiti wanita."
"Aku tau. Tapi kenapa kau menelfon ku?."
"Bibi yang memasak di rumah tak bisa masuk hari ini. Kau bisa cari makanan rumahan lain?."
Kirana menaikkan alisnya, "Makanan rumahan? Untuk apa?."
Setelah berbicara panjang lebar, Kirana paham mengapa terkadang Altezza tidak berselera makan diluar.
Ternyata dia hanya suka makanan rumah.
Kirana berpikir sejenak, jika harus membeli bukankah rasanya akan beda? Dan alasan terpenting adalah Kirana tidak punya uang sama sekali.
Harusnya ia tadi meminta uang.
"Lebih baik aku memasak sendiri saja."
Selesai memasak Kirana mengantar bekal ke Kantor Altezza. Ia sedikit gugup namun beruntung ditengah perjalan menuju ruangan Altezza dia bertemu dengan Ravindra.
"Kau mengantar bekal untuk Al?."
Kirana mengangguk mereka sampai ke ruangan Al dan melihat Al yang sedang berdiskusi dengan Keenan.
"Kau boleh pergi sekarang." Keenan mengangguk, ia berbalik dan memberikan wings pada Kirana lalu keluar.
Kirana sedikit tersenyum, namun kemudian senyumnya luntur ketika bertemu dengan mata Altezza, "Aku membawakan mu makanan."
Altezza melirik bekal nya dan mengangguk, "Baik, kau bisa pergi sekarang. Ada yang harus ku bicarakan dengan Ravi."
"Baiklah." Kirana berbalik namun saat akan melangkah keluar Altezza memanggilnya.
"Jangan pulang, tunggu aku selesai dengan Ravi."
Kirana mengangguk, ia kemudian duduk di depan ruang Altezza sambil memainkan hp nya.
Selama beberapa jam menunggu, Altezza belum juga selesai. Ia kemudian melihat cafe di seberang jalan dan memutuskan untuk ke sana.
"Satu Americano dan Kue cokelat." Pesan Kirana dan duduk menunggu.
Kirana termenung, Altezza sekarang tidak menghargainya. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan sikapnya dulu.
"Ah aku terlalu bodoh." Ucap Kirana pelan.
"Kau memang bodoh."
Kirana mengangkat wajahnya, matanya membulat melihat Altezza yang berdiri didepannya dengan tatapan tajam.
Ia memegang tangan Kirana dan menarik keluar dari cafe, "Izumi tidak suka Americano dan Kue cokelat."
"Eh?." Kirana ternganga, apa makanan nya juga harus sesuai dengan Izumi?
Altezza, bukankah dia sudah keterlaluan?
Sebuah mobil berhenti didepan mereka berdua dan Altezza mendorong nya masuk kedalam.
Sejenak keadaan didalam mobil begitu sunyi, jika dulu bukankah Kirana tidak akan berhenti berbicara?
__ADS_1
"Kau akan membawaku kemana?."
"Diam saja dan ikuti aku."
Kirana kembali diam, ia menatap Altezza lekat, "Al apa menurutmu Cinta itu sebuah permainan?."
Altezza menoleh dengan wajah datar.
"Benar, aku tidak tau apa itu cinta yang sebenarnya. Tapi aku tau bagaimana menyukai seseorang." Ucap Kirana.
"Kau tidak pernah tau, maka diam lah." ucap Altezza tajam.
Altezza membawanya ke sebuah Toko Pakaian. Ia memilih Pakaian sesukanya dan di lihat dari pilihannya semua nya adalah tipe Izumi.
Kirana menggerakkan giginya, jika dia sangat mencintai Izumi maka kenapa tidak menikah dengannya saja? Tidak perlu membuatnya iri.
"Mulai besok kau harus bertingkah seperti Izumi, aku juga sudah menyuruh Keenan memberikan catatan tentang Izumi. Makanan kesukaannya, gaya rambutnya dan keahliannya. Aku harap kau segera menguasainya. Jika tidak Ayahmu akan aku keluarkan dari rumah sakit." Ancam Altezza.
Ketika Altezza akan pergi ke kamarnya, Kirana memegang tangan Altezza.
"Jika aku bisa membayar semua hutangku padamu, apa kau mau melepaskanku?."
Altezza tersenyum miring dan melepaskan tangan Kirana dengan kasar, "Kapan aku mengekangmu, jika kau ingin pergi maka pergi saja."
_&_&_
Kirana mengurung diri di dalam kamar seharian, namun Altezza bahkan tidak peduli.
"Al Al, Altezza. Altezza, tezza, ezzaaa."
Kirana berdecak kesal, ia terus menerus mencoba meniru Izumi dengan baik.
Dia begitu menyeramkan, sekarang Kirana tau bahwa melodi takut padanya karena sifatnya itu.
Tok tok
Kirana menelan saliva, itu Altezza.
Dia segera bersiap dan keluar dari kamarnya, menatap Altezza yang tersenyum manis.
"Kau sudah mirip dengannya."
Kirana mengangguk pelan.
"Aku sudah menghubungimu lewat telfon tapi kau tidak mengangkatnya." Ucap Altezza membuat Kirana gelagapan, apa ia akan marah?
"Malam ini akan ada pertandingan pembukaan, kau mau pergi juga?" Tanya Altezza.
Kirana mengangguk.
Altezza mengeluarkan tiket dan berbalik, "Kau pergi saja sendiri, aku akan pergi duluan."
Sejenak Kirana terdiam dan menertawakannya dirinya sendiri, "Kenapa aku berharap pergi bersamanya?."
Ia kembali masuk kedalam kamar dan segera berganti baju dan pergi.
Setelah menikah dengan Altezza entah kenapa Kirana merasa hidupnya tak berharga. Izumi ini, Izumi itu, seolah-olah hanya Izumi wanita yang sangat berharga.
Kehidupan Kirana yang dulu penuh kesenangan kini hanya ada rasa pahit. Tapi apa...
__ADS_1
"Walaupun pahit aku tetap saja menyukai cokelat." Ucap Kirana pada dirinya sendiri.
Brukk
Kirana mengerem mendadak, ia tak sengaja menabrak sebuah mobil didepannya.
Ia segera keluar dari mobilnya dan meminta maaf, "Maafkan aku, aku melamun dalam perjalanan tadi. Tapi-"
"Kak Kirana?."
"Iya?." Kirana menatap Gadis didepannya dengan dahi mengerut.
"Kau tak mengenalku?."
.....
Kirana sampai ketempat pertandingan, saat ia akan masuk tiba-tiba ia bertabrakan dengan Altezza.
"Kau baru datang?."
Kirana mengangguk pelan dan melihat ke depan, "Apa pertandingan sudah selesai?."
"Em."
"Tuan Al, apa kau bisa mengantarku?."
Tiba-tiba Jessica muncul dengan sekretarisnya dan memegang tangan Altezza.
"Eh ini-" Jessica pura-pura terkejut dan menarik tangannya dari Altezza, "Maafkan aku, tapi Nyonya Kirana apa aku boleh menumpang mobil kalian?."
"Tidak perlu meminta izin padanya, dia membawa mobil sendiri. Kau ikut saja denganku." Altezza berjalan melewati Kirana diikuti dengan Jessica.
Suasana hati Kirana tidak baik, setelah bertemu gadis tadi ia benar-benar menyadari kehadirannya sangat berharga bagi kehidupan orang lain.
Tidak apa ia menjadi Izumi didepan Altezza tapi dia tetaplah Kirana. Biarlah Altezza tak menyadarinya namun bukankah semua orang tetap menyadari keberadaannya.
_&_&_
"Tuan Al, apa kau bertengkar dengan istrimu?." Tanya Jessica namun tidak dipedulikan oleh Altezza.
"Tuan Al." Panggil Jessica dengan lembut.
"Berhenti didepan." Ucap Altezza pada supir.
Mobil berhenti, Altezza kemudian membukakan Pintu mobil untuk Jessica, "Sekretaris ku akan menjemputmu. Kau tunggu saja disini."
"Tapi Ini Tu-"
Altezza kembali masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Jessica yang kesal.
"Tuan Al, apa tidak apa-apa meninggalkannya seperti itu?."
"Biarkan saja." Balas Altezza tak peduli.
Saat ini ia ingin cepat pulang dan bertanya pada Kirana.
Kenapa dia pergi terlambat? Dan juga kenapa wajahnya seperti orang yang habis menangis?
Altezza benar-benar penasaran.
__ADS_1