
Seorang penata rias nampak sibuk memoles wajah Kinara.
Hari ini adalah hari pernikahan Kinara dan Erlangga. Acara pernikahan mereka dilaksanakan di villa milik keluarga Erlangga.
Kinara masih menutupkan kedua matanya, mencoba menikmati setiap polesan yang diberikan oleh periasnya.
"Aduuuh, mbak'e ini ayu tenan", ucap sang perias dengan logat kental jawanya.
Kinara hanya tersenyum sedikit, dia khawatir riasannya rusak jika terlalu lebar menyunggingkan senyum.
"Terimakasih mbak, tapi tolong ya jangan menor riasannya", pinta Kinara untuk kesekian kalinya.
Dia memang tak mau tampil berlebihan. Kinara lebih suka sesuatu yang natural.
"Iya, mbak'e. Ini sudah selesai riasnya. Sekarang tinggal saya tata rambut dan riasan kepalanya", ucap mbak perias.
Kinara hanya mengangguk pelan. Sepanjang proses itu berlangsung, ia enggan membuka matanya meskipun mbak perias bilang tak mengapa jika ia mau melihat tampilan dirinya di cermin. Namun Kinara memilih untuk tak melihat sebelum semua riasannya selesai. Biar jadi kejutan, begitu pikirnya.
Satu jam berlalu
"Monggo, mbak'e dibuka matanya", kata mbak perias lagi.
Kinara membuka matanya perlahan. Dia hampir tak percaya dengan tampilan dirinya.
Kebaya putih tradisional sunda sudah ia kenakan, lengkap dengan siger cantik di kepalanya. Rangkaian bunga melati yang masih kuncup menjuntai indah di bahu kirinya.
Riasan yang Kinara gunakan pun nampak natural seperti yang dia inginkan. Bibirnya memakai lipstick warna peach dengan blush on tipis berwarna pink muda. Eye shadow warna natural memperindah kedua matanya.
Sesekali Kinara menggerakan kepalanya, 'Aku secantik ini', bisik hatinya senang.
Acara pun dimulai. Semua tamu yang sebagian besar merupakan keluarga dekat sudah duduk, bersiap menyaksikan prosesi paling sakral, ijab kabul.
Pak Prastowo terlihat gagah dengan pakaian tradisional juga. Di depannya sudah duduk Erlangga yang mengenakan pakaian tradisional pria sunda berwarna putih.
"Baik, bapak dan para saksi. Bisa kita mulai ijab kabulnya?", tanya pak penghulu. Semua pihak yang ditanya menganggukkan kepala.
Ijab kabul pun dimulai dan berlangsung dengan khidmat.
"Ananda Erlangga Putra Wijaya, saya nikahkah dan saya kawinkan engkau dengan anak saya, Kinara Cyzarine binti Prastowo Putro dengan mas kawin 100 gram perhiasan emas dibayar tunai", ucap Pak Prastowo pasti dengan menggenggam erat tangan Erlangga.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Cyzarine binti Prastowo Putro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai", jawab Erlangga dengan sekali tarikan nafas.
Pak penghulu mensahkan ijab kabul itu. Seluruh hadirin berucap syukur.
Setelah ijab kabul selesai, MC memanggil Kinara selaku mempelai wanita untuk masuk ke dalam ruang utama, bertemu dengan Erlangga yang sudah sah menjadi suaminya.
__ADS_1
Perlahan Kinara masuk digandeng oleh Ajeng dan Alisa.
Kinara menunduk menahan malu dan bahagia yang bercampur aduk. Setelah ia sampai di depan Erlangga, MC memandu Kinara untuk mencium tangan kanan Erlangga dan Erlangga membalasnya dengan kecupan manis di kening Kinara untuk pertama kalinya.
Hadirin bersorak. Acara demi acara pun berjalan dengan baik, semua orang nampak bahagia.
Jam resepsi pun tiba, tamu mulai banyak berdatangan.
"Barakallah....selamat ya nak, ibu mewakili Farhan ke sini karena Farhan berhalangan hadir", bisik Bu Asri ketika ia menyalami Kinara.
Kinara tersenyum, "Aamiin, iya bu, terimakasih atas kehadiran ibu di sini". Jawab Kinara, Bu Asri mengangguk dan berlalu, bergantian bersalaman dengan tamu lainnya.
Dddrrtt....ddrrtt....drrttt
Erik yang sedari tadi tengah mengantri di stand ice cream mengangkat telepon dari Farhan.
"Hallo....Rik", sayup-sayup terdengar suara Farhan dari balik HP-nya.
"Ya, apaan Han?", kata Erik setengah berteriak karena suasana memang ramai dan ada alunan musik juga.
"Lo dimana sih ini? ribut amat", tanya Farhan.
Erik terpaksa keluar dari antrian stand ice cream itu untuk mencari tempat yang tak terlalu ramai.
Farhan melirik jam dinding di kamarnya, 'Di sini tengah malam, di sana pagi dan kamu pasti sedang berbahagia', bisik hati kecil Farhan membayangkan keberadaan Kinara.
"Hallo, Han...udah nih neleponnya? gue mau balik lagi antri di stand ice cream", seru Erik membuyarkan lamunan Farhan.
"Oh, iya. Gue cuma mau ngecek aja kerjaan lo bener apa enggak", ujar Farhan enteng.
"Ck, lo tuh ya Han susah amat sih percaya sama gue. Gue jamin urusan pengawalan, perwakilan sampai perkadoan, aman", sambar Erik cepat.
Farhan terkekeh mendengar jawaban sepupunya itu. Tak lama, telepon itu pun diakhiri.
**
"Ma, kita mau kemana sih?", tanya Alya dengan polosnya. Sedari selesai mandi, mamanya sibuk mendandani Alya dengan gaun pesta dan merias rambutnya.
"Hari ini kita mau pergi ke nikahannya gurunya Alya, Bu Kinara", jawab Viona, mamanya.
Alya hanya mengangguk saja. Dia asyik duduk di kursi menikmati proses riasan rambut oleh ibunya.
Ada perih yang dalam di hati Viona untuk hadir ke acara itu. Dia terkejut saat membaca undangan pernikahan dari Kinara yang dititipkan dalam tas Alya.
Dia juga tak menyangkan jika Kinara, orang yang baru saja berteman baik dengannya akan menikah dengan lelaki yang masih dicintainya hingga kini.
__ADS_1
Namun Viona sudah berjanji akan hadir. Dia pun membawa Alya ke acara itu dengan segala resiko yang akan dihadapinya.
"Sudah, coba lihat, putri mama ini cantik sekali", puji Viona sambil mengangkat dagu Alya agar wajahnya terlihat di cermin.
Alya tersenyum. Dia suka sekali dengan riasan rambut buatan mamanya. Rambut Alya dikepang disetiap sisinya, lalu disatukan di tengah dan diikat. Sisa rambutnya yang lain dibiarkan tergerai. Dia pun mengenakan gaun pesta anak-anak ala princess. Alya turun dari kursi dan memutar tubuhnya beberapa kali.
"Wah aku seperti princess ya ma", seru Alya senang. Viona mengangguk cepat.
Tak lama, Viona dan Alya sudah sampai ke acara pernikahan Kinara. Mereka ikut mengantri dengan tamu undangan lainnya untuk bisa bersalaman dengan pengantin.
"Selamat ya Kinara", ucap Viona, ia berusaha tersenyum melihat Kinara bersanding dengan Erlangga.
Kinara menyambut pelukan dari Viona, Erlangga terkejut melihat Viona dan Alya ada di sana.
"Terimakasih atas kehadirannya", ujar Kinara. Viona tersenyum.
"Selamat ya bu guru", kata Alya dengan manisnya.
Kinara membungkukkan sedikit badannya, mengelus lembut kepala Alya.
"Sama-sama sayang. Terimakasih juga ya sudah mau datang ke sini", Kinara tersenyum ramah.
Kini mata Viona beradu dengan mata Erlangga, ada keterkejutan yang dalam dan jutaan tanya yang menyeruak di dalam diri mereka masing-masing.
"Selamat atas pernikahannya", ucap Viona lirih.
Erlangga merasa serba salah. Ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Ma, itu kan papa", tunjuk Alya sesaat setelah mereka melewati Erlangga
"Bukan nak, itu suaminya Bu Kinara. Wajahnya saja yang mirip sama papa Alya", jawab Viona mencoba menenangkan Alya.
Alya hanya diam mendengar jawaban dari mamanya itu.
"Ayo kita makan ice cream di sana", ujar Viona lagi untuk mengalihkan pandangan Alya. Alya bersorak senang.
"Pa, tadi kok mama seperti melihat Viona ya di sini", bisik Bu Tria ke telinga Pak Wijaya.
"Ah mana mungkin dia di sini. Paling juga mama salah lihat, tamu kita kan banyak", jawab Pak Wijaya.
Bu Tria mengangguk-anggukan kepalanya, 'Ya, seperti tadi aku salah lihat saja', gumamnya dalam hati.
Satu demi satu keluarga dan tamu undangan berfoto bersama sesuai dengan arah dari MC. Kinara dan Erlangga tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia mereka.
Dibalik kebahagiaan Erlangga dan Kinara ada hati yang terluka. Viona dan Farhan.
__ADS_1