Unknown Love

Unknown Love
Kejutan 1


__ADS_3

Hari ini tepat tiga bulan LDM antara Kinara dan Erlangga.


Kinara nampak sibuk berkemas karena nanti malam dia akan berangkat ke Surabaya untuk menyusul suaminya di sana. Libur sekolah sudah dimulai hari ini sampai tiga minggu ke depan.


"Aku akan membuat kejutan buat Mas Erlangga dengan kedatanganku ke sana", gumam Kinara senang. Entah kenapa hatinya begitu penuh dengan kebahagiaan saat ia akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Erlangga.


Sementara itu, Erlangga masih terlihat sibuk di kantornya.


"Pak, lusa Anda ada jadwal bertemu dengan kolega baru kita dari Ganindra Group", kata Soni saat ia membuka agenda kerjanya.


"Jam berapa?", tanya Erlangga tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Jam 10.00 pak, lokasi di Resto Cendana", jawab Soni lengkap.


"Ok, siapkan semua berkas dari sekarang dan tolong minta Tari untuk datang ke sini", perintah Erlangga yang langsung dikerjakan oleh Soni.


"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?", tanya Tari yang kini sudah ada di dalam ruang kerja Erlangga.


"Ya. Kemarilah, tolong kamu urus berkas kerja sama kita dengan perusahaan Pak Burhan. Selesaikan semuanya hari ini juga", perintah Erlangga. Tari segera mengambil setumpuk berkas dari meja kerja Erlangga dan ia segera mohon diri untuk menunaikan tugasnya.


Erlangga menghempaskan dirinya ke sandaran kursi. Dia benar-benar merasa lelah dan penat dengan semua pekerjaannya sebagai direktur Wijaya Group.


Ddrrrtt...drrtt...drrttt


HP Erlangga bergetar. Ada nomor tanpa nama tertera di layar. Meski malas, Erlangga segera mengangkat telepon itu.


"Hallo", katanya datar.


"Papaaaaa....", terdengar suara riang anak kecil perempuan dari balik telepon.


Erlangga terhenyak, ia menegakkan badannya, "Alya?", kata Erlangga lagi.


"Iya ini aku, pa. Aku telepon papa pakai HP punya mama. Pa, kapan papa mau main lagi sama Alya? Alya kangen papa", suara Alya terdengar sendu.


Erlangga tersenyum tipis, "Alya pintar bisa pakai HP mama. Nanti ya sayang, sekarang papa lagi sibuk sekali", bujuk Erlangga.


Alya memasang wajah cemberut, "Papa gak kangen ya sama Alya? papa kan janji mau main lagi sama Alya. Sekarang Alya udah libur sekolah lho pa", Alya mulai merajuk.


Erlangga menghela nafas pelan, "Papa kangen sekali sama putri cantik papa. Nanti setelah semua kerjaan papa beres, papa janji kita main ya", Erlangga masih membujuk Alya.


"Ya udah deh kalau gitu. Alya tunggu papa ya, nanti Alya mau main sama papa sampai puas", celoteh Alya manja.


"Iya sayang, nanti kita main bareng sampai Alya puas, ok?", janji Erlangga.


Setelah telepon dari Alya usai, Erlangga kembali berkutat dengan pekerjaannya.


'Viona pasti mendapatkan nomorku dari bosnya', pikir Erlangga.

__ADS_1


**


Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Kinara sudah ada di stasiun kota, ia berangkat diantar oleh Bu Tria dan Ajeng.


"Hati-hati ya Ra. Apa gak sebaiknya kamu kabari Erlangga tentang keberangkatanmu ke sana?", Bu Tria memastikan lagi keinginan Kinara membuat kejutan untuk Erlangga dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Iya ma, Nara pasti hati-hati. Kalau Nara kabari Mas Erlangga sekarang, bukan kejutan dong namanya", jawab Kinara berusaha menenangkan ibu mertuanya.


"Kakak rese itu pasti happy berat dikasih kejutan sama istrinya. Secara, udah dikangenin banget pastinya", goda Ajeng yang dijawab dengan senggolan tangan Kinara.


Petugas di stasiun sudah mulai mengumumkan keberangkatan kereta Bandung-Surabaya. Kinara segera mencium tangan ibu mertuanya, tak lupa ia memeluk Ajeng.


"Jangan lupa, buat keponakan buat aku ya di sana", bisik Ajeng masih menggoda Kinara.


Kinara tersipu malu dengan pesan dari adik iparnya itu. Ia melambaikan tangan, Bu Tria dan Ajeng melihat kepergian Kinara.


Kinara sudah duduk di kursinya, ia sengaja mengambil kelas bisnis agar nyaman sepanjang perjalanan. Diliriknya jam di tangan, pukul 20.00 WIB kereta yang dinaikinya mulai meninggalkan stasiun kota. Butuh waktu 12 jam perjalanan dari Bandung ke Surabaya.


"Hmm...aku bisa sampai jam delapan pagi. Semoga Mas Erlangga ada di apartemennya", gumam Kinara dalam hati. Di simpannya alamat apartemen Erlangga yang ia dapat dari Bu Tria. Sepanjang perjalanan itu, ia memilih untuk mengistirahatkan dirinya.


**


Hari Minggu pagi, Erlangga nampak asyik berolahraga ringan di balkon apartemennya. Akhir pekan seperti ini dia sengaja mengosongkan jadwalnya hanya untuk me time.


Pekerjaannya dari Senin sampai Jum'at sudah sangat menyita waktunya. Akhir pekan ingin ia gunakan untuk berolahraga sekaligus mengistirahatkan dirinya, kecuali jika ada hal yang mendesak, Erlangga akan merelakan akhir pekannya.


Erlangga segera mengambil HP yang ia simpan di atas meja makan. Ia cari nama Lovely Wife didaftar kontak.


Tuuutt...ttuutt...tuuutt


Tak ada nada sambung ke nomor Kinara. Erlangga masih mencobanya, tapi operator yang menjawab panggilannya itu. Beberapa kali Erlangga mencoba menelepon istrinya, hasilnya tetap sama.


"Ck, gak biasanya Kinara sulit dihubungi seperti ini. Dia kemana? apa dia baik-baik saja? atau dia marah karena aku lama tak menghubunginya?", Erlangga sibuk bertanya kepada dirinya sendiri. Ada rasa khawatir dan perasaan bersalah yang dalam di hatinya.


Jam 08.00 WIB, Erlangga memutuskan untuk menyudahi olahraganya. Ia bergegas mandi pagi dan setelah itu ia menyiapkan sendiri sarapan paginya. Oatmeal dan segelas susu.


Tok...tok...tok


Terdengar suara ketukan pintu dari depan. Erlangga yang sedang menikmati sarapan paginya sambil terus berusaha menghubungi Kinara terpaksa beranjak untuk membukakan pintu.


"Sebentar", teriaknya dari dalam. Ia tak bertanya siapa yang datang.


Ceklek, pintu terbuka.


"Paaapaaaa....", sebuah teriakan kecil mengejutkan Erlangga. Pemilik suara nyaring itu kini menghambur memeluknya.


"Alya", Erlangga terkejut dengan kedatangan Alya ke apartemennya.

__ADS_1


"Iya pa, ini aku, Alya. Aku kangen papa", katanya lagi sambil terus memeluk Erlangga.


Erlangga meminta Alya melepaskan pelukannya sebentar dan dia berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan putrinya itu.


"Kok Alya ada di sini? Alya ke sini sama siapa?", tanya Erlangga yang tak melihat ada orang lain membersamai Alya.


"Aku yang bawa Alya, mas", tiba-tiba terdengar suara Viona yang baru muncul dari balik tangga.


Viona terlihat cantik sekali dengan dress polos selutut. Rambut panjangnya ia gerai, make up-nya pun nampak natural, tampilannya benar-benar berbeda dari tampilan sehari-harinya sebagai sekretaris.


Erlangga masih terkejut dengan kedatangan Viona dan Alya yang tiba-tiba itu.


"Papa, Alya mau gendong", Alya menepuk bahu Erlangga dan memasang wajah manja. Ia sudah merentangkan kedua tangannya.


Erlangga tersenyum dan dia segera menggendong tubuh mungil Alya.


"Ayo masuk", ajak Erlangga kepada Alya dan Viona.


Ini kali pertama Viona melihat interior di dalam apartemen mantan suaminya. Semuanya terlihat rapi, bersih, dan minimalis.


"Kamu lagi sarapan ya mas?", tanya Viona saat ia melihat semangkuk oatmeal dan segelas susu yang ada di atas meja makan.


"Iya", jawab Erlangga pendek. Ia sibuk menunjukkan seisi ruangan kepada Alya yang tengah digendongnya.


Viona segera mengeluarkan bekal yang sengaja ia buat dari apartemen tempatnya tinggal selama dinas di Surabaya.


"Alya sayang, ayo kita sarapan bersama papa", teriak Viona setelah ia selesai menyajikan tiga mangkuk bubur ayam spesial buatannya.


Alya menarik tangan papanya ke meja makan, "Ayo pa, aku mau makan bareng papa", pinta Alya. Erlangga tersenyum meng-iya-kan permintaan putri kecilnya itu.


"Ayo mas, dicoba. Ini bubur ayam spesial yang dulu jadi favoritmu", tawar Viona tanpa sungkan.


Erlangga menatap sajian di meja makan. Ia melihat Alya yang sudah mulai menikmati sarapan paginya.


"Vi, kenapa kamu bawa Alya ke sini? apa maksud kamu dengan ini semua?", tanya Erlangga penuh selidik.


Viona tersenyum manis, "Aku gak ada maksud apa-apa, mas. Alya libur sekolah, dan ibuku kemarin membawanya berlibur ke sini karena aku masih dinas di Surabaya. Apa salahnya aku membawa dia ke sini untuk bertemu dengan ayahnya?", jawab Viona santai.


Erlangga menggelengkan kepalanya, "Vi, ini semua sudah keterlaluan. Kamu lupa kalau aku sudah menikah lagi? apa yang kamu lakukan sekarang bisa membuat Kinara salah paham kalau sampai dia tahu", nada bicara Erlangga mulai meninggi membuat Alya mendadak berhenti menikmati sarapannya.


"Papa kenapa marah sama mama? papa gak suka ya Alya ke sini?", Alya memasang wajah murung.


Erlangga gelagapan melihat tingkah Alya, dia tak menyangka jika Alya menyimak perbincangannya dengan Viona.


"Enggak sayang, papa gak marah sama mama dan Alya. Papa senang Alya ada di sini, papa cuma kaget, Alya dan mama bisa tiba-tiba ke apartemen papa", Erlangga mencoba menerangkan.


"Iya sayang. Papa gak marah kok sama kita. Alya makan lagi ya, nanti kita jalan-jalan sama papa. Ya kan pa?", tangan Viona mengelus lembut rambut Alya dan matanya melirik ke arah Erlangga membuat Erlangga semakin merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Akhirnya merek bertiga menikmati sarapan pagi bersama layaknya keluarga. Erlangga memilih untuk tak memperpanjang perdebatannya dengan Viona.


__ADS_2