Unknown Love

Unknown Love
Pertemuan Kembali 3


__ADS_3

"Kamu gila. Mana mungkin aku meninggalkan istriku dan kembali kepadamu!!!", intonasi suara Erlangga meninggi. Viona terkejut mendengar bentakan itu.


"Mas, kamu boleh selamanya membenciku meski aku sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi Alya, dia anakmu, mas, dia berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh darimu dan dia berhak hidup denganmu", Viona masih berusaha menahan tangisnya agar tak pecah lagi.


Erlangga membuang wajahnya kesal. Perasaannya tetiba saja kacau, terlintas wajah Kinara di benaknya.


"Vio, dengar, aku baru saja menikah dengan Kinara. Aku sangat mencintainya. Aku juga menyayangi Alya. Tapi tidak dengan cara seperti itu aku membuktikan rasa sayangku kepada putriku", Erlangga masih bersikukuh dengan perasaannya.


Viona menatap Erlangga dengan tajam, "Mas, meskipun kamu sudah menceraikan aku, tapi selama empat tahun ini, aku tetap menjaga perasaanku buatmu, mas. Aku tak pernah sedikit pun tertarik dengan laki-laki lain. Aku selalu berharap kita bisa bersama lagi meski entah dengan cara seperti apa. Aku...aku mencintaimu, mas, masih sangat mencintaimu", tangisnya kembali pecah.


Erlangga tak ingin memperdulikan Viona. Tapi ia tak bisa melakukan hal itu. Bagaimana pun juga, Viona adalah wanita pertama yang mengisi hati dan hari-harinya dulu. Viona jugalah yang memberikan dukungan penuh untuknya bisa menyelesaikan study di Belanda, bahkan Viona rela meninggalkan kuliahnya dulu hanya untuk menikah dengan dirinya dan ikut dengannya ke Belanda.


"Vio, maafkan aku, aku tak bermaksud berbicara sekeras itu kepadamu. Aku...aku hanya terkejut karena semua ucapanmu itu. Tolong, jangan terus menangis", pinta Erlangga, intonasi suaranya menurun.


Viona masih terlihat menundukkan kepalanya. Disaat seperti ini, dia berharap Erlangga mendekapnya seperti dulu.


"Pulanglah, jangan bahas ini lagi. Aku tak mau melukai siapapun, dan aku juga tak ingin membohongi perasaanku sendiri apalagi mengkhianati istriku", kalimat terakhir Erlangga sesaat sebelum dia keluar dari private room terasa bagai sembilu bagi Viona, membuat hatinya begitu sesak. Dia pergi meninggalkan Viona yang masih menangis tersedu-sedu di ruangan itu.


**


"Hallo Han, besok gue sama bokap mau berangkat ke Surabaya. Bokap bilang ada kerja sama baru yang nilainya lumayan fantastis buat perusahaan kita", suara Erik terdengar sumringah di telepon.


"Ok, selama gue gak ada, semua kerja sama bisnis itu Paman Erwin sama lo yang urus ya. Semuanya disepakati dan ditandatangani atas nama Paman Erwin", jawab Farhan tanpa mengalihkan matanya dari buku kuliah yang tengah ia baca.


"Sip bro, gue pastikan semuanya sesuai perintah", seru Erik lagi.


"Bagus. Oh ya, perusahaan mana yang mau kerja sama dengan perusahaan kita?", tanya Farhan penasaran.


"Ini perusahaan asli Indonesia, bro. Perusahaan yang bisa dibilang bonafit. Kalau gue gak salah dengar sih bokap bilang nama perusahaannya Wijaya Group", terang Erik.


Di balik telepon, Farhan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pertambangan juga?", tanyanya lagi kepada Erik.


Erik agak mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat bidang bisnis Wijaya Group.


"Mmm...setahu gue sih Wijaya Group itu punya beberapa macam anak perusahaan yang bergerak dibidang bisnis yang berbeda-beda. Tapi yang di Surabaya itu kalau gak salah bidang usahanya textil", jawab Erik.


"Unik. Baru kali ini ada perusahaan textil yang mau kerja sama dengan perusahaan pertambangan", ucap Farhan.

__ADS_1


"Eits, jangan salah Han, ada banyak perusahaan textil yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Lo aja yang gak tahu. Coba lo pikir, perusahaan mana sih yang gak butuh sama penyedia energi kek perusahaan kita ini?", kata Erik lagi sambil mengunyah keripik kentang, padahal ini masih jam kerja.


"Iya Rik. Gue masih harus belajar banyak soal bisnis. Usaha mendiang ayah gue aja, belum gue tahu semuanya, hhhuufftt", Farhan menghela nafas berat.


"Keep calm, bro. Gue sama bokap gue siap sedia bantu lo", jawab Erik dengan mulut tetap aktif mengunyah keripik kentang yang ada di pangkuannya.


"Iya, thank's ya Rik. Salam buat Paman Erwin, kalau ada apa-apa, kabari gue segera dan satu lagi, di sana masih jam kerja kan, jangan makan terus, kerja yang benar!!!", kata Farhan galak sebelum ia mengakhiri teleponnya, membuat Erik tak berselera untuk melanjutkan aktivitasnya melahap camilan.


Selepas menerima telepon dari Erik. Ingatan Farhan melayang kepada Kinara. Beberapa hari yang lalu, dia memberanikan diri menghubungi Kinara yang sudah sangat lama tak ditanyainya.


Teringat kembali perbincangan mereka waktu itu. Farhan sebetulnya sangat ingin berbicara banyak dengan Kinara seperti dulu, tapi dia tak bisa melakukan itu. Farhan takut akan membuat kebahagiaan Kinara berantakan. Dia sudah berjanji kepada Erlangga agar tak lagi mengusik Kinara. Tapi di sisi yang lain Farhan tak bisa terus menampik perasaannya, hatinya masih terpaut kuat pada Kinara.


....


Engkau bukanlah segalaku


bukan tempat ku hentikan langkahku


usai sudah semua berlalu


biar hujan menghapus jejakmu


Terus melangkah melupakanmu


jalan pikiranmu buatku ragu


tak mungkin ini tetap bertahan


....


Alunan lagu lama milik Noah mengiringi lamunan Farhan tentang Kinara. Ia segera menepis kilatan ingatan dan perasaannya, Farhan memilih kembali berkutat dengan buku-buku kuliahnya.


'Tuhan, bantu aku untuk bisa melupakannya', harap Farhan.


Tetiba saja hatinya kembali terusik saat sebuah amplop kecil terjatuh dari buku yang baru saja Farhan keluarkan dari ranselnya.


Dear Farhan,


Sorry, I was write this for you. I don't know, this is right or no, but, Farhan, please forgive me. When I said about my feeling to you, that's my fault. I hope we're still be best friend. I feel enough be a best friend for you, that a pleasure. -Elena-

__ADS_1


Sebuah surat kecil dari Elena membuat Farhan tersenyum. Dia tak memungkiri ada perasaan yang nyaman saat dirinya ada di dekat Elena, terlebih beberapa waktu yang lalu, Elena begitu berani mengungkapkan perasaannya kepada Farhan. Farhan menyukai wanita yang terbuka dengan hatinya. Tapi Farhan belum yakin benar dengan perasaannya kepada Elena.


Elena gadis yang cantik, ramah, humble dan cerdas, lelaki manapun tentu menyukainya. Tapi selama ini Farhan lebih senang berteman baik dengan Elena, ia tak ingin membuat Elena kecewa atau berharap lebih kepadanya. Farhan masih berjuang untuk benar-benar mengubur perasaannya kepada Kinara dan berusaha keras membuka hatinya untuk orang lain.


Tapi pesan dari Elena membuatnya kembali berpikir, tak seharusnya dia terus menutup hatinya kepada wanita lain, terlebih kepada Elena yang selalu ada untuknya dan menurutnya Elena pandai memahami keadaan dirinya selama ini.


Farhan segera mengambil HP-nya, dicarinya nomor Elena.


"Ya Farhan, what's up?", terdengar suara Elena menjawab panggilannya.


"Sorry, I disturb you, El. I was read your message on my book. Mmm...I just wanna say...", kalimat Farhan menggantung, membuat perasaan Elena di ujung sana merasa gugup.


"Tak seharusnya kamu minta maaf, El. Tak ada yang salah dengan ungkapan perasaanmu kepadaku waktu itu. Hanya....yaaa, aku saja yang belum bisa membuka hati", lanjut Farhan kikuk.


Elena tersenyum di balik telepon, "Ya, I see. Tapi, seperti yang sudah aku bilang di suratku itu, aku merasa cukup menjadi teman baik untukmu, Farhan".


Farhan terdiam sejenak, "El, aku pikir kita bisa lebih dari sekedar teman baik".


Deg...


Jantung Elena berdegup kencang. Ia masih mencoba mencerna ucapan Farhan kepadanya.


"El, do you wanna be my wife?", tanya Farhan tiba-tiba, disaat Elena masih berpikir, membuat Elena semakin tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.


'Is it dream, god?', bisik batin Elena.


"El? are you still there?", tanya Farhan lagi karena beberapa saat tak ada jawaban dari Elena.


"Oh, sorry-sorry, I still here. But, Farhan, are you seriously about that?", Elena masih tak percaya dengan ucapan Farhan.


Farhan menghela nafas lembut, "Of course. I always serious about married, El. Aku tidak mau menjalin komitmen yang tak jelas dengan seseorang. So, how about you?", jawab dan tanyanya lugas.


Perasaan Elena membuncah. Entah seperti apa wujudnya jika digambarkan. Farhan, lelaki yang mencuri perhatiannya sedari awal mereka bertemu, lelaki yang tak bisa Elena tebak hatinya, lelaki yang selama ini begitu sulit untuk Elena miliki. Hari ini lekaki itu tiba-tiba saja mengatakan hal yang selama ini ia tunggu-tunggu.Ya meskipun Farhan baru menyampaikannya lewat telepon, tapi Elena yakin dengan ucapan Farhan, dia tak mungkin main-main dengan niatannya itu. Elena mengenal pribadi Farhan dengan baik.


"Farhan, really, I'm so happy to hear that. Aku tidak menyangka kamu tiba-tiba mengatakan hal ini kepadaku. Yes, I'm", jawab Elena berkaca-kaca di balik telepon.


Farhan tersenyum senang mendengar jawaban Elena. Jawaban itu yang tak pernah Farhan dapatkan dari Kinara hingga kini ia memutuskan untuk membuka hatinya kepada Elena.


"Yes, thank you, El. On sunday, I will come to your home, meet with your parent to say this", ujar Farhan yang di-iya-kan oleh Elena.

__ADS_1


Selepas menelepon Elena, ada perasaan lega di hati Farhan. Baginya, Elena wanita yang memiliki semua yang ia cari. Tinggal dirinya lah yang harus benar-benar kuat untuk sepenuhnya move on dari masa lalu.


"Besok, aku akan sampaikan hal ini kepada ibu", gumam Farhan sebelum dia melanjutkan kembali belajarnya.


__ADS_2