
Elena masih terbaring koma di Aachen Uniklinikum. Pak James dan Bu Tatiana pun sudah mengusahakan berbagai cara untuk segera menyadarkan Elena.
Kecelakaan yang dialaminya sepuluh bulan lalu membuatnya mengalami luka yang cukup parah dibagian kepala. Dokter spesialis bedah dan dokter syaraf masih terus memantau perkembangannya.
Farhan menarik nafas dalam, entah kenapa hari ini lintasan bayangan wajah Elena yang begitu ceria mempersiapkan pernikahan mereka kembali berkelebat.
'El, kapan kamu akan bangun? aku masih menunggumu di sini', bisik Farhan saat matanya melihat Elena yang masih nampak terlelap dengan banyak alat ditubuhnya.
"Danke, Farhan. Kamu sudah begitu setia menemani Elena", Pak James menepuk lembut pundak Farhan. Farhan berbalik dan tersenyum tipis.
"I believe, Elena hear you. Semoga keadaannya yang seperti ini tak membuat langkahmu terhenti mengejar masa depan", kata Pak James lagi.
Wajahnya terlihat sendu setiap kali dia melihat kondisi putri semata wayangnya, Elena yang masih tak sadarkan diri.
"I will here, always here with her", janji Farhan pada Pak James. Pak James tersenyum mendengarnya.
Ceklek
Pintu ruang rawat Elena terbuka, Bu Tatiana datang. Semenjak Elena kecelakaan dan dirawat penuh di rumah sakit, Bu Tatiana lebih banyak menghabiskan waktunya di sini untuk menemani putrinya. Ia menjaga Elena bergantian dengan suaminya dan Farhan.
"Hi dear, I think you and Farhan needs take a rest together", ucap Bu Tatiana pada Pak James dan Farhan.
Pak James mengangguk, dia segera mengajak Farhan keluar dari ruangan itu. Giliran Bu Tatiana yang menjaga Elena.
Pak James mengajak Farhan pergi ke cafetaria rumah sakit.
"We needs a glass of coffee and meal", ucap Pak James sambil merangkul pundak Farhan. Farhan tersenyum mengikuti langkah Pak James.
Sesampainya di cafetaria, Pak James memesan segelas kopi dan sphageti mushroom sauce, sedangkan Farhan memesan segelas coklat panas dan chicken cordon bleu. Mereka nampak lahap menikmati makanan itu.
"Farhan, I don't know when my daughter will wake up. Me and Tatiana never hold you to still waiting her", ucapan Pak James membuat Farhan menghentikan aktivitas makannya.
"Sorry, Sir. What you mean?", Farhan menatap heran ke arah Pak James.
Pak James menarik nafas untuk menetralkan pikirannya.
"I know, you loves my daughter, but you can see her condition. Farhan, you deserve to be happy", Pak James menatap dalam mata Farhan.
Farhan tertunduk, "Sir, I never left Elena. I will stay beside her", jawab Farhan pasti. Air mata menggenang di matanya tatkala ia mengingat dirinya harus meninggalkan Elena disaat kondisi Elena seperti ini.
Pak James berusaha tersenyum mendengar jawaban Farhan. Di hati kecilnya dia pun ingin Elena secepatnya sadar dan bisa melihatnya bahagia dengan Farhan. Tapi perkembangan Elena begitu stagnan, bahkan berkali-kali dokter sudah menyampaikan kemungkinan Elena untuk hidup sangatlah kecil.
Pak James sudah membahas soal itu dengan istrinya, dan mereka sepakat untuk tak membebani Farhan dengan kondisi putri mereka. Ya, seperti yang dikatanya tadi, Farhan berhak bahagia.
Dddrrtt...drrrttt...drrrttt
"Yes honey, what happen?".
"Oh...no, oh God...", wajah Pak James berubah memerah menahan keterkejutannya.
__ADS_1
"Sir, what happen?", tanya Farhan serius.
"Elena...Farhan, we must come back soon", ajak Pak James.
Keduanya segera berlari menuju ruang rawat Elena.
Tak lama mereka sampai, dilihatnya Bu Tatiana yang sedang terduduk lemas di kursi tunggu.
"Honey, how about Elena?", tanya Pak James.
Bu Tatiana menggelengkan kepalanya, "I don,'t know, dear. dr. Franklin and dr. Smith still there".
"Semoga Elena baik-baik saja", do'anya penuh harap.
"Tadi tak lama setelah kalian pergi, Elena menggerakan jari kanannya. Aku kira itu pertanda dia akan sadar, tapi saat ku dekati, tiba-tiba monitor alat yang dipasang ditubuh Elena berbunyi. Tubuhnya pun menegang, aku segera memanggil dokter dan perawat. Oh Tuhan, tolong selematkan putriku...", Bu Tatiana menerangkan kondisi Elena sebelum dia mengabari suaminya dengan air mata yang bercucuran. Pak James segera memeluk istrinya itu, berusaha menenangkannya.
Perasaan Farhan kacau mendengar kondisi terakhir Elena.
Sudah hampir satu jam, kedua dokter yang merawat dan memeriksa Elena masih belum juga keluar dari dalam ruangan.
'Tuhan, aku tak meminta banyak padamu. Kau lebih tahu seperti apa perasaanku saat ini. Aku mencintainya, ku mohon selamatkan lah dia', Farhan berusaha menanangkan dirinya dengan terus berdo'a.
Satu jam setengah kemudian, dr. Franklin dan dr. Smith keluar dari dalam ruang rawat Elena. Wajah keduanya terlihat serius namun tetap tenang.
Pak James, Bu Tatiana dan Farhan segera menghampiri kedua dokter itu.
"Mr. James, Mrs. Tatiana and Farhan, we have to convey that we couldn't save Elena. There were many blood vessels in her head, that had burst and cause bleeding that was getting worse. Sorry", penjelasan dr. Franklin membuat air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Pak James, sedangkan Bu Tatiana menangis histeris.
"Our condolences. We've tried our best, but God seems more to love Elena", ucap dr. Smith. Sebagai seorang dia merasakan betul bagaimana kesedihan keluarga pasien yang ditinggalkan.
Pak James menganggukkan kepalanya, dia berusaha menguasai kembali dirinya dan mencoba menenangkan istrinya yang masih begitu terpuruk.
"Danke, doctor", ucap Pak James dengan mata memerah menyalami dr. Franklin dan dr. Smith. Kedua dokter itu pun pergi setelah memeluk erat Pak James dan Farhan.
Waktu berlalu dengan cepat, Elena sudah dikebumikan. Kediaman Pak James dan Bu Tatiana nampak masih dirundung kesedihan.
Semenjak dari rumah sakit hingga pemakaman Elena, Bu Tatiana tak henti-hentinya menangis. Dia meratapi kepergian putri satu-satunya itu. Beruntung, Pak James dan Farhan terus menguatkannya.
Satu bulan berlalu setelah kepergian Elena. Farhan masih menatap surat yang pernah Elena selipkan di bukunya. Sebuah surat ungkapan hati Elena yang membuatnya bisa melupakan dan melepaskan masa lalunya yang tak ingin dia ingat lagi.
Farhan tersenyum melihat foto Elena yang ada di meja kamarnya. Wajah cantik yang penuh kelembutan, rendah hati, cerdas dan ceria itu kini hanya bisa dia lihat difoto itu.
'Aku mencintaimu, El. Terimakasih kamu sudah hadir di hidupku dan mewarnainya dengan indah. Semoga kamu lebih bahagia di sana', bisik hati kecil Farhan, matanya mulai memanas menahan air mata.
Ddrrtt...drrrtt...drrrtt
"Yes sir...", Farhan menerima sebuah panggilan dari Pak James. Mereka berbincang sejenak.
"Ok, I will go now", jawab Farhan menutup telepon itu.
__ADS_1
Ia segera mengambil mantel dan kunci mobilnya, pergi menuju kediaman Pak James.
Tak lama, Farhan sudah sampai di rumah megah itu yang kini terasa sunyi setelah kepergian Elena.
"Come here, Farhan", Pak James menyambut kedatangan Farhan dan memberinya pelukan hangat.
Semenjak Farhan dan Elena dekat, Pak James dan Bu Tatiana sudah menganggap Farhan seperti putra mereka sendiri, terlebih setelah Elena tiada, kehadiran Farhan menjadi pengobat sendu Pak James dan istrinya.
"Sorry I called you to come here", ujar Pak James.
"Never mind, Sir", jawab Farhan pendek.
Pak James mengajak Farhan duduk dan dia segera memanggil istrinya.
"Hai Farhan. Apa kabar?", sapa Bu Tatiana dengan senyum manis. Meskipun gurat kesedihan masih nampak di wajahnya, tapi terlihat sekali kondisi Bu Tatiana kini lebih baik, dia sudah bisa menerima kepergian Elena.
"Baik, bu, alhamdulillah. Saya lihat ibu segar sekali hari ini", puji Farhan tulus. Pak James ikut memperhatikan wajah istrinya yang nampak sumringah.
"Ya. Kondisiku sekarang sudah lebih baik. Aku ingin putriku bahagia di sana, jadi aku tak mau terus bersedih", jawabnya optimis.
Pak James dan Farhan tersenyum bersamaan, mereka senang melihat perubahan dalam diri Bu Tatiana.
Pak James memanggil asisten rumah tangganya untuk menyajikan jamuan kepada Farhan.
"Oh ya, ada apa bapak dan ibu memanggil saya ke sini?", tanya Farhan setelah dia menikmati sajian di depannya.
Bu Tatiana melirik ke arah Pak James yang dijawabnya dengan anggukan kecil.
"Kami memanggilmu ke sini karena aku ingin memberikan sesuatu padamu. Jasmine, please come here and take the gift", Bu Tatiana memanggil asisten pribadinya yang biasa membantunya di butik.
Jasmine datang dengan sebuah kotak cantik berwarna silver. Farhan mengerutkan keningnya melihat bingkisan itu.
"What is it?", tanyanya heran.
Bu Tatiana tersenyum, "This is a wedding gown. Ini adalah gaun yang sengaja aku buatkan untuk pernikahan Elena denganmu, dulu".
Farhan terdiam.
"Please, receive it, Farhan", pinta Pak James.
"Kami sengaja memberikan ini padamu bukan untuk membuatmu sedih, tapi kami ingin gaun ini bisa bermanfaat. Elena sudah pergi dan kamu tentu akan melanjutkan hidupmu. Aku ingin saat kamu menikah nanti, maka pakaikanlah calon istrimu gaun ini, ya", giliran Bu Tatiana yang meminta.
Farhan masih terdiam menatap bingkisan yang ada di hadapannya itu.
"Farhan, we don't make you sad for long time. Now, me and my wife also be happy. Your life is yours. Believe me, Elena will be happy to see you live happily", ucapan Pak James membuat Farhan tertegun, lalu tersenyum membenarkan semua perkataan itu.
"Ok, I will receive it. Danke, sir, mom", Farhan menatap bergantian Pak James dan istrinya.
Mereka bertiga berbincang sejenak sebelum akhirnya Farhan pamit pulang. Pak James dan Bu Tatian mengantar kepergian Farhan.
__ADS_1
'Tuhan, ku titipkan cintaku, Elena, pada-Mu', bisik hati kecil Farhan. Dia menatap bingkisan gaun yang kini ada di tangannya.