
Malam ini Kinara nampak sibuk berkemas. Dia sudah berbicara dengan Farhan, kedua orang tuanya dan ibu mertuanya tentang keberangkatannya ke Paris besok.
"Sudah dikemas semua, sayang?", tanya Farhan yang juga ikut berkemas. Dia akan mengantarkan istrinya ke Paris.
"Sudah, mas", jawab Kinara saat tangannya selesai mengunci koper miliknya.
"Sini, biar aku saja yang membereskan isi kopermu", Kinara menghampiri suaminya yang masih berkutat.
Farhan tersenyum, dia membiarkan Kinara meneruskan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Kinara dan Farhan selesai berkemas. Kinara segera membersihkan dirinya sebelum bersiap untuk tidur, begitu juga dengan Farhan.
"Kemarilah", Farhan menepuk dada bidangnya. Meminta Kinara merebahkan kepalanya di sana.
Jujur saja, Kinara masih merasa canggung dan kaku. Tapi dia berusaha meredam semua perasaan itu.
"Apa kamu yakin akan kembali ke Paris?", tanya Farhan lembut sambil mengusap rambut Kinara yang tergerai.
"Iya, mas. Aku harus menyelesaikan kuliahku di sana. Tinggal sedikit lagi", jawab Kinara pasti.
Kemarin malam, saat kedua orang tuanya dan adiknya akan kembali ke Semarang, Kinara pun mendapatkan pertanyaan yang sama dan persis seperti saat ini, begitu lah Kinara menjawabnya.
Farhan menarik nafas dalam. Ada perasaan sesak di hatinya saat ini. Membayangkan kehidupannya yang nanti harus terpisah jauh dengan istrinya padahal mereka baru saja menikah.
"Apa mas keberatan jika aku kembali ke sana?", Kinara mengangkat wajahnya karena tak ada lagi suara yang terdengar dari bibir suaminya.
Kedua mata mereka saling beradu. Farhan mencoba tersenyum, dia tak ingin membuat Kinara kecewa mendengar jawabannya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu saja. Kamu akan tinggal sendiri di sana sementara aku tidak bisa ada di sana untuk menjagamu", Farhan mengeratkan dekapannya.
Ada rasa hangat yang menjalar diseluruh tubuh Kinara. Dia paham dengan kekhawatiran suaminya itu, Kinara sudah bisa membacanya.
"Percayalah mas, aku akan baik-baik saja di sana, ya", Kinara mencoba meyakinkan suaminya.
Farhan tersenyum, matanya lembut menatap istrinya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dengan kedua bola mata masih saling menatap sempurna.
Perlahan, Farhan mendekatkan wajahnya pada Kinara. Kinara bisa merasakan nafas hangat Farhan dan tanpa ragu, Farhan pun mencium lembut bibir Kinara. Kinara tak menolak ciuman itu, baginya, kehadiran dan perhatian Farhan begitu berarti.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur sekarang karena kita harus ke bandara besok pagi", Farhan mengajak Kinara beristirahat setelah ciumannya dia lepaskan.
__ADS_1
.
Matahari sudah mulai tinggi saat Farhan dan Kinara tiba di bandara. Satu jam lagi pesawat yang akan mengantarkan mereka ke Paris akan berangkat.
"Rik, seminggu ke depan gue titip kantor ya. Pastikan semuanya berjalan dengan baik. Proyek kita harus aman dan kalau ada apa-apa, kabari gue segera", Farhan masih sibuk dengan teleponnya.
"Ok, boss. Siap. Hati-hati di jalan dan jangan lupa honeymoon di sana", goda Erik sebelum Farhan mengakhiri panggilannya.
Farhan tersenyum kecut. Disaat seperti ini masih saja Erik menggodanya.
"Apa ada masalah?", tanya Kinara yang baru saja kembali setelah membeli camilan untuknya dan Farhan.
Farhan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tak terasa, waktu keberangkatan pun tiba. Farhan dan Kinara kini sudah ada di dalam pesawat. Hampir 18 jam perjalanan yang harus mereka tempuh dan selama itu, Farhan dan Kinara memilih menghabiskannya untuk beristirahat dan hanya sesekali saja mereka berbincang.
Langit pagi Kota Paris menyambut kedatangan Farhan dan Kinara. Mereka segera mencari taksi untuk sampai ke apartemen Kinara.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai. Kinara segera membuka pintu apartemen yang sudah cukup lama dia tinggalkan. Farhan yang mengikutinya dari belakang mengedarkan pandangan, menatap seisi apartemen yang nampak rapi itu.
"Kamu tidak berubah, di sini pun tetap terlihat rapi meski lama kamu tinggal", puji Farhan.
"Nampaknya sekarang dia sudah tidak terlihat canggung", batin Farhan. Dia segera menarik dua koper ka dalam yang ditunjukkan oleh Kinara.
Farhan merebahkan dirinya di kasur dan tanpa sadar dia tertidur lelap karena lelah perjalanan. Sementara itu, Kinara masih sibuk membersihkan apartemennya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore waktu Paris saat Kinara mencoba membangunkan suaminya yang masih nampak tertidur lelap.
"Mas, ayo bangun, sudah sore", Kinara mengguncang lembut bahu suaminya.
Farhan menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya tapi enggan membukanya lebih lebar.
"Mas, ayo bangun", Kinara masih mencoba membangunkan suaminya.
Merasa usahanya gagal, Kinara hendak berbalik meninggalkan Farhan yang masih enggan membuka kedua matanya. Tapi tanpa disadari oleh Kinara, tangan Farhan dengan sigap menariknya, membuat tubuh Kinara jatuh ke dalam pelukannya.
"Mas...lepas", Kinara mencoba melepaskan kuncian tangan Farhan di tubuhnya. Rupanya Farhan sengaja bermalas-malasan di depannya tadi.
Farhan tersenyum melihat usaha istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskanmu. Aku mau kita tetap seperti ini, sebentar saja", jawab Farhan.
"Iya tapi mas, ayo bangun dan mandilah dulu. Kamu belum membersihkan diri sedari kita sampai", bujuk Kinara.
Farhan baru ingat kalau sedari tadi dirinya langsung tertidur begitu saja.
"Ok, aku bangun dan mandi lalu kita keluar ya untuk makan malam. Aku lapar", Farhan melepaskan pelukannya.
Kinara hanya mengangguk dan segera mempersiapkan pakaian untuk suaminya itu.
Tak butuh waktu lama, Farhan sudah nampak rapi dan wangi dengan pakaian casual dan celana jeans yang membuatnya terlihat semakin tampan. Begitupun Kinara, dia memilih sebuah dress untuk melengkapi penampilannya.
"Kita mau makan di mana?", tanya Kinara.
"Ikut saja. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat spesial", jawab Farhan penuh percaya diri.
Kinara mengenyitkan dahinya, "Sejak kapan mas tahu tempat spesial di sini?".
Farhan tersenyum lagi, menerbitkan kedua lesung pipinya, "Apa kamu kira suamimu ini tidak mengenal Paris? aku yakin, pengetahuanku tentang kota ini jauh lebih baik darimu", jawab Farhan pasti.
Memang setelah mereka berdua lulus, Kinara tak pernah tahu kemana saja Farhan pergi. Tentu banyak hal yang belum dia ketahui tentang suaminya itu. Meski dulu mereka berteman baik, tapi perpisahan mereka dulu membuat keadaan satu sama lain berubah.
Farhan menggandengkan tangan Kinara. Dia mengajak istrinya berjalan menuju sebuah mobil berwarna hitam yang sudah terparkir di depan lobi apartemen.
"Silahkan masuk", Farhan membukakan pintu mobil untuk Kinara.
"Ini...ini mobil siapa, mas?", tanya Kinara heran.
"Ini mobil untukmu. Mulai sekarang, kemanapun kamu pergi, pakailah mobil ini", terang Farhan.
Kinara menatap tak percaya, "Kenapa kamu sampai repot-repot membelikanku mobil, mas? bagaimana bisa tiba-tiba ada mobil di sini?", Kinara masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu atas apapun. Aku suamimu dan sudah menjadi tangggungjawabku untuk menjamin semua kebutuhanmu".
"Terimakasih, mas", Kinara terharu.
"Selama aku di sini, aku akan mengajarimu menyetir mobil agar nanti kamu bisa menggunakannya sendiri", lanjut Farhan saat mereka sudah berada di dalam mobil itu.
Kinara mengangguk senang. Dia merasa beruntung memiliki suami yang begitu memperhatikannya. Makan malam mereka berjalan dengan sempurna.
__ADS_1