
Hari ini Kinara sudah mulai berkemas karena nanti siang waktunya dia dan Erlangga kembali pulang, meninggalkan villa yang beberapa hari terakhir menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama setelah menikah.
"Iya pah, siang ini Angga pulang kok", terdengar suara Erlangga yang sedang berbincang dengan seseorang di telepon.
"Siapa mas?", tanya Kinara sesaat setelah suaminya mengakhiri panggilan itu.
"Papa, sayang", jawab Erlangga pendek.
Kinara hanya tersenyum, dia kembali mengemasi pakaiannya dan pakaian Erlangga.
"Sayang, sementara ini kita tinggal di rumah orang tuaku dulu ya", Erlangga melirik ke arah istrinya yang masih sibuk berbenah.
Kinara menghentikan sejenak aktivitasnya, dihampirinya Erlangga yang tengah duduk di pinggir tempat tidur.
"Mmm...bukan aku gak mau mas tinggal di sana, tapi bisakah kita tinggal di rumahku saja? kedua orang tuaku dan adikku sudah kembali ke Semarang. Rumah itu kosong, dan selama ini aku tinggal di sana untuk menjaganya", bujuk Kinara.
Erlangga termenung sejenak, "Baiklah, tak apa sayang. Tinggal di rumahmu lebih baik, kita bisa melakukan apa saja tanpa terganggu oleh orang lain", goda Erlangga sambil menyentuh lembut dagu istrinya.
"Ih kamu nih, nakal", balas Kinara mencubit pinggang Erlangga.
Mereka tertawa bersama, Erlangga memeluk Kinara. Ia merasa damai setiap kali memeluk istrinya seperti itu.
"Setelah aku pulang, nanti kita bisa pindahan ke rumah kita sendiri. Aku sebetulnya sudah membeli rumah tinggal untuk kita berdua. Maukan kamu nanti pindah rumah?", tanya Erlangga dengan masih memeluk Kinara.
Kinara mengangkat kepalanya, ditatap suaminya, "Iya mas, kemana pun kamu mengajakku, aku ikut. Tapi pergi? kamu memangnya mau pergi kemana?".
Erlangga tersenyum senang dengan jawaban Kinara.
"Lusa aku harus pergi ke Surabaya, sayang. Aku akan tinggal di sana sekitar tiga sampai enam bulan. Papa memintaku mengurus perusahaannya di sana selama papa ada di luar negeri", terang Erlangga.
Kinara melepaskan pelukan suaminya, "Lho, pekerjaan kamu sebagai dosen bagaimana mas?", tanya Kinara heran.
Erlangga kembali tersenyum, "Oh maaf sayang, aku lupa cerita. Sebetulnya aku sudah berhenti menjadi dosen seminggu sebelum pernikahan kita kemarin. Papa memintaku untuk mengurus perusahaannya karena papa sibuk mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Jadi perusahaan punya papa di sini sudah resmi diwariskannya kepadaku. Hanya saja lokasi kantor pusatnya ada di Surabaya. Jadi lusa aku ke sana untuk melihat perkembangan perusahaan dan ya, sebetulnya aku ingin sekali kamu ikut denganku ke Surabaya".
Kinara menarik nafas berat, "Maaf mas, aku gak bisa ikut. Aku punya pekerjaan di sini".
__ADS_1
"Kamu yakin masih mau bekerja, sayang? aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu atau kamu bisa mendirikan sekolah di Surabaya", bujuk Erlangga.
Kinara menggelengkan kepalanya, "Aku percaya kamu bisa memenuhi semua keinginanku, tapi aku mencintai pekerjaanku saat ini mas. Boleh ya aku tetap di kota ini?", Kinara memohon dengan kedua tangannya memegang tangan Erlangga.
Erlangga tersenyum dan meng-iya-kan keinginan istri kesayangannya itu.
**
"Ma, Kak Angga sama Kinara nanti tinggal di sini kan?", tanya Ajeng kepada mamanya yang nampak sibuk memasak untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya nanti.
"Huss...kamu ini, jangan panggil nama begitu, gak sopan ah. Sekarang kan Kinara itu sudah jadi kakak iparmu, gantilah panggilannya", tegur mamanya kepada Ajeng.
Ajeng mengerucutkan mulutnya, "Iya iya, maksudku Kak Angga dan Kak Kinara nanti tinggal di sini kan?", Ajeng mengulang lagi pertanyaannya.
Mama melirik ke arah Ajeng yang asyik menikmati buah jeruk di meja makan.
"Soal itu mama belum tahu Jeng. Biar nanti kakakmu yang memutuskan mereka mau tinggal di mana", jawab mama enteng.
"Yaaahh....percuma dong punya kakak ipar kalau dia gak tinggal di sini", jawab Ajeng kecewa.
Ajeng hanya menganggukan kepalanya. Ia berharap besar Kinara bisa tinggal bersamanya agar ia punya teman seperti yang selama ini dia inginkan.
Butuh waktu satu jam untuk Erlangga dan Kinara sampai di rumah orang tua Erlangga.
"Hai kakak ipar", sapa Ajeng ceria. Ia segera memeluk Kinara yang kini sudah resmi menjadi kakak iparnya. Kinara membalas pelukan Ajeng.
"Jangan panggil aku kakak ipar, ah. Panggil Kinara aja kek biasa", kata Kinara.
Ajeng manyun, "Noh, kata mama, aku gak boleh panggil nama lagi sama kamu karena kamu udah resmi jadi kakak iparku", bisik Ajeng.
Kinara mengangguk kecil, ia merasa geli dipanggil kakak ipar oleh Ajeng.
"Heh rubah kecil, cuek amat sih, gak nyambut kedatangan kakak apa", lirik Erlangga sinis ke arah adiknya itu.
Ajeng meleletkan lidahnya, "Dih, ogah banget aku harus nyambut Kak Angga. Gak penting", jawab Ajeng sambil menggandeng tangan Kinara untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kinara hanya tertawa kecil melihat ketidak harmonisan Ajeng dengan kakaknya.
Pak Wijaya dan Bu Tria, mertua Kinara, nampak sudah menunggu kedatangannya dengan Erlangga.
Kinara segera mencium tangan kedua mertuanya itu. Mereka pun berbincang bersama, menikmati makan siang.
"Angga, jadi lusa berangkat ke Surabaya?", tanya Pak Wijaya setelah ia menyelesaikan makan siangnya.
"Jadi pah", jawab Erlangga pendek.
"Papa ini gimana sih, mereka kan masih pengantin baru, kok Angga-nya udah disuruh ke Surabaya segala", keluh Bu Tria.
"Iya nih, papa mah tega misahin Romeo sama Juliet", goda Ajeng.
"Ya mau gimana lagi ma. Perusahaan papa di sana harus ada yang pegang. Nanti malam kan papa juga harus sudah terbang lagi ke Jepang. Lagi pula urusan pengantin baru bisa dilanjut di sana. Ya kan, Angga, Kinara?", tanya Pak Wijaya membuat wajah Kinara memerah.
Erlangga tersenyum mendengar kata-kata papanya, sedangkan Kinara tersipu malu dan menundukkan kepalanya.
"Istriku gak ikut ke sana, pa karena dia kan masih kerja di sini. Angga udah coba bujuk, tapi istri Angga ini tetap gak mau ikut, mau di sini dulu katanya", jawab Erlangga sambil memegang tangan Kinara.
"Ciiiieee....ciiieeee", Ajeng mulai menggoda lagi melihat pemandangan di depannya itu.
Kinara refleks menarik tangannya.
"Ajeng, gak boleh jahil begitu ah. Gak apa-apa pegangan tangan juga, sudah halal ini", bela Bu Tria. Ajeng tersenyum jahil.
"Oh iya pa, ma, nanti Angga sama Kinara juga tinggalnya gak di sini, tapi di rumah Kinara, ya. Di sana kan kosong, sayang kalau gak ditinggali, dan biar Angga sama Kinara leluasa juga", kata Erlangga sambil melirik nakal istri yang duduk disebelahnya. Kinara jadi salah tingkah dibuatnya.
"Yoo wis, tak apa kalau itu sudah jadi keputusan kalian, yang penting kalian tetap rukun dan saling mencintai, ya", pesan Pak Wijaya.
"Jangan lupa ya kak, secepatnya kasih aku keponakan yang lucu dan banyak", Ajeng menggoda lagi.
"Oh pasti. Kamu gak usah minta juga nanti kakak buat, ya sayang?", lirik Erlangga ke arah Kinara.
Kinara hanya bisa menjawabnya dengan senyuman, Dia merasa malu sekali dengan pembahasan di meja makan itu.
__ADS_1