Unknown Love

Unknown Love
Ungkapan Hati Elena


__ADS_3

"Hallo Han, ngapain sih tengah malam gini nelepon gue", tanya Erik malas dengan mata yang masih tertutup rapat. Suaranya terdengar agak serak khas orang bangun tidur.


"Heh, tengah malam dari mana. Ini masih sore Rik, lo udah tidur aja", jawab Farhan sewot.


Erik terpaksa membuka matanya sedikit, diliriknya jam weker yang ada di samping tempat tidurnya, 00.10 WIB.


"Lo lupa ya Han, gue di Indonesia bukan di Jerman. Di sini baru lewat tengah malam. Ada apaan sih?", giliran Erik yang sewot.


Terdengar suara Farhan tertawa dari jauh, dia memang betul-betul lupa kalau waktu di Indonesia tidak sama dengan waktu di Jerman. Berbeda lima jam.


"Sorry, Rik. Gue lupa. Tadinya gue mau kasih tahu lo kalau gue dapat klien bisnis baru di sini yang siap nanam modal di perusahaan kita", jawab Farhan santai.


'Gila ya si Farhan, jam segini masih tega aja bahas urusan kantor sama gue', batin Erik sambil sesekali menahan rasa kantuknya yang akut.


"Han, please, bahas besok pagi aja ya. Asli, gue ngantuk berat, bro. Hari ini gue nemenin bokap meeting maraton", Erik merajuk.


"Yeee...pagi di sana, dini hari di sini dong. Ck, ok lah, nanti gue kirim email aja. Lo cek pagi-pagi dan siapkan apa yang gue minta, ok?", Farhan membuat kesepakatan yang langsung di-iya-kan oleh Erik.


Setelah telepon ditutup, Erik pun kembali melanjutkan perjalanannya ke alam mimpi.


**


Jerman, 07.30 PM


Farhan masih berkutat dengan diktat dan tugas kuliahnya. Ia berusaha belajar dengan keras di sana. Sejauh ini Farhan bisa mengimbangi perkuliahan di kampusnya dengan baik.


Sejenak, ia menunda tugasnya dan mulai mengetik email untuk dikirimkan kepada Erik.


Drrtt...ddrrtt....drttt


HP Farhan bergetar, sebuah nomor tak dikenal nampak di sana.


"Hallo...", sapa Farhan


"Hallo, sorry I disturb you, Farhan. I'm James. I just asking to you for the files needed to our bussiness. When I can receive it?", James Morris, ayah dari Elena Morris yang menghubungi Farhan.


"Oh, yes sir. Tomorrow you will get it. I've arranged it and tomorrow my asistent in Indonesia will contact you", jawab Farhan pasti.


Pak James tersenyum di balik teleponnya, "Ok Farhan, I will wait that. Danke", katanya.


"Danke, sir", Farhan menutup teleponnya.


Pertemuan Farhan dengan keluarga Elena beberapa hari lalu dalam rangka undangan makan malam ternyata berbuah manis. Perbincangan Farhan dengan orang tua Elena, terutama dengan ayahnya begitu terlihat akrab. Keduanya nampak serius membahas soal bisnis yang digelutinya masing-masing, dan kecerdasan Farhan menyampaikan perkembangan perusahannya membuat ayah Elena, Pak James, tertarik untuk menanamkan modal di perusahaan tambang milik Farhan.

__ADS_1


"Elena, you're smart choose a friend", puji ayahnya tiba-tiba sesaat setelah dia menelepon Farhan.


Elena yang sedari tadi tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV tersenyum mendengar ucapan ayahnya sesaat setelah ia menelepon Farhan, "Dad, Are you like Farhan?", tanyanya ingin memastikan pandangan ayahnya tentang Farhan.


"Yes, I think he's a smart man, humble and kindly", jawab Pak James, membuat senyum Elena semakin berkembang.


"I'm with you, dear. First time we met with him, he's gentleman. Ideal male figure, he's young, smart, success and visionery. The right choice for future husband", ungkap Tatiana Cassandra Morris, ibunda Elena memuji Farhan sekaligus menggoda putri tunggalnya, Elena.


"And don't forget, Farhan is was fur ein schoner mann", tambah ayahnya.


Elena tersipu malu mendengar penilaian ayah dan ibunya tentang sosok Farhan. Entah kenapa, hati kecilnya pun menyimpan harapan yang besar kepada teman lelakinya itu.


**


Pagi-pagi sekali Erik sudah ada di kantor. Ia mengecek email seperti yang Farhan bilang semalam. Erik segera menyiapkan sejumlah berkas kerja sama yang harus dikirimnya kepada Tuan James Morris.


"Pak, aku butuh tanda tangan bapak nih", Erik berbicara dengan ayahnya di telepon.


"Ini masih terlalu pagi Rik untuk bapak datang ke kantor. Bapak baru selesai olahraga. Bawa ke rumah saja berkasnya", jawab Pak Erwin enteng.


Erik tak membantah. Meskipun ia malas harus kembali ke rumah, tapi karena bos besar mewanti-wanti tentang kerja sama ini, akhirnya Erik pun dengan sigap mengurus segalanya.


"Ck, kapan gue ada waktu nyari jodoh kalau hidup gue begini amat, haduuhh", keluh Erik pada dirinya sendiri.


**


Farhan menikmati sekotak minuman teh di tangannya. Ingatannya melayang, bernostalgia dengan kampung halamannya di Indonesia.


'Kinara, bagaimana keadaanmu sekarang? kamu sudah jadi istri orang tapi aku masih belum bisa melupakanmu', batinnya dalam hati. Dia menikmati minuman teh itu, bayangan wajah Kinara terlintas diingatannya.


'Andai kau tahu, betapa aku sangat merindukanmu. Aku rindu dengan senyummu dan kebersamaan kita seperti dulu, andai....', Farhan masih sibuk dengan kenangannya ketika Elena datang memutuskan ingatan akan kenangan itu.


"Hai...", sapa Elena agak mengejutkan Farhan.


"Oh, hai. Sorry, I don't know you come here", jawab Farhan sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Elena membalas senyuman itu, dan memilih duduk di samping Farhan.


"Aku melihatmu seperti sedang memikirkan sesuatu. May I know that?", tanya Elena yang datang dengan secangkir kopi.


Farhan menggelengkan kepalanya, "I just missing my home", jawabnya pendek.


"Oh, that's so sad", ujar Elena.

__ADS_1


Farhan mengangguk pelan. Di dalam hatinya yang lain, ia tak hanya merindukan rumah, lebih dari itu, dia merindukan Kinara.


"Farhan, may I asking something to you? but that's an private", lanjut Elena. Ia menatap Farhan dalam.


Farhan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Elena.


"Yes, please", jawab Farhan.


Elena menarik nafas perlahan. Ia sebetulnya ragu dan malu menanyakan hal ini, tapi ia harus memastikan isi hati Farhan.


"Mmm...are you have a girl friend in Indonesia?", tanya Elena malu-malu. Diseruputnya sedikit kopi yang ada di tangannya.


Farhan mengernyitkan dahinya, "Why you asking to me about it?", tanya Farhan balik.


Elena menggigit bibir bawahnya. Ia merasa konyol menanyakan hal itu, tapi dia ingin tahu sebelum ia mengungkap perasaannya kepada Farhan.


"Sorry, aku hanya ingin tahu saja", kata Elena pendek.


Farhan tersenyum tipis, "I haven't a girl friend, but aku punya seseorang yang pernah aku sukai, dulu", Farhan berkata apa adanya.


Elena tertarik dengan jawaban Farhan, "Maksudmu?", ia belum paham benar dengan jawaban lelaki di depannya itu.


Farhan menarik nafas dalam, "Ya, aku hanya bisa menyukainya, tapi tak bisa memilikinya karena kini dia sudah menjadi milik orang lain".


Elena mengangguk-anggukan kepalanya. Ia melihat ada raut kesedihan di wajah Farhan saat menceritakan masa lalunya.


"How about you?", Farhan balik bertanya, membuat Elena terkejut dengan pertanyaan itu.


Elena nampak tersipu, "I haven't a boy friend too, but, now I like someone".


Farhan manatap serius ke arah Elena, "Wow, that's good, El", seru Farhan.


Elena tersenyum, "Kamu tak bertanya siapa yang aku sukai?", kata Elena lagi.


"Siapa?", tanya Farhan


Elena menarik nafas dalam, jantungnya berdebar hebat. Tapi dia sudah tak bisa menahan lagi perasaannya kepada Farhan.


"Mmm...Farhan, Ich liebe dich", suara Elena terdengar lirih. Wajahnya memerah karena ungkapan hatinya.


Deg....


Jantung Farhan berdegup kuat. Memang ini bukan kali pertama ada perempuan yang menyatakan perasaannya kepada Farhan, tapi Farhan tak pernah merasakan hatinya mendadak sekacau ini. Entah kenapa, kejujuran Elena membuat hatinya jadi tak menentu.

__ADS_1


__ADS_2