
Pagi ini Kinara sudah nampak rapi, dia berencana untuk pergi ke toko buku.
Paris tetap ramai di akhir pekan, beberapa orang terlihat sibuk menerima telepon di jalan, sisanya berjalan berdua dengan pasangan.
Kinara segera bergegas menaiki taksi. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke toko buku yang ingin dia datangi. Seorang pramuniaga menyambut kedatangannya dengan ramah. Kinara menjawab sambutan itu dan setelahnya dia bergegas menuju deretan buku-buku mode dan desain.
Kinara mengambil beberapa buah buku contoh untuk dia lihat dan dia baca sejenak di meja yang disediakan oleh pemilik toko itu.
"Hai...".
Sebuah suara membuat Kinara mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca.
"Oh hai, Gio...", sapa Kinara saat matanya menangkap sosok Giovani sudah berdiri di depannya.
Giovani tersenyum manis, dan duduk di kursi yang ada di depan Kinara.
"Senang sekali aku bisa bertemu denganmu di sini. Apa kamu sendirian?", Giovani memperhatikan sekitar.
Kinara mengangguk, "Ya, akhir pekan ini aku sengaja ke sini, ada beberapa buku yang ingin aku beli".
"Oh begitu".
"Kamu sendiri, sedang apa di sini?", tanya Kinara balik.
"Aku sedang melihat-lihat saja. Kebetulan aku ada janji dengan Farhan jam sepuluh ini, sambil aku menunggunya ya aku ke sini", terang Giovani melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.30 waktu Paris.
Kinara hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis mendengar jawaban Giovani. Dia memilih kembali fokus pada buku di tangannya.
"Apa kamu sudah sarapan?", tanya Giovani.
"Belum", jawab Kinara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.
"Bagus kalau begitu. Ayo kita sarapan bersama. Ya walau pun ini sudah hampir siang, aku rasa tak masalah", ajak Giovani.
Kinara diam, dia tak memberikan respon apapun.
"Ku mohon, aku hanya ingin mentraktirmu saja", pinta Giovani lagi.
Kinara menutup buku di tangannya, "Baiklah. Tapi aku memilih dan membayar beberapa buku dulu ya".
Giovani mengangguk senang.
Kinara sudah membeli empat buah buku mode dan desain. Giovani mengajak Kinara ke sebuah cafe yang tak jauh dari toko buku itu.
"Terimakasih sudah menerima tawaranku", ucap Giovani setelah dia dan Kinara selesai memesan makanan.
Kinara tersenyum, "Aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah mengajakku ke sini dan mentraktirku".
Giovani membalas jawaban Kinara dengan senyum yang manis.
"Mmm...bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?", tanya Giovani serius.
"Ya, apa?".
__ADS_1
"Sedekat apa hubunganmu dengan Farhan selama ini?".
Kinara menarik nafas dalam, "Kami hanya teman lama seperti yang Farhan bilang semalam, dulu kami teman kuliah".
Giovani mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lama seorang pramusaji datang mengantarkan pesanan mereka berdua.
"Maaf, aku menerima telepon dulu ya", Giovani menunjukkan gawainya yang bergetar. Lalu dia berdiri, sejenak meninggalkan Kinara yang masih duduk di kursinya.
Kinara hanya menganggukkan kepalanya. Dia memilih untuk menunda menyantap makanan miliknya sampai Giovani kembali.
Beberapa menit kemudian, Giovani sudah kembali.
"Maaf, membuatmu menunggu".
"Tak apa".
"Kenapa kamu belum memakan makananmu?".
"Aku menunggumu. Tak enak rasanya jika aku menikmati makanan ini lebih dulu".
"Hm...begitukah? baiklah, ayo kita makan".
Giovani dan Kinara menikmati makanan mereka. Sesekali Giovani bertanya dan menceritakan hal-hal lucu yang berhasil membuat Kinara tertawa.
"Ternyata kamu begitu lucu dan menyenangkan", puji tulus Kinara.
"Ya, seharusnya kamu mengenalku lebih dalam", jawab Giovani penuh senyum.
"Maaf aku terlambat", kedatangan seseorang mengalihkan pandangan Giovani dan Kinara.
Deg
Jantung Kinara berdegup kencang saat matanya beradu dengan mata Farhan. Kejadian semalam masih membuatnya serba salah.
"Tak apa. Duduk dan pesanlah sesuatu", sambut Giovani.
Farhan memanggil seorang pramusaji dan memesan makanan.
"Aku kira kita hanya berdua akhir pekan ini", ucap Farhan sambil melirik Kinara yang berusaha bersikap biasa saja.
"Ya. Tadi saat aku menunggumu, aku tidak sengaja bertemu dengan Kinara di toko buku di seberang sana. Jadi aku mengajaknya kemari", terang Giovani. Farhan tersenyum.
"Bagus kalau begitu. Senang bisa menghabiskan akhir pekan bersama", jawab Farhan enteng.
Ddrrtt...drrttt...drrtt
Gawai Giovani kembali bergetar. Seperti sebelumnya, dia mohon izin untuk menerima panggilan itu dan menjauh sejenak dari Farhan dan Kinara.
Farhan dan Kinara masih terdiam satu sama lain. Tak ada yang berbicara sampai kedatangan pramusaji mengantarkan pesanan Farhan memecahkan kebekuan mereka.
"Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Ra", ucap Farhan sebelum menyeruput latte miliknya. Kinara tersenyum tipis.
"Tadi aku melihatmu berbincang sangat akrab dengan Giovani", lanjut Farhan lagi.
__ADS_1
"Ya, dia sosok yang baik dan menyenangkan", jawab Kinara.
"Ya, memang seperti itulah Giovani", imbuh Farhan.
"Apa kamu menyukainya?", tanya Farhan menatap dalam Kinara.
Kinara berusaha menyembunyikan wajahnya. Dia benar-benar tak ingin Farhan bertanya hal seperti itu.
"Tentu, sebagai teman", jawab Kinara pendek.
Farhan tersenyum tipis, "Aku harap begitu. Giovani memang laki-laki yang baik dan menyenangkan, tapi aku harap itu tidak menjadi kendala bagimu untuk mencoba membuka hatimu kembali".
Deg
Degupan di dada Kinara semakin kencang.
"Aku tahu mencoba membuka hati itu adalah hal yang berat, aku pernah melaluinya. Tapi bukan berarti itu tidak mungkin. Bagiku, pertemuan kita sekarang adalah takdir dari Tuhan. Tolong, berikan aku kesempatan", Farhan berbicara dengan serius.
Kinara terdiam mendengar ucapan Farhan.
"Dulu, aku sudah kehilangan kesempatan ini. Aku memilih menerima pilihanmu untuk menikah dengan almarhum Erlangga. Aku yakin kamu begitu mencintainya dan bukan hal yang mudah menggantikan cintanya dengan kehadiran orang lain, bukan?. Tapi percayalah padaku, perasaanku masih sama kepadamu, dan itu tidak akan berubah", lanjut Farhan.
Kinara hanya bisa menelan salivanya saat Farhan kembali berkata jujur tentang perasaannya selama ini.
"Kalian serius sekali", kedatangan Giovani mencairkan kekakuan antara Farhan dan Kinara.
Farhan hanya tersenyum mendengar ucapan Giovani, begitupun dengan Kinara.
"Apa yang kalian bahas, hm?", tanya Giovani penasaran.
"Tak ada. Hanya membahas masa lalu", jawab Farhan enteng.
"Hm, begitukah? tapi aku lihat wajah Kinara merona seperti itu, apa kamu menggodanya?", selidik Giovani.
Farhan melirik ke arah Kinara yang berusaha mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan semburat rona di kedua pipinya.
"Mana mungkin aku menggodanya. Aku bukan laki-laki seperti itu", jawab Farhan enteng.
Giovani tertawa, "Ya ya ya, aku hanya bercanda. Aku tahu betul sifatmu, Han. Lelaki sepertimu tidak mungkin melakukan hal seperti itu, apalagi kepada teman dekatmu, bukan?".
Farhan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Jadi Kinara, bagaimana? apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan untuk laki-laki sebaik Farhan?", tanya Giovani membuat Kinara mengernyitkan dahinya.
"Ma...maksudmu apa?".
Giovani tersenyum, "Maaf, tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Aku baru sadar jika ternyata kalian tak sekedar teman kuliah biasa. Farhan adalah sahabatku. Jujur saja, aku memang menyukaimu, Kinara. Tapi aku rasa Farhan lebih berhak mendapatkan kesempatan untuk mengisi hatimu", Giovani menatap Farhan yang terdiam.
Farhan dan Kinara terkejut dengan ucapan Giovani. Mereka tak menyangka jika perbincangan mereka tadi didengar oleh Giovani.
"Benar yang tadi Farhan bilang, kamu pasti sangat mencintai almarhum suamimu, tapi percayalah padaku, Farhan lelaki yang baik dan tulus padamu. Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik dan membahagiakanmu, ya kan Han?", Giovani melirik Farhan yang masih terdiam. Farhan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Maaf, aku tak bermaksud ikut campur dengan urusan kalian. Tapi bagiku, kalian berdua adalah sahabat baikku, jadi aku ingin melihat kalian bahagia, dan jangan pikirkan soal aku. Kita bersahabat saja itu sudah sangat berarti bagiku", Giovani menepuk pundak Farhan.
__ADS_1
"Terimakasih kalian sudah mengerti keadaanku. Tapi ini bukan hal mudah. Tolong berikan aku waktu. Aku permisi", Kinara berlalu begitu saja meninggalkan Giovani dan Farhan yang menatapnya kepergiannya dengan penuh tanda tanya.