Unknown Love

Unknown Love
Cemas


__ADS_3

Pukul tujuh malam, keluarga Pak Wijaya tiba di rumah sakit. Leo, asisten pribadi Erlangga nampak menyambut kedatangan mereka semua.


"Selamat malam tuan besar", Leo membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.


Pak Wijaya menjawabnya dengan anggukan kepala, "Bagaimana kondisi putraku sekarang?", tanyanya menatap Leo.


Sebelum menjawab, Leo mengajak Pak Wijaya dan keluarganya ke sebuah ruangan yang sengaja dia minta kepada pihak rumah sakit untuk digunakan olehnya.


"Operasi Pak Erlangga masih berjalan, tuan", terang Leo.


Wajah Pak Wijaya terlihat serius. Ajeng dan Kinara saling bertatapan, sedangkan Bu Tria berusaha menegakkan dirinya dengan terus berdo'a.


"Bagaimana bisa suami saya kecelakaan?", tanya Kinara menatap Leo, sang asisten.


"Saat ini sedang dilakukan penyelidikan, nona. Apakah ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan dan kelalaian manusia?", terang Leo lagi.


Kinara tak bisa membayangkan seperti apa keadaan suaminya di dalam sana.


"Semoga Erlangga baik-baik saja", lirih Bu Tria.


Dua jam berlalu, mereka masih berada di ruangan yang sama.


"Sebaiknya kalian kembali ke hotel. Biar papa di sini bersama Leo", pinta Pak Wijaya.


"Nara mau di sini, pa", jawab Kinara cepat. Bagaimana bisa dia istirahat sedangkan kondisi suaminya saja belum dia ketahui.

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri. Nanti kamu sakit. Beristirahatlah", Pak Wijaya membujuk. Tapi Kinara bersikeras ingin tetap di rumah sakit. Akhirnya hanya Bu Tria dan Ajeng yang kembali ke hotel.


"Pa, Nara permisi dulu ya ke mushola", izin Kinara. Pak Wijaya mengangguk.


Kinara berjalan dengan gontai. Diambilnya air wudhu dan dia laksanakan sholat isya dilanjutkan dengan sholat sunah.


Disaat hatinya kacau seperti ini, hanya dengan sholat lah dia bisa merasa sedikit lebih tentram.


"Tuhan, aku tak meminta banyak pada-Mu, aku hanya minta keselamatan bagi suamiku. Aku tak ingin hal buruk terjadi kepadanya. Aku mencintainya Tuhan...", do'a Kinara diwarnai air mata dan isak tangis. Punggungnya bergetar hebat menahan kerisauan di hatinya.


.


Di ruang operasi, dokter bedah dan beberapa orang dokter dan asisten lainnya nampak masih berjuang. Sudah hampir tujuh jam operasi itu berlangsung. Sudah lebih dari lima kali perawat keluar masuk ruang operasi, terlihat beberapa kantung darah dibawanya.


"Tuan besar, apa tidak sebaiknya tuan pun kembali ke hotel untuk beristirahat?", tanya Leo hati-hati.


Tiga puluh menit kemudian, Kinara kembali ke ruang tempatnya menunggu.


"Papa kemana, Leo?", tanya Kinara saat dia masuk hanya Leo yang ada di sana.


"Tuan besar sedang keluar, nona", jawab Leo.


Kinara mengangguk dan dia memilih duduk di tempatnya lagi.


"Nona, apakah nona ingin makan sesuatu?", tanya Leo yang sedari tadi tidak melihat Kinara menyantap apapun.

__ADS_1


Kinara menggelengkan kepalanya, "Saya hanya ingin suami saya segera sembuh", katanya pendek.


Leo bisa melihat gurat kecemasan dan kesedihan yang dalam di wajah istri bossnya itu. Apalagi baru beberapa waktu lalu bossnya memberikan kejutan spesial untuk istrinya ini, tentulah bukan hal mudah untuk Kinara menerima kondisi suaminya saat ini.


Pintu ruang operasi terbuka, beberapa dokter dan perawat terlihat keluar dari sana. Kinara dan Leo segera menghampiri.


"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?", tanya Kinara cepat.


"Operasinya berjalan dengan baik. Beliau mengalami pendarahan yang cukup berat, tapi masa kritisnya sudah dilalui. Saat ini Pak Erlangga masih belum sadarkan diri. Setelah siuman nanti beliau akan segera dipindahkan ke ruang perawatan", terang Dokter Andi selaku dokter spesialis bedah syaraf di rumah sakit itu.


"Syukurlah...", ucap Leo dan Kinara berbarengan.


Pak Wijaya yang baru saja kembali ikut merasa lega mendengar penjelasan dari dr. Andi.


Ponsel Kinara bergetar, Ajeng meneleponnya.


"Kak, gimana kondisi Mas Angga?".


"Alhamdulillah operasinya sudah selesai, Jeng. Dokter bilang masa kritisnya sudah lewat, tingga nunggu Mas Erlangga sadar untuk dipindahkan ke ruang perawatan", terang Kinara. Perasaannya saat ini sudah lebih tenang.


"Alhamdulillah. Aku akan kabari mama dan besok pagi kita akan ke sana segera".


"Iya. Selamat istirahat ya Jeng", Kinara mengakhiri telepon itu.


Malam ini terasa sangat panjang bagi Kinara. Dia masih sedikit cemas karena belum bisa melihat keadaan suaminya langsung.

__ADS_1


'Terimakasih Tuhan. Semoga suamiku secepatnya sadar dan sembuh kembali', do'anya tiada henti.


__ADS_2