
Erlangga membelokkan mobilnya ke sebuah resto.
"Ayo turun, sayang", ajak Erlangga.
"Kita mau makan di sini, mas?", Kinara memastikan.
"Iya, aku sudah memesan tempat khusus untuk kita berdua".
Beriringan, Erlangga dan Kinara memasuki resto itu. Kedatangan mereka disambut oleh seorang kepala pelayan yang mengantarkan mereka ke tempat yang sudah dipesan oleh Erlangga.
"Silahkan, tuan, nyonya", pelayan itu mempersilahkan mereka masuk ke sebuah taman di rooftop.
Kinara begitu terpesona dengan seisi taman itu. Tamannya memang tak terlalu besar, tapi seluruh taman itu dihiasi bunga-bunga dengan aneka jenis dan warna. Lampu hias yang mengitari bunga-bunga itu dan beberapa pohon cemara kecil menambah cantik suasana di sana.
Nampak sebuah meja dan sepasang kursi dengan lilin yang menyala, dan sajian pembuka yang sudah tersaji di atasnya. Tak lupa, satu buket mawar putih sudah teronggok manis di sana. Semenjak memasuki area taman itu, taburan kelopak mawar berwarna merah dan putih bertebaran, iringan musik romantis dan view city light dari atas rooftop menambah nuansa syahdu malam itu.
"Mas, ini...", suara Kinara tercekat, keduanya matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu suka?", tanya Erlangga.
Kinara hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala. Dia masih begitu terpesona dengan kejutan kedua dari suaminya itu.
Erlangga menggenggam lembut tangan istrinya. Mengajaknya duduk di tempat yang sudah disediakan.
Sejenak, Kinara terhanyut, bayangan peristiwa saat Erlangga dulu mengutarakan keinginan menikahinya kembali berkelebatan. Suasana yang hampir serupa, tapi Kinara tetap suka. Terlebih lelaki itu kini sudah menjadi suaminya. Meski dia masih harus meyakinkan perasaannya, Kinara selalu menghargai apapun yang dilakukan dan diberikan oleh Erlangga.
Malam ini, mereka benar-benar menikmati kebersamaan. Erlangga tak henti-hentinya memberikan kejutan. Setelah kejutan apartemen, dinner romantis, kali ini sebuah kotak berisi satu set perhiasan berlian menjadi hadiah untuk Kinara.
"Mas...ini terlalu berlebihan. Aku...", lagi-lagi Kinara tak bisa berkata-kata.
"Kamu istriku, satu-satunya ratuku. Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, sayang", jawab Erlangga. Digenggamnya tangan kanan Kinara, dan cup, satu ciuman lembut di punggung tangan itu membuat istrinya semakin terharu dan merasa istimewa.
"Terimakasih, mas...", hanya itu yang bisa diucapkan Kinara pada suaminya.
.
Hari ini Erlangga dan Kinara nampak sibuk berkemas. Ajeng juga ikut sibuk membantu mereka.
"Nak, kamu yakin mau tinggal di apartemen itu?", tanya Bu Tria, memastikan keputusan anak menantunya itu.
"Iya bu. Angga dan Kinara akan baik-baik saja kok di sana", jawab Erlangga. Dia tahu, Bu Tria khawatir dengan kepindahan mereka.
"Sudahlah bu, biarkan mereka membangun rumah tangganya sendiri. Mereka sudah dewasa juga kan, dan biar lebih leluasa. Lagi pula mereka pindah masih dalam kota, sesekali kita bisa berkunjung ke sana atau mereka yang ke sini", sahut Pak Wijaya yang sedari tadi masih menikmati rutinitas paginya dengan membaca koran.
__ADS_1
Erlangga dan Kinara tersenyum berbarengan saat mendengar jawaban Pak Wijaya.
"Iya ma. Nanti Nara sama Mas Erlangga sering-sering kok jenguk mama sama papa di sini", Kinara berjanji.
"Kapan-kapan aku mau main dan menginap di sana juga ya kak", seru Ajeng. Kedua tangannya masih sibuk merekatkan kardus-kardus berisi barang dan buku-buku.
"Boleh banget, Jeng", jawab Kinara cepat.
"Aaahh...gak usah. Kalau kamu ke sana, selain ganggu pasti ngerepotin juga", sanggah Erlangga. Membuat Ajeng mengerucutkan bibirnya disertai tawa seisi rumah.
"Nara sama Erlangga pamit ya, pak, bu", Kinara mencium tangan mama dan papa mertuanya bergantian.
"Iya nak, baik-baik ya di sana. Kalau suamimu itu nakal, laporkan sama mama", pesan Bu Tria sambil mengusap lembut rambut menantunya.
"Iya nak. Bilang juga sama papa", tambah Pak Wijaya.
"Tenang ma, pa, Angga pasti jagain Kinara kok. Angga gak akan nakal, paling nakalin Kinara aja biar cepat kasih cucu", goda Erlangga tanpa ragu.
Kinara menyikut suaminya, "Ih, apaan sih mas. Malu tahu", ujarnya lirih, menyembunyikan wajahnya yang mulai merona.
"Ya memang sebaiknya kalian segera memberi kami cucu. Papa dan mama sudah semakin tua, kami sangat ingin menimang cucu, ya kan ma?", ungkap Pak Wijaya melirik ke arah istrinya. Hal itu membuat Kinara semakin salah tingkah, sedangkan Erlangga cuek dengan cengiran khasnya.
"Aku juga lho, udah kebelet mau punya keponakan", lagi, Ajeng menggoda.
"Siap. Pokoknya secepatnya kita usahakan papa dan mama dapat cucu dan kamu Jeng, jangan lupa do'akan kakak ya", tanpa ragu dan malu Erlangga berkata sejujur itu.
Dalam perjalanan Kinara memilih diam. Erlangga yang sedari tadi fokus menyetir memperhatikan istrinya yang tak bicara sepatah kata pun.
"Sayang, kamu kenapa?".
"Oh...eh...enggak mas, aku gak kenapa-kenapa kok".
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?".
Kinara hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita, ya", Erlangga membalas senyuman istrinya.
"Iya mas. Aku...aku hanya kepikiran soal...itu...".
"Soal apa?".
"Itu...soal pekerjaanku, mas...".
__ADS_1
"Kenapa? kamu sedih karena terpaksa harus resign?".
Kinara diam.
"Sayang, maaf jika kepindahan kita membuatmu harus melepaskan pekerjaan itu. Aku tidak melarangmu untuk bekerja lagi, nanti kamu bisa cari pekerjaan yang jaraknya tak terlalu jauh dari apartemen kita. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu lelah bekerja karena jarak yang jauh, aku khawatir", terang Erlangga.
Ya, pekan lalu Kinara sudah resign dari sekolah tempatnya mengajar karena memang jarak tempat tinggal barunya jauh dari sana. Tapi sebagai seorang perempuan yang sudah terbiasa bekerja, Kinara masih merasa berat dengan keputusan yang sudah diambilnya itu.
"Sayang, sementara waktu kamu bisa mengisi kekosongan dengan ikut kursus atau kamu boleh melakukan apapun yang kamu sukai. Sementara ini bersabarlah dulu untuk tinggal di apartemen kita ya, aku ingin kita mulai memikirkan keluarga kecil kita", lanjut Erlangga.
"Maksudnya?", Kinara heran.
Erlangga menarik nafas dalam, "Soal ini nanti akan kita bicarakan di sana".
Mobil mereka sudah berbelok ke sebuah gedung apartemen mewah yang letaknya begitu strategis. Akes ke pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah dan perkantoran sangat dekat dari sana.
Mobil yang mengangkut barang-barang milik mereka pun nampak sudah parkir di basement. Terlihat empat orang kurir mulai bergantian menurunkan dan membawa barang-barang itu.
Butuh waktu tiga jam sampai semua barang selesai diangkut dan ditata dalam apartemen milik Erlangga dan Kinara.
"Semua sudah selesai, pak, bu", kata seorang kurir memberitahukan pekerjaan mereka.
"Oh ya, terimakasih banyak, mas", jawab Erlangga ramah.
"Sama-sama pak, kalau begitu kami permisi", kurir itu sedikit membungkukkan badannya kepada Erlangga dan Kinara, lalu memberi kode kepada ketiga temannya untuk melakukan hal yang sama.
"Sebentar...", Erlangga menahan langkah mereka. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
"Mohon diterima ya mas", katanya lagi.
"Oh tidak usah pak, ini sudah menjadi tugas kami", kurir itu memajukan kedua tangannya di depan dada, tanda menolak pemberian Erlangga.
"Saya tahu ini tugas mas semua, tapi ini sebagai ucapan terimakasih dari saya dan istri saya karena semua barang kami sampai dengan aman dan ditata dengan baik", terang Erlangga.
"Iya mas, mohon diterima ya", tambah Kinara.
Akhirnya uang itu pun diterima dan semua kurir pamit dari hadapan Erlangga dan Kinara.
"Mas, mau makan apa malam ini?", tanya Kinara yang sudah bersiap di dapur.
"Terserah kamu saja, sayang. Tapi kalau kamu lelah, jangan paksakan memasak, kita bisa makan di luar", jawab Erlangga sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Tak apa mas. Tadi mama memberikan beberapa bahan makanan, sayang kalau tidak diolah".
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu saja mau masak apa. Apapun yang kamu masak, pasti aku makan. Aku mau mandi dulu ya", Erlangga tak jadi merebahkan dirinya lebih lama di atas sofa.
Ia masuk ke kamar, memilih mandi di kamar mandi yang ada di sana. Sementara Kinara memilih untuk memasak, menyiapkan makan malam mereka.