Unknown Love

Unknown Love
Hadiah dari Ananta


__ADS_3

"Aku turun ya, mas".


"Iya. Kabari aku kalau kuliahmu sudah selesai".


Farhan mengecup kening istrinya dan Kinara mencium tangan suaminya sebelum dia turun dari mobil yang mengantarkannya ke kampus. Lambaian tangan Kinara mengantar kepergian mobil itu.


Kinara berjalan di koridor kampus. Dia sudah begitu rindu dengan suasana tempatnya berkuliah itu.


"Nara", seru Ananta yang tak sengaja melihat kedatangan Kinara.


Kinara tersenyum. Ananta segera berlari kecil dan memeluk sahabatnya itu.


"Akhirnya kamu masuk kuliah lagi. Aku rindu sekali", ucap Ananta tanpa ragu.


"Iya, An. Aku juga rindu", jawab Kinara.


Selesai berpelukan, keduanya berjalan beriringan menuju ruang kuliah.


Perkuliahan hari ini berjalan dengan baik. Ananta menemani Kinara menyelesaikan beberapa tugas yang belum dia kerjakan.


"Akhirnya selesai juga. Beruntung tugas-tugas ini tidak terlalu sulit, aku bisa menyelesaikannya dengan cepat", ujar Kinara sambil meregangkan otot tubuh dan jari jemarinya.


Ananta tersenyum, "Yeah, you're lucky. Selama kami tidak masuk kuliah, tugas tidak terlalu banyak dan mudah".


"Oh ya, Ra, tadi pagi aku melihatmu diantar seseorang. Siapa?", jiwa penasaran Ananta mulai mengusik.


"Itu...suamiku, An".


"What? he's your husband? siapa? kapan kamu menikah? kok aku tidak tahu", berondong Ananta.


Kinara tersenyum tak enak, "Iya, maaf An, aku tak mengabarimu. Waktu aku cuti kemarin ke Indonesia, aku...aku menikah di sana. Tapi semuanya serba mendadak. Rumit jika harus aku ceritakan. Aku minta maaf karena tak mengabarimu, semuanya benar-benar mendadak, An".


Ananta menarik nafas dalam, "Tak apa, Ra. Aku mengerti, aku hanya terkejut saja. Who's a lucky guy?", tanya Ananta masih penasaran.


"You know him, An. Farhan", jawab Kinara pendek.


"Wow, Farhan? ah, aku ikut bahagia", Ananta memeluk Kinara.


"Kalian memang pasangan yang serasi. Kakakku dan keluargaku pasti senang jika tahu kalian sudah menikah".


Ananta masih memeluk erat Kinara.


"An, can you help me?", tanya Kinara.


Ananta melepaskan pelukannya. "Yes, apa?".


Kinara ragu untuk mengatakannya karena dia malu dan bingung.


"Bisakah kamu menemaniku perawatan ke salon hari ini?".


Ananta tersenyum, "Sure. Ayo kita berangkat sekarang".


Keduanya pergi setelah membereskan semua buku dan laptop yang tadi digunakan untuk menyelesaikan tugas.

__ADS_1


Ananta mengajak Kinara ke salah satu salin milik mommy-nya. Seorang pegawai dengan ramah menyambut kedatangan mereka. Pegawai itu berbincang akrab dengan Ananta. Ananta nampak memberikan instruksi kepada beberapa pegawai lain yang ada di sana.


"An, kamu kenal baik ya dengan semua pegawai di sini?", bisik Kinara saat Ananta kembali duduk di sampingnya.


"Tentu. Ini salon mommy ku, Ra".


"Wah mommy mu luar biasa. Selain punya butik, beliau punya salon sebagus ini. Aku baru tahu tempat ini", Kinara mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan salon yang nampak mewah, rapi dan nyaman itu.


Ananta tersenyum, "Ya, aku tidak pernah mengajakmu ke sini karena selama ini kamu tidak suka ke salon", terang Ananta enteng.


Kedua sahabat itu pun memulai perawatannya. Kinara menikmati semua treatment yang diberikan oleh para pegawai di sana. Ananta sudah memilihkan bentuk treatment terbaik untuk Kinara.


Hampir tiga jam Ananta dan Kinara menyelesaikan kegiatan mereka di salon.


"Bagaimana?".


"Aku merasa segar sekali, An. Tubuhku lebih rileks dan benar-benar nyaman", jawab Kinara jujur.


Kinara menghampiri meja kasir untuk membayar semua treatment yang didapatnya hari ini. Tapi Ananta melarangnya.


"No. Anggap ini hadiah pernikahanmu dariku", ucap Ananta.


Kedua sahabat itu saling beradu argumen tapi akhirnya Kinara menyerah. Dia menerima hadiah dari Ananta.


"Setelah ini, ayo ikut aku", ajak Ananta.


"Kemana, An?".


Kedatangan putrinya dan Kinara disambut hangat oleh Mommy Rosse. Mereka berbincang sejenak sampai akhirnya Ananta mengajak Kinara memilih beberapa pakaian.


"Aku akan menghadiahkanmu beberapa koleksi terbaru mommyku", Ananta antusias memilihkan beberapa baju untuk Kinara.


"Jangan berlebihan begitu, An. Tadi kamu sudah memberiku hadiah perawatan. Itu sudah lebih dari cukup. Tidak usah memberiku hadiah lain", tolak Kinara halus.


Ananta seolah tak mendengar apa kata Kinara. Tangannya dengan cekatan memilihkan tiga buah baju. Sebuah gaun pesta dan dua buah gaun tidur yang nampak transparan dan terbuka.


"Ini, cobalah. Khusus gaun tidurnya aku sarankan kamu pakai malam ini depan Kak Farhan", goda Ananta.


Wajah Kinara spontan memerah. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Ananta. Kinara mengikuti permintaan Ananta, dia mencoba gaun yang diberikan sahabatnya itu.


"Perfecto", komentar Ananta melihat gaun pesta pilihannya begitu pas di tubuh Kinara.


Setelah selesai mencoba gaun itu. Ananta mengajak Kinara menemui Mommy Rosse. Ananta meminta izin menghadiahkan tiga gaun pada Kinara. Mommy Rosse memberikannya dengan senang hati.


"An, aku pulang ya. Khawatir Mas Farhan menungguku di apartemen", Kinara pamit pada Ananta.


"Aku antar ya, Ra", Ananta sudah bersiap.


"Tidak usah, An. Aku bisa naik taksi. Oh ya sekali lagi sampaikan ucapkan terimakasihku pada Mommy Rosse. Maaf aku tidak berpamitan ke mommymu", Kinara melirik pintu ruang kerja Mommy Rosse yang tertutup. Beberapa saat yang lalu ada dua orang tamu yang masuk ke dalam ruangan itu.


"It's ok, dear. Take care. Salam buat Kak Farhan, kapan-kapan aku dan Kak Gio ingin bertemu dengannya", Ananta memeluk Kinara dan melepas kepergiannya.


.

__ADS_1


Kinara bergegas masuk ke dalam taksi dan menyebutkan tujuannya. Tak butuh waktu lama, taksi itu sudah sampai di apartemen Kinara.


Kinara bergegas menuju apartemennya dan mengetuk pintu.


"Lho, sayang, kenapa kamu tidak mengabariku kalau kamu sudah selesai kuliah?", Farhan langsung menginterogasi.


"Maaf, mas. Aku tidak ingin merepotkanmu. Tadi aku mampir ke salon dulu bersama Ananta dan setelah itu Ananta mengajakku menemui mommy-nya di butik. Oh ya, ada salam juga dari Ananta untuk Mas Farhan", terang Kinara jujur.


Farhan tersenyum tipis, "Pantas saja wangimu begitu semerbak", ucap Farhan. Dia mendekatkan hidungnya pada Kinara.


"Mas...", pekik Kinara kecil.


"Apa Mas Farhan sudah makan?".


"Belum. Kamu sendiri?".


"Belum, mas".


"Ya sudah, kamu mandi dan kita makan di luar, ya"


"Ok, mas".


Kinara bergegas membersihkan diri. Tak butuh waktu terlalu lama untuk dirinya bersiap.


"Ayo, mas".


"Ok".


Sepasang suami istri baru itupun nampak sumringah berjalan berdua menuju resto yang tak jauh dari menara Eiffel.


"Setelah ini, apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?", tanya Farhan.


Kinara menggeleng, "Kita pulang saja, mas".


Kinara ingat, ada janji yang harus dia penuhi malam ini. Meskipun sedari pagi Kinara sudah begitu gugup membayangkannya, tapi kali ini dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Farhan adalah suaminya. Sudah menjadi hak Farhan untuk memiliki Kinara seutuhnya.


"Hmm...baiklah kalau begitu. Aku minta bill dulu ya", Farhan memanggil seorang pelayan dan memberikan kartu kreditnya.


"Mas, aku bersih-bersih dulu ya", izin Kinara setelah mereka sampai di apartemen.


"Iya, sayang", jawab Farhan lembut. Dia memilih merebahkan tubuhnya di sofa.


Kinara bergegas masuk ke kamar mandi. Dia benar-benar mempersiapkan dirinya.


"Aku harus bisa, aku harus berani", Kinara menyemangati dirinya sendiri.


Dia menatap dirinya di cermin. Saat ini dia sudah mengenakan gaun tidur yang diberikan Ananta. Gaun itu panjangnya hanya sampai paha, transparan dan hanya memiliki sepasang tali kecil di bahu yang diikat pita.


Kinara merasa malu melihat dirinya sendiri. Dia tidak terbiasa mengenakan pakaian minim begitu.


"Rasanya aku seperti wanita penggoda saja", gumam Kinara memperhatikan dirinya yang memang nampak menggoda. Rambutnya tergerai sebahu. Pakaian dalamnya terlihat jelas meski dia mengenakan baju.


"Ah, tidak ada salahnya aku tampil seperti ini di depan suamiku sendiri", lagi, Kinara mencoba menyemangati diri.

__ADS_1


__ADS_2