
Pesta pernikahan Erlangga dan Kinara sudah usai dari sore tadi. Kedua orang tua mereka pun sudah berpamitan meninggalkan keduanya di villa itu.
"Mas, aku lapar", ujar Kinara sesaat setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia baru saja selesai menata beberapa pakaian yang ia bawa untuknya dan suaminya selama tinggal di villa.
Erlangga selesai mandi, ia segera menghampiri istrinya itu.
"Istriku ini kelaparan ya", cup, dia mengecup lembut kening Kinara.
Kinara tersipu mendapat kecupan tiba-tiba dari suaminya. Ia berusaha tak menoleh, malu rasanya jika sampai melihat suaminya yang tampil hanya dengan selembar handuk yang terikat di pinggangnya.
"Apa di dapur ada bahan-bahan makanan, mas? kalau ada, aku akan memasaknya", Kinara segera berdiri, dia bersiap akan keluar kamar karena tak enak melihat Erlangga yang terlihat hendak berpakaian.
Kinara berjalan mendekati pintu kamar. Tiba-tiba saja Erlangga menarik tangannya, membuat tubuhnya menabrak dada bidang Erlangga.
Erlangga segera mendekap tubuh Kinara. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kinara. Kinara mencoba menarik tubuhnya agar tak terlalu rapat, tapi kuncian Erlangga terlalu kuat.
"Mmm...mas, tolong lepas. A...aku mau masak dulu", ujar Kinara gugup. Jantungnya sudah berdebar dengan sangat kencang.
Erlangga tersenyum, tangannya mengelus lembut pipi Kinara.
Kinara benar-benar merasa nervous, dia tak tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu.
Erlangga semakin mendekatkan wajahnya, bahkan mendekatkan bibirnya. Kinara masih berusaha melepaskan dekapan tangan Erlangga. Dia tak nyaman dengan keadaan mereka sedekat itu.
"Mas, tolong lepaskan aku. Jangan begini, mas", Kinara bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang hangat menerpa wajahnya yang kini sudah mulai merona.
Kinara merasa kikuk sekali. Dia tak tahu harus melakukan apa.
Dekapan Erlangga semakin kuat, tangannya mulai bergerak mengelus punggung Kinara lalu beranjak memegang lembut dagu Kinara. Erlangga tersenyum melihat Kinara yang salah tingkah. Wajahnya merona menahan rasa malu dan debaran di dadanya. Jaraknya dengan Erlangga terlalu dekat.
"Ma...maaf mas, a...aku lapar", tanpa menatap suaminya, Kinara mendorong kuat tubuh Erlangga dan dia segera berlari keluar dari pintu kamar itu.
Erlangga tersenyum senang melihat tingkah istrinya, "Dasar, gadis lugu", Erlangga menyunggingkan senyum melihat kepergian Kinara. Ia segera berpakaian.
__ADS_1
Di dapur, tubuh Kinara bergetar. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kali dalam hidupnya disentuh seorang lelaki sampai sedekat itu.
Meskipun Erlangga pernah memeluknya tanpa sengaja ketika dia ujian sidang dulu, tapi kali ini pelukannya terasa berbeda. Pelukannya begitu erat, hangat dan berhasrat padanya.
Kinara merasakan wajahnya panas, pertanda wajahnya kini benar-benar memerah menahan malu.
'Dia, terlalu dekat', Kinara menggigit bibir bawahnya, terlintas kembali bayangan pertemuan wajahnya dengan wajah Erlangga yang kurang dari lima centi.
Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, mencoba menepis bayangan itu. Dia segera membuka kulkas, di dalam sana ada bakso, sosis, mie, daging ayam dan sayuran.
"Hmmm...buat nasi goreng aja deh, biar cepat", gumamnya sendiri. Kaki Kinara melangkah mendekati penanak nasi yang sudah terisi karena tadi sebelum keluarganya pulang, ibunya sempat menanakan nasi untuknya dan Erlangga.
Kinara asyik memasak di dapur. Ia tak menyadari kedatangan Erlangga di belakangnya.
Deg...
Jantung Kinara berdegup sesaat setelah sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Tangan Kinara yang sedang asyik memotong-motong bahan nasi goreng mendadak berhenti.
Erlangga tersenyum genit, dia gantungkan wajahnya di bahu Kinara, membuat Kinara merasa semakin serba salah.
"Aku mau buat nasi goreng, mas. Kalau kamu begini terus kapan selesainya aku masak? mas duduk dulu ya di meja makan", Kinara mencoba membujuk Erlangga agar melepaskan pelukannya.
Erlangga tak menggubris perkataan Kinara. Ia tetap menikmati memeluk tubuh istrinya itu.
"Mas, lepas, aku geli", kata Kinara yang memang tak tahan dengan hembusan nafas Erlangga di lehernya.
Erlangga membalikan tubuh Kinara, kini mereka berdua saling berhadapan. Kinara menundukkan kepalanya, ia tak ingin kejadian di kamar terulang lagi di dapur.
"Aku beruntung bisa mendapatkanmu. Aku mencintaimu", tangan Erlangga menyentuh lembut pipi kanan Kinara. Ia mengangkat kepala istrinya, terlihat wajah Kinara semakin memerah. Erlangga senang melihat rona di wajah istrinya itu.
Ia kecup lembut kening Kinara, "Memasaklah kita akan makan bersama, dan setelah makan aku akan mengajakmu berjalan-jalan di sekitar villa ini", Erlngga melepaskan Kinara.
__ADS_1
Kinara hanya tersenyum dan dia melanjutkan kembali aktivitas memasaknya.
Mereka terlihat hangat menikmati nasi goreng spesial buatan tangan Kinara. Sesekali Erlangga menggoda Kinara membuat rona di pipi Kinara tak kunjung hilang.
"Mas, aku mau mandi dulu ya sebelum kita jalan-jalan", kata Kinara sambil membereskan piring kotor di meja.
Erlangga menganggukan kepalanya, "Iya sayang. Segarkanlah dirimu agar bisa melayaniku dengan baik nanti malam", Erlangga melirik genit ke arah Kinara.
Kinara yang mendapat lirikan itu hanya bisa meresponnya dengan senyum tipis.
'Melayani apa lagi sih?', batin Kinara.
Tak lama, Kinara sudah nampak rapi dan wangi.
"Ayo mas, kita pergi sekarang", ajaknya kepada Erlangga yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh manis hangat.
Erlangga menatap tampilan istrinya dari atas sampai bawah, "Kamu cantik sekali sayang", pujinya, matanya enggan berkedip sedikit pun.
Kinara memakai celana panjang dan atasan baju rajut lengan panjang berwarna pink muda. Tak lupa ia ikat ekor kuda rambutnya. Membuat tampilannya terlihat fresh dan menggemaskan di mata Erlangga.
Kinara tersenyum, "Mas, hari ini kamu terlalu banyak membuatku merasa malu", Kinara menundukkan kepalanya.
Erlangga berdiri menghampiri Kinara. Dia angkat dagu Kinara dan menatapnya dalam, membuat hati Kinara merasa kacau karena tatapannya itu.
"Kamu memang cantik, istriku sayang. Ayo kita pergi", ajak Erlangga. Kinara merapikan kembali penampilannya. Erlangga menggenggam tangan Kinara, dan mereka menghabiskan waktu berdua menikmati suasana di sekitar villa.
Ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam hati Kinara saat Erlangga menggenggam tangannya. Ia tahu mereka menikah karena dijodohkan, tapi sejauh ini sikap Erlangga begitu baik dan manis kepada Kinara. Tak ada alasan baginya untuk tak mencoba mencintai lelaki yang kini menjadi suaminya itu.
Sepanjang jalan-jalan sore itu, Erlangga banyak menceritakan masa kecilnya dan beberapa cerita lucu yang membuat Kinara tertawa lepas. Ia tak menyangka jika sosok Erlangga yang semula ia anggap dingin dan kaku ternyata bisa sehangat itu.
"Terimakasih sayang, kamu sudah mau menerimaku sebagai suamimu", ucap Erlangga ketika mereka duduk di bangku kayu yang ada di tengah taman.
"Terimakasih juga mas sudah mau menerimaku", balas Kinara dengan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1
Erlangga mengeluarkan HP-nya, dan mengajak Kinara berfoto berdua. Mengabadikan momen kebersamaan mereka.