
Erlangga dan Kinara sudah sampai disebuah resto ternama di Surabaya.
"Mari tuan putri", goda Erlangga setelah ia memarkirkan mobil, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Kinara.
Kinara tersenyum simpul menerima perlakuan suaminya itu.
Erlangga menggandeng tangan Kinara. Ini kali pertama mereka seperti itu di depan umum. Ada perasaan gugup yang menelusup di hati Kinara.
"Silahkan duduk, dan kamu boleh pesan apapun yang kamu mau, sayang", ucap Erlangga setelah menarikkan sebuah kursi untuk istrinya.
Tak perlu waktu lama, Erlangga dan Kinara memesan makan siang mereka. Mereka menikmati sajian itu dengan diiringi cerita dan senda gurau. Berkali-kali Erlangga menggoda Kinara sampai wajah Kinara terus merona.
"Kamu tahu, aku benar-benar bahagia bisa memilikimu dan kita bisa seperti ini", kata Erlangga setelah menyelesaikan makan siangnya. Dipegangnnya punggung tangan Kinara, Kinara membalasnya dengan tersenyum manis.
"Apa kamu juga bahagia bisa bersamaku, sayang?", Erlangga memberikan tatapan yang dalam namun teduh.
"Iya mas, aku bahagia. Mas baik sekali kepadaku. Aku merasa begitu dimanjakan", puji Kinara jujur.
Erlangga tersenyum senang mendengar jawaban itu.
"Meskipun kita menikah karena dijodohkan, tapi percayalah, aku sangat mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Aku harap kau pun merasakan hal yang sama", katanya lagi dan cup, Erlangga mencium punggung tangan Kinara, membuat pemiliknya tersipu malu.
"Aku suka melihat ekspresimu yang seperti itu, malu-malu. Apa sebelumnya kamu tidak pernah mendapat perlakuan seperti apa yang aku lakukan padamu?", tanya Erlangga menyelidik tapi menggoda.
"Mmm...belum mas. Selama aku belum menikah, aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun. Apalagi sedekat ini, tidak pernah", jawab Kinara jujur.
"Pantas saja, rasa nervousmu terlihat sangat jelas setiap kali aku menyentuhmu. Tapi aku suka itu. Beruntung sekali aku mendapatkan istri yang terjaga dengan baik sepertimu, sayang", Erlangga mengedipkan sebelah matanya, genit.
Lagi-lagi Kinara dibuat tersipu karena ulah suaminya. Tak lama, makan siang mereka pun usai.
"Nah sekarang, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kamu mau kemana?", tanya Erlangga setelah mereka keluar dari resto itu.
Kinara nampak berpikir sejenak, "Mmm...apa mas tidak kembali ke kantor lagi?", dia balik bertanya.
"Siang ini, aku sengaja mengosongkan semua jadwalku dan urusan kantor, ada asisten pribadiku yang akan mengurusnya. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, sayang", bisik Erlangga.
Senyum bahagia tergurat dengan jelas di wajah Kinara.
"Terimakasih, mas. Aku mau jalan-jalan kemana saja mas bawa aku".
"Ok, ayo".
Mobil mereka pun melaju, menuju salah satu mall terbesar di kota ini.
"Kita ke sini, mas?", tanya Kinara meyakinkan.
Erlangga menganggukkan kepalanya.
"Iya. Ayo kita turun. Nanti kalau di dalam ada sesuatu yang kamu suka atau mau kamu beli, ambil saja, ya", pesan Erlangga sebelum mereka berdua masuk ke dalam mall itu.
Kinara mengangguk senang. Benar apa yang dia ucapkan, Erlangga begitu memanjakannya. Usia mereka terpaut lima tahun. Erlangga menyadari sekali jika melihat usia Kinara, sudah seharusnya dia memberikan banyak ruang dan perhatian ekstra kepada istrinya itu. Kinara sudah memberikan masa mudanya untuk menikah dengannya.
Kinara menikmati perjalanan mereka di dalam mall.
"Mmm...mas, bisakah kita masuk ke toko itu?", Kinara menunjuk sebuah toko aksesoris yang di dalamnya terlihat dipenuhi oleh berbagai macam benda dan boneka.
"Ya, tentu saja", jawab Erlangga senang.
__ADS_1
Mereka akhirnya masuk ke toko yang Kinara maksudkan.
"Selamat siang kakak di toko kami. Silahkan masuk dan jika ada yang bisa kami bantu, kami siap membantu", sapa seorang pelayan wanita yang berdiri di pintu masuk toko itu. Dia tersenyum ramah kepada Erlangga dan Kinara.
"Ya, terimakasih, mbak", jawab Kinara pendek.
Mata Kinara berbinar-binar melihat isi toko itu. Dia sangat suka dengan semua yang ada di sana.
Didekatinya boneka-boneka lucu yang berderet rapi. Kinara mulai melihat-lihat.
"Apa kamu menyukai boneka, sayang?", tanya Erlangga yang sedari tadi mengamati wajah sumringah istrinya.
"Ya. Lihatlah mereka mas, mereka sangat menggemaskan", jawab Kinara menunjukkan sebuah boneka beruang coklat kepada suaminya.
Erlangga tersenyum.
"Ambillah dan pilihlah apapun yang kamu suka, ya".
"Iya mas".
Erlangga terus mengikuti langkah kaki Kinara di dalam toko itu. Seorang pelayan datang memberikan keranjang belanja kepada Kinara.
"Oh ya, terimakasih, mbak", ucap Kinara ramah. Pelayan itu mengangguk penuh senyum dan berlalu.
Kinara masih sibuk memilah dan memilih boneka dan benda-benda manis lainnya di toko itu.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu ya. Tak apa jika kamu aku tinggal sebentar di sini?".
"Iya mas, aku akan di sini sampai mas kembali"
Erlangga pun berlalu meninggalkan Kinara.
"Nak, kamu yakin mau beli boneka lagi? boneka kamu kan udah banyak banget di rumah", jawab suara perempuan lain yang menemani anak itu.
"Tapi aku mau boneka yang itu, ma. Please", rengeknya.
"Ya sudah, sebentar ya. Mama ke depan dulu ambil keranjang belanja".
Perempuan yang membersamai anak kecil tadi pun berlalu.
"Wah ini juga lucu", seru anak itu lagi.
Tangan anak kecil itu terus aktif mengambil beberapa boneka. Dia tidak memperhatikan seseorang berdiri di dekatnya dan sedang melakukan hal yang sama.
"Aduh", Kinara mengaduh. Dia agak terkejut karena ada yang menyenggol keranjang belanjanya.
Diliriknya ke samping.
"Maaf ya kakak, aku gak sengaja", ucap anak kecil manis di dekat Kinara.
Kinara memperhatikan anak kecil yang menyenggol keranjang belanjanya. Dia seperti mengenalnya.
"Lho, Alya? kamu sedang apa di sini, nak?", tenryata benar, Kinara mengenali gadis kecil yang kini tengah menunduk di depannya.
Gadis kecil itu menaikkan kepalanya, "Ibu guru Kinara", serunya senang.
Kinara tersenyum, dia berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan Alya. Alya memeluk erat guru kesayangannya itu.
__ADS_1
"Iya. Kamu sedang apa di sini? mana mamanya Alya?", tanya Kinara celingukan. Tak mungkin Alya, anak muridnya itu sendirian di sana.
"Mama lagi ke depan ambil keranjang belanja. Bu guru kenapa ada di sini juga?", Alya balik bertanya dengan wajah polosnya.
"Ibu lagi beli ini", Kinara menunjukkan boneka beruang coklat yang ada di dalam keranjang belanjanya.
"Waah, lucu sekali boneka beruangnya. Ibu lihat, Alya punya boneka ini", giliran tangan kecilnya menunjukkan boneka kucing yang ada di pelukannya.
"Boneka yang manis, semanis Alya", puji Kinara tulus sambil mencubit lembut pipi Alya yang berisi.
"Sayang, sini, masukan belanjaannya", suara seorang perempuan yang tiba-tiba datang membuyarkan percakapan Kinara dengan Alya.
"Mama", seru Alya, ia menghampiri mamanya.
"Lho, Viona?", Kinara nampak terkejut dengan perempuan yang dikenalnya.
"Kinara? wow, ini kejutan. Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini", ujar Viona sambil berjalan mendekati Kinara dan memeluknya.
"Kamu sedang apa di sini?"
"Aku sedang jalan-jalan aja. Kamu?"
"Biasalah, menemani ratu kecil ini belanja boneka. Kamu sendirian?", mata Viona melihat sekeliling.
Kinara tersenyum, "Enggak, aku ke sini ditemani suamiku. Tapi tadi dia sedang ke toilet".
"Ooh. Gak nyangka ya kita bisa bertemu di sini. Di Surabaya lho ini", Viona tertawa kecil, begitu pun dengan Kinara.
"Jadi Alya liburan sekolahnya di sini ya?", tanya Kinara membungkukkan setengah badannya.
Alya mengangguk.
"Iya karena sudah beberapa minggu aku ada urusan pekerjaan di sini, ibu mengantarkan Alya kemari", terang Viona.
Kinara mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka pun terlibat perbincangan yang hangat. Mereka tak menyadari kedatangan Erlangga.
"Sayang, apa sudah selesai belanjanya?", tanya Erlangga.
Belum juga Kinara menjawab, Erlangga sudah dikejutkan dengan dua orang lain yang berdiri di dekat istrinya, Viona dan Alya.
"Viona? Alya?", seru Erlangga terkejut.
"Papaaaa...", teriak Alya. Dia spontan berlari ke arah papanya, Erlangga. Menghamburkan pelukannya di sana.
Refleks, Erlangga menyambut pelukan putri kecilnya itu.
"Papa?", tanya Kinara heran.
Menyadari kejanggalan pertanyaan Kinara, Viona dan Erlangga nampak gelagapan.
"Maksudnya, papa? sebenarnya ada apa ini, mas?", tanya Kinara dengan dahi yang mengerut dan wajah yang berubah bingung dengan apa yang didengar dan dilihatnya.
"Sayang, ini...", belum selesai Erlangga bicara, Alya sudah merengek.
"Papa, aku mau hadiah boneka kelinci yang di atas itu dong. Aku kan anak papa. Ayo, aku mau boneka", Alya merajuk.
__ADS_1
Kinara benar-benar tak percaya dengan pendengarannya. Ia memilih berlari keluar dari toko itu, meninggalkan keranjang belanjaannya dengan dada yang tiba-tiba saja terasa sesak.