
"Pagi-pagi melamun, kenapa?", suara Erik membuat Farhan memutus lamunannya.
"Ck, pagi-pagi, usil", keluh Farhan dengan lirikan mata sinis ke arah Erik.
Erik mengernyitkan dahinya, "Gue gak maksud usil, gue kan cuma nanya, Han. Sensitif amat", Erik duduk santai di sofa.
Farhan menarik nafas berat dan hanya menatap Erik dengan malas.
"Kenapa? soal Kinara?", tebak Erik. Farhan tak menjawab.
"Percaya sama gue, hari ini lo pasti dapat jawaban dari Kinara".
Farhan menarik nafas lagi, "Gue udah coba semalam tanya langsung sama dia. Tapi...ah, sepertinya Kinara memang belum bisa membuka hatinya buat gue", tatapan mata Farhan terlihat sendu.
"Come on, sejak kapan sepupu gue ini nyerah? Han, selama ini gue tahu seberapa besar cinta lo sama Kinara. Lo bersusah payah berusaha menerima dia menikah sama orang lain, lo juga mencoba membuka hati lo untuk perempuan lain, tapi sekarang lihat, Tuhan mengubah jalan takdir lo sama Kinara. Lo laki-laki yang baik, Han. Tuhan pasti kasih lo jalan, percaya sama gue", Erik mencoba menyemangati Farhan.
Farhan tersenyum tipis, "Thank's ya Rik, lo selalu bisa support gue".
Erik tersenyum, "Lo gak cuma sekedar sepupu, sahabat dan bos gue aja, Han. Tapi buat gue, lo udah gue anggap adik kandung gue sendiri. Apapun, gue pasti selalu support lo, ok".
Senyum Farhan semakin terkembang. Memang Erik pun bagi Farhan bukan sekedar sepupu, sahabat dan partner kerja biasa. Sejak kecil Erik selalu ada untuk Farhan. Meski mereka berbeda usia, tapi kedekatan keduanya sudah seperti kakak dan adik kandung.
"Oh ya Han, hari ini kita ada jadwal bertemu klien di Hotel Y jam sepuluh tepat", Erik mengingatkan jadwal Farhan.
"Hmm...ok, klien kita kali ini siapa, Rik? apa nilai proyeknya besar?", tanya Farhan mulai fokus dengan pekerjaannya.
"Ya. Kali ini klien kita pemilik perusahaan keuangan. Mereka akan berinvestasi di perusahaan kita, nilainya fantastis, Han. Gue dengar CEO perusahaannya perempuan, masih muda, seumuran lah sama lo, cantik, kaya dan masih single", terang Erik bersemangat.
__ADS_1
"Ck, otak lo kemana sih, Rik. Lusa lo udah mau nikah sama Ajeng tapi masih aja gak jaga hati", tembak Farhan.
Erik tertawa keras, "Bukan gue gak jaga hati, Han. Memang itu kenyataannya kok, CEO-nya cantik, muda dan kaya. Tapi Ajeng tentu saja lebih dari segalanya, dia ratu buat gue", jawab Erik enteng.
Farhan menggeleng-gelengkan kepalanya. Terkadang sikap Erik memang tidak bisa ditebak.
"Ok, lo atur semua keperluan untuk meeting kita itu. Gue selesaikan dulu beberapa berkas ini", Farhan menunjukkan tumpukan berkas di mejanya.
"Siap bos", jawab Erik dan berlalu dari ruangan Farhan.
.
.
Ajeng dan Kinara masih berada di pemakaman. Air mata Kinara berderai membaca lembar demi lembar buku kecil yang Ajeng berikan kepadanya
"Selama ini aku gak tahu, Jeng kalau Mas Angga mempunyai buku ini", ujar Kinara di tengah isak tangisnya.
"Aku juga dapat buku ini dari Leo, kak. Dia Asisten pribadi Kak Angga. Leo bilang sebelum keberangkatan ke proyek, Kak Angga memintanya untuk memberikan buku ini ke rumah kalau suatu saat terjadi sesuatu dengan dirinya", terang Ajeng sendu.
"Aku minta maaf ya kak, aku sudah lebih dulu menerima dan membaca isi buku itu. Aku baru tahu jika sebelum Kak Angga menikah ternyata dia mendekati kakak sampai seperti itu", lanjut Ajeng dengan senyum tipis.
"Oh ya, halaman terakhir buku itu, semoga bisa menjawab keresahan kakak", Ajeng mengakhiri ucapannya.
Kinara segera membuka lembar terakhir buku yang ada di tangannya.
*
__ADS_1
**Tak ku sangka, hari ini aku meeting dengan Farhan. Dia dulu adalah mahasiswaku tapi sekarang dia menjadi partner kerjaku. Kami berbincang banyak hal, dari mulai urusan pekerjaan sampai tentang perasaan.
Aku bisa melihat kilatan cinta dari mata Farhan ketika kami membahas tentang Kinara, istriku. Sampai saat ini, aku belum bisa membaca seperti apa perasaan Kinara padaku karena kami menikah memang karena dijodohkan, aku mengerti jika mungkin sulit sekali baginya untuk mencintaiku.
Tapi aku benar-benar mencintainya, tak peduli seperti apa perasaannya padaku, aku berjanji untuk selalu mencintai, menjaga dan membahagiakannya. Terkadang aku berpikir, jika satu waktu aku harus pergi dan tak kembali, siapakah orang yang bisa aku percaya untuk mencintai, menjaga dan membahagiakan Kinara?.
Saat aku berpikir tentang hal ini, nama Farhan selalu muncul dalam pikiranku. Hanya nama itu saja yang bisa ku percaya. Memang aku cemburu dan tak suka ada lelaki lain yang memiliki perasaan kepada Kinara, istriku. Tapi jika aku tak ada, maka kecemburuan dan rasa tak suka itu bukanlah lagi alasan. Ya, aku hanya bisa berharap Tuhan akan memilih Farhan untuk mencintai, menjaga dan membahagiakan Kinara jika aku tiada*.
Tangisan Kinara tumpah, Ajeng segera memeluk kakak iparnya itu. Kinara menangis sesegukan. Dia tidak tahu harus berkata apa dengan apa yang dibacanya itu.
"Aku tidak tahu kenapa Kak Angga menuliskan hal seperti ini di buku hariannya. Tapi aku paham, Kak Angga begitu mencintai dan memikirkan hidupmu, Kak. Benar kata papa dan mama, Kak Angga pasti ikut bahagia jika kakak pun bahagia. Ku mohon pertimbangkanlah tentang lamaran Farhan. Farhan laki-laki yang baik, bahkan Kak Angga pun begitu percaya padanya untuk dia mencintai, menjaga dan membahagiakan kakak jika Kak Angga tiada. Kehadiran Farhan saat ini adalah takdir Tuhan dan jawaban dari harapan Kak Angga".
Kinara masih saja menangis. Hatinya tersayat dengan semua hal yang Erlangga tuliskan di buku harian itu. Bayangan dan kenangan bersama Erlangga kembali menyeruak dalam ingatan Kinara. Tapi di sisi yang lain hatinya kini lebih damai dan yakin untuk mengambil sebuah keputusan.
"Terimakasih mas, kamu sudah menuliskan semua kenangan tentang kita, bahkan kamu menuliskan pesan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi padaku saat ini. Terimakasih kamu begitu memikirkan kebahagiaanku, terimakasih, mas", bisik hati kecil Kinara di tengah tangisannya.
Ajeng masih memeluk tubuh Kinara yang perlahan mulai tenang.
"Makasih, Jeng, kamu sudah menemaniku ke sini dan memberikan buku ini. Kakakmu adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Betapa beruntungnya aku mendapatkan suami sepertinya", ujar Kinara dengan mata sembab.
Ajeng tersenyum, matanya berkaca-kaca menahan kesedihan dan keharuan disaat yang sama.
"Iya kak. Kak Angga memang laki-laki yang baik, bahkan menurutku dia begitu sempurna meski sering membuatku jengkel dan kesal. Kak Angga percaya dengan Farhan, dan aku pun yakin, Farhan bisa mencintai, menjaga dan membahagiakan kakak seperti yang Kak Angga lakukan atau bahkan Farhan bisa jadi lebih baik".
Kinara menganggukkan kepalanya perlahan. Dia usap nisan Erlangga, lalu menciumnya dengan lembut dan dalam.
__ADS_1
"Terimakasih mas untuk semuanya. Aku harap apa yang aku baca ini adalah restu darimu", gumam Kinara sebelum dirinya dan Ajeng meninggalkan pusara itu.