Unknown Love

Unknown Love
Ananta dan Giovani


__ADS_3

Hari ini tepat satu tahun Kinara meninggalkan Indonesia.


Sore ini dia menikmati langit Paris ditemani segelas coklat hangat yang baru saja dibuatnya untuk membunuh udara dingin pagi ini.


Pukul delapan waktu Paris. Kinara sudah rapi, bersiap untuk ke kampus. Dia memilih ESMOD sebagai kampus tujuannya untuk melanjutkan studi. Di sana dia mengambil jurusan Fashion Design.


Memang dunia fashion adalah dunia baru baginya, tapi sudah sejak lama Kinara menyenangi bidang ini. Dia senang membuat beberapa rancangan baju, hanya semenjak kuliah keguruan dulu minatnya itu sempat surut.


"Hmm...jadwal kuliahku hari ini tak terlalu padat. Aku bisa mengambil part time", gumamnya sendiri setelah mengamati jadwalnya hari ini.


Paris memberinya tempat untuk mengobati rasa sesal, sedih dan kehilangan yang dia alami pasca kepergian Erlangga. Di kota ini pula dia membangun kembali mimpinya tanpa pernah melupakan sosok lelaki yang ia yakini sudah bahagia di atas sana.


"Mas...hari ini aku ada ujian. Do'akan ujianku berjalan lancar dan hasilnya baik ya mas", Kinara selalu berbicara sendiri sambil menatap foto Erlangga yang dia simpan di atas nakas.


Ujian yang dijalaninya hari ini cukup menantang karena dia harus mempresentasikan sebuah karya dengan tema musim semi.


"Hai Kinara", sapa Ananta. Dia sahabat baik Kinara di ESMOD. Sama seperti dirinya, Ananta juga berasal dari Indonesia, hanya saja dia sudah menetap di Paris sejak remaja karena kedua orang tuanya pengusaha di sini.


"Hai Ana", jawab Kinara sumringah. Dia menahan langkahnya di lobi untuk menunggu Ananta yang nampak berlari kecil menghampirinya.


"Semoga ujian kita hari ini berjalan dengan baik ya, Ra", harap Ananta.


"Ya, aku nervous", kata Kinara memasang wajah gugupnya.


"Let's do the best", support Ananta.


Ujian pun dimulai, satu demi satu mahasiswa mempresentasikan hasil karya mereka. Ada banyak desain yang menarik, dari mulai dress, gaun, T-shirt, blouse, skirt sampai pants.


Kinara mempresentasikan cold shoulder dengan lengan panjang berwarna peach. Karyanya ini dia padu padankan dengan mini skirt motif bunga warna-warni.


Kinara menjelaskan setiap detail baju itu dengan sempurna. Sedangkan Ananta mempresentasikan backless blouse dengan warna merah cerah yang dia padu padankan dengan celana panjang bernuansa abu tua. Ananta pun tampil dengan penuh percaya diri mempresentasikan hasil karyanya.


Dua jam berlalu, ujian pun selesai.


"Sepertinya kapan-kapan kita harus mencoba mengenakan hasil karya kita ini", ucap Ananta saat mereka menghabiskan waktu di sebuah cafe yang tak terlalu jauh dari kampus.

__ADS_1


"Ya, tapi kita harus menunggu musim semi tiba. Aku rasa musim saat ini kurang bersahabat dengan pakaian yang kita buat", jawab Kinara. Paris memang sedang memasuki musim dingin.


Jam empat sore. Kinara sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah seragam.


Ya, selama dia di Paris, dia memilih untuk mengisi waktunya bekerja part time dan dia cukup beruntung mendapatkan kesempatan itu disebuah butik ternama milik keluarga Ananta.


Rosse Boutique and Design, nama tempat Kinara bekerja part time. Selepas menghilangkan penat di cafe, Ananta mengantarnya ke butik itu.


"Selalu ada model baru ya setiap kali aku datang ke sini", ucap Ananta yang terlihat sibuk melihat-lihat beberapa gaun yang dipajang. Memang hanya sesekali dia mengunjungi butik milik mommy-nya itu.


"Ya. Ibumu luar biasa, setiap kali jadwalku masuk kerja, aku bisa melihat desain baru yang cantik dan apik. Sepertinya ibumu tak pernah kehabisan ide", Kinara memuji pemilik butik itu.


Ananta tersenyum mendengar pujian dari Kinara untuk ibunya.


"Begitulah mommy. She's a box idea", katanya diiringi tawa yang terdengar renyah.


Kinara masih asyik berbincang dengan Ananta sambil menata beberapa pakaian model baru untuk dipajang di etalase dan di manekin. Ananta ikut membantunya.


"Hi girls...you looks busy", suara yang datang tiba-tiba itu mengejutkan Kinara dan Ananta.


"Ck, ini butik mommy, An. Kapan pun aku mau datang, ya aku tinggal datang", jawab Giovani enteng. Sedari tadi matanya mengawasi gerak-gerik Kinara yang fokus pada pekerjaannya dan tak memperhatikan kehadirannya di sana.


"Jangan coba-coba mengganggu sahabatku ya!", Ananta memperingatkan kakaknya. Dia tahu semenjak Kinara bekerja di butik mommy-nya, kakaknya itu selalu mencari-cari alasan untuk datang ke sana sekedar melihat sahabatnya


Giovani menyunggingkan senyum manisnya, dia tak mempedulikan peringatan adik kecilnya itu.


"Tidakkah kamu mau menyapaku?", Giovani melangkahkan kakinya, mendekati Kinara yang masih sibuk memakaikan gaun pada sebuah manekin.


"Kakak!", Ananta meneriaki kakaknya, tapi tak dihiraukan.


Kinara hanya tersenyum tipis saat jarak Giovani dengan dirinya begitu dekat. Giovani senang melihat senyuman itu.


"Gaun ini akan lebih bagus jika kamu yang mengenakannya", ujar Giovani memegangi ujung gaun yang menjuntai dari manekin.


"Ini untuk dijual, Gio", hanya itu yang Kinara katakan, dan dia pun berlalu menuju ke manekin yang lainnya.

__ADS_1


Mata Giovani tidak lepas darinya. Entah sejak kapan, tapi Giovani selalu berusaha mendekati Kinara setiap kali ada kesempatan, seperti saat ini.


"Maafkan kakakku, ya. Dia masih saja mengganggumu", Ananta menghampiri Kinara dan kembali membantunya.


"Tak apa", jawab Kinara pendek.


Merasa diacuhkan, Giovani akhirnya memilih mencari mommy di ruang kerja lantai dua.


"Mommy...", katanya saat memasuki ruangan.


"Oh hi dear. Tumben kamu ke sini?", tanya Mommy Rosse yang nampak fokus mewarnai beberapa desain baju yang baru saja dibuatnya.


"Mom...bolehkah aku mengajak Kinara keluar?", tanya Giovani tanpa basa-basi.


Mommy Rosse menghentikan sejenak pergerakan tangannya, matanya beralih menatap putra kesayangannya itu.


"What for, dear?", tanya Mommy Rosse, heran.


Giovani merebahkan dirinya di sofa, "Aku hanya ingin mengajaknya keluar, itu saja, mom. Please...".


Mommy Rosse beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Giovani.


"Gio...apa kamu tertarik dengannya?".


Giovani tersenyum mendengar pertanyaan mommy-nya itu.


"Siapa yang tidak tertarik dengan gadis seperti dia, mom".


"Hmmm...begitukah? baiklah, kamu boleh mengajaknya keluar, tapi ajak juga adikmu, ya".


"What? kenapa aku harus mengajak Ana juga, mom?. Aku hanya ingin pergi berdua saja dengan Kinara", keluh Giovani.


Mommy Rosse menggerak-gerakan telunjuk kanannya, pertanda dia tak mengizinkan putranya untuk pergi jika hanya berdua saja dengan Kinara.


Giovani menarik nafas dalam, "Ok, mom. Aku akan mengajak Ananta juga", dia tahu mommy-nya tak bisa dibantah.

__ADS_1


__ADS_2