
Ini sudah dua minggu dari dinner Kinara dan Erlangga, dan sudah dua minggu pula dari pertemuan Kinara dengan ibunya Farhan.
Kehadiran dua lelaki itu yang secara bersamaan mengutarakan keinginannya untuk menikahi Kinara, membuat hari-hari Kinara semakin tidak menentu. Belum ada satu pun dari kedua pinangan itu yang Kinara jawab. Kinara bingung, terlebih dia pun belum mencoba berbicara dengan kedua orang tuanya.
Drrrtt....drrrtt....drrrrtt....
Handphone Kinara bergetar, ada telepon masuk. Nama ibunya tertera di layar.
"Assalamualaikum, bu....",.Kinara membuka suara. Terdengar suara ibunya dari jauh menjawab salam Kinara.
"Oh ya? kapan ibu mau pulang?", tanya Kinara cepat. Ia senang sekali mendengar ibunya akan pulang ke Bandung dalam waktu dekat, lengkap dengan ayah dan adik semata wayangnya, Alisa
"Rencananya ibu sama bapak berangkat hari Kamis ini, Ra", terang ibu.
"Wah, asyik. Berarti lusa ya ibu udah jalan ke sini. Aku mau oleh-oleh khas sana dong bu", rajuk Kinara.
"Iya, nanti ibu bawakan. Ibu mau kabari kamu soal itu aj, Ra. Ibu masih ada kerjaan nih. Nanti kalau ibu udah berangkat, ibu kabari kamu lagi ya, Ra".
"Iya bu, Kinara tunggu ya", tak lama mereka pun mengakhiri percakapan itu.
Hari Kamis pagi, Kinara sudah nampak sibuk merapikan seisi rumah sampai halaman depan. Kamar kedua orang tuanya dan kamar adiknya pun tak lupa ia benahi.
Pagi ini selepas membereskan rumah, ia berencana pergi ke pasar. Ia ingin menyambut kedatangan kedua orang tua dan adiknya dengan sajian lauk-pauk yang lezat.
"Yup, selesai. Sekarang waktunya aku mandi dan ke pasar nih", celoteh Kinara pada dirinya sendiri.
Tak butuh waktu lama, Kinara sudah bersiap mengeluarkan motor kesayangannya.
Drrtt....drrttt....drrrttt
Nampak nama Ajeng tertera di layar handphone miliknya.
"Hallo Jeng, kenapa?", tanya Kinara.
"Kamu di rumah gak, Ra? aku suntuk nih pingin keluar", jawab Ajeng.
"Aku lagi mau jalan nih ke pasar, mau ikut?", tawar Kinara.
"Wah, boleh tuh. Aku siap-siap dulu ya Ra. Jemput ke rumahku, ok?", seru Ajeng girang.
"Ok", Kinara menutup teleponnya.
__ADS_1
Tak lama, Kinara sudah ada di depan rumah Ajeng. Terlihat ibu Ajeng sedang menyiram bunga yang ada halaman depan.
"Assalamualaikum....Pagi, tante", sapa Kinara.
"Waalaikumusalam....Eh Kinara ya, mau ketemu Ajeng?", jawab ibu Ajeng mengalihkan pandangannya kepada Kinara.
Kinara mengangguk dan tersenyum.
"Hi Ra. Ma, aku mau keluar dulu ya, jalan sama Kinara ke pasar", Ajeng muncul tiba-tiba, mengejutkan ibunya dan Kinara.
Ibunya hanya mengangguk, melihat putrinya berlalu bersama Kinara.
"Tumben Ra kamu ke pasar segala. Mau belanja banyak ya?", tanya Ajeng di motor.
"Iya nih. Hari ini orang tuaku sama adikku datang dari Semarang", jawab Kinara.
"Hooo....pantesan. Eh kalau ada oleh-oleh, aku mau dong", todong Ajeng tanpa rasa malu.
Kinara hanya menganggukkan kepalanya. Hanya butuh waktu 20 menit, mereka sudah tiba di pasar. Kinara memarkirkan motornya.
"Nanti kamu bantuin aku bawa belanjaan ya Jeng, biar dapat oleh-oleh", goda Kinara sambil melepaskan helm-nya.
"Iya siiiaaappp", jawab Ajeng cepat.
"Wwiihh....ini sih udah kek mau hajatan aja Ra", celoteh Ajeng sambil mengangkat dua keresek besar belanjaan di tangannya.
Kinara hanya tersenyum simpul. Hari ini dia berencana membuat pepes ayam, cah sayuran, mie goreng dan perkedel kentang. Semuanya adalah makanan Indonesia favorit keluarganya.
"Hai, Ra", sebuah suara membuat Kinara terkejut saat ia sedang memilih sayur-mayur dan bumbu dapur.
Kinara menoleh, begitu pun dengan Ajeng. Farhan nampak sudah berdiri di sampingnya, memamerkan senyumannya yang manis lengkap dengan kedua lesung pipitnya.
"Eh Han, hai juga", jawab Kinara sambil tersenyum. Ada perasaan canggung yang tiba-tiba hinggap saat tatapan Kinara beradu dengan Farhan. Dua minggu setelah pertemuan itu, keduanya tak saling bertemu dan tak bertegur sapa meskipun hanya lewat telepon atau pesan singkat. Kini, tiba-tiba saja mereka bersua tanpa sengaja di pasar.
"Kamu lagi belanja, Ra?", tanya Farhan.
"Iya, Han. Hari ini orang tuaku datang, jadi ya aku sengaja belanja ke sini buat masak nyambut kedatangan mereka. Kamu sendiri lagi apa di sini?", terang Kinara, ia menatap Farhan yang juga menenteng beberapa kantung kresek besar.
"Aku lagi nemenin ibu belanja juga. Biasa, rutinitas buat stok catering", jawab Farhan. Kinara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dih, aku dicuekin nih", Ajeng kesal, sedari tadi tak mendapat sapaan.
__ADS_1
"Eh sorry Jeng, gak kelihatan", Farhan tersenyum.
"Emang sih kamu tuh ya Han, kalau udah ketemu sama Kinara aja, ya udah deh, lupa sama sekitar", jawab Ajeng sambil mendelikkan kedua matanya.
Kinara menyenggol lengan Ajeng, dia tahu Ajeng hanya bercanda. Mereka bertiga pun tertawa bersama.
"Han, kamu di sini toh. Ibu cari-cari kirain kemana", terdengar suara ibu Farhan datang.
"Selamat siang, bu", sapa Kinara sambil membungkukan badannya sedikit.
"Hai tante", Ajeng ikut menyapa.
"Lho, ada kalian di sini. Anak gadis lagi pada belanja juga toh", ibu Farhan menatap ramah Kinara dan Ajeng. Kinara segera menggenggam tangan kanan ibunya Farhan, mencium tangan itu diikuti Ajeng secara bergantian.
"Iya bu, belanja buat nyambut kedatangan orang tuanya Kinara", terang Farhan. Ibunya mengangguk-anggukan kepala.
"Bagus biasa belanja ke pasar. Jarang-jarang lho anak gadis zaman sekarang mau masuk pasar", ibu Farhan bersuara lagi.
"Iya tante, seru ternyata ya belanja di pasar itu. Segalanya ada", respon Ajeng.
Ibu Farhan tersenyum melihat Kinara dan Ajeng yang sudah menenteng beberapa kantung kresek.
"Iya, di pasar itu segala kebutuhan kita ada, harganya pun lebih murah daripada di supermarket. Kalau biasa ke pasar, calon mantu idaman banget", puji ibunya Farhan.
"Oh gitu ya tante. Ehm....siapa nih calon mantunya tante nanti ya? boleh dong aku daftar, kan udah mau masuk pasar nih", Ajeng kembali berceloteh konyol.
Lagi, Kinara menyenggol lengan Ajeng. Farhan tersenyum mendengar perkataan Ajeng.
"Ya siapapun itu, semoga Farhan dapat istri yang baik, do'akan, ya", jawab ibu Farhan.
"Masih ada yang mau dibeli lagi, bu?", Farhan mengalihkan pembicaraan. Ia tahu Kinara tak nyaman dengan pembahasan itu, air mukanya sedikit berubah, terlebih Kinara belum memberikan jawaban atas pinangannya dua minggu yang lalu.
"Oh iya, masih ada nak. Kita ke sana, beli buah", ibu Farhan menunjuk ke arah timur pasar. Farhan mengangguk, tak lama, Farhan dan ibunya berpamitan kepada Kinara dan Ajeng yang masih berdiri di lapak pedangan sayur-mayur.
"Eh Ra, Farhan itu ya, benar-benar lelaki yang perfect. Coba deh bayangin, hari gini, mana ada anak laki yang mau nganterin ibunya belanja ke pasar dan bawa belanjaan banyak gitu. Duh, kalau aku yang ditodong jadi mantu, gak akan nolak, suer", bisik Ajeng.
Sejenak Kinara terdiam mendengar ucapan Ajeng. Apa yang Ajeng katakan tentang Farhan memang benar, sebagai laki-laki, Farhan memiliki segalanya. Ia tampan, cerdas, supel, dan yang terpenting sangat menyanyangi ibunya dan menghormati wanita. Wanita manapun tentu mudah jatuh hati padanya.
Deg....
Tiba-tiba saja jantung Kinara berdebar kencang mengingat Farhan, bayangan wajahnya melintas begitu saja dalam ingatan Kinara. Ia berusaha menenangkan dirinya, menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba saja muncul di wajahnya, beruntung, Ajeng tak menyadari itu.
__ADS_1
'Apakah hatiku mulai bisa menerimanya? Farhan....', bisik Kinara pada dirinya sendiri.