Unknown Love

Unknown Love
Perdebatan


__ADS_3

Farhan masih berdiri terpaku melihat Kinara dipeluk erat oleh Erlangga. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.


"Mas, lepas, mas", Kinara mendorong tubuh Erlangga dengan kuat.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu berjanji padaku", ujar Erlangga dengan masih memeluk erat Kinara.


"Iya mas, aku janji. Tolong lepas, ini di kampus, mas", suara Kinara hampir terdengar berteriak.


Erlangga segera melepaskan pelukannya, "Maaf, maafkan aku. Pergilah", Erlangga seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya.


Mata Kinara nampak berkaca-kaca, ia segera berlalu dari hadapan Erlangga. Dirinya pun merasa tak percaya dengan apa yang terjadi. Erlangga berani menyentuhnya sampai sejauh itu. Perasaannya kacau.


Erlangga berjalan perlahan, ia mendekati pintu ruangannya.


"Maaf, pak, bisa kita bicara sebentar?", sebuah suara menahan langkah kaki Erlangga.


Ia menoleh ke belakang, dan dilihatnya wajah lelaki yang tak asing baginya, Farhan.


"Mau bicara apa?", tanya Erlangga pendek. Nada bicaranya seperti tak suka dengan kehadiran Farhan.


Farhan maju satu langkah, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya.


"Saya Farhan. Saya teman baik Kinara. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tadi saya tidak sengaja melihat bapak memeluk Kinara. Sikap bapak sudah keterlaluan, terlebih ini di kampus. Beruntung hanya saya yang melihatnya", jawab Farhan sinis.


Erlangga menatap tajam ke arah Farhan, "Oh jadi kamu tadi mengintip kebersamaan kami, hah?", nada suara Erlangga mulai meninggi.


Farhan menyunggingkan senyumnya, "Sudah saya bilang, saya tidak sengaja. Saya melihat gelagat yang tidak baik dari bapak saat tadi bapak memanggil Kinara untuk ikut ke ruangan bapak. Mana ada dosen memanggil mahasiswanya dan bertindak tak santun dengan memegang tangannya", terang Farhan lagi.

__ADS_1


"Oh, tajam juga ya matamu itu. Apa masalahmu dengan apa yang sudah aku lakukan kepada Kinara?", Erlangga tak mau kalah.


"Kinara itu teman baik saya, pak. Selama ini saya tahu betul dia seperti apa. Dia tidak pernah membiarkan siapapun menyentuhnya begitu saja. Perilaku bapak sudah keluar dari norma. Saya tidak suka bapak berbuat seperti itu kepada Kinara", kali ini intonasi suara Farhan yang mulai meninggi.


Beruntung, di lantai tiga itu hanya ada mereka berdua, tak ada orang lain yang mendengar perdebatan dua lelaki tampan itu.


"Sepeduli itu kamu kepada calon istriku, hah?", Erlangga menekan Farhan dengan kalimat itu.


Mata Farhan membelalak, ia terkejut dengan ucapan dosennya itu.


"Calon istri? Kinara?", Farhan balik bertanya.


Erlangga memasang senyum sinis dan tatapan kemenangannya, "Ya, Kinara itu calon istriku dan sebentar lagi kami akan menikah. Memang aku salah tak bisa mengontrol diriku tadi, tapi itu semua terjadi karena lelaki sepertimu".


Rahang Farhan mengeras, ingin sekali dia menghajar wajah Erlangga. Tapi dia sadar bahwa ini bukan tempat yang tepat, ia mencoba menahan amarahnya.


"Apa maksud bapak?", tanya Farhan lagi.


Lagi, Farhan tersentak dengan ucapan Erlangga. Ia tak percaya jika Erlangga bisa mengetahui perasaannya pada Kinara sampai sejauh itu.


"Aku harap kamu mengerti. Aku akui jika perbuatanku tadi benar-benar salah. Aku akan meminta maaf pada Kinara dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi sampai dia sah menjadi istriku. Tapi, selama hal itu belum terjadi, please, jauhilah calon istriku", ujar Erlangga menatap tajam ke arah Farhan.


Farhan membalas tatapan tajam itu, ada sesak yang sangat dalam di dadanya mendengar Kinara, wanita yang begitu dia cintai, yang sempat ia lamar meski tak resmi, sebentar lagi akan menikah dengan lelaki yang tak pernah ia sangka.


"Baik, saya akan mundur. Tapi tolong, berjanjilah Anda akan membahagiakan dan menjaganya dengan baik", balas Farhan.


Erlangga menganggukan kepalanya, "Tentu saja, bagaimana mungkin aku tega menyakiti wanita yang aku cintai", ucap Erlangga mengakhiri perbincangan panasnya dengan Farhan.

__ADS_1


Erlangga berlalu dari hadapan Farhan. Ia masuk ke dalam ruangannya, menutup pintu dan membiarkan Farhan yang masih berdiri mematung di luar sana. Farhan berusaha menerima kenyataan yang selama ini tak pernah ia ketahui.


"Hallo, Rik. Tolong segera urus keberangkatan gue ke Jerman. Secepatnya ya, gue mau sesegera mungkin bisa melanjutkan study di sana", terdengar suara Farhan tengah menghubungi Erik.


Tanpa menunggu respon dari Erik, Farhan menutup teleponya. Langkah kakinya gontai. Pikirannya seolah terbang ke sembarang arah.


Sesak di dadanya semakin terasa, matanya pun panas, ingin rasanya ia marah dan menangis, tapi Farhan menahannya.


'Semoga kamu bahagia, Ra', harapnya dalam hati.


Farhan berlalu, ia segera meninggalkan gedung fakultas dan menghampiri mobilnya, bersiap pergi ke kantor dengan perasaan tak karuan.


Sementara itu, Kinara baru saja selesai menyeka air matanya dan menenangkan dirinya di dalam toilet wanita. Ia merapikan penampilannya yang agak berantakan dan berrkali-kali ia menarik nafas dalam, berusaha melebur semua kekacauan hati dan pikirannya.


Kinara mengambil HP-nya dari dalam saku, ia mencari-cari nomor Farhan. Kinara berpikir ia harus segera menceritakan semuanya kepada Farhan. Ia tak ingin Farhan terluka, dan ia pun tak ingin menyimpan rasa bersalah kepada Farhan atas jawaban yang tak pernah ia berikan sampai saat ini.


Tuutt...tuuutt...ttuuuttt


Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan


Hanya suara operator yang menjawab telepon Kinara. Kinara segera keluar dari toilet, ia bergegas menuju tempat di mana sedari pagi Farhan menungguinya ujian sidang.


Tak butuh waktu lama, Kinara sudah sampai di sana. Sayang, ia tak melihat ada Farhan di bangkunya. Ia hanya melihat beberapa orang temannya yang juga baru selesai ujian sidang.


"Ris, kamu lihat teman aku gak yang tadi duduk di sana?", tanya Kinara kepada Riska yang nampak asyik mengobrol dengan teman-teman lainnya.


"Oh, enggak Ra. Eh tapi ini, tadi dia nitipin tas kamu sama aku, nih", Riska menyodorkan tas milik Kinara yang ternyata dititipkan oleh Farhan.

__ADS_1


Kinara menerima tas itu, ia kembali duduk di bangkunya tadi. Ia mencoba lagi menghubungi Farhan, tapi tetap tak ada jawaban dan tak terhubung, berkali-kali ia coba, berkali-kali juga hasilnya nihil.


'Kamu kemana sih Han? gak biasanya kamu pergi gak ngasih tahu aku, dan susah juga dihubungi', bisik Kinara pada dirinya sendiri. Ada guratan kekhawatiran yang dalam di wajahnya.


__ADS_2