
"Selamat siang".
Farhan dan Erik menoleh ke arah datangnya suara.
Di depan mereka berdiri seorang wanita muda mengenakan cape blazer cream dengan rok sepaha warna senada. Rambut wanita itu tergerai indah, tubuhnya yang jenjang dengan pinggang ramping benar-benar terlihat ideal.
"Oh ya, selamat siang", jawab Erik yang sempat terhipnotis sejenak.
Wanita itu tersenyum. Wajahnya yang bermake up natural dengan lipstick berwarna pink membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Memang wanita ini terlalu indah untuk digambarkan.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya. Tadi ada sedikit kendala di meeting sebelumnya. Oh ya perkenalkan, saya Nindia dan ini asisten pribadi saya, Lala", wanita bernama Nindia itu menunjuk Lala dan mengulurkan tangannya kepada Erik kemudian kepada Farhan.
"Saya Erik, asisten pribadi dari bos saya, Farhan", Erik membalas uluran tangan Nindia.
Farhan yang sedari tadi diam sekarang menghadirkan senyumannya. Menunjukkan lesung pipinya yang manis.
"Farhan, terimakasih sudah hadir di sini. Silahkan duduk", ujar Farhan setelah memperkenalkan dirinya.
Nindia tersenyum lalu duduk di meja yang sama dengan Erik dan Farhan.
Perbincangan kerja sama antara Ganindra Group dengan Rich Group pun dimulai. Farhan mempresentasikan produk dan prospek perusahaannya, Nindia dan asistennya, Lala menyimak dengan serius.
"Menarik sekali perusahaan Anda. Sepertinya saya tidak salah pilih untuk berinvestasi di Ganindra Group", ujar Nindia.
Farhan tersenyum, "Justru kami sangat senang dengan tawaran kerja sama yang Ibu Nindia berikan kepada perusahaan kami".
"Hmm...setelah ini Lala akan mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk kerja sama perusahaan kita dan satu hal, saya minta Anda tidak perlu memanggil saya Bu Nindia. Saya masih muda dan lebih senang dipanggil dengan nama saya saja, Nindia".
Farhan dan Erik saling melirik sejenak, "Oh tentu. Mohon maaf jika panggilan dari bos saya ini kurang berkenan di hati Anda", jawab Erik.
Nindia tersenyum, "Tak apa. Semua kolega saya biasa memanggil saya seperti itu. Tapi saya kurang suka karena bagi saya kolega juga adalah teman, jadi agar lebih akrab, panggil saya Nindia, ya", lagi, Nindia mengingatkan.
Perbincangan mereka semakin serius. Semua berkas yang diperlukan sudah Lala siapkan dan Erik dengan cekatan mengurus semuanya.
"Sekali lagi terimakasih. Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda, Pak Farhan", Nindia baru saja selesai menandatangani berkas kerja sama mereka.
"Sama-sama, saya pun senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda. Jika Anda senang dipanggil Nindia, ada baiknya Anda pun memanggil nama saya saja. Saya pikir usia kita pun tidak berbeda jauh", giliran Farhan yang mengingatkan tentang panggilan.
Nindia mengernyitkan sedikit dahinya, "Ok, Farhan", jawabnya pendek.
Setelah mereka makan siang bersama, pertemuan itu pun berakhir.
.
__ADS_1
Kinara sudah kembali ke rumah, dia merebahkan sejenak tubuhnya di kasur. Buku harian milik Erlangga dikeluarkannya dari dalam tas.
Kinara tersenyum dan memeluk buku itu. Apa yang terjadi hari ini begitu berkesan baginya.
"Nara, bisa keluar sebentar?", terdengar suara ibu di depan pintu kamarnya.
Kinara segera bangun dan bergegas membukakan pintu.
"Ya bu, ada apa?", tanya Kinara.
"Kalau kamu sudah tidak lelah, bapak mau bicara sama kamu", jawab Bu Hasna.
Kinara langsung keluar dari kamar lalu menemui ayahnya yang sedang menikmati buah potong di ruang keluarga.
"Ada apa, pak?".
"Duduklah", pinta Pak Prastowo.
Kinara duduk di sofa samping ayahnya. Bu Hasna pun ada di sana, hanya Alisa yang tidak ada karena dia sedang tidur siang.
"Nara, apa tadi ayah dan ibu mertuamu menyampaikan sesuatu?", tanya Pak Prastowo.
Kinara menganggukkan kepalanya. Sebetulnya Pak Prastowo dan Bu Hasna sudah tahu jika keluarga Pak Wijaya sudah menyampaikan rencana pernikahan Kinara yang akan diselenggarakan bersama dengan pernikahan Ajeng dan Erik.
Kinara menarik nafas dalam, "Apa bapak dan ibu setuju kalau Nara menikah lagi?", Kinara balik bertanya.
Pak Prastowo dan Bu Hasna saling beradu tatap.
"Tentu saja bapak dan ibu setuju. Apalagi jika kamu menikah dengan Farhan. Tidak ada alasan bagi bapak dan ibu untuk tidak setuju. Tapi ya bapak dan ibu tidak akan memaksa kalau kamu sendiri belum siap untuk menikah lagi", terang Pak Prastowo.
"Iya, Ra. Ibu sependapat sama bapak. Kamu masih muda, jalan hidup kamu pun masih panjang. Farhan itu laki-laki yang baik, santun lagi. Rasa-rasanya sulit jika harus mencari-cari alasan untuk menolaknya", tambah Bu Hasna.
Kinara menundukkan kepalanya. Semua hal yang dialaminya beberapa hari ini terakhir ini kembali membayang dalam ingatannya, termasuk isi buku harian milik Erlangga yang baru saja dia baca.
Kinara menarik nafas dalam, "Jika bapak dan ibu setuju juga menilai kalau Farhan itu memang laki-laki yang baik buat Nara, bismillah...Nara bersedia untuk menikah dengan Farhan".
Suara Kinara sedikit bergetar. Dirinya benar-benar merasa gugup dan malu.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat", seru Pak Prastowo.
Bu Hasna pun nampak sumringah. Dia segera memeluk putri sulungnya itu.
"Percayalah, Farhan pasti bisa menjagamu dengan baik sama seperti Erlangga", ucap Bu Hasna dalam dekapannya. Kinara menganggukkan kepala.
__ADS_1
Setelah perbincangan itu, Kinara merasa lega. Semua beban yang beberapa terakhir ini mengekangnya seolah sirna begitu saja.
Pak Prastowo segera menghubungi keluarga Pak Wijaya untuk menyampaikan kabar bahagia itu.
"Bu, nanti malam Farhan dan ibunya akan bapak undang untuk datang ke rumah kita. Masih ada waktu kan untuk ibu menyiapkan jamuan?".
"Iya pak. Ibu akan siapkan, biar nanti ibu minta Kinara dan Alisa untuk membantu ibu, ya".
.
Dddrrtt...dddrrtt
Gawai Farhan bergetar, ibunya menelepon.
"Assalamualaikum, bu...".
"Waalaikumusalam, Han hari ini bisa kamu pulang cepat?".
"Ada apa, bu?".
"Malam ini keluarganya Kinara meminta kita untuk datang ke rumah mereka. Ada undangan makan malam".
"Oh gitu. Baik bu, Farhan akan pulang cepat".
"Ibu tunggu ya di rumah".
"Iya bu".
Telepon itupun berakhir.
"Bukde Asri, Han?", tanya Erik yang sedang fokus menyetir.
"Iya, Rik".
"Ada apa? sorry tadi gue dengar sayup-sayup lo harus pulang cepat hari ini".
"Kata ibu, keluarga Kinara mengundang kita buat makan malam bersama di rumah mereka".
"Wah, bagus dong. Roman-romannya ada kabar baik nih", Erik mulai usil.
"Ck, lo terlalu optimis, Rik. Gue sih gak mau berharap banyak. Bisa aja kan undangan makan malam ini sebagai tanda maaf karena Kinara gak bisa nerima gue", Farhan sendu.
"Justru lo itu harus belajar dari gue soal optimisme. Feeling gue sih bilang ada hal baik yang nanti malam akan lo dapat. Pokoknya prepare ya, Han", Erik melirik ke arah Farhan dan Farhan membalasnya dengan mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Jujur saja, di hati kecilnya Farhan berharap hal yang serupa seperti ucapan Erik. Tapi dia berusaha menepisnya, dia tidak ingin terlalu berharap seperti dulu yang akhirnya hanya menyisakan kekecewaan yang dalam.