
Satu bulan berlalu, Kinara menjalani hari-harinya dengan sibuk membuat naskah novel. Ya, semenjak dia pindah ke apartemen ini, dia menghabiskan waktunya di sana. Menulis adalah salah satu hobi dan cara untuk mengisi waktu juga membunuh rasa bosannya.
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Kinara. Ia bergegas menuju pintu dan membukanya.
"Hai, maaf, tiba-tiba aku datang ke sini", terlihat sosok yang tak asing lagi bagi Kinara, Viona.
"Oh ya, hai. Tak apa, mari masuk", Kinara terkejut, tapi tak lama.
Viona dan Alya masuk mengikuti langkah Kinara.
"Silahkan duduk, aku ambilkan minum ya", Kinara berlalu menuju dapur.
Tak lama, dia sudah membawa dua gelas orange juice lengkap dengan camilannya.
"Silahkan".
"Terimakasih. Sayang, ayo salam sama bu guru", Viona meminta Alya yang sedang asyik mengelus-elus kepala boneka beruangnya.
Alya menuruti perintah ibunya. Dia menyalami Kinara dan Kinara menyambutnya dengan senang hati.
"Alya apa kabar? gimana sekolahnya?", tanya Kinara sambil menatap wajah gadis kecil manis itu.
"Kabarku baik, bu. Aku sedih Bu Kinara gak ada lagi di sekolah. Aku minta mama cari ibu dan ketemu", jawabnya dengan senyum ceria.
Kinara ikut tersenyum mendengar ungkapan jujur muridnya itu.
"Maaf ya Ra kalau kedatangan kami tiba-tiba begini. Seperti yang Alya bilang, semenjak kamu tidak lagi mengajar di sekolahnya, dia sempat murung dan gak mau sekolah. Aku membujuknya untuk bisa menemuimu. Oh ya, aku dapat alamat apartemen ini dari sekolah", terang Viona.
"Oh ya. Aku senang kok bisa bertemu lagi dengan Alya dan kamu", jawab Kinara tulus. Memang pada saat resign, dia memberikan alamat tempat tinggalnya kepada pihak sekolah sebagai bentuk menjaga silaturahmi jika dikemudian hari rekan-rekannya mau datang berkunjung ke sini.
"Kegiatanmu sekarang apa, Ra?".
"Aku di sini saja. Belum bekerja lagi, hanya ya mengisi waktu dengan menulis novel", jawab Kinara.
Viona mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mmm...Mas Erlangga apa kabar?", tanyanya lagi.
"Mas Erlangga baik, belakangan ini dia sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya".
"Syukurlah kalau dia baik. Ya, dari dulu dia tidak berubah, tetap pekerja keras. Kamu beruntung memilikinya".
Suasana berubah kaku karena perbincangan itu.
"Alya sayang, bu guru punya banyak buku cerita di lemari sana. Alya mau baca?", tawar Kinara, mengalihkan fokus Alya agar tak mendengar percakapannya dengan ibunya.
Alya mengangguk cepat, tanpa ragu dia berjalan menuju lemari yang ditunjuk oleh Kinara dan mulai asyik melihat-lihat buku di sana.
"Kamu pintar mengalihkan fokus Alya", puji Viona.
Kinara hanya tersenyum tipis.
"Jadi?".
"Apa?".
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa kamu datang ke sini?", Kinara to the point.
Viona membetulkan duduknya sebentar, "Aku...aku ingin membahas permintaanku waktu itu. Apa kamu masih ingat?".
Kinara mengangguk pelan. Ya, bagaimana bisa dia lupa dengan permintaan Viona untuk berbagi suami.
"Jadi bagaimana?", tanya Viona lagi.
Kinara menarik nafas dalam, dia mencoba menenangkan hatinya dan mengontrol emosinya.
"Aku tidak bisa menjawab apapun. Semua keputusan ada pada Mas Erlangga", jawab Kinara pendek.
"Aku sudah beberapa kali berbicara dengannya soal ini, tapi respon yang dia berikan tak seperti yang aku harapkan. Aku mohon, jika kamu mengizinkan, tolong bantu aku untuk membujuk Mas Erlangga, demi Alya dan...", Viona tak melanjutkan kata-katanya.
"Dan apa?", Kinara menatap dengan serius.
"Dan...dan...kamu tahu kan aku masih sangat mencintai Mas Erlangga. Keterpisahanku dengannya dulu, itu semua bukan keinginanku. Aku hanya memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hakku dan hak anakku, itu saja".
"Lalu, apa kamu tidak berpikir tentang hakku? saat ini aku adalah istri sahnya dan aku berhak untuk tidak membagi suamiku dengan wanita lain!", suara Kinara bergetar menahan luapan emosi di hatinya yang tiba-tiba saja meluap saat Viona mengutarakan maksud kedatangannya ke sana.
Hal yang sebetulnya tak ingin dia ucapkan karena dia sendiri belum bisa memastikan seperti apa perasaannya pada Erlangga. Meski mereka sudah cukup lama menikah dan Erlangga selalu memperlakukannya dengan baik dan istimewa, tapi itu semua belum bisa sepenuhnya membuka hati Kinara. Di sisi yang lain, dia sendiri tak ingin membagi suaminya dengan siapapun karena baginya, pernikahan adalah ikatan suci yang hanya bisa diikat oleh dua orang saja.
"Apa kamu sudah mulai mencintainya juga?", selidik Viona. Kinara terdiam.
"Aku tahu bagaimana kamu bisa menikah dengannya. Mana mungkin orang yang dijodohkan dengan terpaksa akan bisa mencintai dengan tulus", ejek Viona.
Kinara menatap tajam perempuan di hadapannya itu.
"Kamu tidak tahu apapun dan kamu tidak bisa mengukur perasaan seseorang hanya dari apa yang kamu lihat dan kamu dengar!", Kinara memberikan tekanan pada jawabannya.
Viona terkesiap, dia tak menyangka jika Kinara yang dikiranya wanita lemah bisa menjawab dengan setegas itu.
"Cukup! jangan bandingkan aku denganmu. Tanya dirimu sendiri, apa kamu bisa mengerti bagaimana perasaan seorang istri yang diminta untuk membagi suaminya dengan wanita lain? apa kamu mengerti betapa sesaknya hatiku saat kamu meminta hal itu padaku?", balas Kinara.
Viona terdiam, pertanyaan Kinara terasa menusuk baginya. Kedua wanita itu kini saling menunduk. Air mata mereka mulai menggenang di pelupuk mata.
"Setelah ini, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan milikku sekali lagi", ujar Viona. Dia berdiri dari tempatnya duduk dan segera membawa Alya dari apartemen itu.
Selepas kepergian Viona, Kinara memilih merenung sendiri. Laptop dia biarkan menyala tanpa ingin dia sentuh lagi. Air matanya berderai mengingat perdebatannya dengan wanita itu.
'Tuhan, apa salahku menikah dengan Mas Erlangga? aku harus apa?', bisiknya dalam hati.
Lelah dengan beban pikiran dan perasaannya, Kinara pun tertidur.
.
"Rik, tolong urus kepulangan gue ke Jerman".
"Siap, Han. Kapan lo mau berangkat?", tanya Erik. Mereka berdua sedang sibuk berkutat memeriksa berkas yang menumpuk di atas meja kerja Farhan.
"Tiga hari lagi", jawab Farhan pendek.
"Bukde Asri, gimana?", tanya Erik lagi.
"Ibu udah tahu kok gue mau balik ke Jerman. Gue harus segera menyelesaikan studi di sana dan...", jawaban Farhan menggantung. Matanya sejenak menghindar dari berkas-berkas yang ada di depannya.
"Dan apa, Han?", Erik penasaran.
__ADS_1
Tok...tok...tok
Pintu berbunyi sebelum sempat Farhan menjawab rasa penasaran Erik.
"Masuk", Erik yang merespon.
Terlihat kepala Ajeng menyembul dari balik pintu.
Erik langsung memasang wajah sumringah dan senyum yang manis.
"Ada apa Jeng? nyari aku ya?", Erik bertanya penuh percaya diri.
"Bukan. Ada perlu sama Pak Boss", jawab Ajeng enteng.
"Ada perlu apa?", Farhan menatap Ajeng.
"Nih, berkas penting yang harus sekarang juga ditandatangani sama Pak Boss", Ajeng menyodorkan berkas di tangannya.
"Hmm...berkas lagi, berkas lagi. Gak bisa ngasih yang lain apa?", canda Farhan, ia mengambil berkas itu, membacanya sebentar lalu mendatanganinya.
"Resiko boss ya gitu, diempani berkas terus", goda Erik. Farhan menatap sinis ke arah Erik.
Ajeng tersenyum melihat ulah kedua atasannya itu.
"Jeng, nanti kita makan siang bareng ya. Berdua aja, Pak Boss jangan diajak, ganggu", ajak Erik.
Ajeng memasang ekspresi berpikir, sedangkan Farhan tak merespon apapun.
"Aku yang traktir deh. Kita makan di luar, gimana?", tawar Erik lagi.
"Ok", jawab Ajeng pendek.
Wajah Erik semakin cerah mendengar jawaban Ajeng. Sesuai harapannya.
"Oh ya Jeng, Pak Boss kita tiga hari lagi mau balik lho ke Jerman".
"Oh ya? kok cepat amat balik ke sana lagi".
"Dasar ember", Farhan menimpuk Erik dengan pulpen di tangannya. Erik terkekeh.
"Studi aku di sana harus segera diselesaikan, Jeng", jawab Farhan.
"Oh...take care ya Pak Boss. Aku pasti kangen nih sama bossku yang baik ini".
"Ih ngapain kamu kangenin dia. Mending kangenin aku", timpal Erik genit.
Ajeng nyengir mendengar perkataan Erik, begitupun dengan Farhan, dia sampai menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan lupa kabari Kinara, Han. Kasihan dia, dulu kamu pergi gitu aja, gak ada kabar. Dia nikah, kamu juga gak datang. Sekalinya balik cuma sekali ketemu, itu juga bulan lalu. Aku sebagai sahabat dekatnya, tahu betul dia sedih karena kepergian kamu. Dia emang gak cerita, tapi kelihatan sedihnya", cerocos Ajeng.
Ada desiran yang berbeda di hati Farhan saat dia mendengar perkataan Ajeng. Disatu sisi dia merasa bersalah pada Kinara karena sikap dan keputusannya itu, tapi di sisi lain, dia harus melakukannya karena dia tak ingin menyiksa perasaannya sendiri. Nampak egois memang, tapi bagaimanapun juga, Farhan tetaplah lelaki biasa, yang punya rasa sakit melihat wanita yang dicintainya tak bisa dia miliki.
"Ya udah, aku balik ke ruanganku ya", suara Ajeng membuyarkan lamunan Farhan.
"Ok. Jangan lupa nanti siang ketemu di lobi ya", teriak Erik saat Ajeng sudah membuka pintu untuk keluar. Ajeng menjawabnya dengan menunjukkan jempol ibu jari.
"Lo kenapa Han? soal Kinara lagi?", Erik bisa membaca perubahan air muka Farhan.
__ADS_1
"Jadi selain karena studi, karena Kinara juga lo cepat-cepat balik ke Jerman?", selidik Erik.
"Udah ah Rik, gak usah sebut nama itu lagi. Kerjaan kita masih banyak dan ingat ya, lo jangan lupa urus kepulangan gue ke Jerman", Farhan memutus perbincangan itu. Dia tak ingin hati dan pikirannya semakin terpaut pada Kinara.