
"Kau bisa mencari Langit, rumahnya hanya 3 rumah dari sini. Minta dia antar kan kau ke penginapan dan juga..." Kirana menatap Altezza tak enak, "Bolehkah aku meminjam uangmu?."
"Tentu saja." Jawab Altezza.
"Suruh dia membeli bahan makanan." pesan Kirana pada Keenan.
Keenan mengangguk, ia keluar dari rumah Kirana dengan sukarela. Walau hatinya merasa berat, namun itu lebih baik daripada ia kehilangan pekerjaannya.
"Al, kapan kau berencana untuk pulang?."
"Besok pagi dan tentunya bersamamu."
"Aa? Tapi besok tidak akan ada kendaraan untuk pergi. Ada acara besar disini jadi banyak kendaraan tidak akan beroperasi." Ucap Kirana.
"Apa tidak bisa menyewa nya?."
Kirana menggeleng dan beranjak berdiri, "Besok kau ikut Keenan saja ke penginapan ya."
"Kenapa?."
"Aku tidak ingin tidur di luar." Kirana kembali dari kamarnya dengan membawa bantal dan selimut.
Altezza mengangkat alisnya, "Kenapa kau harus tidur di luar? Kau kan bisa tidur di dalam kamar."
"Lalu kau?."
"Aku?." Altezza menunjuk dirinya sendiri lalu tersenyum lebar, "Tentu saja harus tidur bersamamu."
Kirana melempar bantal ke wajah Altezza, "Kita bahkan belum menikah."
Altezza tertawa, dia hanya menggoda Kirana saja.
Tok..tok
Kirana membuka pintu tampak seorang pria dengan wajah datar memberikan kresek putih besar pada Kirana kemudian ia masuk kedalam memandang Altezza, "Jadi dia calon suamimu?."
Kirana mengangguk.
Langit menendang Kursi didepannya dan menatap Altezza tajam, "Jika kau membiarkannya menangis lagi, aku tidak akan segan-segan."
Langit memberi isyarat menggerakkan ibu jari dari sisi kanan ke kiri terlihat seperti-
"Langit bukan dia yang membuat ku menangis." Potong Kirana dan menurunkan tangan Langit.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu." Langit pergi keluar meninggalkan Altezza dan Kirana yang menatapnya bingung.
Mereka berdua kemudian saling memandang, "Kirana dia siapa?."
"Langit, kau jangan khawatir dia hanya bercanda." Ucap Kirana sambil mengecek belanjaannya, "Aku akan memasak kau tung-"
"Aku saja." Ucap Altezza dan merebut belanjaan itu dari Kirana.
Altezza berjalan ke dapur, disana hanya ada air putih dan juga beberapa bungkus Mie.
Ia sedikit marah didalam hatinya, kenapa dia tidak bisa kembali lebih cepat?.
Altezza mulai memasak, ia tidak membiarkan Kirana membuatkan makanan untuknya setelah kekacauan yang ia buat.
....
__ADS_1
"Ini makanan untukmu." Altezza menyajikan makanan, Kirana tersenyum senang dan bertepuk tangan, "Akhirnyaaaa"
"Em akhirnya setelah makan mie kau bisa makan seperti ini. Kirana kau tidak tau betapa kesalnya aku karena kau sama sekali tak menghubungi ku." Ucap Altezza dengan wajah cemberut.
Kirana mencubit pipi Altezza geram, "Semua sudah berlalu, sekarang sudah ada kau jadi aku tidak khawatir lagi."
Setelah makan mereka berdua duduk di depan rumah sambil memandangi bintang yang memenuhi langit.
"Bukankah di kota sangat jarang melihat bintang?".
Altezza mengangguk membenarkan, ia menatap Kirana lekat dan berucap dengan pelan, " Kirana maafkan aku."
_&_&_
Kirana menundukkan kepala nya di sofa, ia mengenakan gaun pengantin putih dengan bordir buatan tangan yang sangat indah.
Saat ini ia duduk sendiri tanpa Altezza, mereka semua tampak berbincang dengan riang.
Bagi Kirana pernikahan ini terasa sangat hampa. Ayahnya sakit, Mamanya dan Papa Altezza hanya datang sebentar.
Neneknya? Ah dia sedang menyombongkan Kirana kepada kenalannya.
"Mama."
Liam mengejutkan Kirana yang melamun membuatnya tersenyum, "Kau mengejutkanku."
"Kenapa sedih?."
Kirana menggeleng ia lalu berdiri menyambut Ravindra.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua. Dan ini."
"Apa ini?."
"Mobil." Jawab Liam, "Setelah Mama nerima ini berarti Mama harus mau nemuin Liam tiap Liam minta."
Kirana duduk sejajar dengan Liam dan mengacak-acak rambutnya, "Baiklah, Liam tenang saja."
"Dimana Altezza?." Tanya Ravindra.
Kirana menggeleng tak tahu hingga kemudian ia melihat Altezza yang menghampirinya dengan wajah datar.
Altezza terdiam sebentar, ia menunduk kemudian menatap Kirana, "Aku akan pulang lebih dulu. Kau bisa pulang bersama Keenan nanti."
Tanpa menunggu jawaban Kirana, Altezza pergi begitu saja meninggalkan Kirana.
Altezza pergi dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak kesal dan sesekali ia akan memukul stir mobilnya.
Pertemuannya dengan Izumi sesekali lagi memenuhi pikirannya.
Flashback
Altezza menatap Izumi didepannya dengan tangan terkepal, mereka berada ditempat yang tak terlihat dari tempat Kirana berada.
"Apa hanya perasaanku saja atau dia memang mirip denganku?." Tanya Izumi menatap Kirana dari jauh.
"Dia memang mirip denganmu." Jawab Altezza kemudian menambahkan, "Dan karena itu aku menikahinya."
Senyum Izumi menjadi kaku, ia menatap Altezza dengan lembut dan memegang tangannya, "Tidak ada dari kita yang ingin ini terjadi. Namun mustahil untuk kita bersama, karena kau sudah memilikinya maka cintai dia."
__ADS_1
Altezza menarik tangannya, "Tapi Izumi aku masih mencintaimu."
"Aku juga." Balas Izumi, "Tapi Altezza kau sangat mengerti status kita berdua. Kita tak mungkin bersama, maka mari kita capai kebahagiaan kita masing-masing."
Sebelum pergi Izumi memeluk erat Altezza, "Aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Berbahagialah."
Ia pergi dengan senyum, namun Altezza tau ada kecemburuan dihatinya.
Izumi selalu begitu.
Dia tidak pernah ingin orang lain tau tentang perasaannya.
Bahkan sekarangpun dia masih memendam kesedihannya."
Flashback end
Altezza menghentikan mobilnya, ia menyandarkan tubuhnya dengan mata yang terpejam dan alis yang mengkerut.
Sejujurnya dia muak berpura-pura dihadapan Kirana dan bersikap baik padanya.
Altezza bahkan sangat ingin mengomentari apapun yang ia lakukan.
Ia ingin menjadikannya sebagai Izumi. Dan mulai malam ini ia akan melakukannya.
Ia tidak akan menyiksa dan menyakiti Kirana, ia hanya ingin Kirana mengikuti perintahnya.
Hanya itu!
_&_&_
"Dimana Altezza?." Tanya Jessica yang baru saja datang bersama asistennya, ia menatap Kirana dengan mengejek.
"Dia baru saja pulang, karena ada pekerjaan."
Jessica menutup mulutnya menahan tawa, "Siapa yang akan meninggalkan pengantinnya hanya untuk pekerjaan kecuali dia tidak berharga."
"Aish karena dia juga tidak ada aku pergi." Ucap Jessica berbalik pergi meninggalkan Kirana.
Kirana terdiam sesaat dan memikirkan ucapan Jessica, dia benar? Apa dirinya tidak berharga?
Raut wajah Altezza hari ini sama sekali tidak bersahabat, saat berpamitan pun dia seakan-akan ingin lari dari dirinya.
Namun kenapa? Bukankah Altezza mencintainya?
Bukankah seharusnya ini menjadi momen yang berharga untuk mereka berdua?
Kirana bingung sesaat banyak pertanyaan negatif muncul di dalam pikirannya hingga kemudian Liam datang memeluknya "Mama pulang bareng Liam aja ya."
"Mama nanti pulang sama Keenan." Ucap Kirana.
Liam menunduk dan naik ke sofa, "Karena Altezza gak ada, Liam yang bakal jadi pengantinnya ya."
Kirana tertawa kecil dan mencium pipi Liam.
Wajah Liam memerah, ia menutup wajahnya dan sedikit mengintip ketika Mama dan Papanya tertawa.
Mama dan Papa?
"Auh Seandainya Mama nikah sama Papa." Batin Liam.
__ADS_1