
Langit Paris hari ini begitu cerah, Kinara memilih berkeliling sekitar kampus selepas kuliah. Pertemuannya dengan Farhan beberapa waktu yang lalu masih saja mengusik pikirannya.
"Hei, melamun sendirian", kedatangan Ananta mengejutkan Kinara yang tengah termenung di salah satu bangku taman.
"Kamu ya An, suka datang tiba-tiba", Kinara mengelus dadanya.
Ananta tersenyum simpul dan dia memilih duduk di sebelah sahabatnya itu.
"Kenapa melamun? apa ada masalah?", selidik Ananta langsung.
Kinara tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya.
"Hm, jangan terlalu lama berpikir, Ra. Tuhan memberimu kesempatan kedua. Jika kamu melewatkannya lagi, kesempatan ketiga belum tentu datang kembali", ujar Ananta sambil mengunyah coklat yang tadi dia beli di kantin kampus.
Kinara mengernyitkan dahinya, heran.
"Aku sudah tahu semuanya. Kamu pasti merasa terbebani dengan hal itu bukan?", Ananta melirik ke arah Kinara.
"Hal apa?".
"Soal Farhan, teman kakakku itu", jawab Ananta enteng.
Kinara terkejut mendengar jawaban Ananta.
"Apa kakakmu menceritakan soal itu padamu?", tanya Kinara.
Ananta mengangguk, "Kakakku sangat dekat dengan Farhan dan ya kamu juga tentu tahu jika kakakku juga menyukaimu. Dia sempat terlihat murung beberapa waktu lalu. Aku memaksanya bicara dan akhirnya dia menceritakan semuanya padaku".
"Ku harap kamu tidak marah, Ra. Aku mengerti dengan keadaanmu, keadaan Farhan juga keadaan kakakku. Aku senang kakakku bisa berbesar hati mendukung sahabatnya dan melupakan perasaannya padamu. Aku pun setuju dengan apa yang kakakku lakukan. Aku yakin Farhan lelaki yang baik meskipun aku belum terlalu mengenalnya tapi hatiku percaya dia benar-benar baik", lanjut Ananta.
Kinara menarik nafas dalam, ucapan Ananta kembali mengingatkannya pada sosok Farhan. Apa yang dikatakan Ananta memang benar, selama Kinara mengenal Farhan, belum pernah dia melihat hal buruk dari pribadi Farhan sebagai seorang lelaki.
"Aku ingin sahabatku ini bahagia", Ananta membalikkan tubuhnya menghadap Kinara.
Kinara tersenyum tipis, "Terimakasih", jawabnya pendek.
__ADS_1
Waktu berlalu dan kini Kinara sudah kembali ke apartemennya. Pikirannya semakin kalut setelah perbincangan tadi siang dengan Ananta.
Hai, aku hanya ingin mengabari jika hari ini aku kembali ke Indonesia. Jaga dirimu baik-baik di sini.
Sebuah pesan singkat dari Farhan baru saja Kinara baca. Entah kenapa hatinya terasa sesak saat membaca pesan itu.
Ya, terimakasih sudah mengabariku. Hati-hati.
Hanya itu balasan yang bisa Kinara berikan.
Sementara itu, di bandara, Farhan nampak duduk menunggu jadwal keberangkatannya. Giovani ada bersamanya.
"How about her, Han?", tanya Giovani selepas Farhan memasukan ponselnya ke dalam jas.
"Sudah ku kabari", jawab Farhan pendek.
Giovani menepuk pundak sahabatnya itu, "Tenanglah, aku dan Ananta pasti menjaga Kinara di sini. Dia mungkin masih butuh waktu untuk meyakinkan perasaannya, dengan kondisinya saat ini memang itu bukan hal yang mudah".
Farhan tersenyum mendengar ucapan Giovani. Pengumuman keberangkatan pesawat pun terdengar, Farhan segera berpamitan kepada Giovani. Giovani mengiringi kepergian Farhan dengan pelukan persahabatan dan lambaian tangan.
"Sayang...", sebuah suara membuat Kinara tersadar.
"Mas...Mas Erlangga", Kinara tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.
Sosok itu tersenyum hangat kepadanya. Kinara segera menghamburkan pelukannya dan menangis sesegukan.
"Jangan menangis", Erlangga membalas erat pelukan Kinara.
"Maaf aku baru menemuimu kembali", lanjutnya lagi.
"Mas...aku rindu, rindu sekali", ujar Kinara di tengah isak tangisnya.
"Aku pun demikian, sayang", jawab Erlangga.
Erlangga melonggarkan dekapannya dan menatap mata Kinara yang sembab.
__ADS_1
"Aku senang melihatmu baik-baik saja tanpaku", ujar Erlangga lembut dan menyeka air mata Kinara.
"Sayang, aku ingin kamu melalui sisa waktumu dengan bahagia. Jangan ragu dengan perasaanmu. Farhan adalah lelaki yang baik, aku percaya dia akan menjagamu dengan baik", Erlangga menggenggam kedua tangan Kinara.
Kedua mata Kinara masih berkaca-kaca, "Apa maksudmu, mas?".
Erlangga tersenyum manis, "Farhan adalah lelaki yang Tuhan pilihkan untukmu dan aku berbahagia untuk itu".
"Mas...ta...tapi...", belum selesai Kinara berbicara, perlahan sosok Erlangga memudar dan menghilang dari hadapannya.
"Terimakasih telah mencintaiku, sayang. Kini saatnya kamu membuka hatimu, dan aku akan bahagia", hanya suara itu yang Kinara dengar saat dirinya mencari-cari sosok Erlangga.
"Mas...Mas Erlangga...mas...", Kinara membuka matanya. Dia terbangun dari tidurnya. Rupanya dia bermimpi.
Kinara mencoba menenangkan dirinya. Dia mengambil segelas air putih di atas nakas.
"Ternyata itu mimpi", bisiknya sendiri
Mimpi yang baru saja dia alami terasa begitu nyata. Ingatan Kinara kembali melayang, mengingat sosok Erlangga yang baru saja ia temui dalam mimpinya.
"Apa benar itu kamu, mas? kenapa kamu cepat sekali pergi? aku masih sangat merindukanmu", ucap Kinara lirih.
Diambilnya bingkai foto yang memuat potret dirinya dan Erlangga. Tanpa disadari air mata Kinara menetes. Ada kesedihan dan rasa haru yang dalam di hatinya.
"Aku mencintaimu, mas dan aku rindu, sangat rindu", Kinara memeluk bingkai foto itu seolah ia sedang memeluk Erlangga.
Mimpinya membuat Kinara memilih untuk tak melanjutkan tidur. Diliriknya jam di dinding kamar, masih pukul tiga dini hari waktu Paris. Kinara memilih untuk berwudhu dan melaksanakan sholat sunah untuk menenangkan hatinya.
"Tuhan, aku tidak tahu apakah yang hadir di mimpiku itu benar suamiku atau bukan. Tapi sungguh, aku ingin menitipkan pesan padanya, Tuhan. Aku sangat mencintai dan merindukannya. Berilah dia kebahagiaan dan tempat terbaik di sisi-Mu", do'a Kinara.
Selepas sholat sunah, hati Kinara terasa lebih tentram. Dia kini tengah duduk di samping jendela kamar yang sengaja dia buka. Matanya melihat keindahan Paris yang masih dihiasi cahaya lampu.
Ucapan Erlangga kembali terngiang di telinga Kinara. Pesannya untuk membuka hati dan memberikan kesempatan kepada Farhan begitu mengusik hatinya saat ini.
"Apa benar mas kamu menginginkan hal itu? Farhan memang lelaki yang baik, tapi untuk menggantikanmu di hatiku rasanya sulit sekali", gumam Kinara sendiri.
__ADS_1
Kilatan sosok Farhan pun ikut berkelebat dalam ingatan Kinara. Kinara benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.