
"Han, Pak Samuel minta kita mengagendakan meeting malam ini sambil dinner keakraban katanya", Erik membuka suara di balik telepon.
"Ck, masa meeting malam-malam sih, Rik. Gak bisa besok pagi atau siangnya aja gitu", keluh Farhan merespon perkataan Erik.
Semenjak Farhan menjadi pimpinan perusahaan, ia merasa begitu lelah, sedari pagi sampai malam, selalu ada saja pekerjaan yang harus ia selesaikan. Farhan masih harus banyak beradaptasi dengan ritme tanggungjawab barunya itu. Beruntung, ada Erik di sisinya yang selalu siap sedia membantu.
"Enggak bisa lah, bro. Besok itu Pak Samuel balik lagi ke Belanda. Ini proyek besar, bro. Investasinya luar biasa. Lagi pula, dari zaman Pakde Surya, Pak Samuel udah jadi klien utama kita", Erik berusaha menjelaskan.
Farhan menarik nafas berat saat mendengar nama ayahnya disebut, "Ok Rik, jadwalkan meeting kita dengan Pak Samuel nanti malam".
"Siap bos", jawab Erik cepat dan segera menutup teleponnya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 WIB. Selepas sholat maghrib berjama'ah, Kinara dan keluarganya terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri jamuan makan malam keluarga Pak Wijaya.
"Kak, menurut kakak gimana, ok gak kalau aku pakai ini?", Alisa menunjukkan dress polos berwarna pink yang ia kenakan.
"Bagus, dek. You're looks so awesome", jawab Kinara setelah memperhatikan penampilan adiknya itu.
Alisa tersenyum, lalu ia berlalu untuk menata rambutnya.
Kinara memilih mengenakan dress berwarna hijau muda dengan hiasan renda berundak di bagian bawah dress-nya. Ia menyempurnakan tampilannya dress itu dengan menambahkan bolero berwarna lebih pekat. Ia mengepang kecil kedua sisi rambutnya, lalu ia satukan dan diikat ke belakang. Tak lupa, poni depan ia rapikan ke samping kiri dahinya. Beberapa kali ia berputar di depan cermin.
'Cantik', batinnya sendiri sambil tersipu.
"Kinara, Alisa, ayo udah beres belum dandannya? bapak udah nunggu kita lho di mobil", terdengar suara ibu memanggil nama mereka.
"Iya bu", terdengar jawaban yang kompak dari Kinara dan Alisa.
Kinara segera mengambil tas kecil kesayangannya, ia lingkarkan di bahunya, sedangkan Alisa betah dengan tas ransel imut miliknya.
"Waahh....putri-putri ibu cantik sekali", ibu memuji tampilan kedua anak perempuannya.
Kinara dan Alisa kompak tersenyum, "Siapa dulu dong ibunya", Alisa balik memuji. Kinara merespon dengan anggukan. Ketiganya segera keluar, menuju mobil yang sudah bapak siapkan.
**
Sementara itu di Resto Bahagia, terlihat Farhan, Erik, Pak Samuel dan asistennya nampak serius berbincang. Sesekali mereka tertawa bersama, dan tak lama, perbincangan itu diakhiri dengan penandatanganan berkas juga jabat tangan.
"Thank you so much Mr. Farhan, I'm so glad with our deals", ucap Pak Samuel sambil menjabat tangan Farhan.
__ADS_1
"I'm too, sir. Hope our deals can to long", jawab Farhan.
Pak Samuel dan asistennya mengangguk, "We're left now, Mr. Farhan and Mr. Erik", Farhan menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dan meminta Erik mengantarkan kliennya itu ke depan resto.
"Thank you sir, take care for your fly tomorrow", Erik menyampaikan kalimat perpisahan sebelum Pak Samuel dan asistennya masuk ke dalam mobil.
Pak Samuel menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
Erik segera kembali menemui Farhan yang nampak serius melihat layar HP miliknya.
"Sukses besar kita, bro. Gue gak nyangka Han, lo jago juga deal-deal-an begitu", puji Erik.
Farhan mengangkat kepalanya, "Jangan berlebihan gitu, Rik. Gue kan juga bisa gitu dibantu sama lo. Kalau pengalaman make a deal pastinya lo lebih paham lah daripada gue".
Erik tersenyum, "Darah pengusaha emang ngalir alami ya Han di diri lo. Pakde Surya bos Ganindra Group, Bukde Asri bos catering. Salut gue sama keluarga Ganindra, plus bangga juga karena kita saudara".
Farhan tersenyum mendengar perkataan Erik.
"Tapi Rik, gue merasa butuh kuliah lagi nih. Gue butuh dukungan ilmu yang cukup soal dunia usaha seperti ini", Farhan mengutarakan keinginannya.
Erik menarik badannya maju, "Serius lo mau kuliah lagi? tapi iya juga sih, Han. Gue kan cuma bisa share pengalaman selama kemarin-kemarin dampingi bapak mengelola perusahaan, kalau ilmunya memang lo butuh kejar sendiri ya".
Farhan mengangguk, "Tadi gue udah cek Rik beberapa kampus di luar negeri yang punya jurusan yang gue butuhkan buat nopang skill bisnis gue", Farhan memberikan HP-nya kepada Erik.
Farhan menganggukan kepala, "Gue mau lanjut kuliah ke sana, Rik. Gimana menurut lo?"
Erik terdiam sejenak, "Lo tuh ya Han, kalau urusan sekolah suka gak nanggung. Salut gue lo minat sekolah ke sana, gue aja ngerasa cukup masuk ke sekolah bisnis ITB. Tapi gue dukung, lo gak usah pikirin soal finansial, itu gue yang urus, ok?".
Farhan mengangguk senang. Ia merasa bersyukur memiliki saudara seperti Erik. Sebetulnya usia Erik dan Farhan terpaut tiga tahun, Erik lebih tua. Tapi Erik selalu pandai membawa dirinya sebagai teman sebaya sekaligus kakak untuk Farhan.
Keluarga Kinara sudah sampai di Resto Bahagia. Bapak segera memarkirkan mobilnya.
"Ayo kita masuk", ajak bapak. Ibu, Kinara dan Alisa mengangguk. Mereka berempat berjalan beriringan.
"Ra, Kinara", sebuah suara menghentikan langkah Kinara. Ia menengok ke kanan dan kiri mencari-cari suara orang yang memanggilnya.
Seseorang terlihat berdiri dan melambaikan tangan di sebelah utara dari tempatnya berdiri. Kinara tak terlalu jelas melihat wajahnya, karena jarak mereka agar berjauhan, tapi Kinara merasa familiar dengan suara itu.
"Kenapa, Ra?", suara bapak membuat Kinara terhenyak. Ia menghampiri putri sulungnya yang tiba-tiba saja berhenti.
"Enggak ada apa-apa pak. Tapi sepertinya di sana ada teman Nara. Bolehkah Nara menemuinya sebentar? nanti Nara nyusul secepatnya ke dalam", pinta Kinara.
__ADS_1
Bapak menganggukan kepalanya dan segera menyusul istri dan putri bungsunya, "Jangan lama-lama ya".
Kinara menganggukan kepalanya lalu pergi untuk menghampiri pemilik suara yang tadi memanggilnya.
"Farhan", ucap Kinara begitu ia sampai di depan lelaki yang tadi menyapanya.
"Hai Ra, selamat malam", Farhan membuka suara lengkap dengan senyum manis dan lesung pipit dikedua pipinya.
Kinara tersenyum, "Selamat malam". Ia masih berdiri di samping meja, begitupun dengan Farhan. Dia mencuri pandang mengamati penampilan Kinara.
"Kamu....cantik", tanpa sadar Farhan mengucapkan kalimat itu.
Kinara tersipu mendengar pujian dari Farhan.
"Ehem....", suara Erik memecahkan kebekuan antra Farhan dan Kinara.
"Eh, sorry sorry. Duduk, Ra", Farhan gelagapan mempersilahkan Kinara untuk duduk.
"Gak usah, Han. Aku ke sini karena tadi mendengar namaku dipanggil. Lagi pula keluargaku sepertinya sudah menunggu di sana", Kinara menunjuk ke arah balkon resto itu.
Farhan tersenyum, "Oh, ya. Maaf, tadi aku gak sengaja lihat kamu masuk, awalnya aku kira itu bukan kamu, Ra, habis penampilannya beda sih, tapi ternyata pas aku panggil, beneran kamu ya. Kamu lagi dinner sekeluarga di sini?".
Kinara mengangguk.
"Ehem....ngenes juga ini dianggap tembok", seloroh Erik.
Farhan dan Kinara berbarengan menatap Erik.
"Eh, sorry, Rik. Oh ya Ra, kenalkan, ini Erik, sepupu sekaligus manajer di kantorku", Farhan memperkenalkan Erik kepada Kinara.
Erik segera mengulurkan tangan, disambut oleh tangan Kinara.
"Kenalkan, aku Kinara, teman Farhan", ucap Kinara.
"Erik. Senang sekali akhirnya bisa ketemu langsung sama calon istrinya Farhan", ucapan Erik refleks direspon dengan pukulan keras Farhan di lengan kirinya.
"Aduh, sakit Han", rintih Erik sambil mengusap lengan kirinya.
"Sorry ya Ra, sepupuku yang satu ini memang kadang suka asal bicara", Farhan merasa tidak enak karena ulah Erik.
Kinara mencoba tetap tersenyum, "Tak apa, Han. Oh ya, aku pamit dulu ya, Han, Rik".
__ADS_1
Erik dan Farhan menganggukan kepala berbarengan, melihat Kinara berlalu dari hadapan mereka.