
Pagi ini Farhan sudah merapikan dirinya. Jam 10 nanti dia ada jadwal kuliah, tapi sebelum berangkat, ia sempatkan menelepon ibunya di Indonesia.
"Assalamualaikum, selamat pagi, bu", sapa Farhan membuka perbincangangannya dengan sang ibu.
"Waalaikumusalam, Han", jawab ibunya sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu, tertera pukul 14.00 WIB di Indonesia.
"Ibu apa kabar?", tanya Farhan.
"Alhamdulillah kabar ibu baik, nak. Kamu sehat di sana?", tanya ibu balik.
"Alhamdulillah aku sehat, bu. Oh iya bu, ada hal penting yang ingin Farhan sampaikan ke ibu", nada bicara Farhan mulai tedengar serius.
"Ada apa nak?", tanya ibunya laginya.
Terdengar suara Farhan menarik nafas dalam. Ia mencoba menata kalimat yang akan disampaikannya kepada sang ibu.
"Mmm...Farhan, mau melamar seseorang bu di sini", jawabnya pasti.
Bu Asri nampak sumringah mendengar perkataan anak semata wayangnya itu.
"Wanita mana yang sudah membuat anak ganteng ibu jatuh hati lagi?", goda Bu Asri.
Farhan tersenyum di balik telepon, "Namanya Elene Morris, bu. Dia teman sekelas Farhan di kampus. Dia wanita yang baik, periang, ramah dan cerdas. Orang tuanya pun sangat baik kepada Farhan", Farhan mendeskripsikan sosok Elena dan keluarganya kepada Bu Asri.
"Ibu senang mendengarnya, nak. Jika kamu memang sudah berniat kuat untuk menikahinya, segerakan, ya. Ibu akan selalu merestui siapapun yang menjadi pilihan hidupmu", jawab sang ibu.
Farhan merasa lega karena ibunya mendukungnya dengan penuh.
"Terimakasih, bu. Aku harap ibu bisa ke sini untuk menemaniku melamar Elena akhir minggu ini", kata Farhan lagi.
Bu Asri terdiam, dilihatnya buku agenda yang sedang ia pegang.
"Mendadak sekali, Han. Tapi nanti ibu usahakan menyusulmu ke sana, ya", janji ibunya.
Senyum Farhan merekah, "Terimakasih bu, maaf jika ini mendadak, Farhan tak mau menggantung perasaan Farhan seperti dulu, bu. Nanti Farhan minta Erik untuk mengurus semua keperluan keberangkatan ibu ke sini, ya", ucap Farhan lagi.
Ada haru di hati Bu Asri. Ia tahu betul seperti sedihnya Farhan ketika lamarannya dulu tak pernah berbalas, oleh karenanya ia mencoba memahami kenapa Farhan begitu mempercepat segalanya.
"Iya, nanti ibu tunggu Erik ke sini untuk mengurus semua yang kamu butuhkan", ucap sang ibu dan Farhan menyetujuinya.
Tak lama, perbincangan mereka pun berakhir.
Farhan segera mengontak Erik untuk menyiapkan segela kebutuhan keberangkatan ibunya ke Jerman.
__ADS_1
"Ya kenapa, Han?", tanya Erik yang nampak sibuk di depan layar laptop saat Farhan menghubunginya.
"Rik, tolong lo urus semua keperluan ibu gue buat berangkat ke Jerman hari Jum'at ini ya", perintah Farhan.
"Bukde Asri mau ke Jerman? ada apa? kok dadakan gitu, Han", tanya Erik, dia menghentikan sejenak aktivitas kerjanya.
"Gue mau lamaran, Rik, jadi secepatnya ya lo urus", perintah Farhan lagi.
"What? lo mau lamaran? di Jerman?", tanya Erik terkejut tak percaya.
"Iya lah masa lamaran di kutub utara. Udah ah cepetan lo urus semuanya dan apapun yang ibu gue bilang, lo siapkan!!!", kata Farhan galak.
"Eh bentar bro, ini serius lo mau lamaran? kok lo gak kasih tahu gue sih? gue gak diajak nih ke Jerman?", berondong Erik.
"Ck, kalau diceritain sekarang, panjang, Rik. Ya terserah, kalau lo mau ke sini juga boleh. Sekalian ajak Paman Erwin dan Bibi Sari, ok?", Farhan menyebut nama kedua orang tua Erik.
"Sip, gue urus hari ini juga. Nanti gue bilang sama keluarga gue. Akhirnyaaa, gue bisa terbang ke Jerman, keren", Erik berseru girang.
"Eits, jangan lupa, sebelum lo ke sini, urus dulu kerja sama bisnis di Surabaya", lagi, Farhan memerintah Erik.
"Soal itu tenang aja Han. Gue pastikan urusan di kantor ready semua sebelum gue terbang ke sana", jawab Erik optimis.
Farhan tersenyum mendengar jawaban sepupunya itu, 'Dia selalu bisa diandalkan', puji Farhan tak terkatakan.
Terdengar suara tawa Farhan meledak di ujung sana.
"Makanya lo kali-kali jalan lah keluar, cari yang bening-bening. PDKT sama berkas dan laptop melulu sih lo", ledek Farhan.
"Ah lo kek gak tahu aja, Han. Urusan kantor banyak banget, secara, gue kan tangan kanan lo nih, ya gue totalitas dong sama perusahaan ini. Makanya Han, lo bantu cariin ya ya", rengek Erik membuat Farhan bergidik mendengar rengekannya itu.
"Iya, nanti kalau ada yang mau, ok?. Udah dulu ya Rik, gue harus ke kampus sekarang nih, ngejar jam kuliah", ucap Farhan.
"Iya, tapi janji ya, cariin gue jodoh juga di sana", Erik masih merajuk. Farhan hanya meng-iya-kan dan segera menutup teleponnya.
**
Elena sedang merapikan dirinya di depan cermin. Hari ini hatinya sedang berbunga-bunga. Sepanjang merias diri, Elena terus menyunggingkan senyumnya, pun saat di meja makan.
"Honey, you're looks happy today", kata Bu Tatiana, ibunda Elena yang merasa heran dengan sikap Elena pagi ini. Tak biasanya putri kesayangannya itu secerah ini.
"Yes mom, I feel so happy", jawab Elena lugas.
"I think something was happen with you, right?", tanya sang ayah, Pak James yang sedari tadi ikut memperhatikan Elena.
__ADS_1
"Tell us, what is it?", Bu Tatiana memasang wajah penasaran.
Wajah Elena tetiba saja merona, terngiang kembali ungkapan hati Farhan semalam kepadanya.
"Mmm...mom, dad, last night Farhan called me and he said if he want to proposal me", jawab Elena malu-malu.
"Are you seriously?", tanya Bu Tatiana tak percaya.
Elena tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya pasti.
"Dear...this...", Bu Tatiana menatap ke arah suaminya, menunggu respon sang suami.
"That's a good news for us. I blessed you, honey. Farhan is a good man. I trust him, he can be a good husband for you", jawab Pak James tanpa ragu.
Elena segera memeluk ayahnya. Ia tak menyangka jika sang ayah akan merespon Farhan sebaik itu.
"Thank you so much, dad. On sunday Farhan will come here to say directly to you and mom", ujar Elena sambil melirik ke arah ibunya.
Bu Tatiana tersenyum dan menganggukan kepala. Ia sependapat dengan suaminya. Meskipun baru beberapa kali saja mereka bertemu dengan Farhan, tapi ia dan suaminya bisa menilai kepribadian Farhan sebagai seorang lelaki, dan sejak pertemuan pertama mereka, Bu Tatiana dan Pak James berharap besar jika Farhan bisa berjodoh dengan putrinya.
Elena segera menghabiskan sarapan paginya dan berpamitan untuk pergi ke kampus.
"Guten morgen", sapa Elena mengejutkan Farhan yang sudah duduk di ruang kelas sambil membaca buku.
"Oh hai, El. Guten morgen", jawab Farhan mengalihkan pandangannya kepada Elena.
Entah kenapa perasaan Elena begitu gugup saat Farhan menjawab sapaannya. Terlebih ketika dia melihat senyuman manis di bibir Farhan. Ada perasaan yang aneh di hatinya.
"Han, aku sudah berbicara dengan kedua orang tuaku soal rencana kedatanganmu ke rumah kami akhir pekan ini. Mereka sangat senang mendengar apa yang kamu sampaikan semalam kepadaku, dan mereka siap bertemu denganmu", terang Elena setelah dia duduk di samping Farhan.
"Oh, that's good. Aku juga sudah menghubungi ibuku di Indonesia dan memintanya untuk datang ke sini, aku akan mengajaknya untuk melamarmu nanti", kata Farhan yang dijawab dengan senyum sumringah Elena.
Elena masih tak menyangka jika Farhan akan seserius ini, dia bahkan akan mengajak ibunya menemui keluarganya di sini. Tapi Elena senang dengan lekaki seperti Farhan. Lelaki dewasa dan tak pernah main-main dengan niatannya.
"Han, mmm....kenapa kamu ingin melamarku? tidakkah kamu tertarik kita berpacaran dulu?", tanya Elena hati-hati.
Farhan menatap Elena dengan senyum tipis di bibirnya.
"Sudah ku katakan El, aku tak ingin membangun komitmen yang tak jelas dengan seseorang. Sedari dulu, awal aku menyadari bahwa suatu saat aku akan menikah dan berumah tangga, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak merengkuhnya dengan jalan pacaran itu. Aku ingin membangun komitmen yang pasti saat aku sudah menemukan sosok perempuan yang aku cari, dan kini aku sudah menemukanmu, kamu", terang Farhan membuat wajah Elena merona mendengarnya.
Jantung Elena berdegup kencang. Ini kali pertama ia bertemu dengan seorang lelaki yang tak main-main dengan dirinya, dan itulah satu hal lain yang membuat Farhan begitu istimewa di mata Elena.
Perbincangan mereka terhenti saat dosen sudah masuk ke dalam kelas. Sejenak, Elena bisa menyimpan buncahan di hatinya.
__ADS_1