
Farhan sudah kembali ke apartemennya. Suasana sore ini dia nikmati sendiri, ditemani secangkir teh manis hangat dan beberapa buku yang tengah ia baca sebagai referensi tesisnya.
"Ya hallo...ada apa Rik?", tanya Farhan saat fokusnya terganggu dengan getaran ponselnya di meja.
"Han, kerja sama kita dengan Wijaya Group sepertinya akan tertunda. Gue baru dapat kabar dari asisten pribadinya Pak Erlangga kalau bossnya saat ini sedang dirawat di rumah sakit", terang Erik.
"Dirawat? dimana?", tanya Farhan yang terkejut mendapat berita itu.
"Pak Erlangga mengalami kecelakaan di lokasi proyek di Surabaya", kata Erik lagi.
"Kondisinya gimana sekarang, Rik?".
"Gue belum tahu. Nanti gue cari infonya. Gue cuma mau kabari itu aja".
"Ok, kabari gue lagi kalau ada berita penting", pesan Farhan diakhir teleponnya.
Dia menghirup nafas dalam, pikirannya diliputi banyak pertanyaan.
'Bagaimana kondisi Erlangga saat ini? dan Kinara, bagaimana keadaannya?', ingatannya terpaut kepada teman lamanya itu.
Meskipun diawal pertemuan Farhan sebagai rekan bisnis Erlangga, dia mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, tapi Farhan peduli dengannya. Bagaimana pun juga, dulu Erlangga pernah menjadi dosennya, dan Farhan memaklumi sikap posesifnya kepada Kinara. Hal yang wajar dilakukan oleh seorang suami untuk melindungi istri yang dicintainya.
Tangan Farhan mulai mencari-cari nomor kontak Kinara.
"Apa tidak sebaiknya aku menunggu saja kabar dari Erik?", gumamnya, mengurungkan niat untuk menghubungi Kinara.
Dia tak ingin memperkeruh keadaan di tengah kondisi seperti ini. Meskipun Farhan tak berniat buruk, tapi sebisa mungkin dia menahan dirinya untuk tidak mencoba lagi mendekati atau berkomunikasi dengan Kinara.
"Semoga kondisi Erlangga dan Kinara baik-baik saja", do'a Farhan tulus.
.
Sementara itu, Erik sedang berusaha menghubungi Ajeng. Sudah hampir satu minggu Ajeng tidak masuk kerja. Dia hanya menerima informasi dari HRD dan atasan Ajeng di Divisi Desain jika Ajeng mengambil cuti karena ada keperluan keluarga di Surabaya.
"Hallo...".
__ADS_1
Akhirnya panggilan Erik diterima setelah beberapa kali dia mencoba menghubungi Ajeng.
"Sorry kalau waktunya gak tepat. Aku hanya ingin memastikan kondisimu dan kondisi kakakmu di sana, bagaimana?", ucap Erik to the point.
Terdengar suara Ajeng menghela nafas, "Kondisiku baik. Maaf aku mengajukan cuti agak lama. Saat ini kakakku belum sadarkan diri, dia masuk lagi ke ruang operasi", suara Ajeng bergetar. Sungguh, saat ini dia benar-benar ingin menangis, dan entah kenapa dia merasa ingin menumpahkan itu semua kepada Erik.
"Jangan pikirkan soal pekerjaan, prioritaskan saja dulu keluargamu di sana. Semoga operasinya berjalan lancar dan kakakmu segera sadar dan pulih kembali. Apa kamu sudah makan?".
Ajeng tersenyum tipis mendengar pertanyaan Erik yang tak biasa dan tak tepat waktunya, "Terimakasih do'anya. Kenapa harus menanyakan aku sudah makan atau belum?", Ajeng balik bertanya.
"Eh...anu...itu...ya dalam kondisi seperti ini kamu harus sehat, jangan sampai ikut sakit juga. Repot kan nanti", jawab Erik gelagapan.
Terdengar suara tawa kecil Ajeng. Erik senang mendengarnya.
"Kamu lucu", puji Ajeng.
Erik mengernyitkan dahinya, heran.
"Aku senang mendengar tawamu. Teruslah begitu. Oh ya maaf, aku belum bisa datang menengok ke sana, kamu tahu sendiri Pak Boss sudah kembali ke Jerman dan aku harus menghandle semua pekerjaannya di sini".
"Ya, aku mengerti keadaanmu di sana. Jika ada hal yang bisa aku bantu atau kamu membutuhkan bantuanku, jangan sungkan, katakan saja, ya. Aku pasti ada untukmu", kalimat terakhir Erik menentramkan hati Ajeng.
"Iya, sekali lagi terimakasih", telepon itu pun berakhir.
Tiga jam berlalu, belum ada tanda-tanda operasi selesai.
Kinara sudah tak bisa duduk dengan tenang meski Bu Tria menemani di sampingnya.
Pak Wijaya memilih duduk dan melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan Ajeng memilih diam, menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
Beberapa kali terlihat Leo datang menghampiri Pak Wijaya. Membahas sesuatu yang tak bisa didengar oleh Bu Tria, Ajeng dan Kinara.
'Tuhan, aku masih meminta hal yang sama pada-Mu, tolong selamatkan suamiku', harap Kinara dalam hatinya.
Empat jam berlalu dan akhirnya pintu ruang operasi itupun terbuka. Dokter Andi keluar dan menyampaikan kondisi Erlangga yang membuatnya harus dipindahkan ke ruang ICU setelah dua jam pasca operasi.
__ADS_1
"Kenapa ke ICU, dok? kenapa tidak ke ruang perawatan?", tanya Kinara.
"Operasi berjalan lancar tapi kondisi Pak Erlangga menurun. Kami harus melakukan pemeriksaan dan pengawasan yang lebih intens lagi. Pak Erlangga membutuhkan alat bantu yang hanya tersedia di ruang ICU", terang dr. Andi.
Dua jam setelah operasi kedua berlangsung, Erlangga benar-benar dipindahkan ke ICU. Hanya boleh satu orang saja yang ada di dalam ruangan dan Kinara meminta dirinya yang ada di sana.
Suara alat-alat di dalam ruang itu benar-benar membuatnya semakin cemas. Ada selang dan beberapa alat yang terhubung dengan tubuh suaminya. Kinara mencoba menegarkan diri.
"Mas, aku yakin mas bisa mendengarku meski keadaan mas seperti ini. Mas, aku minta maaf selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku belum bisa membahagiakanmu dengan utuh, bahkan salahku, baru membuka hatiku untukmu belakangan ini. Kamu benar-benar suami yang baik, penyayang dan selalu membuatku bahagia. Aku mohon sadarlah mas. Sungguh, aku sangat merindukanmu. Setelah kamu sadar dan sembuh nanti, aku berjanji akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan menunaikan tugasku sebagai seorang istri dengan baik. Kita akan sama-sama membangun rumah tangga dan masa depan kita. Aku mohon mas, sadarlah", dengan berderai air mata Kinara mencoba berbicara pada suaminya. Ia luahkan seluruh isi hatinya, tapi tak ada respon apapun.
Kinara terus memandangi wajah suaminya itu. Ada rasa bersalah dan penyesalan yang dalam di hatinya. Andai sedari awal dia berusaha mencintai suaminya, membalas dengan baik semua kasih sayang dan perhatian yang diberikan, memberikan hak suaminya tanpa banyak alasan, tentulah rasa bersalah dan penyesalan itu tak akan sedalam ini.
Kinara hanyut dalam bayangan kenangan ketika pertama kali mereka bertemu sebagai dosen pembimbing dan mahasiswa. Lalu dinner pertama mereka, perjodohan keluarga, pernikahan, kesalah pahaman di antara mereka, sampai momen indah yang tertunda itu.
Rasanya Kinara tak sanggup meneruskan ingatannya. Nyatanya, terlalu banyak hal berkesan yang sudah ia lalui bersama Erlangga. Lelaki itu kini sedang terbaring tak berdaya dan Kinara hanya bergantung pada Tuhan untuk kesembuhan suami yang akhirnya dia sadari, begitu dia cintai.
Lamunan Kinara pecah saat terdengar bunyi tak wajat dari elektrokardiogram yang ada tepat di sampingnya.
Layar EKG menunjukkan aktivitas jantung yang tak stabil.
"Ma...mas...", Kinara panik namun dengan sigap dia menekan tombol call nurse berkali-kali.
Dokter Andi dan timnya segera menghambur masuk ke ruang ICU.
"Suster, siapkan defribrilator!", perintah dr. Andi cepat.
Kinara sudah berdiri di dekat pintu. Dia menyaksikan sendiri bagaimana suaminya harus berjuang, mempertahankan detak kehidupan miliknya.
"Tuhan, tolong...tolong selamatkan suamiku. Aku mohon...bantu dia", do'a Kinara dalam. Kedua tangannya saling beradu, jari-jemarinya saling meremas, menahan rasa cemas, takut dan kesedihan.
Dokter Andi memberikan beberapa kali aba-aba agar tindakan yang dilakukannya sesuai dengan instruksi yang juga dia berikan kepada beberapa perawat yang ada di dalam ruangan itu.
Sepuluh menit berlalu, tak ada tanda-tanda detak jantung normal di layar defribrilator. Dokter Andi terlihat masih berusaha menormalisasi keadaan, tapi garis horizontal muncul, diiringi suara decitan panjang yang menghancurkan semua benteng ketegaran Kinara yang susah payah dia bangun beberapa hari terakhir ini.
"Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Pak Erlangga", kalimat dr. Andi membuat tubuh Kinara ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1