Unknown Love

Unknown Love
Season 1 - #3


__ADS_3

Aku turun dari mobilku dan berjalan menuju pintu masuk hotel. Didepannya sudah ada tulisan mengenai tamu undangan untuk perpisahan sekolahku. Aku bertanya pada petugas yang ada di depan, dan dia pun mengarahkannya padaku. Aku berjalan menyusuri suasana hotel, sungguh hotel yang nyaman dan sejuk. Pantas saja sekolahku memilih hotel ini karena mungkin dari segi fasilitas dan suasana yang menarik.


"Anya kaukah itu?"


"Yes Regina." balasku dengan memeluknya


"Lama gak ketemu."


"Ya, Regina."


"Kamu sedang sibuk apa? Aku dengar kamu bekerja di perusahan design interior ya?" tanya Regina padaku, kami berdua pun berjalan bersama menuju tempat acara.


"Ya, begitulah." balasku sekedarnya


"Oh, ya pacarmu siapa?" tanya Regina dengan mimik penasaran.


"Gak punya, hahaha" jawabku asal


"Bohong! Kamu cantik Anya, sewaktu sekolah dulu banyak yang suka sama kamu! Sampai Alvin pun tertarik sama kamu." celetuk Regina dengan tertawa kecil.


"Itu dulu, sekarang aku sendiri aja Regina" kataku berbohong.


"Kalau kamu?" lanjutku.


"Aku baru menikah Anya" jawabnya malu-malu.


"Aw, sumpah? Selamat Regina!" kataku sambil memeluknya.


"Makasih Anya, aku doakan semoga kamu cepat menyusul!" ucapnya sambil membalas pelukanku.


"Iya, Regina."



Kami berdua pun sudah masuk ke dalam ruangan dan meregistrasi kehadiran kami berdua pada acara tersebut. Kami pun diberikan masing-masing souvenir oleh panitia. Aku dan Regina menyapa beberapa teman yang kami kenal saja, selebihnya aku sudah lupa dengan mereka. Regina sedang asik berbincang dengan teman satu kelasnya dulu sewaktu tak satu kelas denganku. Aku pergi meninggalkannya untuk meihat-lihat menu makanan apa saja yang di hidangkan oleh panitia.


"Cheese cake. Cheese cake." gumamku sendiri


Tanpa sadar aku menabrak seseorang karena fokus mencari cheese cake.


"Aw."


"Anya?"


"Alvin?"


"Lama gak ketemu ya!" balasnya sambil memberikan tangannya untuk berjabat.


"Ya Alvin" balasku.


"Bagaiman kabarmu? Kamu kerja dimana sekarang?" lanjut Alvin kembali.


"Aku kerja diperusahaan design interior" jawabku sekenanya.


"Oh ya? Apa nama perusahaan mu? Kebetulan aku juga butuh design interior untuk kantorku!" tuturnya dengan antusias.


"Mega Cantika. Aku kerja disitu, kamu buat perusahaan Alvin?" tanyaku tak menyangka.


"Ya aku buat perusahaan dibidang pemasaran iklan, jadi misalkan kamu mau mengiklankan produk atau jasa kamu bisa menghubungi aku saja." terangnya dengan bersemangat.


"Hm, oke mungkin aku nanti bisa menghubungimu."


"Ya Anya!" jawabnya dengan tersenyum.



Dia Alvin Scott, putra sulung Arthur Scott suamiku. Alvin teman satu sekolahku saat SMA, Alvin memang tidak tau akan pernikahan ini. Aku ingin tetap menyembunyikannya selama ini, walau aku juga tau suatu saat nanti entah kapan Alvin aku mengetahuinya. Alvin tidak tinggal dengan Arthur namun dengan neneknya Oma Eva ibu Arthur, dia tinggal bersama adiknya juga Clara Scott. Dia sudah lama tinggal di Paris dan aku rasa dia baru kembali lagi kesini karena baru menyelesaikan studi S2 nya.


"Hm, Anya boleh aku main ke tempatmu?" tanya Alvin tiba-tiba.


"Tempatku?" balasku kikuk.


"Iya, kantormu!"



(Aku pikir rumahku!)



"Tentu."


"Aku mau main, sekalian aku mau melakukan konsultasi masalah design untuk kantorku agar terlihat lebih fresh?!" ucapnya sambil tersenyum.


"Tentu Alvin, boleh."


"Oke, kalau gitu nanti aku chatting kamu ya!"


Aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Pacarmu siapa Anya?" tembak Alvin tanpa basa basi.


"Apa?!" spontan aku menjawab dengan nada sedikit keras.


"Aku gak punya pacar Alvin. Aku singel" aku terpaksa berbohong.


(Aku ibu tiri kamu tau!)


"Oh? Senang mendengarnya.." jawab Alvin dengan senyum tipis.



Aku merasa canggung dengan jawabannya tersebut, merasa sudah tak nyaman dengan atmosfernya aku memutuskan mencari alasan dengan pergi ke toilet! Ya toilet itu alasan paling klasik untuk menghindar dan sekarang sudah aku lakukan. Seengganya aku bisa terhindar dari Alvin dulu, terlalu dini untuk 'senam jantung' dengannya. Aku masih mau panjang umur dan masih banyak hal yang kupikirkan untuk masa depanku! Biarkan aku lebay! Aslinya memang aku deg-degan, takut ketahuan olehnya!

__ADS_1



Setelah keluar dari toilet, aku memutuskan menghindari Alvin. Berbaur dengan yang lain dan memulai pembicaraan yang normal-normal saja tanpa bahas status, pekerjaan, dan pasangan saat ini. Aku paling tak suka jika sudah membahas seperti itu, entah jadi makin sensitif saja. Aku mengecek ponselku, tak kerasa sudah pukul 11 malam, aku harus pulang! Walau Arthur tak dirumah tapi aku malas harus berdebat dahulu dengan Rico. Tapi tumben dia belum menghubungiku? Biasanya jam 10 malam aku belum pulang dia suka bawel padaku. Terkadang Rico lebih cocok menjadi ibu-ibu dibandingkan bodyguard.



Aku berjalan menuju parkiran mobil dan melajukan mobilku menuju apartement.


Sepanjang perjalanan aku tiba-tiba saja teringat kembali kenangan bersama Alvin. Masa-masa 'cinta monyet' bikin geli tapi jadi senyum sendiri begini. Mungkin aku terlalu capek dan banyak minum makanya begini.


Aku mengemudikan mobilku perlahan karena yang penting selamat sampai tujuan.


"Sampai juga." gumamku sendiri sambil membuka pintu apartement.


"Jam segini baru pulang?" tegur seseorang, aku mencoba mentajamkan pandanganku karena lampu belum aku nyalakan.


"Siapa?" tanyaku dengan melangkah perlahan.


"Arthur!" jawabnya dengan nada kesal.


"Oh?"


"Kenapa gelap-gelapan sih? Kamu kira lagi interogasi orang apa?" protesku sambil menyalakan lampu agak terang. Dan benar saja Arthur sudah pulang lebih awal, dan dia sedang duduk di bangku dekat ruang TV dengan masih menggunakan kemeja dan celana cinonya.



(Kayaknya dia baru sampai)



"Baru sampai?" tanyaku yang meletakan tas di meja dekat bangkunya.


"Udah 60 menit kok." balasnya dengan senyum kesal.


"Baru sejam ya? Belum seharian ini." balasku ngeyel.


Arthur yang kesal akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan memelukku.


"ARTHUR!" spontan aku berteriak.


"Apa sih? Gak usah teriak juga! Kuping aku pengang ini." celotehnya sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku. Aku salah tingkah dibuat olehnya.


"Kenapa?" tanya Arthur yang kini jaraknya tak jauh dari mukaku.



Aku memalingkan muka, aku tau aku dan Arthur sudah suami istri tapi bukan seperti pasangan pada umumnya. Aku dan Arthur tidur di kamar masing-masing, dari awal menikah aku tidak melakukan hubungan suami istri pada umumnya, jadi biarpun aku istri orang aku masih perawan! Bayangkan saja Arthur bisa menahan diri selama ini seperti apa beratnya.



"Kamu mau apa?" tanyaku dengan posisi masih membuang muka padanya.


"Aku cuma mau memeluk istriku kok." timpalnya sambil tetap menatapku dalam.


"Anya biarkan aku seperti ini dulu! Aku rindu kamu Anya.." ucapnya lirih


Aku masih diam, Arthur membenamkan mukanya pada pundakku.


"Arthur? Aku mau mandi." protesku yang sudah tak tenang perasaan ini.


"Diam dulu." jawabnya sambil tersenyum nakal.


"Arthur.." meleasku yang kini menatap wajahnya.


"Oke." ucapnya sambil mengecup leherku perlahan dan melepaskan pelukannya pada tubuhku. Aku mendadak merinding di cium oleh Arthur. Rasanya tak nyaman tapi bukan berarti aku tak suka.



"Aku mandi dulu" jawab Arthur sambil masuk ke kamarnya.



Aku pun segera mengambil tasku yang tadi diletakkan dan berjalan menuju kamarku. Aku segera bergegas mandi, dan mengganti pakaianku dengan baju tidur.


"Dia tuh tadi kesel bukan sih? Dia kan kalau lagi kesel suka uring-uringan begitu." gumamku sendiri menduga-duga.



Aku keluar kamar dan berjalan menuju kamarnya untuk memastikan sendiri.



"Arthur kamu tuh tadi kesel bukan sama..." belum selesai aku bertanya dihadapanku Arthur baru selesai mandi dan badannya masih basah oleh sisa air. Mungkin usianya sudah memasuki kepala 4 namun untuk ukuran umur segitu dia termasuk memiliki badan yang sangat bagus, mungkin karena kebiasaannya suka ngegym. Tanpa sadar aku menelan ludahku sendiri, ini pertama kali aku melihatnya biasanya dia keluar dari kamar mandi sudah menggenakan pakaiannya.


"Kamu kenapa tiba-tiba masuk?" tanya Arthur dengan posisi dada roti sobeknya terlihat dan handuk putih masih terlilit di bagian pinggangnya.



"Apa? Aku cuma mau tanya doang sama kamu." balasku dengan membuang muka agar tidak makin panas melihatnya setengah telanjang begitu.


"Tanya apa?" tanya yang mulai maju untuk menghampiriku.


Aku panik, aku pun bergegas keluar dari kamarnya. Namun kalah cepat dengan langkahnya dan dia pun berhasil meraih lenganku.


"Anya?" tanyanya dengan posisi memegang lenganku dan aku menunduk tak mau melihat karena takut tergoda.


"Kamu lagi kesal sama aku?" tanya Anya dengan mimik muka serius.


"Kenapa aku harus kesal?" jawab Arthur menggelak.


"Dari aku datang tadi kelihatan kok kamu kesal, dan tadi kamu uring-uringan sendiri." ucapku menegaskan padanya.


Arthur terdiam sejenak, menatapku dengan dalam.

__ADS_1


"Kalau ya, kenapa?"


"Apa yang membuat kamu kesal?"


"Semuanya?!"


"Apa?"


"Kamu pergi ke acara reuni tersebut dan kamu bertemu dengan Alvin." jelasnya dengan wajah serius.


"Lalu? Kamu kan yang mengijinkan dan menyuruhku bersenang-senang?" belaku.


"Ya, tapi setelah dipikirkan kok jadi kesal sendiri ya?" ucap Arthur dengan nada kesal.


"Alvin kan anakmu!"


"Tapi dia mantan PDKTmu!"


Aku terdiam.



(Oh cemburu?)



"Terus mau kamu apa?"



Arthur tetap dengan posisinya, menatapku dengan lembut seolah mengisyaratkan sesuatu, sekarang dia mulai mengelus lembut lengan sebalah kananku. Kebetulan aku sedang memakai baju tidur tanpa lengan berbahan satin, aku tak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Arthur yang jelas sekarang tatapannya bukan seperti Arthur yang biasa dia tunjukkan padaku.


Arthur memajukkan langkahnya kembali padaku, sekarang kami jaraknya sangat dekat sekali. Aku masih tak beranin menatap wajahnya, tetap dengan posisiku yang mematung dan berharap Arthur tidak berkelanjutan lebih jauh lagi.



(Kalau sampai dia berani lebih jauh gw tendang 'burungnya' dia!)



"Anya, baju kamu ketipisan ya?" tanya Arthur yang memerhatikan baju tidurku.


"Kamu mau apa?" kataku tanpa basa basi.


"Kalau aku bilang mau hangatin badan kamu, gimana?" celetuk Arthur dengan senyum nakal.


Aku terkejut mendengar ucapannya tersebut.



(Makin kesini kenapa makin mesum sih dia?)



Arthur melingkarkan tangannya pada pinggangku.


"Kamu seksi banget sih?" ujarnya dengan lembut.


"Aku..." belum sempat Arthur menjawab ponselnya berdering.



(Huft, selamat!)



Arthur segera mengambil ponselnya sambil mengangkat teleponnya dia menoleh padaku sambil mengacak-acak rambutnya dan kembali fokus ke seseorang yang sedang menelponnya tersebut. Aku? Segera berlari keluar kamar Arthur dan mentup pintunya.



"Besok-besok aku ketuk dulu pintu kamarnya!" gumamku sendiri sambil melangkah ke kamarku.


Aku segera naik ke tempat tidur dan mematikan semua lampu dikamarku. Aku berusaha memejamkan mataku dan berusaha tidak membayangkan roti sobek milik Arthur.


Awalnya gelisah tak bisa tidur, namun ternyata aku sangat kelelahan. Tanpa sepengetahuanku ternyata Arthur belum tidur di kamarnya.



"Anya seksi banget!" ungkap Arthur pada dirinya sendiri.


"Mestinya tadi aku maju aja, tapi dia bakalan kabur kan kalau aku begitu?" tanyanya pada diri sendiri.



(Coba ke kamar dia deh.)



Dengan ragu Arthur membuka kamarku, ternyata aku sudah lama terlelap. Arthur memandangi tubuhku yang hanya berbalut kain satin yang tipis. Sesekali dia menelan ludahnya sendiri, menahan dirinya agar tidak membuat masalah.



"Anya kamu cantik dan seksi banget! Tapi sayang aku cuma bisa memandangi kamu doang tanpa bisa aku sentuh..tapi....kalau aku mulai, apakah kamu akan lari dariku?" ucap Arthur pelan, dia pun menarikkan selimutku yang terhempas jauh dari badanku.



Arthur terhenti sebentar memandangi paha putih milikku yang tersingkap dan dia pun mendekatinya dengan ragu, Arthur mengecupnya dan hanya menarik nafas dengan berat.



"Sabar Arthur!" gumamnya sendiri dan langsung keluar dari kamarku.


__ADS_1


*****


__ADS_2