Unknown Love

Unknown Love
Tentang Rasa


__ADS_3

"Hai Jeng, nanti siang makan bareng yuk", sapa Erik saat mereka tanpa sengaja bertemu di lobi kantor.


"Mmm...gimana ya pak, saya harus cek dulu jadwal saya, karena rencananya siang ini Pak Arif, atasan saya meminta tim IT rapat darurat", jawab Ajeng. Selama di kantor dia berbicara formal dengan Erik.


"Ck, mana boleh rapat dijam makan siang", Erik mendengus kesal.


Ajeng tertawa kecil.


"Protesnya ke atasan saya saja ya, pak. Permisi", Ajeng berlalu meninggalkan Erik yang masih merasa kesal karena ajakannya ditolak.


"Aaarrgghh...sial, susah amat sih ngajakin cewek makan siang doang", Erik membanting tubuhnya kasar saat ia sudah sampai di ruang kerjanya.


"Lo kenapa Rik? pagi-pagi udah ngomel gak jelas", Farhan yang masuk tanpa permisi merasa heran melihat tingkah Erik.


"BT gue, Han. Masa gue ngajak Ajeng makan siang, eh dia tolak mentah-mentah", sungut Erik.


Farhan tertawa, "Alasannya?".


"Dia bilang, Pak Arif minta tim IT rapat darurat pas jam makan siang. Padahal udah jelas kan, jam makan siang itu semua pegawai harusnya istirahat, bukan rapat. Ajeng juga, dia gak lihat apa kalau gue ini wakil direktur utama, harusnya dia ikut dong apa kata gue", Erik masih saja uring-uringan.


Tawa Farhan semakin keras memenuhi ruang kerja Erik, membuat sang pemilik ruangan itu memicingkan matanya tak suka.


"Sorry, sorry bro. Gue gak maksud ketawain lo. Tapi ya bagus dong, berarti Ajeng itu profesional. Gak masalah kok kalau mau rapat dijam makan siang, tim mereka bisa geser jam istirahatnya nanti", ujar Farhan, berusaha menahan tawanya karena sadar tatapan mata Erik yang tak enak kepadanya.


"Ah, lo gak support gue, Han", Erik menggebrak pelan meja kerjanya.


"Kenapa? lo suka sama Ajeng?", tanya Farhan menyelidik.


Erik mendadak kikuk, "Dih...enggak lah. Gue cuma mau mengakrabkan diri aja sama dia. Dari pertama gue ketemu Ajeng, gue ngerasa nyaman. Orangnya apa adanya banget".


"Nah kan, tebakan gue benar. Itu artinya lo suka sama Ajeng. Gue dukung penuh, Rik. Jangan ditunda, pepet terus. Kasihan umur lo udah mau kepala tiga", ejek Farhan menggoda Erik.


"Sialan lo, Han", Erik melemparkan pulpen ke arah Farhan yang dengan cepat menghindar.


"Oh ya, tumben lo ke ruangan gue, ada apa?", Erik mulai fokus pada hal lain.


Farhan duduk di kursi yang ada di depan meja Erik. Dia mengatupkan kedua tangannya untuk jadi tumpuan dagunya.


"Kemarin gue ketemu sama Kinara, Rik", Farhan membuka suara.


Erik mengernyitkan dahinya, "Seriusan lo? ngapain lo ketemu dia? bukannya beberapa waktu lalu lo sendiri yang bilang kalau dia gak boleh tahu keberadaan lo di sini".

__ADS_1


Farhan menarik nafas dalam, "Gue ketemu dia juga gak sengaja, Rik. Kemarin gue nemenin ibu belanja ke pasar. Gue juga kaget kenapa gue bisa ketemu dia lagi, aaahh...", Farhan menundukkan kepalanya.


"Terus lo gimana waktu ketemu sama Kinara?".


"Ya gue canggung lah. Gue basa-basi aja nanya kabarnya juga nanya kabar suaminya. Dia bilang kalau suaminya lagi dinas di Surabaya", terang Farhan.


Erik mengangguk-anggukan kepalanya.


"Terus, Bukde Asri gimana responnya?".


"Respon ibu baik, sama kek dulu, gak ada yang berubah".


"Wah, Bukde Asri emang jempolan ya. Gak dendam meskipun lamaran anak lakinya ditolak mentah-mentah sama Kinara", goda Farhan.


Farhan meninju lengan Erik, tak terima dengan ucapan saudaranya itu. Erik meringis.


"Itu kenyataannya kan Han. Terus perasaan lo sekarang gimana?", Erik menatap Farhan serius.


Lagi, Farhan menarik nafas dalam. Dia bingung menjelaskan isi hatinya saat ini.


"Gue juga gak tahu, Rik. Gue ngerasa senang luar biasa bisa ketemu lagi sama Kinara. Apalagi gak ada sedikit pun yang berubah dari dia selain statusnya yang udah jadi milik orang lain. Tapi kata ibu, gue gak boleh menyimpan perasaan kek gitu, gak baik", jawab Farhan sendu diakhir kalimatnya.


Erik mengangguk-anggukan kepalanya lagi dan bergaya seolah ikut berpikir.


Farhan melirik Erik sebentar, "Apalagi gue, Rik. Benar yang lo bilang waktu itu, gue harus lebih baik berdamai dengan takdir dan diri gue sendiri".


"Gue setuju. Gue dukung lo, lo dukung gue sama Ajeng. Ok?", Erik keceplosan.


"Tuh kan, lo suka sama Ajeng. Sip, gue dukung penuh. Kalau perlu, secepatnya lo nikahin dia, Rik, biar gak kejadian kek gue", ujar Farhan, membuat mereka berdua akhirnya tertawa bersama.


"Oh ya Han, besok siang direktur Wijaya Group mau meeting virtual sama kita. Lo bisa kan jadwalkan waktu buat ikut meeting virtual itu? ayah gue kan lagi gak ada nih, so tanggungjawabnya beralih ke lo lagi", pinta Erik.


"Ok, besok ingatkan gue, ya. Gue balik dulu ke ruangan", Farhan berlalu meninggalkan Erik.


**


Di sekolah, pikiran Kinara tidak fokus. Beberapa kali kepala sekolah meminta pendapatnya tentang persiapan tahun ajaran baru, dijawab Kinara dengan gelagapan.


"Bu Nara sedang tidak sehat ya?", tanya Bu Rose.


"Tidak bu, saya baik-baik saja", jawab Kinara pendek.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Bu Nara tidak apa-apa. Besok jangan lupa bahan yang saya minta dibawa ya bu", kata Bu Rose lagi sebelum menutup rapat dewan guru. Kinara menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.


Sesampainya di rumah, Kinara menghabiskan banyak waktunya di dalam kamar.


Siang hari rumah sepi, hanya Kinara yang ada di sana. Mama mertuanya sibuk di butik dan Ajeng masih bekerja di kantor.


"Kenapa aku teringat terus sama Farhan ya?", gumamnya sendiri.


Bayangan kebersamaan mereka semasa kuliah kembali berkelebatan. Kinara masih mengingat dengan baik semua kebaikan dan perhatian Farhan padanya, bahkan senyuman Farhan pun diingatnya. Farhan selalu menjadi orang pertama dan satu-satunya yang sangat bisa dia andalkan.


"Kamu gak banyak berubah ya, Han. Still be a humbel man. Andai kita bisa sedekat dulu", gumam Kinara lagi. Ada perasaan aneh yang menelusup di hatinya. perasaan yang dulu tidak pernah dia rasakan saat bersama Farhan, tapi sekarang, perasaan itu seolah mendesaknya untuk terus memautkan ingatan pada sosok lelaki berlesung pipi itu.


"Hhuuffttt...tak seharusnya aku memikirkan Farhan sejauh ini. Ingat hei Kinara, kamu itu udah punya suami", Kinara menyalahkan dirinya sendiri. Akhirnya dia memilih untuk pergi ke dapur, menyiapkan makan malam.


**


"Ya pah, kenapa?", Erlangga menerima telepon dari Pak Wijaya, ayahnya.


"Papa cuma mau tahu, gimana perkembangan perusahaan kita di Surabaya, Ga?", tanya Pak Wijaya.


"Semuanya berjalan dengan baik, pah. Angga sudah membereskan satu per satu permasalahan kita di sini dan besok siang, Angga ada meeting virtual dengan perusahaan Ganindra Group, kita berhasil kerja sama dengan mereka".


"Bagus. Papa senang dan bangga sama kamu", puji Pak Wijaya.


"Papa sehat?".


"Ya, papa baik di sini. Dua minggu lagi papa akan kembali ke Indonesia".


"Wah. Bagus dong pah, berarti Angga bisa secepatnya kembali ke Bandung, ya".


"Ya tentu. Secepatnya kamu kembali ke Bandung. Kasihan istrimu, terpisah lama".


"Gitu dong pah. Gimana Angga mau kasih papa sama mama cucu kalau jauhan terus sama Kinara".


Pak Wijaya tertawa kecil, "Iya, papa paham. Ya sudah, dua minggu lagi kamu balik ke Bandung. Tapi pastikan perusahaan berjalan dengan baik dan ada yang bisa mengambil alih tanggungjawabmu di sana, ok?".


"Ok pah, Angga pastikan semuanya aman. Makasih pah".


"Ya".


Perbincangan itu pun berakhir. Erlangga kembali menyibukan dirinya dengan pekerjaan di kantor, dia ingin segera menyelesaikan semuanya agar secepatnya dia bisa kembali pulang ke Bandung.

__ADS_1


'Sayang, tunggu aku, sebentar lagi aku akan pulang', batinnya saat menatap foto dirinya dan Kinara yang terpampang dalam frame di atas meja kerjanya.


__ADS_2