
Sekujur tubuh Kinara bereaksi hebat saat jari-jemari Erlangga mulai menjelajahi tubuhnya. Nafasnya mulai menderu dengan cepat. Desahan demi desahan keluar begitu saja setiap kali tangan suaminya meremas benda sensitif miliknya atau saat bibir suaminya mendarat disetiap bagian tubuh Kinara yang mulai terbuka satu demi satu.
"Mas...aaahhh...", entah untuk keberapa kali Kinara mendesah manja.
"Kenapa? kamu suka, hm?", mata nakal Erlangga melirik wajah istrinya yang merah seperti kepiting rebus.
"Nikmati saja sentuhanku, sayang. Rilekskan dirimu, ya", pinta Erlangga penuh hasrat. Kinara hanya mengangguk kecil, malu, begitu yang dia rasakan saat ini.
Erlangga benar-benar pandai bermain-main dengan tubuh Kinara. Permainan utama belum dimulai, tapi sudah begitu banyak Kinara dibuatnya mendesah, menahan dorongan hasrat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sayang, sepertinya kamu sudah siap. Bisakah kita memulainya sekarang?", izin Erlangga. Ia menatap lembut wajah wanitanya yang terlihat begitu bergairah namun masih saja berusaha menyembunyikan hal itu dari dirinya. Erlangga sungguh gemas.
"Apakah ini sakit, mas?", tanya Kinara malu-malu.
Erlangga tersenyum lembut, dikecupnya kening Kinara, "Aku akan melakukannya pelan-pelan. Jangan khawatir sayang", bisiknya.
Gaun tidur yang dikenakan Kinara sudah terlepas, begitu pun dengan pakaian yang dikenakan Erlangga. Dia membukanya, membiarkannya berserakan di lantai. Keduanya sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Mas...aku malu...", bisik Kinara menyembunyikan wajahnya dibalik bantal yang sengaja ia ambil.
Senyum nakal Erlangga terkembang lagi, "Kenapa harus malu? kita sudah menikah dan ini salah satu bentuk ibadah kita, sayang. Tubuhmu sangat indah", puji Erlangga. Dia memandangi seluruh bagian tubuh yang ia rindukan itu.
"Jangan tutup wajahmu. Lihat aku", perintah Erlangga dengan penuh cinta.
Kinara memberanikan diri melepaskan bantal yang menutup wajahnya, tapi saat matanya terbuka, dia terkesiap. Bantal itu segera ia tutupkan lagi ke wajahnya.
"Aku tak mau melihat, mas. Apa itu? aku malu...", lirihnya jujur.
Erlangga geli sekaligus gemas dengan tingkah istrinya. Akhirnya dia mengambil bantal itu, dan dengan penuh percaya diri dia menunjukkan tubuhnya. Dadanya yang bidang nampak semakin indah dengan tonjolan otot perut yang sudah seperti roti sobek di mata Kinara. Desiran panas itu semakin merajai tubuh Kinara saat matanya dengan leluasa melihat seluruh bagian tubuh suaminya untuk pertama kali.
"Aku akan memulainya, sayang. Jangan lagi tutupi wajahmu, ya", pinta Erlangga yang lagi-lagi dijawab jawab dengan anggukan malu-malu Kinara.
Dddrrtt...ddrrtt...drrttt
Ponsel Erlangga di atas nalas bergetar berkali-kali.
"Mas...sepertinya ada telepon", bisik Kinara sesaat sebelum Erlangga memasukkan keperkasaannya.
"Biarkan saja...", jawabnya pendek.
Ponsel itu bergetar lagi.
"Mas, tolong dilihat dulu. Siapa tahu itu telepon darurat", Kinara menahan tubuh suaminya yang sudah siap memasuki lubang kenikmatan miliknya.
"Ck, mengganggu saja", Erlangga memaksakan dirinya beranjak dari atas tubuh Kinara. Dia menyesal karena tak mematikan ponselnya sebelum momen indah ini dimulai.
Dilihatnya ada lima panggilan dari seseorang. Saat ponsel itu akan dimatikan, tiba-tiba nama yang sama muncul lagi di layar. Terpaksa Erlangga mengangkatnya.
__ADS_1
"Ada apa?", intonasi suaranya agak meninggi, seolah tak suka dengan orang yang menghubunginya itu.
"Iiih...kakak nih galak amat sih sama adik sendiri. Teleponku berkali-kali gak diangkat. Ayo cepat buka pintunya, aku udah di depan pintu apartemen kakak nih. Diketuk berkali-kali gak dibuka terus", ternyata Ajeng yang menelepon.
"Dasar tikus pengganggu. Mau apa sih ke sini malam-malam? pulang sana!", jawab Erlangga galak.
"Sumpah ya, kakak nyebelin. Tega ngatain aku tikus pengganggu. Cepetan buka atau aku gedor-gedor nih biar seapartemen gaduh", ancam Ajeng tak mau kalah.
Erlangga terlihat kesal, ponsel itu ia matikan dan ia banting ke atas kasur. Kinara yang sedari tadi memperhatikan ekspresi suaminya seolah mengerti, ada hal yang tak beres.
"Siapa mas?", tanyanya dari balik selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Ajeng. Lekas berpakaian", perintah Erlangga. Dia sendiri sibuk mengenakan piyama tidurnya.
Mendengar nama Ajeng disebut, Kinara bergegas mengambil gaun tidurnya yang tercecer di lantai kamar.
"Ada apa Ajeng ke sini malam-malam, mas? apa ada yang terjadi?", tanya Kinara penasaran. Dia merapikan gaun tidur dan rambutnya.
"Entahlah. Dasar tikus pengganggu. Dia datang disaat yang benar-benar salah", Erlangga geram.
Sadar suaminya begitu kesal, Kinara segera memeluknya. Ia tak ingin kedatangan Ajeng disambut dengan kekesalan Erlangga.
"Mas, jangan marahi Ajeng. Mungkin memang ada hal penting yang memaksa Ajeng datang ke sini malam-malam", bujuk Kinara lembut.
Ucapan Kinara berhasil meneduhkan hati Erlangga yang sedang diliputi rasa kesal pada adik semata wayangnya itu.
Pintu pun terbuka, nampak wajah Ajeng yang sumringah di sana.
"Surpriiisssseeee...", serunya tanpa rasa bersalah.
"Cih, surprise apaan kamu, Jeng. Ganggu tahu, balik sana", ternyata kekesalan Erlangga masih ada. Kinara menggeleng kecil, memberi isyarat agar suaminya tak bersikap buruk pada Ajeng.
Bibir Ajeng nampak mengerucut mendapat sambutan buruk dari kakaknya sendiri.
"Ayo masuk Jeng", ajak Kinara, membuyarkan ketegangan kakak adik itu.
Ajeng meleletkan lidahnya saat lewat di depan Erlangga. Tanpa ragu dan tanpa malu, dia masuk lebih dulu, lalu duduk sofa yang ada di ruang utama.
"Wiiihh kak, apartemennya keren banget. Minimalis modern ya", mata Ajeng sibuk mengamati sekitar.
Kinara tersenyum.
"Mau minum apa, Jeng?", tanyanya.
"Apa aja deh kak, bebas", jawab Ajeng cepat. Tangannya mengambil remote TV dan menyalakannya.
"Heh, mau ngapain sih kamu ke sini?", Erlangga merasa mendapat kesempatan untuk mengintervensi Ajeng saat Kinara ke dapur.
__ADS_1
"Ddiihh...kakak galak amat sih. Aku ke sini mau menginap. Besok kan weekend ya, jadi aku ke sini. Hitung-hitung liburan lah", jawab Ajeng enteng. Sekarang dia sudah merebahkan badannya di sofa.
"Dasar adik gak tahu sopan santun. Datang malam-malam, gak kasih kabar pula. Siapa yang bilang kamu boleh menginap di sini?", Erlangga masih memasang wajah galaknya.
Kinara datang membawa dua gelas lemon tea hangat.
"Ribut terus. Kenapa sih mas?", tanya Kinara setelah ia meletakkan kedua gelas minuman itu di meja.
"Ini nih kak, masa Kak Angga ngelarang aku nginep di sini. Tega gak tuh?, jawab Ajeng sewot.
Kinara menatap suaminya yang masih terlihat kesal karena ulah Ajeng.
"Tak apa mas kalau Ajeng mau menginap di sini. Lagi pula udah sebulan ya kita gak ketemu, Jeng", bela Kinara.
Erlangga menarik nafas berat, "Tapi cuma semalam ya Jeng. Besok siang, kamu pulang!".
Wajah Ajeng nampak cerah.
"Ok kakakku yang menyebalkan. Lumayan deh semalam juga, seenggaknya aku bisa ketemu sama kakak ipar aku yang baik ini", Ajeng menyeruput lemon tea hangat miliknya.
Erlangga memicingkan matanya, melihat tingkah Ajeng yang menyebalkan menurutnya.
"Oh ya kak, karena aku hanya menginap semalam, aku mau pinjam Kak Kinara juga ya biar malam ini tidur sama aku", pinta Ajeng.
"No!", suara Erlangga meninggi.
Ajeng hampir tersedak karena bentakan kakaknya itu.
"Mas...", Kinara mengusap lembut bahu Erlangga, menenangkannya.
"Kamu kan udah gede, Jeng. Ngapain juga sih tidur minta ditemani segala?", tanya Erlangga ketus.
"Sumpah ya, kak horror banget. Papa aja gak pernah lho neriakin aku kek gitu", Ajeng memasang wajah tak suka.
Erlangga mengusap wajahnya, lalu menarik nafas dalam.
"Sorry. Kakak gak maksud neriakin kamu. Cuma ya, kenapa harus bawa Kinara segala sih buat nemenin tidur doang? Kinara itu istri kakak, harusnya dia tidur ya sama kakak", terang Erlangga egois.
Ajeng diam, tak mau merespon.
"Mas, tak apa ya aku temani Ajeng malam ini. Mungkin Ajeng kangen sama aku, selama mas di Surabaya, dia lho yang selalu nemenin aku, jadi teman aku berbagi cerita juga", bujuk Kinara.
"Tuh, dengerin kak. Aku datang ke sini karena aku kangen sama kakak ipar aku dan aku juga mau banyak cerita sama Kak Kinara. Aku gak beruntung sih punya kakak laki-laki, mana bisa diajak bicara dari hati ke hati, bisanya pakai emosi", balas Ajeng.
Mendengar permintaan istrinya dan jawaban adiknya, akhirnya Erlangga mengizinkan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ajeng dan Kinara sudah masuk ke kamar tamu, sedangkan Erlangga yang sedari tadi mencoba untuk tidur, justru tak bisa memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
'Aaaarrgghh...kacau...tikus pengganggu itu, benar-benar menggagalkan momen indah malam ini', batin Erlangga kesal.