
Kinara mulai siuman. Dia membuka kedua matanya perlahan-lahan.
"A...aku di mana? mmmhh...", ucapnya lirih, memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Syukurlah kamu sudah sadar, nak", suara yang akrab di telinga Kinara terdengar begitu dekat dengannya. Ya, itu suara Bu Hasna.
"I...ibu...ibu, Mas Erlangga...", tangisannya tumpah lagi saat ia teringat kembali dengan suaminya.
"Mas Erlangga mana, bu?", pekik Kinara. Bu Hasna segera memeluk erat putrinya yang nampak terguncang.
"Sabar ya nak, kamu harus kuat. Suamimu sekarang sudah tenang, kamu harus ikhlas", ucap Bu Hasna. Meski berat mengatakan hal itu, tapi dia harus menyampaikannya. Bagaimana pun juga Kinara harus menerima kenyataan kalau suaminya sudah tidak ada.
"M...mas...Mas Erlangga....", katanya lirih. Sesegukan Kinara menangis dalam dekapan ibunya.
Bu Tria, Ajeng, Pak Wijaya, Pak Prastowo dan Alisa pun nampak tengah berduka.
"Ma...", Ajeng yang sedari tadi ada di samping Bu Tria kembali terbawa suasana. Melihat kakak iparnya menangis seperti itu, ingatannya pun kembali terpaut pada kakak lelakinya yang kini sudah tiada.
Bu Tria menyeka kembali air mata yang menetes di pipi putrinya, "Kita semua berduka, tapi kita tidak boleh memberatkan langkah Erlangga. Kita harus ikhlas", suara Bu Tria memecah keheningan di ruangan itu.
FLASHBACK
"Suster, tolong segera tangani Bu Kinara. Bawa ke ruang perawatan", seru Dokter Andi saat melihat Kinara ambruk setelah mengetahui suaminya yang tak bisa lagi diselamatkan.
Dua orang perawat segera menangani Kinara, dengan cepat mereka membawa Kinara ke ruangan yang berbeda.
"Ada apa ini?", Pak Wijaya yang sedari tadi melihat Dokter Andi dan beberapa perawat terburu-buru masuk ke ruang ICU, semakin bertanya-tanya. Terlebih ketika melihat menantunya tak sadarkan diri. Bu Tria dan Ajeng pun terlihat panik.
Dokter Andi keluar, menghampiri keluarga Erlangga.
"Bapak, ibu, dengan berat hati saya harus menyampaikan permohonan maaf karena kami tidak bisa menyelamatkan Pak Erlangga. Tadi kondisi beliau drop dan kritis, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkata lain. Pak Erlangga sudah tidak ada, dan Bu Kinara shock karena hal itu. Kami turut berduka cita", terang Dokter Andi.
"Ti...tidak...anakku, Erlangga...", tangis Bu Tria pecah.
"Kakaaakkk...", Ajeng menjerit, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Air matanya pun tumpah juga.
Pak Wijaya mengepalkan kedua tangannya, menahan sesak menerima kenyataan tentang putranya.
"Mbak, mas...", Pak Prastowo, Bu Hasna dan Alisa yang baru saja sampai di rumah sakit terlihat heran dan bingung melihat pemandangan itu.
"Pras...Erlangga meninggal", terang Pak Wijaya sebelum Pak Prastowo bertanya.
Ekspresi keluarga Pak Prastowo terlihat sangat terkejut. Mereka baru saja tiba dan langsung mendapatkan berita buruk itu.
Bu Hasna segera memeluk Bu Tria, "Mbakyu, kami turut berduka cita. Mbakyu yang sabar dan kuat ya", bisik Bu Hasna yang dijawab dengan anggukan kecil Bu Tria. Kedua orang ibu itu saling menumpahkan kesedihannya.
"Lalu, bagaimana dengan Kinara?", tanya Pak Prastowo yang tak melihat keberadaan putrinya di sana.
"Bu Kinara sedang berada di ruang perawatan, pak. Tadi beliau pingsan", jawab Dokter Andi.
Setelah keadaan cukup terkendali, mereka semua segera menuju ruang perawatan untuk melihat kondisi Kinara.
.
Kinara duduk di ranjang pasien, tatapan matanya kosong. Air matanya terus mengalir tiada henti. Bayangan terakhir saat dia menemani suaminya di ICU kembali berkelebatan.
'Mas...kenapa kamu pergi? bagaimana hidupku setelah ini tanpamu, mas?', batinnya.
__ADS_1
Di ruangan itu kini hanya ada para wanita saja. Satu jam yang lalu, Pak Wijaya dan Pak Prastowo pergi untuk mengurus berbagai hal di rumah sakit, termasuk mengurus kepulangan jenazah Erlangga ke Bandung yang dibantu oleh Leo.
"Kak, kakak mau minum?", tawar Alisa yang sedari tadi melihat kakaknya hanya menangis tanpa sedikitpun meminum atau memakan sesuatu.
Kinara menggelengkan kepalanya.
"Kakak yang kuat ya. Alisa gak mau kakak sakit", ujar Alisa. Dia memegang erat kedua tangan kakaknya. Menatap wajah kakaknya yang terlihat lusuh dan kusut. Tangan Alisa dengan telaten merapikan beberapa bagian rambut kakaknya yang terlihat sedikit berantakan.
Ajeng menghampiri mereka berdua, "Kak...", suaranya tercekat, matanya berkaca-kaca lagi melihat keadaan kakak ipar sekaligus sahabat baiknya itu. Ajeng bisa melihat dengan jelas kesedihan Kinara yang begitu dalam.
"Kak...betul kata Alisa. Kakak jangan sampai sakit, Mas Angga pasti gak mau melihat kondisi kakak seperti ini", Ajeng menegarkan hatinya saat menyebut nama Erlangga.
Akhirnya mereka bertiga saling berpelukan. Bu Tria dan Bu Hasna yang melihat putri mereka saling menyemangati berusaha tersenyum sekaligus merasa terenyuh.
"Memang disaat seperti ini Kinara harus banyak disupport. Kejadian ini tentu sangat berat untuknya", ucap Bu Tria.
"Iya. Pernikahan mereka belum terlalu lama, tentu tak mudah bagi kita semua menerima ini. Tapi ya, Tuhan lebih sayang sama Erlangga. Dia lelaki sekaligus suami yang baik untuk Kinara", kata Bu Hasna tulus.
Tok...tok...tok
Terdengar suara ketukan pintu, Ajeng yang membukanya. Ada Leo di sana.
"Mohon maaf nyonya, saya ingin memberitahukan jika semua urusan berkaitan dengan Tuan Erlangga sudah selesai, dan saat ini kepulangan jenazah beliau sudah siap", ucap Leo langsung.
"Baik, kami akan segera turun", jawab Bu Tria.
Bu Hasna merapikan beberapa barang di sana. Begitu pun dengan Bu Tria.
Ajeng dan Alisa memilih untuk mendampingi Kinara.
Kinara mencoba tersenyum tipis dan mengangguk.
'Iya, aku harus kuat. Aku gak boleh membebani Mas Erlangga lagi', tekad Kinara dalam hati.
Mereka semua kini sudah sampai di pintu belakang rumah sakit. Terlihat empat orang petugas membawa sebuah peti jenazah, mendorongnya ke dalam mobil ambulance yang sudah siap di dekat pintu keluar.
'Mas...itukah kamu?', batin Kinara saat peti jenazah itu melintas di depannya. Susah payah dia menahan air matanya, tapi tumpah lagi.
Sepanjang perjalanan ke bandara semuanya memilih diam. Sibuk dengan pikiran dan perasaannya masing-masing.
Perjalanan ini terasa berat dan panjang bagi Kinara dan seluruh keluarga. Butuh waktu hampir tiga jam perjalanan untuk mereka sampai di kediaman keluarga Pak Wijaya karena harus mengurus juga kepulangan jenazah Erlangga dari bandara ke rumah duka.
Terlihat karangan bunga sudah begitu banyak berjajar di depan rumah. Tenda dan kursi untuk para pelayat yang datang pun sudah tersedia. Bendera kuning nampak berkibar dari kejauhan. Leo sudah meminta tim dari kantor untuk menyiapkan itu semua.
Hati Kinara serasa diiris sembilu melihat pemandangan itu.
'Kamu ternyata benar-benar sudah pergi, mas...', bisik hati kecilnya.
Kedatangan keluarga disambut oleh beberapa orang pegawai yang Leo tugaskan untuk stand by di kediaman keluarga Pak Wijaya.
Setelah semua keluarga masuk ke rumah dan peti jenazah di turunkan, terdengar pengumuman dari speaker mesjid tentang meninggalnya Erlangga.
Tak butuh waktu lama, satu per satu tetangga berdatangan menyampaikan rasa bela sungkawa mereka, pun dengan para kolega dan sanak saudara. Silih berganti mereka datang mengirimkan do'a dan semangat.
Kinara masih memilih diam, mengunci dirinya di dalam kamar yang dulu menjadi kamarnya dan Erlangga.
Beberapa foto Erlangga semasa muda masih menempel rapi di dinding kamar itu. Kinara menatapnya satu per satu.
__ADS_1
Matanya mulai memanas, meneteskan air mata lagi.
"Mas...aku akan sangat merindukanmu, aku tak bisa lagi melihat senyummu atau mendengar lagi candaan dan godaanmu padaku. Mas...maafkan aku yang masih menangisi kepergianmu", Kinara mengambil satu foto Erlangga dan memeluknya dengan erat, seolah dia sedang memeluk tubuh suaminya.
"Nara, bisa tolong buka pintunya sebentar?", terdengar suara Bu Hasna berbicara di depan pintu kamar.
Kinara segera menyeka air matanya, dan membukakan pintu kamarnya.
"Sebentar lagi jenazah Erlangga mau disholatkan. Ayo bersiaplah", ucap Bu Hasna lembut, dia mengelus kepala putrinya. Bu Hasna bisa melihat ada jejak air mata di wajah polos Kinara.
"Iya bu, Nara siap-siap dulu".
Tak lama, setelah berwudhu dan berganti pakaian, Kinara keluar dari kamarnya. Ada banyak sorot mata yang paham akan kesedihan Kinara, tak sedikit juga dari mereka yang memberinya semangat. Kinara merasa dikuatkan.
"Sayang, kita berangkat ke mesjid ya", ujar Bu Tria, Kinara mengangguk.
"Ma, bolehkah Nara melihat wajah Mas Erlangga untuk terakhir kalinya?", tanya Kinara.
Bu Tria menganggukkan kepalanya. Dibantu oleh Pak Prastowo, Kinara menguatkan diri untuk melihat wajah almarhum suaminya itu.
Kinara melihat wajah yang begitu teduh, nampak seperti orang yang sedang tertidur. Perlahan, dia menundukkan kepalanya, mencium sejenak kening suaminya yang sudah terbujur kaku. Susah payah Kinara menahan tangisannya.
"Jangan sampai air matamu menetes, nak", kata Pak Prastowo, mengingatkan.
"Wajahmu teduh sekali mas, seperti orang yang sedang tertidur. Sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, kamu tidak harus berjuang lagi. Beristirahatlah dengan tenang, mas. Aku ikhlas dengan kepergianmu", ucap Kinara setelah dia selesai melihat wajah suaminya itu.
Iring-iringan keluarga dan para pengantar jenazah pun sudah tiba di mesjid. Pak Furqon, ustadz yang memimpin sholat jenazah itu. Sebelum sholat dimulai, Pak Furqon mewakili keluarga menyampaikan beberapa pesan dan permohonan maaf kepada khalayak yang hadir jika selama hidup Erlangga memiliki kesalahan.
Sholat jenazah pun berlangsung dengan khusyu dan khidmat. Setelah itu iring-iringan pun berlanjut ke pemakaman umum yang jaraknya tak terlalu jauh dari komplek perumahan.
Satu per satu petugas TPU turun ke dalam liang lahat. Pak Wijaya dan Pak Prastowo pun ikut turun. Tubuh Erlangga yang sudah rapi terbalut kain kafan mulai diturunkan, dan perlahan-lahan ditutup oleh papan dan tanah.
Kesedihan menyeruak kembali dalam hati Kinara saat melihat pemandangan itu. Dia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ini benar-benar menjadi momen terakhir baginya untuk melihat Erlangga. Bu Tria menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Bu Hasna. Sebagai seorang ibu, hatinya pun hancur melihat kepergian anak lelaki satu-satunya itu, tapi dia harus tegar dan ikhlas menerima.
Ajeng berderai-derai air mata, menatap tubuh kakaknya tertutup oleh tanah merah.
'Kak, maafin Ajeng ya selalu buat kakak kesal. Ajeng pasti kangen banget sama kakak. Gak ada lagi orang yang nanti jahili Ajeng', batinnya.
Semua mata orang yang hadir di sana menunjukkan keharuan yang dalam, setiap orang sibuk mengenang sosok Erlangga yang kini benar-benar sudah sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir.
Pak Furqon memimpin do'a bersama setelah prosesi penguburan selesai. Satu per satu para pengiring jenazah pergi meninggalkan pemakaman.
Kinara masih terduduk di samping pusara almarhum suaminya. Menatap nanar batu nisan yang ada di sebelahnya.
"Nak, ayo kita pulang", ajak Bu Hasna.
Kinara tak bergeming.
"Nara, bapak tahu ini masih berat untuk kamu terima. Tapi sekali lagi bapak ingatkan, ringankan jalan suamimu, ikhlaskan kepergiannya", pesan Pak Prastowo lembut.
"Kamu tidak sendirian, nak. Papa, mama, bapak dan ibumu, juga Ajeng dan Alisa, kita semua masih membersamaimu", tambah Pak Wijaya, seolah paham rasa kehilangan yang saat ini begitu mendera hati dan perasaan Kinara.
Kinara mengalihkan pandangannya, ditatapnya satu per satu wajah orang-orang yang sangat menyayanginya itu. Lalu matanya berpaling lagi menatap pusara.
"Mas...aku janji aku akan menjadi wanita yang kuat. Memang ini sangat berat untukku. Kamu pergi terlalu cepat, sedangkan aku masih sangat membutuhkanmu. Tapi aku tahu, Tuhan lebih menyayangimu. Aku akan belajar untuk mengikhlaskan kepergianmu sepenuhnya. Aku akan selalu mendo'akanmu, semoga kamu bahagia di sana. Terimakasih mas, kamu sudah menjadi suami yang sangat baik dan sempurna untukku. Aku akan selalu mencintaimu. Aku pamit ya mas, nanti aku akan mengunjungimu lagi" Kinara mencium nisan suaminya sebagai tanda perpisahan.
Semua orang yang mendengar ucapan Kinara ikut meneteskan air mata. Langkah kaki mereka pun berlalu, meninggalkan Erlangga yang sudah tenang di dalam sana.
__ADS_1